Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Surat Buat Din Syamsudin, Tanggapan Atas Isu Pemurtadan di Yogyakarta

Print This Post   Email This Post

Sayang sekali saya tidak memiliki alamat email Anda. Tapi saya harap ada yang akan meneruskan, minimal Google, tulisan saya ini kepada Anda.

Bung Din, apakabarnya? Sepertinya menyenangkan berada di dua tapuk pimpinan atas nama lembaga agama. Satu kaki di Muhammadiyah, satu kaki di MUI. Bagaimana bung Din? Kaki yang mana yang merasa lebih nyaman?

Ah, langsung saja ke pokok persoalan. Saya mendapatkan email ini sudah agak lama, beberapa hari yang lalu, tepatnya 22 Juni 2006. Isi emailnya sendiri tentang berita di sebuah harian tertanggal 01 Juni 2006. Jadi “peristiwa”-nya sendiri sudah agak basi. Namun, isi dari berita itu yang membuat saya tidak merasa bahwa ini basi.

Anda bilang di harian itu bahwa “kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana”. Juga Anda masih memberikan penekanan:

Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana

Bung Din, saya masih ingat dulu sampeyan mengatakan isu yang sama untuk wilayah Aceh. Akibatnya mahasiswa-mahasiswa menuntut agar Pemerintah dan BRR mengusir LSM asing yang ada di Aceh. Kini isu yang sama persis coba Anda lontarkan untuk wilayah Yogyakarta.

Sejak pertama mendengar isu ini, saya mensikapinya secara sinis. Ayolah, kondisi Yogyakarta tidaklah separah Aceh. Gempa ini memang menghancurkan rumah, membuat beberapa anak menjadi yatim-piatu, tapi saya yakin (dan keyakinan saya terbukti) bahwa sesama korban gempa ada rasa tenggang dan kasih. Mereka tidak akan membiarkan anak tetangganya terlantar misalnya. Silakan Anda jalan-jalan ke Tanjungan, Wedi, Klaten. Atau ke Imogiri, Bantul.

Saya memang masih kuper. Tapi baiklah, saya mencari info dari tempat lain juga. Dan akhirnya saya menemukan artikel ini di satu majalah. Dan saya mendapati tulisan di majalah tersebut lebih mendekati kenyataan di sekitar saya. Di situ dikatakan bahwa Din, sampeyan, menyatakan “ada 1.300 anak muslim yang pindah agama di Yogyakarta”.
Kenyataannya, dari penelusuran berbagai pihak atas angka yang sampeyan peroleh tersebut, itu adalah angka/jumlah siswa muslim yang sekolah di yayasan non-muslim. Apakah indikasi itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa telah terjadi pemurtadan? Apakah sampeyan sendiri sudah melihat langsung bahwa anak-anak ini menjalani proses pemindahan agama? Dan mereka masuk ke sekolah non-muslim itu atas kehendak siapa? Sudahkah Anda tahu? Lantas ide bahwa terjadi pemurtadan itu datang darimana?

Statistik, Penguat Kata

Tak bisa dipungkiri setiap menyampaikan sebuah pendapat, haruslah disertai statistik/data. Dalam kasus isu pemurtadan anak-anak sekolah, senjata yang digunakan oleh sampeyan, bung Din, adalah angka 1300. Nah, untuk kali ini, statistiknya seperti apa bung?

Saya tentu saja tidak percaya penuh pada positivisme, hal ini perlu saya sampaikan kepada Anda, tapi paling tidak kalau saya berbekal pada angka, saya bisa lebih mudah meng-cross check-kannya. Begitu bung.

Ini mungkin seperti tantangan bung. Maklum, BRR saja, dalam hal ini bank dunia, menantang Jeffrey Winters waktu Jeffrey bilang ada 30% dana yang bocor dalam pemakaian dana di Aceh. BRR bilang bahwa itu data kebocoran dana pemerintah 10 tahun yang lalu, tentu kita ingat gegap gempitanya waktu itu. Dan BRR kali ini menolak bahwa angka 30% itu masih valid.

Jeffrey bukanlah RS yang berani mengatakan 68% walaupun tanpa data-data valid. Tapi toh tetap saja dibantah, bahkan ditantang oleh BRR untuk membuktikan. Saya sendiri tidak tahu tentang valid tidaknya angka 30% itu, tapi saya yakin ada kebocoran dana. Indonesia gitu loh™.

Nah, itu sekelumit tentang statistik yang jadi senjata untuk bicara. Bagaimana dengan Anda bung? Anda punya? mohon saya dikasih tahu.

Kegelisahan akar Keresahan

Itu yang jelas terjadi bung. Ungkapan sampeyan, dalam kapasitas baik Ketua MUI maupun ketua Muhammadiyah, jelas didengarkan oleh banyak orang. Minimal yang mendengarkan lebih dari yang mendengarkan saya.

Anda mestinya sadar bung, apa yang Anda sampaikan tersebut memicu keresahan di masyarakat. Lantas apa yang sebenarnya bung ingin sampaikan?

Jika saja benar bahwa ada upaya pemurtadan, tentu saja yang harus dilakukan adalah evaluasi diri dahulu. Bagaimanapun kapasitas Anda dan lembaga Anda patut melakukan itu. Apakah Anda dan lembaga Anda tidak mampu membendungnya? Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Yogyakarta. Yogyakarta adalah tempat lahir dan besarnya organisasi tersebut bukan?

Anda mengatakan bahwa “pemurtad” memiliki cadangan logistik yang melimpah sehingga bisa dengan mudah memancing umat untuk tertarik. Apakah Anda sudah ngobrol langsung dengan mereka bung? Sudah menanyakan benar apa yang mereka tangkap dari bantuan-bantuan itu?

Mari kita lihat dengan sederhana bung. Ketika gempa terjadi, semua luluh lantak. Sampai hari kedua, bantuan dari pemerintah sangat susah diakses. Artinya, pemerintah belum menggapai tiap ujung desa yang hancur. Sementara para warga sangat membutuhkan bantuan darurat seperti tenda dan makanan.

Lantas ketika ada lembaga luar yang memberikan bantuan, apa harus ditimang-timang dulu? Keburu lapar bung! Keburu sakit! Kenapa lembaga sampeyan yang besar itu tidak turun cepat dan meng-cover semua daerah?

Tuntutan saya tentu terlalu berlebihan kalau meliputi semua daerah, tapi perlu saya sampaikan karena Anda mengungkapkan kekhawatiran yang tidak perlu. Orang yang datang hendak membantu, kenapa harus dihalangi dengan keresahan tak mutu?

Saya punya cerita bung. Daerah saya, Tegallayang, termasuk daerah yang pelosok, dulunya. Listrik tidak masuk ke desa saya karena alasan politis. Desa saya tidak manut dengan Golkar. Ini fakta bung, karena waktu itu semua daerah sudah berlistrik, utara selatan barat timur desa, semuanya. Kami akhirnya urunan per warga untuk beli tiang, barulah listrik masuk.

Di dusun saya tersebut, ada satu keluarga yang sejak berpuluh-puluh tahun lalu mendakwahkan agamanya. Kami semuanya muslim, semuanya Muhammadiyah. Dia, keluarga pendakwah itu, sampai meninggal tidak mendapatkan satupun pengikut. Padahal waktu saya kecil, saya ingat selalu mendapatkan roti dan makanan enak tiap tahun. Kami terima saja, tapi tidak agamanya. Silakan kunjungi makam dusun kami, ada nisan yang mencolok di sana. Bahkan nama orang tersebut menjadi nama Islam karena saking baiknya mereka. Kami yang memberi nama, warga dusun. Ya, mereka baik karena tidak pernah memusuhi kami ataupun berlaku buruk.

Apa yang ingin saya sampaikan? Berdakwah agama apapun, kenapa harus dilarang? Silakan saja kan? Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing. Dusun kami membuktikan, dengan segala ketertinggalan kami, kami tidak tertarik. Tapi kami juga tidak harus memusuhi, toh kami tidak disakiti.

Dalam kerangka agama, ada kiranya yang dinamakan sebagai Lakum dinukum waliyadin. Kekuatan dusun kami hanyalah bahwa kami percaya agama kami benar. Dan kepercayaan ini tumbuh tidak seketika, dusun kami punya banyak orang yang menguasai ilmu agama. Mereka-lah yang menanamkan kepercayaan itu di hati kami, warga dusun, masing-masing.
Hal ini kurang lebih sama dengan kondisi yang bung khawatirkan. Kalau sampai warga terpengaruh, saya berani bilang bahwa institusi bung gagal dalam membina umat. Institusi bung yang harus bertanggung jawab.

Hentikan saja lah bung segala keresahan itu. Turunlah ke desa. Bantu mereka bercocok tanam, sambil mengajarkan mereka untuk tidak melupakan sholat. Itu pula yang dulu dilakukan oleh Pak A.R. Fachrudin. Itu juga yang dilakukan oleh para ulama di dusun saya. Jika Anda malas berkubang lumpur, ya sudah, diam saja lah.

vale, demi ketentraman jiwa

el rony, menendang jauh-jauh benih kebencian.

Category: Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

112 Responses to “Surat Buat Din Syamsudin, Tanggapan Atas Isu Pemurtadan di Yogyakarta”

  1. gagahput3ra Says:

    setuju….kadang saya juga gerah ngelihat banyak orang yang belum apa2 udah negative thinking, sama orang2 yang memang niatnya menolong. Toh kalau memang ada udang dibalik batu, tentunya manusia sudah bisa membedakan yang mana yang lebih baik untuk dirinya.

    Yang cukup aneh, kita (gw islam) kadang terlalu mudah menyalahkan agama atau orang lain tanpa ada niatan untuk introspeksi apakah memang diperlukan dakwah yang lebih kuat lagi untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang tak tergantikan.

    Allahu Akbar!
    No Su’udzon!

  2. didats Says:

    dari dulu gw gag suka sama orang itu…
    kebanyakan ngomong doang…

    ah, sudahlah…

  3. geblek Says:

    ah masak sih segitunya
    hi Din 68% kah ? :)

  4. lafea Says:

    jadi inget lum sholat… *berlalu*

  5. paydjo Says:

    yach begitulah kalo cuman dapet laporan tanpa terjun langsung ke lapangan.

  6. mpokb Says:

    wah, curigation.. ketakutan yg berlebihan, paranoia.. gejala apa yak?

  7. Charly Silaban Says:

    Thx Ron atas tanggapan kritisnya..
    Saya mencintai pemikiran Anda..

  8. thuns Says:

    ya kalo nggak ingin umatnya berpindah agama yah segera tunjukkan teladan yang baik ke mereka, tuntun mereka, bantu mereka yang lemah, jangan hanya mengkritisi dari jauh.

    tapi teman-teman juga jgn seperti din, jadinya malah seolah-olah membenci din. yah coba bersikap adil saja. kalau ada yang salah yah coba di benerin seperti mas roy suryo eh mas rony maksut saya. dalam tulisan ini tidak terbersit kebencian terhadap din, tapi mencoba meluruskan…!

    wooow very nice bro!

  9. dian ina Says:

    harusnya Islam itu agama yang sejuk. yang bikin orang merasa tenteram dan nyaman. tapi kenapa kalo ulama yang angkat bicara sekarang ini, hati rasanya jadi panas dan gerah ya? jadi terbakar…
    kayaknya ada yang salah dengan cara para ulama berkata-kata. membakar-bakar…

  10. johan Says:

    rumah singgah yg pernah gue ikutin pernah juga kena isu kristenisasi. Gue mah cuma senyum-senyum. Yang ada bisa-bisa gue yang malah pindah islam karena kecantol sama salah seorang cewek di kampung itu …. hehehhehe.

    Buat mas Din … saya katolik, kebetulan pernah buat rumah singgah sama teman-teman gereja di suatu daerah yg mayoritas betawi ….
    Apakah kami terdorong dengan semangat mengkristenkan? Ndak lah … kami tidak sepicik itu memandang iman kami. Namun jika dikatakan bahwa kami terdorong dari “iman yang membebaskan” dimana penghayatan keagamaan tidak lagi cukup lewat bentuk-bentuk doa, itu baru benar. Bahwa kami saat ini sedang melakukan “contemplation in action” …. berdoa dengan bertindak … bukan mengurung diri di kamar.

