<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Surat Buat Din Syamsudin, Tanggapan Atas Isu Pemurtadan di Yogyakarta</title>
	<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/</link>
	<description>Mempercayakan perubahan melalui kata-kata</description>
	<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 10:03:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: gaek_gogo</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-39627</link>
		<author>gaek_gogo</author>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 06:20:23 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-39627</guid>
		<description>heheheh....singgah juga gw di blog ini...ada beberapa fakta yang tidak bisa di pungkuri, kristenisasi emang ada faktanya, begitupun islamisasi ada faktanya....perebutan hegemoni keyakinan tersebut sudah ada dari dulu, dan itu syah-syah saja... beberapa literatur telah membahas perebutan tersebut, kaum kristen membunuh 10.000 muslim pada abad 16 demi agama dan keyakinan kristen.... kaum muslim membunuh ribuan nasrani demi agama nya juga..... pihak kristen dibelahan bumi sana kuatir ada islamisasi, di indonesia pimpinam umat islam wajar kuatir juga dengan kristenisasi.... ini dunia, semuanya wajar....din syamsuddin kuatir umatnya pindah agama,,,,,dan bung roni kuatir juga din buat perpecahan,,,,gax perlu ribut dan saling cerca kan....lagi-lagi semuanya wajar

salam. Afri Erisman, Ph.D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>heheheh&#8230;.singgah juga gw di blog ini&#8230;ada beberapa fakta yang tidak bisa di pungkuri, kristenisasi emang ada faktanya, begitupun islamisasi ada faktanya&#8230;.perebutan hegemoni keyakinan tersebut sudah ada dari dulu, dan itu syah-syah saja&#8230; beberapa literatur telah membahas perebutan tersebut, kaum kristen membunuh 10.000 muslim pada abad 16 demi agama dan keyakinan kristen&#8230;. kaum muslim membunuh ribuan nasrani demi agama nya juga&#8230;.. pihak kristen dibelahan bumi sana kuatir ada islamisasi, di indonesia pimpinam umat islam wajar kuatir juga dengan kristenisasi&#8230;. ini dunia, semuanya wajar&#8230;.din syamsuddin kuatir umatnya pindah agama,,,,,dan bung roni kuatir juga din buat perpecahan,,,,gax perlu ribut dan saling cerca kan&#8230;.lagi-lagi semuanya wajar</p>
<p>salam. Afri Erisman, Ph.D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ipraz</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-39093</link>
		<author>ipraz</author>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 15:28:42 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-39093</guid>
		<description>bung ronny menurut q anda terlalu banyak berkomentar, baiknya anda belajar dulu sampe gelar doktor baru baru berkomentardan menganalisis pendapat orang.memang ada benarnya jk di jogja banyak kemurtadan pasca gempa, karena dengan bantuan2 untuk korban gempa punya misi untuk memurtadan orang muslim. banyak juga org muslim murtad karena belajar di lembaga non muslim. anda bisa lihat sendiri banyak pemurtadan di daerah imogiri, gunungkidul, kalten utara deket boyolali.org secerdas bang Dien nga ngaruh dengan kata-kata LOE, kacian dech loe.belajar dulu baru berkomentar</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bung ronny menurut q anda terlalu banyak berkomentar, baiknya anda belajar dulu sampe gelar doktor baru baru berkomentardan menganalisis pendapat orang.memang ada benarnya jk di jogja banyak kemurtadan pasca gempa, karena dengan bantuan2 untuk korban gempa punya misi untuk memurtadan orang muslim. banyak juga org muslim murtad karena belajar di lembaga non muslim. anda bisa lihat sendiri banyak pemurtadan di daerah imogiri, gunungkidul, kalten utara deket boyolali.org secerdas bang Dien nga ngaruh dengan kata-kata LOE, kacian dech loe.belajar dulu baru berkomentar</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: JustSayPeace*</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38834</link>
		<author>JustSayPeace*</author>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 09:47:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38834</guid>
		<description>ini memang masalah bersama.. mari qt renungkan bersama dgn cara ya lebih baik lagi.. Jgn slh menghasut.. Karna sesungguh'nya (bagi kaum muslim) ALLAH SWT sangat tw syapa diri qt.. mari qt tunjukan Islam adalah agama yg Cinta damai.. karna qt tidak sendiri dalam dunia ini.. Jalan menuju surga.. Hanya kebaikan engkaw menjadi manusia.. yg menyadari, betapa indahnya hidup rukun bersama dan bersyukur atas apa yg telah diberikan kpd Qt..
jangan kamu pernah "men-judge" seseorang.. walaupun kmu tw kebenaran'nya.. tapi.. doa'kan lah dya.. insya allah.. dy bisa kembali ke jalan yg benar.. dimana dy tw hakikat dy sbgai manusia, sbgai hamba ALLAH SWT.. karna qt sebgai sesama manusia.. tak lebih,tak kurang.. qt semua SAMA derajat'nya..

maaf klu ada kata saya yg salah.. saya hanya tidak ingin bumi ini menjadi neraka untuk qt smw.. saya hanya seseorang yg percaya ALLAH SWT menyayangi saya.. sehingga saya dapat memberi pendapat saya ini..
Terima kasih..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ini memang masalah bersama.. mari qt renungkan bersama dgn cara ya lebih baik lagi.. Jgn slh menghasut.. Karna sesungguh&#8217;nya (bagi kaum muslim) ALLAH SWT sangat tw syapa diri qt.. mari qt tunjukan Islam adalah agama yg Cinta damai.. karna qt tidak sendiri dalam dunia ini.. Jalan menuju surga.. Hanya kebaikan engkaw menjadi manusia.. yg menyadari, betapa indahnya hidup rukun bersama dan bersyukur atas apa yg telah diberikan kpd Qt..<br />
jangan kamu pernah &#8220;men-judge&#8221; seseorang.. walaupun kmu tw kebenaran&#8217;nya.. tapi.. doa&#8217;kan lah dya.. insya allah.. dy bisa kembali ke jalan yg benar.. dimana dy tw hakikat dy sbgai manusia, sbgai hamba ALLAH SWT.. karna qt sebgai sesama manusia.. tak lebih,tak kurang.. qt semua SAMA derajat&#8217;nya..</p>
<p>maaf klu ada kata saya yg salah.. saya hanya tidak ingin bumi ini menjadi neraka untuk qt smw.. saya hanya seseorang yg percaya ALLAH SWT menyayangi saya.. sehingga saya dapat memberi pendapat saya ini..<br />
Terima kasih..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdul</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38749</link>
		<author>Abdul</author>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 08:39:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38749</guid>
		<description>Halo Anto.
Sayangnya, tanpa informasi Bung Din pun isu itu telah banyak diterima dari sumber-sumber lain. Bung Din bukan sumber tunggal masalah ini. Benar, Islam adalah rahmatan lil alamin, tapi dalam soal keyakinan agama, Nabi, para sahabat dan tabi'in tidak mengenal kompromi. Segala aktivitas yang mengarah kepada pendangkalan dan pemurtadan, harus diluruskan. Dengan tangan, lisan atau tulisan. Yang lebih dulu mencitrakan kesan bahwa Islam adalah garang, adalah 'the other'.

Halo Nelwan.
“Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya…”. 

Mestinya pernyataan dan pertanyaan ini lebih pantas ditujukan kepada “Orang-orang yang telah diurapi dan dipermandikan”. So, para misionaris. Sebab kepada merekalah pernyataan ini relevan dan menemukan bobot serta akurasi yang didukung fakta sejarah. Bukan ditujukan kepada hidung orang lain dengan segmen yang sangat sempit. Akhirnya, statemen itu menjadi mubazir.
Nelwan pura-pura, seolah-olah belum pernah membaca tentang gerakan Misionaris sama sekali. Saya harus kembali membuka soal ini; soal yang sesungguhnya ‘sensitif’ setelah kemarin merasa telah cukup. Tapi, ternyata belum dan hampir tidak sensitif lagi. Atau bahkan mungkin akan terus dan terus.
Saya kok agak yakin, tidak ada orang yang mau menyangkal kedekatan para misionaris dengan Tuhan. Tapi banyak sekali orang tahu, bahwa misionaris pernah mengenakan ”cincin kawin” dengan imperialisme di negara-negara muslim. Mari saya tunjukkan di belahan bumi lain, bagaimana aktivitas misi Kristen seperti dua sisi dari satu mata uang dengan urusan jajah menjajah yang menunjukkan kekejaman manusia atas manusia lain meskipun kepada tuhan mereka terbilang soleh? 
Kita tengok Afrika dan Asia Tengah yang merupakan salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15,  telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad  berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.  
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.

“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”

Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya,: 

“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah  orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”

Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.
Aktivitas kelompok misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan, pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello. Kudeta ini dilakukan oleh  lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966, ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim di utara yang semakin hari semakin meningkat.”
Dalam buku “Nigeria Tahun 1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis,:

 “Sejarah masa lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos, situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas Kristen.”

Setelah terbunuhnya Jenderal Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang berpenduduk mayoritas Kristen,  mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.
Ketika akhirnya Biafra berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara Selandia Baru.
Begitulah. Bahkan misionaris; orang yang dekat dengan Tuhan itu, tidak memiliki rasa malu menjalin ”kemesraan” dengan komunis dan kelompok sparatis demi ambisi politis dan kepentingan gereja seperti yang terjadi di Turki. Hubungan Partai Komunis Kurdi (KDK), yang sebelumnya bernama Partai Buruh Kurdi (PKK), dan gerakan separatis Kurdi dengan gereja adalah sebuah fakta yang harus diperhatikan. Sejak tahun 1983, gereja memiliki hubungan erat dengan kelompok-kelompok separatis. Perlu disebutkan pula bahwa gerakan separatis pertama yang terjadi di tenggara Anatolis pada tahun 1962, didalangi oleh para pakar AS yang terkait dengan gereja-gereja Katolik dan Anglikan.

Lalu, ”Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, ...” 
Misionaris berkomitmen untuk kaum miskin? Yes and No! Yes, karena para misionaris sering menampakkan diri di tengah-tengah mereka. No, karena kehadiran misionaris ada ‘udang di balik tepung’ berupa kepentingan misi. Komitmen pada kaum miskin hanyalah teknologi kamuflase alias tembok di mana mereka bisa berlindung. Apa yang terjadi di Turki bisa lagi dijadikan contoh. Misionaris yang beraktivitas di tengah masyarakat fakir menipu masyarakat dengan tawaran kerja dan janji pemberian uang. Sebaliknya, para fakir miskin itu diminta untuk mengenakan pakaian Kristiani.
Majalah Aidin Lik terbitan Turki, beberapa waktu yang lalu menyebutkan tentang adanya sebuah buku terbitan New York yang berisi "metode-metode misionaris Prostestan”. Dalam buku ini, secara jelas dituliskan bahwa lokasi terpenting aktivitas misionaris  adalah negara-negara Arab dan Islam. Kepada para misionaris, buku ini menuliskan pesan sebagai berikut, : 

 "Peluang terbaik bagi kita adalah di negara-negara yang baru lepas dari perang dan kondisinya diliputi kehancuran, kelaparan, dan standar hidup yang rendah. Daerah terbaik untuk menyebarkan agama adalah di pinggiran kota. Jika diperlukan, orang-orang yang tinggal di daerah-daerah seperti ini bisa dibeli.”

Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan negara-negara Asia Tengah seperti Azerbaijan, puluhan kelompok misionaris atas dukungan negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini.
Secara umum, metode yang dipakai delegasi misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia. 
Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar “Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang berusia antara 6 hingga 10 tahun. 
Soal kaum miskin, ummat Islam juga tetap peduli, walaupun dengan kapasitas yang boleh dibilang terbatas. Jika Anda belum tahu hal ini, itu soal lain, sebab memang para dermawan muslim tidak ada urusan Anda tahu atau tidak.

Lalu,” apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kema[m]puannya utk melewati para misionaris”. 

Pada dasarnya, tokoh, pimpinan Islam atau kiai juga mau demikian, seperti yang dilakukan para penginjil itu. Bahkan sudah dimulai sejak lama. Islam sebagai “rahmatan lil alamin” yang bermula dari jazirah Arabia hanya dalam waktu singkat dapat diterima di belahan dunia lain, bahkan masuk ke kampung Anda. Bedanya dengan misionaris, para mujahid Islam memperkenalkan Islam dengan cara-cara yang khas Islam, bil hikmah wa mau’idzhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Sehingga hasilnya pun sangat gemilang. Para mujahid Islam berdakwah untuk memperkenalkan Islam dan ajaran-ajarannya semata. Tidak dengan hidden agenda untuk “memusnahkan” kepercayaan lain sehingga perlu menggandeng kekuatan imperialis. Para ulama berdakwah sebagaimana “prajurit Gereja”. Tapi tidak dengan cara-cara sebagaimana para misionaris lakukan, dengan sokongan dana yang besar; seperti Anda akui, tapi hasilnya tidak memuaskan harapan. Yang perlu Anda ragukan bukanlah kemampuan para ulama melewati para misionaris. Tapi pendekatan dan cara-cara yang dipergunakan para misionaris yang patut pula Anda pertanyakan efektifitasnya. 
Spekulasi saya, Anda tidak lebih jeli dari Kardinal Lavie Garry yang agak sedikit pesimistik menyatakan,:

 “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itulah para misionaris berharap agar seluruh kaum muslimin menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mereka di kalangan Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslimin.”

Anda juga tidak lebih hati-hati dari Shataliah, seorang pendeta Perancis yang dengan setengah putus asa berkata dalam “Le Monde Musulman” (Dunia Islam); sebuah majalah propaganda agama. Shataliah menekankan perlunya menggunakan berbagai pendekatan baru untuk melancarkan misi. Salah satunya dengan pendekatan bahasa. Ia menulis,:

“Para misionaris kita hingga kini masih belum berhasil membuat kaum muslimin berada di bawah pengaruh kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita bisa memanfaatkan penyebaran bahasa-bahasa Eropa. Melalui bahasa-bahasa Eropa tersebut, pemikiran Eropa bisa disebarluaskan. Selain itu, dunia Islam bisa berhubungan dengan media massa Eropa dan dengan jalan itulah organisasi-organisasi misionaris bisa mencapai tujuannya untuk merusak pemahaman Islam di kalangan umat muslim.”

Satu di antara metode yang kemudian dikembangkan untuk merespon kecilnya hasil dibanding biaya dan tenaga yang dikeluarkan adalah mengubah pengajaran Kristen dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini, propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Contoh pelaksanaan metode ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan perceraian. Namun, di Afrika, mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian. 
Lebih jauh lagi, para misionaris bahkan berani mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa digambarkan sebagai seorang kulit putih, bermata biru dan berambut pirang panjang. Namun, demi menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka menggambarkan  bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut keriting.