    Saya yakin alasan itu juga yang mendorong teman-tean dari agama islam yang kini terjun dalam gerakan sosial ….

    Mending (ini himbauan saya juga kepada teman-teman kristen/katolik yg juga masih seneng gontok-gontokan) bergandengan tangan untuk sesuatu yang jauh lebih berguna ……….

  11. Hedi Says:

    Ini isu laten, mengerikan, tapi ga pernah habis. Semua sama aja, si A curiga/fitnah ada ‘proses ini-itu’ dari si B, demikian juga sebaliknya…Intinya tong kosong semua :(

  12. Ben Says:

    selama tidak ada pemaksaan, biarkan saja promosi dari masing2 agama berlangsung.

    kenapa harus takut, apalagi sampai marah-marah, kalo emang yakin dengan agama yang dianut?

    mau pindah agama atau tidak, selama tidak ada pemaksaan, itu kan urusan pribadi masing-masing.

  13. Kristenisasi - CATATAN ter PINGGIR kan - Blog / Weblog Indonesia - Sekedar Sampah ! Says:

    […] Wajar. Mungkin. Ketika seseorang selalu membaca tindakan kami lewat frame yang keliru, maka apa-apa yang kami lakukan selalu dinilai ke arah sana. Ke arah pengkristenan. ——————————————– Saya kagun terhadap tulisan Mas Rony yang menanggapi pikiran Din Syamsudin mengenai isu kristenisasi di Yogya. Tulisan itu begitu introspektif. Komentar yang datang di blog itupun hampir seluruhnya bernada introspektif. Bagi saya, itu suatu bentuk kedewasaan tersendiri yang nampak dari kalangan teman-teman muslim. […]

  14. lenje Says:

    Ron, pemikiran yang menyejukkan. Saya yakin yang berpikiran luas seperti kamu lebih banyak dibandingkan segelintir manusia picik omong besar… (Maafin kata2 saya yang kasar ya)

  15. kw Says:

    kalaupun iya kenapa? bukankah gama itu hanya sebuah persepsi?

  16. zam Says:

    lakum diinukum waliyadiin..

    kalo Islam boleh berdakwah, kenapa agama lain dilarang?

    cuma cara-caranya saja yg perlu diperhatikan sehingga tidak menyinggung satu sama lain.

    agama adalah keyakinan. mo pindah agama kek, mo ngak beragama kek, itu hak manusia yg paling asasi. yg penting ndak saling memusuhi dan mengganggu saja :)

  17. scut Says:

    :)

  18. Aji Says:

    Jika orang lain panas, kita harus dingin. Jangan terjebak pada pemikiran sempit dengan balik membenci.(counter-critic untuk Rony)
    :)
    Tapi saya setuju dengan yang Rony katakan…
    Rasisme bukan hanya masalah ras, tapi juga fanatisme agama. Dan rasisme adalah akar kehancuran peradaban.

    Viva Rony + salam kenal :)

  19. ayu Says:

    kalaupun mereka pada akhirnya pindah agama, s”Din”juga gak berhak melarangnya.karena itu hak mereka untuk memeluk apa yang mereka percaya..itu pilihan pribadi dan kita tidak berhak menghalanginya apalagi melarangnya…

  20. Jauhari Says:

    Masak gitu :D

  21. bang pi'i Says:

    ah… sing penting setan ora doyan, demit ora ndulit…

    hidup mbuh mbuh ora weruh memang paling top markotop…

    din syamsudin pancen gombal ginombal…

  22. kamandanu Says:

    Bung Rony, dalam kalimat anda = “Apa yang ingin saya sampaikan? Berdakwah agama apapun, kenapa harus dilarang? Silakan saja kan? Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing” –> saya seorang muslim, tapi saya menghargai semua makluk Tuhan mempunyai kepercayaan masing-masing spt yang telah diajarkan oleh Nabi, dan dalam agama itu sendiri mengajarkan toleransi yang sangat besar, bukan masalah “Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing”. Pendapat ini salah besar bung, apalagi dimata seorang pemimpin umat seperti Bung Din Syamsudin, rasa kekuatiran itu justru lebih besar, dia pasti tidak akan tinggal diam dengan keadaan spt ini seandainya andapun pemimpin umat.. ?. Dan yang jelas lagi Bung Rony, kekuatiran kami itu beralasan karena pihak anda melakukan penyebaran agama dengan cara-cara yang “kurang halus”, bukan dengan cara-cara yang nyata.. tunjukkan bahwa itu benar tanpa “adanya sesuatu dibawah tangan/iming-iming materi” yang selama ini selalu pihak anda lakukakan, tidak fair bung. Dan buat komentator yang bilang bahwa agama adalah urusan pribadi, cobalah anda belajar lebih jelas dan lebih dalam tentang makna beragama itu sendiri, beragama itu tidak sedangkal itu, tidak sebatas hidup dan mati, tetapi sangat luas, marilah lebih banyak mendalaminya jangan mudah melemparkan pendapat yang dangkal dulu. Buat Bung Rony saya menghargai pendapat anda.

  23. kemlinthi Says:

    dengan segala maap,
    sejauh ini kesan saya terhadap isu pemurtadan itu masih lebih banyak berdasarkan “konon” dan “ada indikasi”. salah satu yang laris adalah pemurtadan lewat pemberian permen, pemurtadan lewat pembagian mi instan.

    ganti agama tak semudah ganti baju. masa sih gara-gara indomi lantas pindah? untuk ganti merek mi instan favorit aja susah, apalagi ganti sahadat… :D

  24. kemlinthi Says:

    ralat: urlnya yang ini… maap

  25. rony Says:

    buat mas kamandanu:
    matur nuwun sekali atas pendapatnya.
    ehm, saya bingung, tapi setelah saya baca ulang, mungkin Anda berfikir bahwa saya ini non-muslim. :) Tapi ya nggak apa-apalah, anggap saja demikian (jika Anda membaca lengkap, sepertinya tidak mungkin anggapan ini timbul hehe).
    Mengenai pendapat saya,”agama urusan masing-masing” sangat bisa dibantah, dan saya terbuka untuk ini. Hanya saja saya melihat Agama sebagai satu -meminjam istilah Andry Huzain- puncak gunung es dari pemikiran yang kontemplatif tentang hakikat penciptaan. Ketika orang berpindah agama karena materi, berarti Tuhan dia adalah materi. Biar dikata KTP-nya agama A, tapi kenyataannya dia menyembah materi. Demikian juga sebaliknya.
    Lain soal ketika dia merasa agama lain lebih benar dari agama yang sekarang dia anut, berarti itu adalah proses pencarian dia. Apakah kita mau menyalahkan dan memusuhinya hanya karena dia sampai pada kesimpulan bahwa keyakinannya selama ini salah?
    Saya menyoroti perkataan Din, justru karena dia pemimpin umat. Semestinya dia menjaga kerukunan bukan malah memicu keresahan, bukan begitu? Saya mendambakan pemimpin yang mengayomi, sehingga orang patuh bukan karena takut atau curiga, tetapi karena cinta. :)
    Oh ya, kritik adalah wujud penghargaan atas pendapat orang lain, dengan demikian insyaAllah kita masuk dalam orang yang saling menasehati. Amien.

  26. Kuskus Says:

    To: Mas Kamandanu..
    Sorry lho Mas.. Koq nyembunyiin link? Gak berani karena beda ya? Mudah2an seh karena lom punya seperti saya..:D

    Mas Kam.. Bukannya Agama emang urusan pribadi? Hak azazi gituh. Trus masalah terpengaruh apa ngga yah urusan pribadi juga khan? khan itu masalah keimanannya tuh orang. Bener kata om Rony, Masing-Masing..:D.

    Trus kalo menurut mas Kaman Sebagai seorang pemimpin umat si Din mesti kawatir kalo umatnya pindah agama, saya anggap bener kalo dgn itu dia jadikan cermin (kata Om ROn) dari apa yang udah dia lakukan buat umatnya. Tapi kalo kawatir dengan pindah agama berarti jumlah umatnya kurang, wah saya jadi malah bertanya, Din pemimpin umat apa marketing leader perusahaan MLM?

    Makanya mas Kaman, sampaikan buat si Dien… Sini dong turun ke jalan, jangan cuma ngomong pake mic di belakang meja. Jangan sok Islami, kalo cuma pengen mo diarani wong Islam. Jaga diri + keluarga sendiri aja itu yang UTAMA.

  27. kamandanu Says:

    Bung Rony, wah maaf sebelumnya ternyata anda seorang muslim juga, saya pikir saya wajar keliru karena dilihat dari tulisan anda seperti ada unsur-unsur lain sehingga semua komentator blog anda 90 persen sampai salut sama anda, hebat juga anda, cuma kasihan yang lain jalan pikirannya jadi toleran banget dan akhirnya menjadi penghujat, jangan gitu dong, saya bukan pemuja Din syamsudin tetapi menjadi seorang Din Syamsuddin itu bukan instan lo. Masalah isu permutadan itu bukan cerita basi lo dan termasuk masalah besar Bung Rony, harus kita cermati dari awal dan mata Din tentulah lebih jeli dari pada mata saya. Sebagai contoh aja dilingkungan tempat tinggal saya dulu ada tetangga (secara ekonomi minus, sang kepala rumah tangga kena PHK) yang rela pindah agama dengan iming2 materi; berarti pihak lain telah memanfaatkan mereka supaya berpindah, apa ini cara yang fair? memang sih ini hak mereka untuk menganut apa yang dia mau tetapi menurut pandangan pemimpin umat tentu hal ini tidak bisa diterima, dia harus bertanggungjawab juga kepada Tuhan.. , ini salah satu contoh kecil aja. belum lagi didaerah2 lain.. sedikit demi sedikit.. kemudian di daerah gempa besar semacam yogya yang mayoritas, tentu ini adalah sasaran empuk. dan bukan hanya kayaknya aja tuh Bung Kemlinthi, kenyataannya juga banyak loh..
    jadi bukan masalah jumlah umatnya jadi berkurang Bung Kuskus.. nggak masalah sih, tapi salah satunya menjaga akidah umat yang lebih penting juga, begitu kan Bung Rony selain tentunya menjaga kerukunan, itu pasti. Ngomong2 pihak mana sih yang selama ini selalu sering merusak kerukunan..?
    Saya pikir Din Syamsudin nggak sok Islami kok Bung Kuskus dia tetap berjuang di jalan Islam, nggak mungkinlah orang seperti dia mau main-main sama kedudukannya.. disamping dia menJaga diri + keluarga sendiri aja itu yang UTAMA, menjaga akidah umat juga LEBIH UTAMAdan LEBIH MULIA.
    Semoga Bung Rony kita termasuk orang-orang yang selalu menasehati bukan menghujati. Amin.

  28. rony Says:

    Mas Kamandanu:
    Seperti telah saya sebut sebelumnya, jika seseorang pindah karena materi berarti dia berTuhankan materi.
    Tapi tetap saja tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang pemimpin umat meneriakkan “pemurtadan”, terutama ketika dia sama sekali belum pernah turun ke desa.
    Maaf mas, Din memang sepenuhnya politis. Ingat waktu dia menghujat Permadi? Dia bilang kafir dan sejenisnya? Namun ketika Din di Golkar dan waktu itu ummat muslim menghujat Harmoko yang komat-kamit baca mantra, Din tidak ngomong sama sekali.
    Saya tidak ada niatan menghujat Din. Saya hanya menegur pemimpin umat yang memang sangat pantas untuk ditegur.
    Anda bilang ada yang melakukan iming-iming materi? Mohon tanyakan kepada para pemimpin umat di Indonesia ini, mengapa ada umatnya yang masih miskin? Silakan direnungkan, Islam agama terbesar namun tidak belum bisa mensejahterakan umatnya? ataukah para pemimpinnya yang terlalu korup sehingga umat terbengkelai?
    Tapi sekali lagi, jika orang terpengaruh karena materi, atas nama apapun analisanya, agama dia adalah materi. Sudah sesat sejak awal bukan?
    Salam hangat mas, saya tunggu nasehat Anda selanjutnya. Terimakasih. :)

  29. kamandanu Says:

    Salam hangat kembali Bung Rony, memang cukup menarik blog anda ini sampai saya menulis terus nih.. jangan bosan ya. semoga blog anda bisa menjadi media komunikasi yang informatif serta bermanfaat. Saya mau tambah lagi deh dikit. Komentar anda spt : “Tapi sekali lagi, jika orang terpengaruh karena materi, atas nama apapun analisanya, agama dia adalah materi. Sudah sesat sejak awal bukan?” saya setuju, cuma Bung.. kadar iman bangsa Indonesia ini kan mayoritas memang belum “tebal” sepenuhnya, ini terjadi karena sistem yang berjalan di Indonesia dalam hal membina keimanan bangsanya masih belum maksimal, sangat kompleks sehingga untuk mempertebalnyapun harus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan. Materi memang sepertinya masih merupakan pengaruh terbesar, jadi benar-benar suatu ancaman utama dalam hal merusak akidah, terutama didaerah-daerah “rawan”. jadi kalau agama dia adalah materi dan kebetulan kurang-kurang tebal yach akhirnya jadi benar karena itu tadi. Padahal dia masih bisa dipupuk untuk menjadi lebih baik, jadi dari sisi kekuatiran sang pemimpin itu pasti, kalau dari sisi mensejahterakan umat dan lain2.. silakan kritik anda dilanjutkan dan dipedaskan..biar mereka bukan jadi pendengar saja tapi bergerak, saya salut.
    Terima kasih Bung Rony.