Lalu, “Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”.

Mungkin Anda benar, the have moslem tidak memberikan dukungan sehebat yang diterima para misionaris. Why? Persoalannya tidak terlalu rumit. Berdakwah bagi para ulama merupakan bagian dari tugas suci untuk memberikan pencerahan atas ajaran agama yang lebih ditujukan bagi komunitas muslim sendiri. Tugas para ulama itu bukanlah tugas raksasa, sebagaimana mega proyek yang dibebankan di pundak misionaris. Bagaimana tidak membutuhkan sokongan yang hebat, sebab sasarannya lebih banyak adalah kaum miskin yang butuh uang, makan dan pakaian serta ummat Islam dalam jumlah yang amat besar. Wajar bukan kalau dibutuhkan sokongan dana yang mungkin tidak terbatas besarannya. Nah, para penyokong misionaris sangat memahami itu.
Saya ulangi lagi ungkapan H. Berkhof dan I.H. Enklaar dalam buku mereka Sedjarah Geredja, yang ditulis tahun 1962, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962). Berikut ini pengakuannya:

“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa…. di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil. Apalagi bukan saja rakyat djelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi djuga dan terutama para pemimpin masjarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah”.
“Pelaksanaan tugas raksasa itu selajaknya djangan hanya didjalankan dengan perkataan sadja tetapi djuga dengan perbuatan. Segala usaha Pekabaran Indjil jang sudah dimulai pada masa lalu, hendaknya dilandjutkan, bahkan harus ditambah. Penerbitan dan penjiaran kitab2 kini mendapat perhatian istimewa. Penterdjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah oleh ahli2 bahasa Lembaga Alkitab, yang sudah mendjadi suatu berkat rohani jang tak terkatakan besarnya, harus terus diusahakan dengan radjin. Perawatan orang sakit tetap mendjadi suatu djalan jang indah untuk menjatakan belas-kasihan dan pertolongan Tuhan Jesus terhadap segala jang tjatjat tubuhnya. Pengadjaran dan pendidikan Kristen pun sekali2 tak boleh diabaikan oleh Geredja… Dengan segala djalan dan daja upaja ini Geredja Jesus Kristus hendak bergumul untuk merebut djiwa-raga bangsa Indonesia dari tjengkeraman kegelapan rohani dan djasmani, supaja djalan keselamatan jang satu2nya dapat dikenal dan ditempuh oleh segenap rakjat.”

Lalu, ”Apakah ada banyak pengabdi islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil.

Ungkapan Nelwan yang ini agak ngawur, kalau tidak dikatakan mengada-ada. Seolah-olah Nelwan telah menghitung semua para pengabdi Islam dan tahu persis jumlahnya sehingga ia mampu membagi-bagi “Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil”.  
Nelwan, masih ada pengabdi Islam yang rela berjalan kaki untuk berdakwah. Bukan kepada orang yang berbeda agama, tetapi sesama muslim; saudara mereka. Memang, pengabdian mereka tidak banyak diketahui oleh halayak, termasuk Anda juga tidak tahu. Ya, karena mereka tidak pernah melapor pada Anda.
Jika Anda mempermasalahkan soal dijemput mobil atau amplop, itu relatif. Jumlahnya pun tidak seperti pernyataan kebanyakan. Anda menggunakan jurus pukul rata. Yang lebih masuk akal, tidak sedikit para misionaris didatangkan dari berbagai Negara untuk ‘menyapa’ domba-domba yang tersesat? Bahkan mereka dibayari naik pesawat. Apa mungkin dari Eropa atau YU ES E menuju negeri ladang subur pengkabaran Injil naik onthel? Aya aya wae. 
Soal amplop mana mungkin amplop ustadz atau kyai lebih besar dari amplop misionaris. Kan Anda sendiri yang bilang, “ … dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”. Ditambah lagi dengan kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat yang merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.

Lalu, “Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat”. 

Saya setuju. Bagaimana tidak lebih hebat, proyek raksasa dibandingkan dengan proyek biasa. Didukung duit yang tebal dan motivasi atas nama Tuhan sekaligus? Lebih dahsyat, lebih ulet, lebih bandel. It’s oke. Media yang digunakan pun beragam. Hampir tak ada celah yang luput dari sentuhan tangan misionaris apabila sudah terjun ke lapangan misi.
John Moot, seorang misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung para misionaris tidak  berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan kebencian.”  Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu menemukan teman seorang pun.
Menurut para misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, juga menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus  kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.”
Metode lain yang dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter memberikan  dukungan yang amat besar bagi gerakan misionaris dalam mencapai tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama.
Kondisi seperti ini tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa kesediaan  para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah Al-Masih.
Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah  secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto  bisa menarik perhatian pembaca. 
Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya pada Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika.
Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas  dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka secara maksimal. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut. 
“Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.”
Secara pribadi, saya tidak terlalu bergembira dengan isi laporan yang disampaikan pihak yang berwenang berkaitan dengan hal ini. Bisa saja laporan itu tidak seluruhnya akurat. Dan sangat besar kemungkinan sipat spekulatifnya demi kebaikan misi. Ya, jangankan hanya sebentuk laporan yang interpretable, persoalan yang sangat mendasar saja seperti gambar rupa Isa al-Masih, masih mungkin dimanipulasi dengan rekaan rupa gambar yang baru. Namun sebagai naskah yang dapat terbaca, ummat Islam perlu menyikapinya dengan arif. Bahkan sikap arif saja tidak cukup, tetapi perlu kewaspadaan. Mengapa? Misi Kristen tidak akan pernah berhenti. Dokumen Konsili Vatikan II, ad gantes secara tegas menggariskan masalah ini :

“Landasan karya misioner ini diambil dari kehendak Allah, Yang ”menginginkan bahwa semua manusia diselamatkan dan mengakui kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Perantara antara Allah dengan manusia yaitu Manusia Kristus Yesus, Yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang (1 Tim 2:4-6),” dan tidak ada keselamatan selain Dia” (Kisah 4:12). Maka haruslah semua orang berbalik kepada Dia, yang dikenal lewat pewartaan Injil, lalu menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja, yang adalah tubuhnya, melalui pemandian ... Oleh sebab itu, karya misioner dewasa ini seperti juga selalu, tetap mempunyai keampuhannya dan tetap diperlukan seutuhnya”.