  30. johan Says:

    seru euy ….

    Lagi, saya kebetulan katolik. Dan saya pernah baca sebuah dekrit dari satu pimpinan serikat imam (pastur) yang berpengaruh di dalam kalangan katolik. Mungkin pernah dengan namanya : serikat jesuit (Franz Magnis Suseno adalah salah satu imam katolik dari serikat itu)

    Dalam dekrit itu yang memang diarahkan pada “option for the poor” (keberpihakan pada kaum miskin) ditulis bahwa : untuk melakukan sebuah tindakan baik (berdimensi sosial) kita tidak perlu berangkat dari alasan biblis (kitab suci = agama = iman). Bayangkan! Dekrit itu dikeluarkan oleh Jendral (= begitu memang gelar hirarkisnya) Serikat Sedunia untuk secara struktural di hayati oleh para imam di lapangan. Lalu apa latar belakang sebuah tindakan sosial? Ya, demi pihak yang ditolong saja! Titik!

    Dari dekrit itu saja sudah nampak, bahwa setiap orang (terutama sasaran dekrit itu, yaitu para imam jesuit) diutus untuk berbuat baik TANPA harus mengkait-kaitkan dengan alasan biblis apalagi alasan peningkatan kuantitas jumlah umat.

    Lain lagi, di dalam kalangan katolik sedang deras autokritik terhadap praktek keagamaan para pemeluknya. Bahwa kini banyak orang terjebak sebagai seorang atheis praktis : katanya beragama tapi prakteknya seperti tak bertuhan (ada ketidakadilan ya diam saja, ada bencana ya sibuk doa doank, ada kekerasan di depan mata malah takut menghadapi … pokoknya yang paling penting adalah melulu hal-hal religius … tanpa aksi!)

    Pembandingnya adalah Atheis Humanis … jelas nggak beragama tapi praktek hidupnya benar-benar menganggumkan : ia hidup untuk orang lain, tanpa membedakan SARA.

    Kalau saya amat malu jadi orang atheis praktis. Makanya, itupula yang melecut saya untuk mengubah kontemplasi saya menjadi aksi. Lalu disebut mengkristenkan orang lain kah saya dengan demikian ?
    Maaf jika ada kata yang salah :)

  31. harry Says:

    Saya pribadi sudah lama kecewa dengan berbagai “pemimpin” umat, yang seringnya justru menjerumuskan yang dipimpinnya. Sudah terlalu banyak kiyai/ulama yang tidak melakukan yang benar-benar benar, namun yang benar “secara politis” (politically correct).

    Namun di lain pihak, kalau seorang pemimpin yang (kita anggap) ngawur mengatakan sesuatu yang benar, tidak betul juga kalau kemudian langsung kita nafikan / tolak mentah-mentah.

    At least di Aceh, hal ini betul terjadi.
    Saya punya kawan-kawan yang terjun langsung sejak hari-hari pertama. Ketika mereka sedang sibuk menolong para korban disana, dengan kondisinya yang sangat miris dan meremukkan hati, mereka makin terhenyak ketika melihat ada oknum-oknum yang memanfaatkan bencana tersebut untuk memurtadkan para korban.

    Kalau kasus ini berbeda, karena bukan soal materialis / mata duitan, tapi sudah soal hidup atau mati. Anda murtad, atau mati kelaparan. Kejam sekali.
    Sempat muncul juga di media massa, seperti anak-anak Aceh yang akan dilarikan ke luar negeri itu. Tapi, itu puncak gunung es, kasus di lapangan lebih banyak lagi.

    Note; saya mengerti bahwa ini adalah “exception rather than the norm”, bahkan kawan-kawan saya dari umat Nasrani pun banyak yang menyatakan kejijikannya dengan hal ini. Namun di lain pihak, hal ini betul-betul terjadi. Dan harus bersama-sama kita cegah, siapapun pelakunya (muslim, christian, dll). Kalau tidak, atau malah mengatakan “there’s no such thing”, orang-orang baik seperti mas Johan dan kawan-kawan saya lah yang malah akan kena getahnya.
    Sedangkan orang-orang tidak bermoral itu bisa terus melakukan tindakan-tindakan kejinya.

    Summary, denial soal ini tidak benar, begitu pula dengan generalisasi (bahwa semua pemeluk agama Kristen = pelaku kristenisasi)
    Din ? Saya kira kita perlu untuk selalu kritis terhadap para pemimpin kita, supaya kita tidak terus menerus menjadi sapi perahan mereka.

    Trims untuk diskusinya yang menarik sekali.

  32. untoro Says:

    salam kenal mas rony…
    saya “terdampar” di blog Anda dan membaca topik yang menarik ini….

    saya setuju bahwa sebaiknya pemimpin, yang dianggap pemimpin, pakar, ataupun yang dianggap pakar tidak perlu mengeluarkan komentar2 yang meresahkan…yang bikin geger…komentar2 mencari popularitas.

    subjektivitasnya akan dianggap objektif bagi pengikutnya.
    dalam bencana, dalam kondisi darurat, (seperti bencana Aceh, Yogya, dll) memang lebih baik melakukan aksi simpatik daripada omong2 tak bertitik.

    meskipun demikian, saya berharap, saya berdoa, semoga data dan fakta yang Anda minta tidak kemudian muncul yang menunjukkan bahwa benar2 ada pemurtadan….

    saya kurang sependapat dalam “Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing.”

    syukur alhamdulillah, kampung Anda banyak memiliki orang yang mengerti ilmu agama, sehingga warga memiliki aqidah dan keimanan yang mantap.

    lalu bagaimana dengan kampung2 yang lain? di kampung sekitar? di kampung saya? di jakarta? di kota2 lain?

    islam tidak mengajarkan individualistis… islam penuh perhatian pada sosial kemasyarakatan, pada kemakmuran dan kedamaian bersama. diibaratkan dengan sesama muslim adalah saudara, akan merasa sakit kita jika ada saudara kita yang disakiti. apabila ada saudara kita yang kiranya “melenceng”, maka wajib kita ingatkan.

    mungkin Anda juga tahu, azab tidaklah datang pada yang berbuat maksiat saja, tetapi pada 40 penghuni di sekitarnya.
    tidak hanya ibadah yang berjama’ah, bahkan konsekuensi-pun ada konsekuensi berjama’ah.

    “Lakum dinukum waliyadin” bukanlah berarti “individualistis” atau “terserah masing-masing”

    “Lakum dinukum waliyadin” disampaikan pada Nabi sebagai perintah meneruskan dakwah, bukan menghentikan dakwah.

    “Lakum dinukum waliyadin” disampaikan dalam konteks peribadatan…menolak menyembah Tuhan-Tuhan yang lain dan meneruskan dakwah Islam.
    Dan dakwah dalam Islam hanyalah menyampaikan, memberi contoh, memberi panutan, bukan memaksa…

    wallahu a’lam

    demikian pemikiran saya yang sempit ini, yang ilmunya tak seberapa, tertiup angin…hilang…tersiram air…buyar….

  33. rony Says:

    Bung Harry:
    terimakasih atas komentarnya :) saya setuju denial sepenuhnya bisa jadi salah. Dan saya membahas apa yang musti dilakukan, bukan menolak mentah-mentah.

    Bung Untoro:
    terimakasih juga atas komentarnya. Seperti sudah saya sampaikan ke bung harry juga, bagi saya keputusan akhir untuk ikut atau tidak ikut satu faham, itu terlepas di masing-masing. Tapi Proses atas keputusan itu, semua berhak terlibat. Tugas pemuka agama untuk memperdalam keimanan masing-masing umatnya. Nah, nanti umat sendiri yang memutuskan dan menanggung akibat atas keputusannya.
    Ini pendapat saya saja mas, jadi sorotan utama saya adalah pemimpin umat yang meresahkan, bagi saya bukanlah pemimpin yang baik. :)

  34. M. Supeno Says:

    Kalo soal Jin Syamsu Jin … eh maaf, Din Syamsudin … ga komen banyak dah. Kayanya Bapak satu ini bermata dan bertelinga empat, bermulut dan berhidung ganda. Dengan kata lain, Beliau ini memang asli bermuka dua. Yah, begitulah politisi Indonesia. Mudah diduga, Beliau ini pengen sekali duduk di kursi kabinet. Cuma soal waktu Beliau buka kartu. Pak Jin, eh Pak Din … selamat bermuka dua. Umat toh sudah bisa membaca.

  35. wadehel Says:

    Kalau MUI masih saja menebar bibit kebencian, perpecahan, dan permusuhan, maka yang harus dilakukan adalah BUBARKAN MUI!!

    Indonesia tidak butuh pemecah belah macam mereka.

  36. Tammy Says:

    Numpang lewat en numpang komentar terhadap komentar-komentar yang ada di postingan ini ^_^

    Buat mas Rony @dian ina,
    saya setuju dengan pendapat anda.
    MesQpun saya Kristian, tapi kan kalo lagi ada ceramah di mesjid kan speakernya kemana-mana tuh… hehe.
    Jadi kedengeran ustad / da’i-nya ngomong apa… Kadang serem serem euy ceramahnya.
    Just FYI, seumur idup saya kalo saya pergi ke gereja GAK PERNAH saya nemuin pembicara yang khotbahnya ‘ngomongin’/men-diskreditkan
    pihak lain.

    @johan (30 Juni),
    kita masih suka gontok-gontokan ya…? Hehe.
    Kalo pun ada itu pasti karena perbedaan denominasi. Buat sodara-sodara Kristian yang baca ini, ingat aja lagU lama ini…
    ku tak pandang kau dari gereja mana
    asalkan kau berdiri atas FirmanNya
    ……….

    Sesama pengikut Kristus berarti bagian dari Tubuh Kristus. Perbedaan yang ada berarti saling melengkapi.
    Setuju dengan ajakannya, kita harus saling bergandeng-tangan. Ngapain ? Yah, jadi saksi Kristus-lah… ^_^

  37. Tammy Says:

    Aduh-aduh komen pertama kok ngaco ?

    Itu bukan buat mas Rony tapi bukan mbak dian ina.
    Nah yang ini buat mas Rony… (hehe)

    Saya sebagai Kristian yang tinggal di Indonesia ini seneng banget mengetahui bahwa ada sesama sodara Muslim Indonesia yang punya pemikiran seperti mas Rony. Yang mau crosscheck terlebih dahulu dengan berita-berita yang ada di tengah masyarakat.
    Karena kadang serem en bete juga ngeliat ada orang cepet ‘panasan’ cuma karena isu yang gak jelas…
    Karena gak heran di beberapa daerah pernah terjadi perpecahan hanya karena isu dan provokasi. Menyedihkannya banyak sekali ‘yang main telen’ aja…

    Thanxx for internet so can I can know many Muslim bros / sizts from my country that have a different mind like you, guyz *hualah, bhs Inggrisnya ngaco*
    Makasih juga buat blog (hehe) sehingga saya bisa tau pendapat-pendapat yang berbeda seperti mas Rony ini…

    Okz deh, GBU ^_^

  38. Tammy Says:

    Numpang komen lagi… ^_^

    @johan (16 July),
    Iya saya juga kalo gak kenal Yesus udah jadi Atheis Teoritis dan Praktis, wakakak. Seriuss. Krn ngliat orang-orang yang ngakunya
    beragama tapi bisa berantem gara-gara agama. Kelakuan juga gak kayak punya Tuhan. Bahh, mendingan gak usah beragama.
    Malahan gak aman gara-gara ada orang beragama. Orang-orang humanis percaya gak ada Tuhan, meninggal cuma kembali jadi materi TAPI
    mereka memanfaatkan bener-bener hidup yang hanya sekali itu.
    Buat mereka, ’saya gak percaya Tuhan bukan berarti saya hidup secara ngawur.’
    Mann, asik juga sih… Mereka uda mantap dengan ‘iman’ gak ada Tuhan gak ada surga en gak ada neraka, jadi jalanin aja hidup ini
    sebaik - baiknya…
    Tapi buat yang percaya adanya Tuhan makanya jadi beragama mungkin karena takut meninggal masuk mana kali ya ? Heaven or hell ?
    Kixkixkix…
    Tuhan tinggal geleng-geleng, ‘Hati lo gak murni tuh nyari GW’.

  39. Irene Handono and all of the crazy stuffs ’bout kristen***i « IndiegaL’s ZoNe Says:

    […] Intinya : bahkan ayat ini TIDAK BERBICARA SAMA SEKALI tentang kristeni***i. Ibu Irene main ‘comot’ ayat aja nih… *Liar & provocateur* What else do I need to confirm ? Hmmm, Wie kalo ada pernyataan dari Ibu Irene yang menjadikan lo bertanya-tanya feel free untuk nanya ke gw. That’s the reason why I wanna watch it right ? Maap kalo gak sesuai dengan harapan lo bahwa vcd ini MUNGKIN akan ‘mencerahkan’ gw tentang iman di dalam Kristus. Maap kalo gak sesuai dengan harapan lo bahwa vcd ceramah ini akan ‘membukakan mata’ gw dari kebohongan-kebohongan gereja yang kata Ibu Irene ‘disimpan berabad-abad’. The truth is… being Christian is not about ‘he said she said’ Bukan tentang dibohong-bohongin ama pendeta-pendeta di gereja. Being Christian, it means have your own relationship with Christ. Berbicara tentang Kristen tidak sama dengan berbicara tentang agama. Coba jangan memandang Kristen sebagai agama. Ingin mencari jalan menuju kekekalan ? Well, jangan pernah punya pikiran untuk mencari agama mana yang paling benar. Tapi cari dan bertanya : Siapa Tuhan yang sebenarnya ? Just wanna share, waktu gw kecil gw pernah nanya ke bro & sizt gw : Emang agama apa sih yang paling benel, kaka ? Hehe… En jawabannya : GAK ADA agama yang benar. Yang benar adalah Tuhan, Sang Pencipta. Sebagai anak kecil, itu jawaban yang provokatif. Kakak gw seorang Kristen, kenapa dia gak bilang aja kalo agama Kristen yang paling benar. Kalo dia jawab seperti itu, gw gak akan heran. But they didn’t say like that. Felt strange… Just another share, JANGAN KIRA orang-orang Kristian adalah ‘orang yang main telen’ saja seperti kata Ibu Irene. Gw sendiri dan gw menemukan orang Kristian yang lain bertanya-tanya akan kekristenan itu sendiri. Karena bertanya-tanya makanya I’ve read and learn other basic of religions. The core of other religions. Curiosity and wanna find the truth are the reasons. So, why I still being a Christian ? ‘Cause I found The Truth, The Way, & The Life in Jesus Christ. Itu sebabnya gw tetap menjadi seorang Kristen… He offers me a relationship. He offers me Himself. The Creator offers Himself ! Not only prophets that can have relationship with God. And He offers me an eternal life. He never offers me a religion. You get it ? ^_^Dan kesimpulan dari materi ceramah Ibu Irene adalah : bahkan masih banyak hal mesti dipertanyakan dari Ibu Irene, contohnya : seperti beliau berasal dari ordo mana / kesusteran mana, pernah kuliah di Institut Teologi mana, dsb-nya. Mengatakan bergabung dengan Legiun Maria bukan jawaban, karena Legiun Maria adalah kelompok doa yang diselenggarakan oleh sodara Katolik. Another thought : so sorry, maybe my conclusion would sounds provocative… Tapi intinya buat gw, ceramah Ibu Irene sangat berbahaya untuk persatuan dan kesatuan bangsa kita. *ceile* Kenapa ? Karena provokatif, tidak 100 % berbicara kebenaran / fakta, dan terdengar seperti penghasutan. Isu SARA adalah isyu paling gampang untuk diprovokasi di Indonesia mengingat banyak sekali perbedaan yang ada di sini. Intinya sih, menghormati & menghargai perbedaan yang ada dong ! En jangan pernah mau diprovokasi ama orang lain ! Dan selalu cari another point of view seperti mas Rony, misalnya. Ibu Irene, kalo baca postingan di blog saya ini saya cuma pengen bilang : Tuhan berkati Ibu Irene ! ^_^Buat Dewi : hah hah hah, akhirnya janji gw terpenuhi juga ! “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” – Perkataan Yesus Kristus kepada Rasul Yohanes di Pulau Patmos –He’s not only prophet (no no), He is GOD ! Hmm, prepare yourself for That Day, folks. Maranatha and GOD Bless ! […]

  40. numpang lewat Says:

    kalau ada yang pindah agama karena dikasih indomi, mungkin dia beragama indomi.. hehe..

  41. red_Q Says:

    kesasar abisssss..gua
    ini bicara atas nama tuhan semua ya?
    gile…tuhan kalian emang akal ya..

  42. Ahmad Says:

    Saya menjadi Muslim sejak kecil dengan seluruh. Setelah dewasa, saya kuliah di Jogja di mana keragaman dirayakan. Bahkan, profesor adalah seorang romo yang cerita bahwa dulu kakeknya adalah Muslim. Tanpa sadar, ia bercerita bahwa kristenisasi memang ada. Bahkan, dia bilang bahwa sindrom minoritas akan terus menjadi hantu, sehingga tidak boleh tidak angka pemeluknya harus digelebungkan, apa pun caranya! Ini bukan provokasi, tapi sebuah tindakan wajar apabila mereka terancam.

    Sebagai mahasiswa perbandingan agama, saya dihadapkan dengan pelbagai cara untuk menarik orang Islam ke dalam agama Kristen. Ini nyata, bukan fiksi.

    Saya rasa bukan soal benar atau tidak, karena sejak kecil di surau kami diajarkan bahwa sesama Muslim adalah saudara, ibarat satu tubuh. Jadi, persoalannya adalah saudara kita makin jauh dan telah ‘menjadi’ lain.

    Ya, emosi kita dicabik! Tapi, bukannya diri itu tidak meluli emosi, tapi juga akal, tindakan dan realitas yang harus dilampaui dari bingkai linguistik?

    Mari, perjuangkan keyakinan, tapi jika dianggap mengganggu, gampang aja cari cara lain. Sebab mereka yang ingin menarik orang lain kepada agamanya adalah fundamentalis, sebab tak mengakui ada kebenaran pada liyan. Ini sebenarnya musuh negara!

  43. jokotulip Says:

    Dalam menanggapi sebuah persoalan memang macam macam. Seperti contoh diatas ttg perkataan Din Sjamsudin yg menjelaskan adanya gerakan pemurtadan di satu daerah di jawa tengah. mas rony bisa menanggapinya sedemikian karena dia memandang ini dari sudut pandang(kaca mata pandang) yg demikian. Sedangkan mas kamandanu menanggapinya dg pemandangan yg lain soalnya dia melihat ini dari sudut pandang yg lain juga. satu permasalahan bisa membuahkan permasalahan baru karena titik pandang yg tidak ketemu. Pada dasarnya ini tidak perlu terjadi andaikata pribadi kita masing masing mau menerima dan menghargai segi pandang masing masing tanpa memaksakan cara berpandang dia terhadap satu permasalahan yg ada. yg terakhir kebenaran itu bisa jadi sifatnya relatief tergantung dari mana kita memandag, siapa yg memandang dan dg kaca mata apa dia memandang.

    mohon maaf jika ada kata kata yg kurang berkenan. wassalam.

    Jokotulip

  44. Raky Says:

    Pasti yang buat tulisan di atas orang non Islam, emang buktinya begitu, maju terus Pak Din umat Islam berada di belakangmu. OK

  45. Rony Says:

    Ojo gentar barisan PKS berada bersmamu, hidup calon presiden

  46. rony Says:

    mas siapapun anda :)
    sayang sekali, saya muslim. dan saya besar dan hidup dalam tradisi Muhammadiyah. :) pola pikir seperti di atas, membabi buta asal beda, bukanlah pola pikir orang Muhammadiyah yang saya tahu.

  47. simbah Says:

    kalo aku seh sekali muslim sampai mati tetep islam dung………islam agamaku……….ALLOHHU-AKBAR

  48. simbah Says:

    Assalamu’alaikum wr wb……………bagi saudara”muslim semua baik yg dari muhammadiyah ato yg dari N.U ato dari mana lagi deh sesama umat islam marilah kita untuk menjalankan -UKHUWAH ISLAMIYAH-dengan benar sesuai tuntuttan nabi MUHAMMAD S.A.W ……

  49. laskar Says:

    pemurtadan yg dilakukan oleh kelompok sepihak sangatlah licik dan curang…….karena mereka menagajrkan ajaran yesus tak lain adala TUHAN berambut gondrong………liat diayat perjanjian baru…….wahai umatku(yesus)bagi siapa yg membawa domba-domba(islam)kedalam ajaranku kalian akan mendapatkan jaminan masuk syurga”(lukas:30:45)

  50. abumoeza Says:

    hati2 bung rony blog ini mulai kemasukan yg iseng2 bukan cari pengetahuan

  51. Feb Says:

    Salam untuk semua…
    Sudah semua saya baca dan saya menjadi semakin paham bahwa setiap individu pasti berbeda pendapat apalagi dari sudut pandang yang berbeda pula.
    Blog… ini akan mencerdaskan orang-orang yang berpikiran cerdas dan akan menjerumuskan orang-orang yang berpikiran sempit.
    Mohon maaf, bukan mengatakan saya ini orang yang cerdas, tetapi saya bisa melihat teman-teman yang berpikiran cerdas dan mana yang hanya mempropokasi saja.
    Saya Islam… Dan saya menghormati orang-orang non Islam. Saya selalu berterus terang kepada teman yang beragama lain ketika berhari raya dengan mengatakan bahwa saya tidak bisa mengucapkan selamat kepada hari raya anda (saya meyakini seperti itu, walaupun banyak orang Islam yang berbeda. Mohon maaf.. Inilah yang terjadi, tetapi tidak merusak hubungan pertemanan saya..
    Melalui mimbar ini, saya ungkapkan keprihatinan saya tentang maraknya acara-acara televisi, baik tentang kekerasan dan pornografi yang langsung masuk ke ruang-ruang di rumah kita dan langsung ditonton oleh anak-anak kita. Namun tidak ada satu organisasi keagamaanpun yang secara keras dan terus-menerus memperhatikan hal ini.. Menurut saya hal ini juga lebih serius dibandingkan dengan ‘kristenisasi’.
    Menanggapi ‘kristenisasi’, saya hanya menghimbau kepada umat Islam untuk mempertebal keimanan dengan lebih mendalami ajaran Islam sendiri. Sedangkan kepada rekan-rekan umat kristian, saya ucapkan terima kasih, karena saya tahu lebih banyak diantara anda orang-orang yang baik.. Sama halnya dengan umat Islam yang lebih banyak orang baik daripada orang tidak baik..
    Terima kasih untuk semua… Mohon maaf, atas kesalahan saya.. Wassalam.