Lalu, “Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh ………”

Islam mao belajar dari misionaris? Sebentar. Soal kegigihan dalam berdakwah, cukuplah Islam belajar dari para sahabat, tabi’in dan para salafussoleh; generasi terbaik kaum muslimin. Tidak perlu kepada misionaris. Islam punya manhaj sendiri, kitab suci sendiri, tradisi sendiri, etika sendiri yang amat berbeda dari yang dipahami, diyakini dan diperbuat oleh misionaris. Kalo belajar naik onthel, bolehlah, sebab para sahabat Rasulullah dahulu, para tabi’in dan genarasi salaf muslim tidak ada yang menyinggung tentang kereta angin itu.
Bukankah yang lebih banyak belajar dari tradisi Islam itu adalah para misionaris? Meskipun dengan tujuan yang tidak semuanya mulia. Cobalah buka catatan tentang Christiaan Snouck Hurgronje. Orang ini tekun sekali belajar Islam tapi dengan tujuan mencari titik lemahnya. Bahkan harus berpura-pura menjadi muslim segala. “Theorie Resptie” adalah hasil buah belajarnya. Konsep ini ampuh untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam .
Snouck lahir tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout Belanda, merupakan anak keempat dari pasangan Pendeta JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Nama depannya diambilkan dari nama kakeknya, pendeta D Christiaan de Visser. Pada tahun 1874 selepas dari pendidikan HBS di Breda, ia melanjutkan ke Fakultas Teologi Universitas Leiden.
Tahun 1884 -atas prakarsa JA Kruyt Konsul Belanda di Jeddah- Snouck dikirim ke Makkah untk melakukan penelitian tentang Islam. Untuk mendapatkan ijin tinggal di Makkah, Snouck mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, ia juga mengerjakan Shalat dan ritual agama Islam lainnya. Dengan sikap tersebut, Snouck dapat mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari umat Muslim di Makkah serta dengan mudah bergaul erat dengan para pelajar dan ulama, terutama yang berasal dari Hindia Belanda.
Dalam penelitiannya tersebut, Snouck memusatkan perhatiannya pada tiga hal. Pertama, dengan cara bagaimana sistem Islam didirikan. Kedua, apa arti Islam didalam kehidupan sehari-hari dari pengikut-pengikutnya yang beriman. Ketiga, bagaimana cara memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk mengajak orang Islam bekerjasama guna membangun suatu peradaban yang universal.
Snouck tahun 1889 dipindah tugaskan ke Hindia Belanda, oleh Gubernur Jenderal Pijnacker Herdijk, ia diangkat sebagai peneliti dan penasehat urusan bahasa-bahasa timur dan Islam. Guna memuluskan tugasnya dan memperkuat penerimaan masyarakat, Snouck mengawini wanita Muslim Pribumi secara Islam. Snouck melangsungkan perkawinannya dengan Sangkana, anak tunggal Raden Haji Muhammad Ta’ib, Penghulu Besar Ciamis. Dari perkawinannya itu terlahir empat orang anak, Salmah, Umar, Aminah, Ibrahim. Pada tahun 1895, Sangkana meninggal dunia, kemudian tahun 1898 Snouck mengawini Siti Sadiyah, putri Haji Muhammad Soe’eb, Wakil Penghulu kota Bandung. Pada tahun 1910 Snouck melangsungkan pernikahan dengan Ida Maria, putri Dr.AJ Oort, pendeta liberal di Zutphen, perkawinannya yang ketiga ini dilangsungkan di negeri Belanda. 
Berdasarkan konsep Snouck, pemerintah kolonial Belanda dapat mengakhiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculnya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dimotori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck -berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya- menjadi landasan dasar doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai Doktrin Politik”.
Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Snouck meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, di usianya yang ke 81 tahun.
Kebesaran Snouck selalu dikenang, dialah ilmuwan yang dijuluki ‘dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya. Ia “berjasa” menunjukkan “kekurangan-kekurangan” dalam dunia Islam dan perkembangannya di Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen “Snouck Hurgronjehuis” untuk mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya.
Misionaris sangat berhajat pada Islam dan belajar tentangnya. Tujuannya? Seperti yang selama ini diketahui sedikit orang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Anto.<br />
Sayangnya, tanpa informasi Bung Din pun isu itu telah banyak diterima dari sumber-sumber lain. Bung Din bukan sumber tunggal masalah ini. Benar, Islam adalah rahmatan lil alamin, tapi dalam soal keyakinan agama, Nabi, para sahabat dan tabi&#8217;in tidak mengenal kompromi. Segala aktivitas yang mengarah kepada pendangkalan dan pemurtadan, harus diluruskan. Dengan tangan, lisan atau tulisan. Yang lebih dulu mencitrakan kesan bahwa Islam adalah garang, adalah &#8216;the other&#8217;.</p>
<p>Halo Nelwan.<br />
“Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya…”. </p>
<p>Mestinya pernyataan dan pertanyaan ini lebih pantas ditujukan kepada “Orang-orang yang telah diurapi dan dipermandikan”. So, para misionaris. Sebab kepada merekalah pernyataan ini relevan dan menemukan bobot serta akurasi yang didukung fakta sejarah. Bukan ditujukan kepada hidung orang lain dengan segmen yang sangat sempit. Akhirnya, statemen itu menjadi mubazir.<br />
Nelwan pura-pura, seolah-olah belum pernah membaca tentang gerakan Misionaris sama sekali. Saya harus kembali membuka soal ini; soal yang sesungguhnya ‘sensitif’ setelah kemarin merasa telah cukup. Tapi, ternyata belum dan hampir tidak sensitif lagi. Atau bahkan mungkin akan terus dan terus.<br />
Saya kok agak yakin, tidak ada orang yang mau menyangkal kedekatan para misionaris dengan Tuhan. Tapi banyak sekali orang tahu, bahwa misionaris pernah mengenakan ”cincin kawin” dengan imperialisme di negara-negara muslim. Mari saya tunjukkan di belahan bumi lain, bagaimana aktivitas misi Kristen seperti dua sisi dari satu mata uang dengan urusan jajah menjajah yang menunjukkan kekejaman manusia atas manusia lain meskipun kepada tuhan mereka terbilang soleh?<br />
Kita tengok Afrika dan Asia Tengah yang merupakan salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15,  telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad  berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.<br />
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.<br />
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.<br />
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.</p>
<p>“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”</p>
<p>Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya,: </p>
<p>“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah  orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”</p>
<p>Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.<br />
Aktivitas kelompok misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan, pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello. Kudeta ini dilakukan oleh  lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966, ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim di utara yang semakin hari semakin meningkat.”<br />
Dalam buku “Nigeria Tahun 1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis,:</p>
<p> “Sejarah masa lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos, situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas Kristen.”</p>
<p>Setelah terbunuhnya Jenderal Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang berpenduduk mayoritas Kristen,  mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.<br />
Ketika akhirnya Biafra berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara Selandia Baru.<br />
Begitulah. Bahkan misionaris; orang yang dekat dengan Tuhan itu, tidak memiliki rasa malu menjalin ”kemesraan” dengan komunis dan kelompok sparatis demi ambisi politis dan kepentingan gereja seperti yang terjadi di Turki. Hubungan Partai Komunis Kurdi (KDK), yang sebelumnya bernama Partai Buruh Kurdi (PKK), dan gerakan separatis Kurdi dengan gereja adalah sebuah fakta yang harus diperhatikan. Sejak tahun 1983, gereja memiliki hubungan erat dengan kelompok-kelompok separatis. Perlu disebutkan pula bahwa gerakan separatis pertama yang terjadi di tenggara Anatolis pada tahun 1962, didalangi oleh para pakar AS yang terkait dengan gereja-gereja Katolik dan Anglikan.</p>
<p>Lalu, ”Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, &#8230;”<br />
Misionaris berkomitmen untuk kaum miskin? Yes and No! Yes, karena para misionaris sering menampakkan diri di tengah-tengah mereka. No, karena kehadiran misionaris ada ‘udang di balik tepung’ berupa kepentingan misi. Komitmen pada kaum miskin hanyalah teknologi kamuflase alias tembok di mana mereka bisa berlindung. Apa yang terjadi di Turki bisa lagi dijadikan contoh. Misionaris yang beraktivitas di tengah masyarakat fakir menipu masyarakat dengan tawaran kerja dan janji pemberian uang. Sebaliknya, para fakir miskin itu diminta untuk mengenakan pakaian Kristiani.<br />
Majalah Aidin Lik terbitan Turki, beberapa waktu yang lalu menyebutkan tentang adanya sebuah buku terbitan New York yang berisi &#8220;metode-metode misionaris Prostestan”. Dalam buku ini, secara jelas dituliskan bahwa lokasi terpenting aktivitas misionaris  adalah negara-negara Arab dan Islam. Kepada para misionaris, buku ini menuliskan pesan sebagai berikut, : </p>
<p> &#8220;Peluang terbaik bagi kita adalah di negara-negara yang baru lepas dari perang dan kondisinya diliputi kehancuran, kelaparan, dan standar hidup yang rendah. Daerah terbaik untuk menyebarkan agama adalah di pinggiran kota. Jika diperlukan, orang-orang yang tinggal di daerah-daerah seperti ini bisa dibeli.”</p>
<p>Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan negara-negara Asia Tengah seperti Azerbaijan, puluhan kelompok misionaris atas dukungan negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini.<br />
Secara umum, metode yang dipakai delegasi misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia.<br />
Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar “Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang berusia antara 6 hingga 10 tahun.<br />