  52. Warok Jogorogo Says:

    Buat Mas Rony dan Mas Din Syamsudin serta seluruh tokoh Islam.. Kalo sampeyan kabeh ngaku wong Islam kalau lagi ada selisih paham.. mbok ya sing podho sabar. Kita semua kalo yakin dng kalimah Syahadat berarti kita semua saudara. Mas Rony sampeyan wong Islam kan ? Ini sesuai data yg bisa di percaya juga banyak orang bukan Islam tapi ngaku2 Islam. Kalo sampeyan lagi selisih paham datang aja ke Masjid terus diselesaikan di masjid dengan cara yg islami saling menghargai.. jangan berantem lewat Internet, Televisi, Radio, media masa… itu malu2in. Orang yg gak seneng Islam malah tepuk tangan. Saya prihatin banget kalo ada Tokoh Islam di undang ke TV terus berantem, saling olok dengan saudaranya sendiri.. sungguh sangat memalukan.. demi uang receh mau jadi tontonan.. KOYO’ AREK CILIK AEE..NGISIN2I.. POKOKNYA 1X LG KALO SELISIH PAHAM SING PODHO SABAR, SAREH, DATANGLAH KE MASJID SELESAIKAN BERSAMA DNG SEMANGAT UKHUWAH ISLMIYAH.. untuk umat lain kalo menyangkut urusan intern jangan ikut2 campur tangan. Soale kami juga gak pernah ikut campur tangan Agama sampeyan nggih !

  53. Teja Says:

    Marilah kita introspeksi dan perbaiki diri kita masing-masing. Jangan mementingkan diri sendiri dan kelompok sendiri. Mari bergendengan tangan mengatasi segala kesulitan yang sedang dihadapi bangsa kita. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, jadi jangan saling menyakiti. Kita tidak bisa memilih sebagai bangsa apa, sebagai suku apa pada saat kita dilahirkan. Kita juga tidak bisa memilih siapa orang tua kita sehingga keyakinan yang kita anut sejak kecil adalah mengikuti orang tua yang telah melahirkan kita. Pada saat kita dewasa bisa saja mempunyai pemikiran sendiri yang akhirnya kita berbeda dari orang tua kita, namum kita tidak bisa menyangkali kalau Tuhan adalah pencipta kita. Sang Pencipta tentunya ingin kita hidup rukun. Marilah jangan saling mencurigai, kita dilahirkan di tanah air ini sebagai satu saudara, bangsa Indonesia. Kalau ada saudara kita yang menderita, seyogyanya siapapun yang bisa menolong segera membantu. Yang diberi kemampuan secara keuangan membantu dalam hal dana, sedangkan yang tidak mampu secara keuangan membantu secara fisik.
    Niscaya musibah demi musibah yang kita alami dapat berkah akan diberikan kepada kita sekalian.

  54. iii Says:

    Nenek moyang kita agamanya apa, dulu mayoritas bangsa ini adalah hindu, budha, dan sekaramg islam, orang hindu, budha tidak bilang ada islamisasi, orang kristen dari dulu ya segitu-gitu nambah, mungkin malah berkurang, nabinya mengajarkan tidak membuat kerajaan di dunia ini, jadi untuk apa banyak-banyak, kalau diobok-obok itu sudah biasa wong nabinya saja mati karena ditonjoki, puas-puas-puas

  55. Abdul Mutaqin Says:

    Maaf bung Rony, saya ingin tahu komentar anda tentang Paus Benedictus menyoal Jihad Islam. Apakah anda mampu mengulas secara “kritis” sebagaimana anda mengulas tentang Din Samsuddin. Seorang Paus bisa keliru, karena bicara Jihad yang notabene adalah milik Islam, dengan kaca mata Kristen. Jadi kalau anda begitu “kritis” ; katanya Charly Silaban, coba komentari tuh “orang suci”nya saudara yang Katolik. Apalagi anda mengaku muslim. Anda tulis, “Dalam kerangka agama, ada kiranya yang dinamakan sebagai Lakum dinukum waliyadin”.Coba anda buka asbabun nuzul ayat itu. Saran saya ketika Anda menyebut agama, agama apa yang Anda maksud. Kalo Islam, jadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan pemaknaan. Jika Kristen, jadikan al-Kitab. Bagi seorang muslim yang “bener”, ketika bicara Islam ya dengan Al-Qur’an dan Hadis itu. Dan bagi seorang muslim yang memahami dua sumber itu, beragama (ber_Islam) bukan semata-mata urusan pribadi an sich. Aqidah harus dipelihara. Dan saudara Din melakukannya dalam kerangka itu. Jika apa yang dilontarkan sudara Din ternyata tidak benar, gunakan jalur hukum. Kristenisasi itu fakta mas, bukan hayalan. Kami baru saja dikejutkan dengan peristiwa yang sama di Depok. Ujung-ujungnya kami dirugikan karena pelaku dilepaskan hingga melarikan diri. Kalo tidak, ngapain harus kabur dan ga kembali lagi. Thank’s

  56. rony Says:

    @mas Abdul Mutaqin:
    tujuan penulisan saya adalah himbauan agar tokoh sekaliber Dien tidak mengeruhkan kondisi sosial masyarakat dengan menyebar isu yang memancing emosi.
    Perkara ada masalah dengan perkataan Paus Benedictus, kebetulan saya tidak/belum mengulasnya.
    Nah, mengenai akidah yang harus dipelihara, saya sangat setuju! namun apakah caranya dengan menimbulkan keresahan? Mengapa dulu Pak AR (pimpinan Muhammadiyah terbaik hingga saat ini menurut saya) memilih untuk tidak seperti itu? Menurut saya cara yang lebih bijak jauh lebih disukai oleh-Nya. Kalaupun ada seruan agar para pejuang Muhammadiyah lebih waspada dengan adanya data yang –diyakini– benar, maka sampaikan seruan tersebut di dalam lingkup aktivis, agar tidak menimbulkan keresahan. Ini menurut pendapat saya saja. demikian.

  57. Abdul Mutaqin Says:

    Saya senang respon Mas Rony. Mas, saya yakin tokoh sekaliber Dien tidak sembarangan dan serta merta melakukan tindakan di luar perhitungan dan menimbulkan “keresahan”. Jika topiknya adalah keresahan dengan tema agama, bukan hanya segelintir orang yang merasa resah dan gerah. Ummat Islam juga demikian dengan sepak terjang sebagian saudara Kristen kita itu, sebagaimana yang baru-baru ini kami rasakan. Dan, perlu diakui, strategi kita kalah canggih dengan mereka.
    Mas, saya membaca berita yang diturunkan Republika itu, 02 Juni 2006, bukan 01 Juni 2006 seperti yang Mas tulis di awal, yang menjadi bahan “imbauan” Mas Rony untuk Dien. Kalau Mas bilang, “Kalaupun ada seruan agar para pejuang Muhammadiyah lebih waspada dengan adanya data yang –diyakini– benar, maka sampaikan seruan tersebut di dalam lingkup aktivis, agar tidak menimbulkan keresahan”, Dien berbicara di situ bukan semata-mata atas nama Pimpinan Muhammadiyah tetapi atas nama MUI yang memiliki peran atas ormas Islam Indonesia. Untuk lebih jelas ini beritanya :

    Jumat, 02 Juni 2006
    Waspadai Pemurtadan

    YOGYAKARTA — Wakil Ketua MUI pusat Prof Dr Din Samsuddin meminta kepada umat Islam melalui ormas dan lembaganya mewaspadi gerakan pemurtadan korban bencana gempa bumi yang terjadi di Jateng-DIY. Ia mensinyalir, kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana.

    ”Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana,” kata Din di hadapan peserta rapat koordinasi Dakwah dan Kegiatan Pasca Bencana Gempa Bumi di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta kemarin petang.

    Selain Din Samsuddin, dalam rapat koordinasi tersebut tampak hadir Ketua Umum MUI DIY Drs HM Thoha Abudrrahman serta ormas dan lembaga Islam lainnya seperti HMI, KAMMI, MER C dan lain-lain.

    Menurut Din, gerakan kristenisasi di Yogyakarta termasuk cukup besar, sehingga untuk menjaga kemungkinan terjadinya pemurtadan dikalangan korban gempa bumi, seluruh ormas dan lembaga Islam, selain memberikan bantuan logistik dan makanan, bersama-sama melakukan pengawalan aqidah. Termasuk melakukan pembinaan rohani terhadap anak-anak.

    ”Mereka itu memiliki logistik dan dana yang cukup, oleh karena itu mari kita bersama-sama mengawal aqidah mereka. Meski ini agak terlambat, kami mengajak seluruh ormas dan lembaga Islam untuk mengirimkan dai-dainya ke lokasi bencana ” tandas Din.

    Bagi yang sudah bergerak di lapangan, kata Din, tidak harus bergabung dengan lembaga dan ormas Islam yang ada di bawah koordinasi MUI. Supaya tidak tumpang tindih, sebaiknya menjalin komunikasi di lapangan. Selain perlu ada relawan melakukan bimbingan dakwah, harus ada relawan yang melakukan pengawasan terhadap gerak-gerik mereka.

    Menurut Ketua Umum PP Muhammdiyah tersebut, untuk melakukan bimbingan rohani kepada kurban bencana gempa bumi ini, yang saat ini paling dibutuhkan selain mengirim dai, adalah mendirikan tenda-tenda kecil untuk mushala, serta mukena. Kata Din, ada ratusan bahkan mungkin ribuan kurban bencana itu kehilangan mukena.

    ”Saya minta seluruh lembaga dan ormas Islam yang ada di lokasi bencana, hari Jum’at ini menyelenggarakan Shalat Jum’at, dengan kondisi apapun.” n
    (asd)

    Emosi ataupun keresahan sebenarnya bukan hal baru dalam pergulatan wacana pemikiran ataupun aksi. Dan biasanya orang yang memiliki “kepentingan” lah yang paling banyak merasakan itu.
    Pak AR. rahimahullah, adalah Pak AR. Dien adalah Dien. Keduanya memiliki setting masa memimpin yang berbeda. Tidak ada satupun yang meragukan keteduhan Pak AR. Dan tidak ada seorang pun yang menegaskan, Pak AR akan tinggal diam jika persoalan aqidah dipertaruhkan. Dulu, Ki Bagus Hadikusumo adalah orang yang paling teguh mempertahankan 7 kata dalam piagam Jakarta. Kalo bukan karena Kasman Singodimejo yang membujuknya dengan dalih Indonesia Timur akan tidak ikut kerangka NKRI, Ki Bagus akan tetap teguh. Tapi coba liat, apakah setelah dihapusnya 7 kata itu gerakan sparatis berhenti ? seperti RMS misalnya dan yang lain. Saya hanya ingin membuktikan bahwa yang namanya resah dan emosi, adalah sebuah kewajaran dan tidak perlu dijadikan dalih berlebihan. Mas Rony, saya ingin memenuhi statemen Anda “Sayang sekali saya tidak memiliki alamat email Anda. Tapi saya harap ada yang akan meneruskan, minimal Google, tulisan saya ini kepada Anda “, sebenarnya naif banget sih, Mas Rony orang yang terbiasa dengan dunia maya (internet). Bukan perkara sulit hanya untuk sekedar melacak alamat email Dien Syamsuddin (dinsyamsuddin@gmail.com). Silahkan ingatkan Dien jika menurut Anda perlu, tentu akan lebih bijak jika langsung ke alamat pribadi. Hingga tidak ada orang-orang yang lepas kontrol nimbrung mengaminkan tulisan Anda. Thank’s

  58. rony Says:

    @mas Abdul Mutaqin: terimakasih :)

  59. fakirilmu2609 Says:

    Menarik, saya agak ketinggalan, agak menyesal baru gabung di blog ini.
    Bro Rony, tulisan yg bagus, kritis. mudah2an niatnya untuk saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan, semoga Allah melimpahkan rahmat dan kemuliaan untuk bro Rony atas inisiatif dan niat baiknya.
    Bahwa Islam rahmatan lil Alamin adalah benar, Islam ajaran yg sejuk penuh kasih, jadi ajaran Islam terhadap sesama manusia toh juga seiring dengan ajaran Yesus dalam Kristiani, Islam juga mengimani Isa A.S sebagai salah satu rasul, penyampai firman Allah.
    Bahwa Islam harus disampaikan dalam bahasa yang sejuk dan didakwahkan tanpa menebar keresahan, saya juga sepakat.
    Bahwa seorang pemimpin Islam sekaliber Dien Syamsudin perlu menjaga perkataan dan berhati hati dalam lisan, saya juga sepakat.
    Namun, sesuai apa yang juga telah dikatakan oleh saudara Abdul Muttaqin, bahwa ada gerakan (itu) juga fakta dan nyata Bro Rony.
    Angka statistik tidak selalu bisa menunjukkan fakta, karena banyak sekali fakta yang tersembunyi dan tidak terbaca oleh statistik.
    Mungkin akan lebih baik mendiskusikannya via japri dan email saya atau email Bro Rony.
    Jadi menurut saya, niat pak dien manyampaikan itu juga baik, mungkin caranya kurang bijak, tapi groundnya menurut saya sudah baik , seperti niat Bro Rony untuk mengingatkan ummat
    Salam kenal,

    your brother in Islam

  60. dani ahmadramdani Says:

    bertekadlah seperti setan
    dan berjuanglah dijalan tuhan.

  61. Abdul Mutaqin Says:

    Mas Rony, numpang ya. Thank’s.
    Untuk saudara dani ahmadramdani.
    Baru kali ini saya menemukan ungkapan model dani. Lama saya mengira-ngira apa makna di balik ungkapan cukup singkat itu. Sementara saya berkesimpulan, berjuang di jalan Tuhan (Allah bagi saya)haruslah kuat, tidak kenal putus asa, seperti tidak kenal putus asanya setan dalam menyesatkan manusia beriman dari jalan-Nya dan melawan Allah.
    Kita faham sekali tekad Rasulullah SAW berjuang di jalan Allah,
    Kita kenal siapa Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Hamzah, Hanzalah dan sederetan nama-nama sahabat besar yang mempertaruhkan syahidnya demi tegaknya agama. Kita juga kenal para tabi’in, tabi’it tabi’in serta ulama-ulama muta’akkhirin yang hampir separuh hidupnya untuk Agama. Bahkan siapa yang tidak kenal Sayyid Quttbh, yang merelakan lehernya di tiang gantungan sebagai syahid; pengarang Fi zhilal al-qur’an itu. Apakah Rasulullah bertekad seperti setan ? Apakah para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in serta ulama-ulama muta’akkhirin semacam Sayyid Quttbh menjadikan tekad setan sebagai semangat perjuangannya ?
    Mensejajarkan tekad setan dengan berjuang di jalan Allah adalah dua hal yang aneh. Sekuat-kuatnya tekad setan hanya lah kemunkaran dan melawan Allah, sedangkan berjuang di jalan Allah, adalah tugas suci dari-Nya. Untuk apa firman Allah tegas-tegas melarang: ” …janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”.
    Tidak perlu mengadopsi tekad setan untuk tugas mulia, cukuplah Rasulullah sebagai teladan dan manusia-manusia mulia di bawahnya.
    Mas Dani, salam kenal melalui blog ini, menulislah yang dapat menyelamatkan anda dan orang lain.

  62. Feb Says:

    Setuju dengan Mas Abdul Mutaqin….
    Sebaiknya kita nggak perlu bikin ungkapan yang aneh-aneh bahkan kontradiktif!

  63. farra Says:

    tidak benarlah bahwa muhammadiyah kurang tanggap dengan penderitaan korban bencana gempa yogya, sebagai gambara saya ikut mendistribusikan bantuanuntuk korban gemba yogya atas nama muhammadiyah sudah berusaha semaksimal mungkin kedaerah2 pelosok tanpa melihat korban dari latar belakang apa.

  64. eko W Says:

    Assalamu’alaikum Wr>Wb.

    untuk semua yang ngritik bang Din dsaya do’akan segera insyaf dan mendapat hidayah dari Allah SWT, masak membela agama dan umat sendiri kok di kritik. yang ngritik bang din itulah yang saya minta untuk insyaf ank kalau ndak tau caranya insyaf datang aja ke Bang Din.

    dan kalau marah dengan saya datang aja ke Sragen pasti saya akan memmaafkan anda.
    wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  65. geni Says:

    islamisasi, kristenisasi, hindunisasi, budhanisasi, konghucunisasi…
    apa sih yang dikhawatirkan? emangnya tuhan rugi ya, kalo umatnya berkurang?
    perbuatan baik dengan niat apapun (pamer, pemurtadan, udang di balik bakwan) tetep aja lebih baik daripada sikap paranoid tapi gak ada gunanya.

    salut buat mas rony yang berhati baik…
    salam,
    gp

  66. kusumo Says:

    Saya telat mengikuti… tapi ada hal menarik… Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, keluarga besar Islam, kuliah di Yogya kost di lingkungan pesantren… Namun sampai saat ini saya belum pernah menemukan namanya apa yang disebut “Kristenisasi” walaupun saya aktif di Gereja (namun jarang ke gereja)… Dari kecil teman-teman saya bilang kalau bergaul dengan non muslim nanti di-kristenkan… Saya terus terang berusaha mencari ciri atau tipikal tentang bagimana t4eknik/ritual kristenisasi… Bahkan di dalam rekan-rekan yang bergabung di Forum Persaudaraan Umat Beriman yang nota bene merupakan kumpulan para Ulama/Kyai, Romo (Katolik), Pendeta, Romo (Buddha), dan hampir semua agama dan kepercayaan, juga sulit untuk mendefinisikan apa yang disebut Kristenisasi atau Permurtadan… Saya percaya 100% adanya Tuhan bahkan merasa cukup dekat, namun bahwa apa yang kita kerjakan akan mendapat pahala sehingga masuk surga atau neraka… saya tidak percaya seratus persen… Namun saya hanya byakin bahwa apabila kita mngerjakan sesuatu itu baik dan benar paling tidak kita mendapatkan ketenangan batin… Bagib saya itulah surga… Bhakan pasa saat tahun 1992 saya diculik oleh Soeharto (mungkin saya mahasiswa pertama yang diculik) dimana ada tim/pasukan khusus rangkap 3 dan bahkan dijemput pakai pesawat khusus (non TNI-AU) dengan segala penderitaan namun saya merasakan kedekatan dengan Tuhan… Sekedar berbagi, saya hanya berdua dengan Xanana Gusmao di tahanan Inteljen, tapi suasana hati membuat situasi seperti surga, saya bahkan lupa saya beragama apa… Tapi saya salut dengan bung Rony, informasi anda dan teknik ulasan anda cukup baik dan berusaha menjadi moderator yang baik… Sukses selalu…

  67. AlteiZen Says:

    Din Syamsudin sudah melakukan hal yang benar
    dia memperingati umat islam di Indonesia atas bahaya pemurtadan. memang itu tanggungjawabnya sebagai ketua mui dan muhammadiyah

    kebanyakan orang sudah melupakan sih hal2 kaya gini..

    saya sendiri bukan muhammadiyah, saya malah bisa dibilang iut ke aliran yang lebih keras dari muhammadiyah.

    =================================================
    tampaknya malah sodara Rony yang sedikit banyak telah menyepelekan isu pemurtadan ini

  68. Iben_aff Says:

    Halo Semua….

    Saya tertarik dengan pemikiran dari Bung Ronny…dan saya mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Bung Ronny untuk Bung Din…

    Tetapi saya pikir..semua orang yang membela Bung Din..lebih kepada sikap fanatisme kepada agama yang mereka anut.

    Misalnya : Jika bung Din salah..maka mungkin umat islam tidak ada mengkritisi beliau ( akan diam saja –> Karena Bung Din adalah saudara saya dalam islam ). Artinya adalah Fanatisme agama yang bermain. Jadi sebenarnya hal ini jadi DILEMA.

    Seharusnya kita sebagai bangsa yang Pluralisme selalu melihat kepada KEBENARAN dan KEBENARAN.

    Soal pemurtadan..saya kira bukan ISLAM saja yang panik “Kebakaran jenggot” akan hal itu….tetapi juga pasti UMAT KRISTEN.

    Jika umat Islam tidak suka jika ada saudaranya yang pindah agama….apakah jika umat lain pindah ke ISLAM…Apakah Umat ISLAM menolaknya…Jawabnya TIDAK kan.

    Terkadang saya berfikir sebenarnya negera kita ini negera apa? Negera Agama ? atau Negera untuk semua AGAMA ( 5 Agama yang di diakui di Indonesia ). Dimana semangat Pancasila ” Ketuhanan yang maha esa” dan dimana yang katanya di UUD 1945, bahwa setiap umat berhak memeluk agama dan menjalakan ibadahnya…dst”

    Perhatikan saja kondisi yang ada di Indonesia ini….Bangun GEREJA harus banyak banget BIROKRASInya dan bisa2 tidak bangun karena tidak ada ijin yang lengkap…tetapi perhatikan saja…Mo bangun Mesjid..dimana saja dan kapan saja BISA….TIDAK ada larangan. Apakah ini keadilan beragama di Indonesia.

    Apakah Indonesia adalah Negera 1 AGAMA ????

    Jadi saya setuju…bahwa agama adalah hak asasi dari setiap manusia..dan kita tidak boleh memusuhi yang berbeda agama dengan kita dan kita harus menghormati PILIHAN agama yang dianut oleh setiap umat…

    Trims;

  69. Abdul Mutaqin Says:

    Buat Iben_aff, salam kenal.
    Tulisan Anda menarik dicermati.Pertama, dalam Islam fanatisme itu tidak boleh terhadap tokoh selain Nabi, kecuali pada keyakinan Islamnya. Anda menilai orang-orang yang membela Din dalam respon atas tulisan Rony sebagai fanatis, padahal itu terjadi karena tulisan itu hanya melihat satu kasus saja, dan justru mengundang polemik baru. Jika Anda mengatakan tertarik atas tulisan itu, bisa jadi itu karena Anda merasa diuntungkan dengan beritanya Rony dan senang atas tulisan itu. Kenapa Anda senang ?, Saya kira karena Anda juga fanatis terhadap keyakinan Anda. Coba Anda baca-baik-baik semua komentar atas tulisan Rony. Ada yang jelas-jelas senang terhadap tulisannya. Sekali lagi karena merasa diuntungkan sebab kebetulan Kristen. Jadi yaa, fanatis juga kan namanya. Saya juga lihat, justru banyak komentar yang mendukung Rony, agak kasar menilai Din. Kenapa kasar, karena fanatismenya juga terusik. Jadi dalam kasus ini, Anda tidak beda dengan yang dituduh fanatis itu.

    Anda perlu tahu, tidak semua koleganya mendiamkan Din ketika salah seperti dugaan Anda, bahkan sebelum Din melakukan apapun sudah banyak yang mengingatkan ketika beberapa saat terpilih menjadi ketum Muhammadiyah. Kami tahu peris itu. Itu artinya, persepsi Anda keliru.

    Kedua, kata plurasime yang Anda gunakan pada kalimat “Seharusnya kita sebagai bangsa yang Pluralisme selalu melihat kepada KEBENARAN dan KEBENARAN ” sebenarnya kurang tepat. Semestinya Anda menggunakan diksi plural atau pluralitas. Memang akar kedua kata itu sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Menempatkannya dalam konteks yang salah, juga akan salah artinya. Plurasime biasanya digunakan untuk istilah suatu faham ” Pluralisme Agama” yang memandang bahwa semua agama itu benar. Maksud Anda mungkin harus toleransi kepada keyakinan berbeda-beda.

    Toleransi memang penting sebab merupakan hajat bagi individu penganut agama. Mereka tak mungkin eksis tanpa adanya toleransi. Tapi toleransi bukan pluralisme. Ia hanya sebatas menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya. Sementara pluralisme agama, pada hakekatnya, akan menghacurkan agama-gama yang ada. Ketika ia mengklaim sebagai tafsir agama yang paling benar, justru ia hendak memaksakan paham-paham agama lain ditinggalkan dan mengambil tafsir agama versi di pihaknya. Pada titik ekstrimnya, target pluralisme agama adalah untuk menghabisi agama-agama. Minimalnya akan membiarkan agama-agama bergentayangan tanpa ruh atau esensi dari agama-agama tersebut.