Soal kaum miskin, ummat Islam juga tetap peduli, walaupun dengan kapasitas yang boleh dibilang terbatas. Jika Anda belum tahu hal ini, itu soal lain, sebab memang para dermawan muslim tidak ada urusan Anda tahu atau tidak.</p>
<p>Lalu,” apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kema[m]puannya utk melewati para misionaris”. </p>
<p>Pada dasarnya, tokoh, pimpinan Islam atau kiai juga mau demikian, seperti yang dilakukan para penginjil itu. Bahkan sudah dimulai sejak lama. Islam sebagai “rahmatan lil alamin” yang bermula dari jazirah Arabia hanya dalam waktu singkat dapat diterima di belahan dunia lain, bahkan masuk ke kampung Anda. Bedanya dengan misionaris, para mujahid Islam memperkenalkan Islam dengan cara-cara yang khas Islam, bil hikmah wa mau’idzhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Sehingga hasilnya pun sangat gemilang. Para mujahid Islam berdakwah untuk memperkenalkan Islam dan ajaran-ajarannya semata. Tidak dengan hidden agenda untuk “memusnahkan” kepercayaan lain sehingga perlu menggandeng kekuatan imperialis. Para ulama berdakwah sebagaimana “prajurit Gereja”. Tapi tidak dengan cara-cara sebagaimana para misionaris lakukan, dengan sokongan dana yang besar; seperti Anda akui, tapi hasilnya tidak memuaskan harapan. Yang perlu Anda ragukan bukanlah kemampuan para ulama melewati para misionaris. Tapi pendekatan dan cara-cara yang dipergunakan para misionaris yang patut pula Anda pertanyakan efektifitasnya.<br />
Spekulasi saya, Anda tidak lebih jeli dari Kardinal Lavie Garry yang agak sedikit pesimistik menyatakan,:</p>
<p> “Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itulah para misionaris berharap agar seluruh kaum muslimin menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mereka di kalangan Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslimin.”</p>
<p>Anda juga tidak lebih hati-hati dari Shataliah, seorang pendeta Perancis yang dengan setengah putus asa berkata dalam “Le Monde Musulman” (Dunia Islam); sebuah majalah propaganda agama. Shataliah menekankan perlunya menggunakan berbagai pendekatan baru untuk melancarkan misi. Salah satunya dengan pendekatan bahasa. Ia menulis,:</p>
<p>“Para misionaris kita hingga kini masih belum berhasil membuat kaum muslimin berada di bawah pengaruh kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita bisa memanfaatkan penyebaran bahasa-bahasa Eropa. Melalui bahasa-bahasa Eropa tersebut, pemikiran Eropa bisa disebarluaskan. Selain itu, dunia Islam bisa berhubungan dengan media massa Eropa dan dengan jalan itulah organisasi-organisasi misionaris bisa mencapai tujuannya untuk merusak pemahaman Islam di kalangan umat muslim.”</p>
<p>Satu di antara metode yang kemudian dikembangkan untuk merespon kecilnya hasil dibanding biaya dan tenaga yang dikeluarkan adalah mengubah pengajaran Kristen dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini, propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman.<br />
Contoh pelaksanaan metode ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan perceraian. Namun, di Afrika, mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian.<br />
Lebih jauh lagi, para misionaris bahkan berani mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa digambarkan sebagai seorang kulit putih, bermata biru dan berambut pirang panjang. Namun, demi menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka menggambarkan  bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut keriting.</p>
<p>Lalu, “Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”.</p>
<p>Mungkin Anda benar, the have moslem tidak memberikan dukungan sehebat yang diterima para misionaris. Why? Persoalannya tidak terlalu rumit. Berdakwah bagi para ulama merupakan bagian dari tugas suci untuk memberikan pencerahan atas ajaran agama yang lebih ditujukan bagi komunitas muslim sendiri. Tugas para ulama itu bukanlah tugas raksasa, sebagaimana mega proyek yang dibebankan di pundak misionaris. Bagaimana tidak membutuhkan sokongan yang hebat, sebab sasarannya lebih banyak adalah kaum miskin yang butuh uang, makan dan pakaian serta ummat Islam dalam jumlah yang amat besar. Wajar bukan kalau dibutuhkan sokongan dana yang mungkin tidak terbatas besarannya. Nah, para penyokong misionaris sangat memahami itu.<br />
Saya ulangi lagi ungkapan H. Berkhof dan I.H. Enklaar dalam buku mereka Sedjarah Geredja, yang ditulis tahun 1962, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962). Berikut ini pengakuannya:</p>
<p>“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa…. di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil. Apalagi bukan saja rakyat djelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi djuga dan terutama para pemimpin masjarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah”.<br />
“Pelaksanaan tugas raksasa itu selajaknya djangan hanya didjalankan dengan perkataan sadja tetapi djuga dengan perbuatan. Segala usaha Pekabaran Indjil jang sudah dimulai pada masa lalu, hendaknya dilandjutkan, bahkan harus ditambah. Penerbitan dan penjiaran kitab2 kini mendapat perhatian istimewa. Penterdjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah oleh ahli2 bahasa Lembaga Alkitab, yang sudah mendjadi suatu berkat rohani jang tak terkatakan besarnya, harus terus diusahakan dengan radjin. Perawatan orang sakit tetap mendjadi suatu djalan jang indah untuk menjatakan belas-kasihan dan pertolongan Tuhan Jesus terhadap segala jang tjatjat tubuhnya. Pengadjaran dan pendidikan Kristen pun sekali2 tak boleh diabaikan oleh Geredja… Dengan segala djalan dan daja upaja ini Geredja Jesus Kristus hendak bergumul untuk merebut djiwa-raga bangsa Indonesia dari tjengkeraman kegelapan rohani dan djasmani, supaja djalan keselamatan jang satu2nya dapat dikenal dan ditempuh oleh segenap rakjat.”</p>
<p>Lalu, ”Apakah ada banyak pengabdi islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil.</p>
<p>Ungkapan Nelwan yang ini agak ngawur, kalau tidak dikatakan mengada-ada. Seolah-olah Nelwan telah menghitung semua para pengabdi Islam dan tahu persis jumlahnya sehingga ia mampu membagi-bagi “Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil”.<br />
Nelwan, masih ada pengabdi Islam yang rela berjalan kaki untuk berdakwah. Bukan kepada orang yang berbeda agama, tetapi sesama muslim; saudara mereka. Memang, pengabdian mereka tidak banyak diketahui oleh halayak, termasuk Anda juga tidak tahu. Ya, karena mereka tidak pernah melapor pada Anda.<br />
Jika Anda mempermasalahkan soal dijemput mobil atau amplop, itu relatif. Jumlahnya pun tidak seperti pernyataan kebanyakan. Anda menggunakan jurus pukul rata. Yang lebih masuk akal, tidak sedikit para misionaris didatangkan dari berbagai Negara untuk ‘menyapa’ domba-domba yang tersesat? Bahkan mereka dibayari naik pesawat. Apa mungkin dari Eropa atau YU ES E menuju negeri ladang subur pengkabaran Injil naik onthel? Aya aya wae.<br />
Soal amplop mana mungkin amplop ustadz atau kyai lebih besar dari amplop misionaris. Kan Anda sendiri yang bilang, “ … dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”. Ditambah lagi dengan kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat yang merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.</p>
<p>Lalu, “Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat”. </p>
<p>Saya setuju. Bagaimana tidak lebih hebat, proyek raksasa dibandingkan dengan proyek biasa. Didukung duit yang tebal dan motivasi atas nama Tuhan sekaligus? Lebih dahsyat, lebih ulet, lebih bandel. It’s oke. Media yang digunakan pun beragam. Hampir tak ada celah yang luput dari sentuhan tangan misionaris apabila sudah terjun ke lapangan misi.<br />
John Moot, seorang misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung para misionaris tidak  berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan kebencian.”  Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu menemukan teman seorang pun.<br />
Menurut para misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, juga menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus  kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.”<br />
Metode lain yang dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter memberikan  dukungan yang amat besar bagi gerakan misionaris dalam mencapai tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama.<br />
Kondisi seperti ini tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa kesediaan  para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah Al-Masih.<br />
Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah  secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto  bisa menarik perhatian pembaca.<br />
Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya pada Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika.<br />
Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas  dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka secara maksimal. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut.<br />
“Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.”<br />
Secara pribadi, saya tidak terlalu bergembira dengan isi laporan yang disampaikan pihak yang berwenang berkaitan dengan hal ini. Bisa saja laporan itu tidak seluruhnya akurat. Dan sangat besar kemungkinan sipat spekulatifnya demi kebaikan misi. Ya, jangankan hanya sebentuk laporan yang interpretable, persoalan yang sangat mendasar saja seperti gambar rupa Isa al-Masih, masih mungkin dimanipulasi dengan rekaan rupa gambar yang baru. Namun sebagai naskah yang dapat terbaca, ummat Islam perlu menyikapinya dengan arif. Bahkan sikap arif saja tidak cukup, tetapi perlu kewaspadaan. Mengapa? Misi Kristen tidak akan pernah berhenti. Dokumen Konsili Vatikan II, ad gantes secara tegas menggariskan masalah ini :</p>