    Ancaman pluralisme agama ini sebenarnya sudah banyak disadari oleh para pemikir, filosof, dan pemuka agama. Untuk Indonesia, misalkan, ada beberapa tokoh yang menolak gagasan Pluralisme agama. Antara lain, dari kalangan Kristen. Tesis doktoral yang ditulis oleh Pdt. Stephly Lumintang, yang dibukukan dengan judul ”Ideologi Abu-Abu”. Disebut abu-abu karena tidak jelas. Menurut buku ini, pluralime agama ini akan membabat habis agama-agama, termasuk Kristen. Sedangkan dari kalangan Hindu ada buku juga yang diedit oleh Ngakam Made Madra Suta, yang diterbitkan tahun 2006, dengan judul ”Semua Agama Tidak Sama.” Buku ini ingin merespon beberapa argumen yang dipkai oleh kalangan pluralis, utamanya John Hick. Sementara Romo Franz Magnes Suseno, nampaknya, bersikap mendua. Maksud mendua di sini ia dalam beberapa tulisannya tidak setuju dengan pluralisme agama, tapi dalam beberapa diskusi, ia mengaku mendukung pluralisme agama.

    Jadi kalau boleh disimpulkan, pluralisme agama bukanlah toleransi agama. Sebab pluralisme agama berbeda dengan pluralitas. Hal-hal yang digaungkan oleh pengusungnya sebagai pendamai dan solusi untuk mendamaikan antara agama-agama justru menunjukkan sebaliknya, yakni akan memusnahkan agama-agama lainnya. Pluralisme Agama melarang klaim kebenaran (truth claim), tapi ternyata ia sendiri yang mengklaim dirinya paling benar, dan agama-agama yang ada adalah salah. Dengan demikian, pluralisme agama ini bukanlah solusi, tapi lebih merupakan ancaman bagi eksistensi agama-agama.

    Ketiga, ungkapan Anda “Perhatikan saja kondisi yang ada di Indonesia ini….Bangun GEREJA harus banyak banget BIROKRASInya dan bisa2 tidak bangun karena tidak ada ijin yang lengkap…tetapi perhatikan saja…Mo bangun Mesjid..dimana saja dan kapan saja BISA….TIDAK ada larangan. Apakah ini keadilan beragama di Indonesia “. Ada apa denganmu ?. Di antara komentar-komentar atas tulisan Rony, inilah ungkapan komentator yang paling menunjukkan fanatismenya yang amat berlebihan. Seolah-olah itulah fakta umum yang terjadi. Padahal itu hanya pemikiran pukul rata. Indonesia tidak bisa difahami dengan hanya mengambil sempel kondisi daerah tertentu.

    Kenapa bangun masjid mudah ? karena mayoritas penduduk suatu daerah tertentu memang muslim, aspirasi terbesar itu. Tapi, jangan harap hal itu akan sama, jika misalnya membangun masjid di tengah-tengah mayoritas Kristen. Wajar jika warga Kristen keberatan karena muslim minoritas di situ dan warga muslim jangan coba-coba memaksakan diri. Adapun pukul rata Anda di atas, yang ada, beberapa gelintir warga Kristen memaksakan diri untuk membangun gereja di tengah-tengah mayoritas muslim. Tapi yang diekspos, katanya ummat Islam menghalangi orang membangun gereja tanpa dijelaskan demografinya, kan lucu. Anda ga perlu khawatir. Bangunlah dari tidur Anda dan baca PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 9 TAHUN 2006 NOMOR : 8 TAHUN 2006 tentang aturan mendirikan rumah ibadah yang baru. Semua di atur di situ. Beberapa tahun ke belakang jika ada yang terjadi seperti yang Anda sebutkan, lebih karena ada satu pihak yang ingin memaksakan diri atas nama agama dengan mengabaikan kepentingan dan agama pihak lain.

    Keempat, kalau Anda katakan “Jadi saya setuju…bahwa agama adalah hak asasi dari setiap manusia..dan kita tidak boleh memusuhi yang berbeda agama dengan kita dan kita harus menghormati PILIHAN agama yang dianut oleh setiap umat…” oke, 100 % benar !. Tapi itu adalah tataran normatif, pesan moral agama memang mengajarkan begitu. Di lapangan, lain lagi ceritanya Bung !.

    Baru-baru ini kasus seorang wanita yang bernama Nifin Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip www.almesryoon.com, (19/8) itu menyatakan bahwa ia merasa terancam oleh Anas Abduh, ayahnya, Faiza Habib, ibunya serta Anggie, saudara kandungnya. Hal itu disebabkan karena mereka mencoba untuk memaksa Nifin agar kembali memeluk agama Nasrani setelah ia memilih memeluk Islam.
    Ia menambahkan, bahwa dirinya telah menyatakan diri memeluk Islam pada 21 Juli 2007, dan mengganti namanya dengan nama Islam lalu menikah dengan seorang Muslim yang bernama Aiman Mahmud serta tinggal bersamanya di propinsi Mathariyah.

    Namun ketika ia berkunjung kepada keluarganya, mereka mengurungnya dan melarang suaminya untuk bertemu dengannya. Tidak hanya itu, keluarga memaksanya agar meng-khulu’ (mengajukan cerai dengan mengembalikan mahar) suaminya. Akan tetapi ia menolak, sehingga keluarganya memutuskan untuk mengurungnya dalam rumah. Pada malam harinya Nifin berhasil kabur dan mendatangi kantor polisi untuk minta perlindungan. Ia menginginkan agar keluarganya berjanji supaya mereka tidak memaksanya lagi untuk murtad dari Islam.

    Bahkan ia juga menegaskan bahwa ia menginginkan tetap memeluk Islam yang telah ia pilih sesuai dengan hati nuraninya, juga menegaskan bahwa ia menikah dengan suaminya dikarenakan sama-sama suka dan tidak ada paksaan, dan ia mengharap agar pihak keamanan menjaga ia dan suami dari keluarganya.

    Ah, ternyata ada juga contoh seperti yang terjadi di sini di seberang benua kita. Mengapa ?, karena memang setiap penganut agama, wajib fanatis terhadap agamanya.
    Hidup orang beragama, yang cinta pada agamanya.

  70. yugo Says:

    rony lagi-rony lagi, pamali atu puasa2 ngomongin orang. Dosa lho.

  71. rony Says:

    fanatisme bukanlah kesalahan. saya pikir munculnya kata keimanan tak lepas dari hal yang *di satu sisi* bisa disebut sebagai fanatik.
    saya tidak mau makan babi, sikap saya ini tentu bisa disebut sebagai fanatik.
    Yang bermasalah adalah ketika saya mengatakan bahwa warung A, B, C menggunakan daging babi, jangan makan di sana. Padahal tidak ada bukti nyata akan hal ini.
    Atau dengan contoh lain, alangkah indahnya jika misalnya ternyata warung A,B,C itu memang menggunakan daging babi, dilakukan pendekatan dulu. Jika memang itu pilihan mereka, baru menyampaikan ke warga seiman agar tidak makan di sana, dan minta ke warung itu untuk menuliskan lambang babi di warungnya. Jangan pakai kekerasan, karena itu bukan jalan.
    bukankah begitu?

    p.s. jika tidak mau dikritik ataupun dibahas di media (termasuk blog), sebaiknya jadilah rakyat biasa, jauhkan diri dari kekuasaan dan sorotan.

  72. dony Says:

    Memang susah kalau bicara soal agama di ngr kita ini. Di satu sisi (maaf) sebagian umat Islam merasa takut dg isu kristenisasi. Saya setuju dengan pola pikir mas Rony yg saya anggap kritis. Memang skrg ini sebagian umat Islam merasa adanya ancaman Kristenisasi, mungkin dalam benak mereka sangatlah gampang untuk berpindah keyakinan karena iming2 harta, indomie atau apa sajalah.
    Menurut saya terlalu naif bila kita berprasangka spt itu. Menurut saya jika ada orang berpindah agama, tentulah mengalami suatu proses yg tdk mudah. Perlu pertimbangan yg sangat masak (tdk serta-merta / gegabah).
    Sekarang ini bila umat Islam tidak ingin kebobolan maka yg harus dibenahi adalah pola syiarnya. Bagaimana dakwah yg disampaikan oleh kiai/ustad dll bisa menyentuh hati umatnya sehingga umat tsb semakin mantap dg imannya.
    saya sgt setuju bila mas Rony mengatakan bhw pimpinan sekaliber Bung Dien hrs turun ke bawah. Cross check dulu.

  73. johanes Says:

    Nggak tahu ya kenapa kalu ada orang Kristen mengadakan kegiatan sosial langsung aja dicap Kristenisasi. memang susah sekali berbuat baik di negeri ini, tanpa hrs merasa was-was, jangan-jangan dianggap Kristenisasi.
    Namun bila sebaliknya orang Kristen tdk ikut membantu saudara-saudara yang terkena musibah, mmmmhh…bisa-bisa dicap gak peduli dengan saudara sebangsa setanah air.
    Perjumpaan Islam dan Kristen memang tdk bisa dihindari di muka bumi ini, terutama di indonesia. Harus disadari bahwa keduanya adalah agama yg bersifat misioner. Artinya masing2 melakukan kegiatan dakwah/syiar atau apa sajalah namanya, shg tidak munghkin tidak bila terjadi tarik ulur di antara keduanya. Artinya ada kemungkinan org Islam masuk Kristen dan sebaliknya org Kristen masuk Islam. Itu adalah proses yg wajar dimana orang bebas memilih keyakinannya. sebab apabila seseorang memeluk agama tertentu krn terpaksa apalagi dipaksa, maka saya yakin hasilnya adalah nol besar. Namun, sebaliknya bila ia merasa yakin dgn agama yg dianutnya saya berkeyakinan bhw ia akan bewrpegang teguh kepada imannya, misalnya masyrakat di mana mas Rony tinggal.
    Perlu diketahui bahwa dalam agama Kristen berbuat baik kepada sesama itu adalah sebuah kewajiban (saya rasa Islampun mengajarkan hal tsb). Menjadi Kristen itu dasarnya adalh panggilan (bukan paksaan, apalagi di beri iming2) artinya hanya Kristuslah yg memanggil seseorang itu untuk bisa menjadi pengikutnya, it means bhw org Kristen tdk serta merta bisa membuat orang lain menjadi Kristen, sekali lagi hanya Yesus yg mampu melakukannya, namun apabila orang Kristen harus mewartakan/menyiarkan ajaran Kristus maka itu adalah tugassebagaimana orang Islam memiliki kewajiban yang sama thd agamanya. Bila ada orang Kristen yg menjadi mualaf misalnya, kenapa hrs bingung?? Biarin aja itu pilihannya gak perlu dipertengkarkan. Namun sebaliknya bila ada orang Islam yang masuk Kristen jangan pula dipaksa atau dimusuhi.

  74. Bayu Adhiwarsono Says:

    Bung Rony, tidak makan babi, bagi umat Muslim (anda bilang anda juga muslim), bukan soal fanatik atau tidak fanatik dong !!!! Itu kan larangan !!! Larangan dan perintah tidak ada hubungannya dengan fanatik atau tidak fanatik, tapi berhubungan dengan ketakwaan. Perasaan, dulu waktu SD pernah dibahas di pelajaran Agama deh. Kecuali SD-nya di luar negeri…hehe…

    Soal Dien dan isu pemurtadan atau Kristenisasi, saya lebih setuju biarlah semua berjalan seperti apa adanya. Yang mau melakukan pemurtadan ya silahkan….., sebaliknya….kalau ada yang mau memperingati umatnya atau melakukan tindakan perlawanan….ya silahkan.

    Itung-itung ladang dakwah buat kami saudara-saudara sesama muslim.

  75. gundhul Says:

    Kini kita tahu, siapa yang berteriak-teriak maling, namun dia sendirilah malingnya.
    kini kita tahu, siapa yang berteriak-teriak kebakaran, padahal dia sendirilah yang membakar.
    Kini kita tahu siapa yang berteriak-teriak PECAHNYA BANGSA TERCINTA INI, PADAHAL DIA SENDIRI YANG MEMECAH BANGSA.

    Din, hati-hati omonganmu. Jabatanmu yang mentereng dan menyilaukan itu tidak akan menulikan dan membutakan hati kami atas kebusukan hatimu dan prasangka buruk yang kamu jadikan api pembakar kedamaian bangsa !!

    Ternyata kamu sama saja dengan mempraktekkan politik penjajah : mengadu domba !!

    Din, di tas kamu masih ada langit. Di atas langit masih ada Alloh !!

  76. Esther Regina Purba Says:

    Sdr Rony,

    Salam kenal. Awalnya saya nyasar ke blog ini, tapi setelah menelusurinya….semakin ingin ke dalam, lebih dalam… Salut hormat untuk Sdr. Rony yg jujur apa adanya dan yakin dengan pendapatnya meski berbeda dengan beberapa “saudara” Anda yg berada di bawah bendera agama yg sama. Saya sependapat dengan pendirian sdr. Rony, Johannes, Dony, dll yg senada.