<p>“Landasan karya misioner ini diambil dari kehendak Allah, Yang ”menginginkan bahwa semua manusia diselamatkan dan mengakui kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Perantara antara Allah dengan manusia yaitu Manusia Kristus Yesus, Yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang (1 Tim 2:4-6),” dan tidak ada keselamatan selain Dia” (Kisah 4:12). Maka haruslah semua orang berbalik kepada Dia, yang dikenal lewat pewartaan Injil, lalu menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja, yang adalah tubuhnya, melalui pemandian &#8230; Oleh sebab itu, karya misioner dewasa ini seperti juga selalu, tetap mempunyai keampuhannya dan tetap diperlukan seutuhnya”.</p>
<p>Lalu, “Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh ………”</p>
<p>Islam mao belajar dari misionaris? Sebentar. Soal kegigihan dalam berdakwah, cukuplah Islam belajar dari para sahabat, tabi’in dan para salafussoleh; generasi terbaik kaum muslimin. Tidak perlu kepada misionaris. Islam punya manhaj sendiri, kitab suci sendiri, tradisi sendiri, etika sendiri yang amat berbeda dari yang dipahami, diyakini dan diperbuat oleh misionaris. Kalo belajar naik onthel, bolehlah, sebab para sahabat Rasulullah dahulu, para tabi’in dan genarasi salaf muslim tidak ada yang menyinggung tentang kereta angin itu.<br />
Bukankah yang lebih banyak belajar dari tradisi Islam itu adalah para misionaris? Meskipun dengan tujuan yang tidak semuanya mulia. Cobalah buka catatan tentang Christiaan Snouck Hurgronje. Orang ini tekun sekali belajar Islam tapi dengan tujuan mencari titik lemahnya. Bahkan harus berpura-pura menjadi muslim segala. “Theorie Resptie” adalah hasil buah belajarnya. Konsep ini ampuh untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam .<br />
Snouck lahir tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout Belanda, merupakan anak keempat dari pasangan Pendeta JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Nama depannya diambilkan dari nama kakeknya, pendeta D Christiaan de Visser. Pada tahun 1874 selepas dari pendidikan HBS di Breda, ia melanjutkan ke Fakultas Teologi Universitas Leiden.<br />
Tahun 1884 -atas prakarsa JA Kruyt Konsul Belanda di Jeddah- Snouck dikirim ke Makkah untk melakukan penelitian tentang Islam. Untuk mendapatkan ijin tinggal di Makkah, Snouck mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, ia juga mengerjakan Shalat dan ritual agama Islam lainnya. Dengan sikap tersebut, Snouck dapat mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari umat Muslim di Makkah serta dengan mudah bergaul erat dengan para pelajar dan ulama, terutama yang berasal dari Hindia Belanda.<br />
Dalam penelitiannya tersebut, Snouck memusatkan perhatiannya pada tiga hal. Pertama, dengan cara bagaimana sistem Islam didirikan. Kedua, apa arti Islam didalam kehidupan sehari-hari dari pengikut-pengikutnya yang beriman. Ketiga, bagaimana cara memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk mengajak orang Islam bekerjasama guna membangun suatu peradaban yang universal.<br />
Snouck tahun 1889 dipindah tugaskan ke Hindia Belanda, oleh Gubernur Jenderal Pijnacker Herdijk, ia diangkat sebagai peneliti dan penasehat urusan bahasa-bahasa timur dan Islam. Guna memuluskan tugasnya dan memperkuat penerimaan masyarakat, Snouck mengawini wanita Muslim Pribumi secara Islam. Snouck melangsungkan perkawinannya dengan Sangkana, anak tunggal Raden Haji Muhammad Ta’ib, Penghulu Besar Ciamis. Dari perkawinannya itu terlahir empat orang anak, Salmah, Umar, Aminah, Ibrahim. Pada tahun 1895, Sangkana meninggal dunia, kemudian tahun 1898 Snouck mengawini Siti Sadiyah, putri Haji Muhammad Soe’eb, Wakil Penghulu kota Bandung. Pada tahun 1910 Snouck melangsungkan pernikahan dengan Ida Maria, putri Dr.AJ Oort, pendeta liberal di Zutphen, perkawinannya yang ketiga ini dilangsungkan di negeri Belanda.<br />
Berdasarkan konsep Snouck, pemerintah kolonial Belanda dapat mengakhiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculnya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dimotori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck -berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya- menjadi landasan dasar doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai Doktrin Politik”.<br />
Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Snouck meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, di usianya yang ke 81 tahun.<br />
Kebesaran Snouck selalu dikenang, dialah ilmuwan yang dijuluki ‘dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya. Ia “berjasa” menunjukkan “kekurangan-kekurangan” dalam dunia Islam dan perkembangannya di Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen “Snouck Hurgronjehuis” untuk mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya.<br />
Misionaris sangat berhajat pada Islam dan belajar tentangnya. Tujuannya? Seperti yang selama ini diketahui sedikit orang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: la akhouf la ahzan</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38188</link>
		<author>la akhouf la ahzan</author>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 07:50:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-38188</guid>
		<description>salaam alaikum,mas abdul muttaqin.saya membaca ulasan anda dan keperluan saya adalah menjadi murid anda.bagaimana caranya?terimakasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salaam alaikum,mas abdul muttaqin.saya membaca ulasan anda dan keperluan saya adalah menjadi murid anda.bagaimana caranya?terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anto</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-37935</link>
		<author>anto</author>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 10:32:59 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-37935</guid>
		<description>kilas balik ke jaman nabi...islam bersikap melindungi kaum kecil sebagai kaum nasara-bukankah islam adalah rahmatanil alamin kalo Bung din lebih banyak belajar lagi pada ajaran nabi dan tidak menyebarkan berita tanpa data yang dapat dipercaya yang mungkin saya nilai suuzdon saya yakin islam akan lebih terkesan cinta damai.gimana Bing din...saya penggemar anda lho....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kilas balik ke jaman nabi&#8230;islam bersikap melindungi kaum kecil sebagai kaum nasara-bukankah islam adalah rahmatanil alamin kalo Bung din lebih banyak belajar lagi pada ajaran nabi dan tidak menyebarkan berita tanpa data yang dapat dipercaya yang mungkin saya nilai suuzdon saya yakin islam akan lebih terkesan cinta damai.gimana Bing din&#8230;saya penggemar anda lho&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nelwan</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-37910</link>
		<author>Nelwan</author>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 05:28:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-37910</guid>
		<description>Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya. Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kemapuannya utk melewati para misionaris. Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris. Apakah ada banyak pengabdi  islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil. Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat. Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh .........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya. Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kemapuannya utk melewati para misionaris. Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris. Apakah ada banyak pengabdi  islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil. Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat. Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh &#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yusuf</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-35411</link>
		<author>Yusuf</author>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 18:12:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-35411</guid>
		<description>Lakum dinukum waliyaddin itu ya seperti itu (bang Din) Menjaga saudaranya agar tidak sesat. Ini bukan soal curiga mencurigai ... tapi waspada. Meyembarkan agama kpd orng yang blm beragama atau untuk menguatkan keimanan boleh-boleh saja tapi kepada yang lain agama? HABISI!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lakum dinukum waliyaddin itu ya seperti itu (bang Din) Menjaga saudaranya agar tidak sesat. Ini bukan soal curiga mencurigai &#8230; tapi waspada. Meyembarkan agama kpd orng yang blm beragama atau untuk menguatkan keimanan boleh-boleh saja tapi kepada yang lain agama? HABISI!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vyta</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-34985</link>
		<author>vyta</author>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 13:57:31 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-34985</guid>
		<description>kalau kamu percaya akan keyakinan yang kamu anut maka anutlah jangan saling memburuk-burukkan orang lain karena itu tidak diajarkan dalam agama manapun. kalau ada orang yang kau anggap bersalah coba untuk mendoakan dan memaafkannya, kalau kamu orang yang beriman tidak perlu saling memburuk2kan. mari kita bangun saling percaya kepada sesama</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau kamu percaya akan keyakinan yang kamu anut maka anutlah jangan saling memburuk-burukkan orang lain karena itu tidak diajarkan dalam agama manapun. kalau ada orang yang kau anggap bersalah coba untuk mendoakan dan memaafkannya, kalau kamu orang yang beriman tidak perlu saling memburuk2kan. mari kita bangun saling percaya kepada sesama</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdul Mutaqin</title>
		<link>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-34905</link>
		<author>Abdul Mutaqin</author>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 13:37:46 +0000</pubDate>
		<guid>http://rony.dgworks.net/2006/06/29/surat-buat-din-syamsudin-tanggapan-atas-isu-pemurtadan-di-yogyakarta/#comment-34905</guid>
		<description>Agak rancu memahami comment Cait sith. Kristenisasi, saya sudah merasa cukup. Hingga hari ini, fakta-fakta yang saya beberkan soal itu masih bisa dibaca di blog ini. Belum ada yang tuntas untuk mengoreksi jika fakta-fakta itu keliru. Saya sangat berterima kasih jika memang fakta itu keliru dan dikoreksi.