    Untuk teman-teman lainnya, apapun keyakinan (sekali lagi:KEYAKINAN! itu artinya penganut Kejawen dan Parmalin, dll.)atau agama Anda, selama Anda yg selalu berada di samping saya saat ditimpa kemalangan atau ikut bergembira saat saya sedang bergembira, dan Anda melakukan hal sama pada orang lain juga….bagi saya Anda adalah saudaraku.
    Jadi, kalau mau bantu orang, ya tanpa syarat dan jangan berpikir dua kali dan berharap pahala menjadi meningkat hanya karena
    menolong orang yg seagama dengan Anda. Yg dinamakan SAUDARA adalah umat manusia yg MENCINTAI manusia lain, BUKAN SAUDARA adalah mereka yg seagama.
    Jadi kalau ada yg berubah keyakinan (saya enggan pakai kata MURTAD), selama BUKAN karena materi, alasan praktis, atau mengukuhkan tanda cinta dengan kekasih Anda, bagi saya itu berarti Tuhan sendiri berbicara kepada Anda dengan caraNya sendiri. Orang “tercerahkan” hanya melalui perenungan bathin pribadi dengan Tuhan. Jadi, mau pindah ke Kristen kah atau ke Muslim kah, biarkan saja. Selama orang itu tidak pongah dengan agama barunya, saya pikir tidak ada masalah.

    Saya bersyukur, pastor/romo di gereja saya idak pernah menyebarkan benih-benih kebencian atau menghakimi umat lain. Selalu mengingatkan menolong siapapun yg membutuhkan.

    Jadi, sekarang ini jangan sibuk dengan perkara dogmatis, yg penting bagaimana kita bisa menjadi manusia, selayaknya manusia yg diciptakan Tuhan dengan kemampuan berpikir dan merasa ;)…ada banyak perkara penting di dunia yg menuntut perhatian dan aksi kita:KELAPARAN, KEMISKINAN, PEPERANGAN, KERUSAKAN ALAM,PENDIDIKAN TERTINGGAL.
    Menurutku. MANUSIA TIDAK HIDUP UNTUK AGAMA, TETAPI UNTUK MANUSIA DAN MAKHLUK HIDUP LAIN YG DICIPTAKAN TUHAN. Agama DICIPTAKAN manusia untuk mendukung dan mengarahkan pada kemuliaan Tuhan, BUKAN sebaliknya: Tuhan mendukung agama ;)
    Sejauh ini, saya mengagumi dan menjadikan panutan penulis dan pemikir (dari tulisan dan ceramah) seperti:Romo Magnis Suseno, Nurcholis Madjid, Gus Dur, Romo Mangunwijaya, Ghde Prama, Mudji Sutrisno. (maaf, mungkin ada yg lain, tapi baru Bapak-bapak ini yg saya baca tulisannya.Oh, ya, Bapak Jalaluddin Rakhmat dan Goenawan Moehammad jg.

    Selamat berbuka puasa bagi teman Muslim atau non-Muslim yg jg berpuasa;)

    Salam damai,
    Esther (Anti kebencian atas dasar perbedaan agama/keyakinan)

  77. yugo Says:

    udah jangan dengerin omongannya si rony, dia itu senang kalau orang lain susah. sirik banget loe rony.

  78. rony Says:

    @mas yugo:
    lebih tepatnya adalah saya nggak suka liat “orang senang karena menyusahkan orang lain”. :)

  79. Dhanie Says:

    Wah telat nih.
    Udah….gitu aja berantem.
    Masih banyak yang harus diurus, bukan cuma isu-isu seperti itu. Daripada ngurusin sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan, lebih baik ngurus perut aja, yha to…

  80. taryono Says:

    wah mencerahkan masih banyak juga yang beragama =baik yang pro maupun yang kontran= saya kira semua udah pindha agama ke agama baru “webblogging” salam kenal mas rony.

  81. KristenNoTengkyu Says:

    Mas Rony, sekedar “out of the box” berupaya mengulas dari sisi yang lain….In business there is a valid golden rule, “when you dont take care of your customers, others will” in human resource management ada juga rumusan standard “when you dont take care of your staff, others will” Tanpa membenarkan maupun membantah isue kristenisasi, rasanya kita gagal untuk “take care atas ummat kita sendiri” dan pada saat ummat lain menawarkan sepotong roti dan secangkir susu (Bukan anggur loch yah hehehehe) kita serta merta tersinggung. Mengurus ummat bukan masalah “logisitcs” its a matter of “willingness” alias “niat”, bila niat itu ada, automatically logistics akan by default ikut serta. Remember wahai “all you better than the rest moslems…..(ditulis dengan nada sinis)” kalau kita terus berkutat sama retorika dan gagal untuk take care ummat kita sendiri, maka “others will take care” its as simple as that. Bilamana sesungguhnya kristenisasi tidak ada, sungguh sesat kita semua
    karena berbalut dalam fitnah!!! Namun bilamana sesungguhnya upaya kristenisai itu ada, apa yang akan kita lakukan? 1. Membinasakan semua umat kristen sampai ke mereka yang ari2 nya masih tersambung dengan ibunya? (BTW ini sesuai nggak yach dengan ajaran Rassullulah?) 2. Menyebarkan aqidah dan Mensejahterakan ummat kita sendiri sehingga ummat Islam hidup layak dan menjadi insulated dari segala upaya kristenisasi?

    Demikian tanggapan saya, maaf kalau sedkit dicampur bahasa English….jangan ada yang tersinggung, moga2 udah nggak ada lagi yang berpikiran bahasa English itu Bahasa Nasaroh hehehehehe Emang kalo gue pake bahasa Arab, pada ngerti wakakakakaak. Ass Wr Wb….STOP KEKERASAN

  82. Taqqiya Menjijikkan Says:

    Bagi orang islam yang moderat dan orang islam yang tidak tau BETUL tentang islam, memang soal agama itu urusan masing-masing pribadi. yang saya tau di indonesia ini, orang anjing nasrani, babi yahudi dan amerika selalu dijadikan kambing hitam. klo ada orang islam pindah agama ke kristen selalu sasarannya telah diberi hal-hal yg bersifat MATERI oleh orang kristen dan dipaksa, kalo tidak orang kristen yang menyamar dan belajar islam kemudian mengaku pindah KRISTEN. (baca itu tulisan-tuslian si majalan SABILI isinya sama dengan provokator dan fitnah buat non-muslim)
    Klo ada orang kristen yang memaksa untuk pindah agama itu PUKULI atau BUNUH saja tdk apa-apa karena dalam ajaran mereka tidak seperti itu (dilarang/tidak boleh memaksa) memang mereka diperintahkan untuk memberitakan Injil, tetapi tidak memaksa, klo ada yang mau terima itu BAGUS, klo tidak yang TIDAK APA-APA.

    Jangan SALAHKAN kenapa ada orang muslim yang marah terhadap non muslim seperti Pak Din, ini dasarnya :
    Surat 9:123 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.
    Surat 8:12 Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
    Surat 3:85 Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
    Surat 2:191 Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.
    Surat 9:5 bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka
    Surat 2:193 Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah
    Surat 9:14 Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.
    Surat 9:29 Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
    Surat 9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.
    Surat 9:28 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini…
    Surat 3:61 Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan
    diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
    Surat 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka
    maka tawanlah mereka.
    Surat 8:65, Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir
    Surat 3:28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman atau penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

    Dan bagi yang moderat atau mungkin yg menggunakan
    LOGIKA AKAL SEHAT ini dasarnya :
    Surat 2:256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)
    Surat 73:10 Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
    Surat 109:6 Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.
    Surat 20:130 Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu
    Surat 2:83 ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….
    Surat 10:99 Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
    50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.
    Surat 29:45 Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara
    yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami
    dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri
    Surat 2:62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
    Surat 7:199 Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh..
    Surat 6:108 Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan
    Surat 43:88-89 Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)
    Surat 50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka
    Surat 16:90 Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
    memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran
    dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
    pelajaran.

    Tergantung SUKA PILIH AYAT YANG model mana (keras/lembut) ?
    Jadi jangan salahkan perbuatan IMAM SAMUDRA dan kawan-kawan (bukankah mereka selalu merasa tidak bersalah klo diwawancarai di TV), karena ada dasarnya AYAT-NYA, bahkan dinegara-negara islam timur tengah seperti itu penerapannya khsusnya iran.

    Di toko buku, khususnya di buku-buku Islam, ada banyak buku yang dengan se-enak udelnya sendiri menghujat agama lain, tetapi klo agamanya baru di KRITIK aja sudah MARAH BESAR apalagi di hujat, hukum mati sudah pasti ANCAMANNYA.

    Mengapa orang orang islam murtad pasti dibuat sengsara, ini salah satu dasarnya :

    “..Rasulullah (nabi Muhammad) telah menyatakan : ‘Jika seorang Muslim meninggalkan agamanya (Islam), bunuhlah dia. Hadis sahih al-Bukhari 4/260.

  83. Trims Says:

    Terima kasih bisa pasang iklan saya di sini.
    indonesia.faithfreedom.org (versi indonesia)dan versi inggris www.faithfreedom.org

  84. khansa Says:

    assalamualaikum wr.wb
    mari kita berlindumg dari godaan setan yg terkutuk. mas rony,setiap orang pasti punya kelemahan dan lelebihan.jgn menilai seseorang dari sisi negatifnya saja.anda yg mengaku muslim,mengapa tak malu menguak aib saudaranya sendiri,memusuhi.
    smg Pak Din selalu dilindungi dari orang2 dengki,dari perkataan2 org ya membenci ato skedar tdk suka dg beliau.semoga keimanan beliau selalu terjaga.amiin. maaf atas kata2 yg kurang berkenan.fastabiqul qairat.
    wassalamualaikum wr.wb

  85. Taqqiya Menjijikkan Says:

    Baru-baru ini saya melihat berita yg lagi hot di TV, yang mana dalam 1 bulan ini ada 3 aliran sesat dalam islam yang muncul, diantaranya aliran Al Quran suci. Apanya yang menarik ? lagi-lagi komentar Pak Din pada running text mengatakan bahwa ke-3 aliran tersebut DISINYALIR ada KEPENTINGAN/HAL-HAL YANG BERBAU DAN BERTUJUAN YANG BERSIFAT POLITIK.
    Apa maksud beliu berpendapat begitu ??
    Jangan-jangan nanti nuduh lagi itu perbuatan licik setan amerika, babi yahudi dan satu lagi ….. krist….

  86. KristenNoTengkyu Says:

    Dear Taqqiya…setuju bawha akan selalu ada buku-buku provokatif yang meng anjingkan si X, mem babikan si Y ataupun men setankan si X, my only comment is that semangat dari tulisan pertama Mas Rony adalah untuk “critacally introspect” agama kita masing2 dan apa yang terjadi didalamnya, dan bukan secara “heboh” menggaris bawahi perbuatan zalim apa yang telah dilakukan ummat lain terhadap ummat diri kita sendiri. Foul Play telah di lakukan oleh banyak orang dengan dalih agama, jangan sampai kita ikut terjebak. Peace my friemd, lets heal the wounds…..Christianity is about peace, Islam is about peace, also Hinduism, Budhism and other religons. Agama-agama ini memang berbeda (TIDAK SAMA!!!), tapi berbeda tidak berarti harus saling baku hantam & baku zalim.

  87. Taqqiya Menjijikkan Says:

    Memang mayoritas bangsa indonesia ini pali suka melakukan TAQQIYA.

  88. Abdul Mutaqin Says:

    Makin seru blognya Rony.
    Termasuk Anda;Taqiyya Menjijikkan, baru saja melakukan Taqiyya. Cuma Anda yang menggunakan sarkasme seperti “… orang anjing nasrani, babi yahudi dan amerika selalu dijadikan kambing hitam”. Oh ya, KristenNoTengkyu, saya senang sekali Anda menulis komentar dengan Bahasa Arab, kalo perlu utuh Arabnya, sekedar menunggu bukti bahwa Anda memang mampu, seperti kata Anda ” Emang kalo gue pake bahasa Arab, pada ngerti wakakakakaak”.