Kembali ke Cait Sith yang saya katakan rancu. Orang ini terang-terangan mengaku sebagai manusia tak beragama (entah maksudnya tidak meyakini agama apapun, atau menganggap semua agama benar hingga tak perlu meyakini salah satunya?) tetapi bicara soal iman dan menyederhanakan soal itu. Rancu, orang tak beragama tapi bicara soal yang sangat prinsip dalam agama.Tapi perlahan saya bisa memahami, tidak beragama sama halnya dengan tidak memiliki keterikatan dengan segala kewajiban agama. Artinya pula, ia bebas melakukan apapun yang sejalan atau bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk bebas bicara iman. Sekali lagi jadi rancu, sebab orang yang tak beriman bicara iman.

"Mohon maaf kepada umat muslim, menurut saya kata “pemurtadan” sangatlah kasar. Seakan anda memandang hina kepada seseorang yang pernah menjadi muslim akan tetapi ia merasa lebih cocok dengan agama lain. Mohon maaf atas kelancangan saya, saya hanya berpikir alangkah sejuknya jika kata “murtad” tidak dipergunakan untuk mendefinisikan seseorang yang berpindah agama".

Sdr. Cait, Anda tak perlu khawatir, Islam mengajarkan memberi maaf. Siapapun Anda, meski tak beragama pantas menerima maaf Muslimin jika itu yang Anda minta. Namun perlu Anda sadari, ungkapan Anda yang saya kutip di atas hanyalah buah pikiran Anda yang tak beragama. Saya ajak Anda sedikit mengorek secara benar beberapa hal dalam Islam, khususnya kata "murtad" yang Anda soal. Kata murtad bagi kami ummat Islam bukanlah kata yang dibuat oleh ummat Islam. Tapi kata itu dapat dirujuk pada sumber pokoknya Yaitu Qur'an dan Sunnah yang berarti "lari dari keyakinannya". Jadi kalau Anda berpikir kata itu jangan digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang pindah agama, atas dasar apa Anda berkata begitu ? Kesejukan bukanlah alasan untuk mengubah pengertian yang telah mapan yang merupakan hal yang telah diterima hakikatnya. Sebenarnya, kesejukan menjadi kegerahan bukan karena penggunaan kata murtadnya, tapi cara-cara yang membuat orang berpindah agama yang tidak mengindahkan perasaan orang lain dan aturan negara.
 
Sama sekali kami tidak memandang hina dengan siapupun dari orang Islam yang memilih dengan rela agama barunya. Al-Qur'an menegaskan tidak ada paksaan dalam (memilih) agama. Itu hanya perasaan Anda saja. Perasaan orang yang tak beragama yang masuk wilayah agama. Bagi kami, kata-kata murtad sangat biasa, tidak kasar. Memang, orang yang berbeda keyakinan memandang keimanan orang lain sebatas perasaannya.

Dulu pada zaman nabi kami, manusia mulia, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ada pembesar pemimpin satu kabilah memeluk Islam. Jabbalah ibnu Aiham namanya. Sebagai orang terpandang yang dihormati kaumnya, ia merasa sebagai manusia terhormat yang lebih tinggi derajat dan kedudukannya di banding yang lain meskipun telah jadi muslim. Saat ia melaksanakan haji, kain ihramnya terinjak budak hitam. Ia merasa hal itu sebagai hinaan, karena orang terhormat seperti dirinya tiba-tiba ada budak yang menginjak pakaiannya. Jabbalah menampar budak itu. Nabi  mendengar peristiwa itu dan manasehati, bahwa dalam Islam manusia sederajat, tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah satu dengan lainnya kecuali karena taqwanya.
Apa yang terjadi kemudian, Jabbalah lebih memilih keluar lagi dari Islam karena lebih memilih kehormatan dan derajat yang selama ini dirasakan manisnya. Apakah Rasul membenci, No!.

Beberapa waktu lalu, saya mendatangkan Din Syamsuddin utuk berdialog dan bersillaturrahim dengan warganya. Kesan umum yang terbaca dalam blog ini yang kontra tentang Din, amat jauh panggang dari api. Saya sarankan, bertemulah langsung secara jantan dan betina dengan Din. Bawakan masalah ini ke hadapannya. Apalagi sohibul blog ini (sdr. Rony) mengaku dekat dengan tradisi Muhammadiyah. Tapi ya silahkan saja, orang punya persepsi sendiri meskipun persepsinya itu keliru luar dalam. Termasuk Anda yang keliru menyoal kata murtad dengan dalil perasaan.

Lagi-lagi Anda keliru. Islam dan Kristen tidak sama. Jadi tidak akan ada pengulangan perbedaan sejak dulu hingga kini. Kami akan tetap berselisih dalam hal-hal keyakinan yang tidak mungkin dipertemukan. Silahkan saja orang Kristen mengatakan Nabi Isa mati di kayu salib, 100 % tuhan 100 % manusia, sementara sampai kapanpun kami tidak pernah percaya Nabi Isa disalib dan beliau hanyalah Rasul, rasul mulia. Silahkan menjelaskan panjang lebar tentang itu, kami juga punya panjang lebar dan tinggi penjelasan itu. Hanya saja, penghormatan akan keyakinan masing-masing perlu dipelihara.

Bahaya apa yang Anda maksud? Disintegrasikah? Asal Anda tahu, Islam tidak pernah membawa masalah bagi bangsa ini. Sebab sebelum republik ini lahir, Islam dan syari'ahnya sudah eksis. Ummat Islam pula yang turut berjasa besar mengamankan negara ini dari perilaku penjajah. Tidak perlu saya sebut, agama apa yang dianut penjajah penghisap darah bangsa ini. Tidakkah Anda ingat sejarah bangsa Anda sendiri, pekik 'Allahu Akbar'nya Bung Tomo membakar arek-arek Suroboyo mengusir penjajah?

Inilah teguran saya yang Anda minta sendiri.
Terima kasih telah merangsang dendrit otak saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Agak rancu memahami comment Cait sith. Kristenisasi, saya sudah merasa cukup. Hingga hari ini, fakta-fakta yang saya beberkan soal itu masih bisa dibaca di blog ini. Belum ada yang tuntas untuk mengoreksi jika fakta-fakta itu keliru. Saya sangat berterima kasih jika memang fakta itu keliru dan dikoreksi.</p>
<p>Kembali ke Cait Sith yang saya katakan rancu. Orang ini terang-terangan mengaku sebagai manusia tak beragama (entah maksudnya tidak meyakini agama apapun, atau menganggap semua agama benar hingga tak perlu meyakini salah satunya?) tetapi bicara soal iman dan menyederhanakan soal itu. Rancu, orang tak beragama tapi bicara soal yang sangat prinsip dalam agama.Tapi perlahan saya bisa memahami, tidak beragama sama halnya dengan tidak memiliki keterikatan dengan segala kewajiban agama. Artinya pula, ia bebas melakukan apapun yang sejalan atau bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk bebas bicara iman. Sekali lagi jadi rancu, sebab orang yang tak beriman bicara iman.</p>
<p>&#8220;Mohon maaf kepada umat muslim, menurut saya kata “pemurtadan” sangatlah kasar. Seakan anda memandang hina kepada seseorang yang pernah menjadi muslim akan tetapi ia merasa lebih cocok dengan agama lain. Mohon maaf atas kelancangan saya, saya hanya berpikir alangkah sejuknya jika kata “murtad” tidak dipergunakan untuk mendefinisikan seseorang yang berpindah agama&#8221;.</p>
<p>Sdr. Cait, Anda tak perlu khawatir, Islam mengajarkan memberi maaf. Siapapun Anda, meski tak beragama pantas menerima maaf Muslimin jika itu yang Anda minta. Namun perlu Anda sadari, ungkapan Anda yang saya kutip di atas hanyalah buah pikiran Anda yang tak beragama. Saya ajak Anda sedikit mengorek secara benar beberapa hal dalam Islam, khususnya kata &#8220;murtad&#8221; yang Anda soal. Kata murtad bagi kami ummat Islam bukanlah kata yang dibuat oleh ummat Islam. Tapi kata itu dapat dirujuk pada sumber pokoknya Yaitu Qur&#8217;an dan Sunnah yang berarti &#8220;lari dari keyakinannya&#8221;. Jadi kalau Anda berpikir kata itu jangan digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang pindah agama, atas dasar apa Anda berkata begitu ? Kesejukan bukanlah alasan untuk mengubah pengertian yang telah mapan yang merupakan hal yang telah diterima hakikatnya. Sebenarnya, kesejukan menjadi kegerahan bukan karena penggunaan kata murtadnya, tapi cara-cara yang membuat orang berpindah agama yang tidak mengindahkan perasaan orang lain dan aturan negara.</p>
<p>Sama sekali kami tidak memandang hina dengan siapupun dari orang Islam yang memilih dengan rela agama barunya. Al-Qur&#8217;an menegaskan tidak ada paksaan dalam (memilih) agama. Itu hanya perasaan Anda saja. Perasaan orang yang tak beragama yang masuk wilayah agama. Bagi kami, kata-kata murtad sangat biasa, tidak kasar. Memang, orang yang berbeda keyakinan memandang keimanan orang lain sebatas perasaannya.</p>
<p>Dulu pada zaman nabi kami, manusia mulia, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ada pembesar pemimpin satu kabilah memeluk Islam. Jabbalah ibnu Aiham namanya. Sebagai orang terpandang yang dihormati kaumnya, ia merasa sebagai manusia terhormat yang lebih tinggi derajat dan kedudukannya di banding yang lain meskipun telah jadi muslim. Saat ia melaksanakan haji, kain ihramnya terinjak budak hitam. Ia merasa hal itu sebagai hinaan, karena orang terhormat seperti dirinya tiba-tiba ada budak yang menginjak pakaiannya. Jabbalah menampar budak itu. Nabi  mendengar peristiwa itu dan manasehati, bahwa dalam Islam manusia sederajat, tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah satu dengan lainnya kecuali karena taqwanya.<br />
Apa yang terjadi kemudian, Jabbalah lebih memilih keluar lagi dari Islam karena lebih memilih kehormatan dan derajat yang selama ini dirasakan manisnya. Apakah Rasul membenci, No!.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya mendatangkan Din Syamsuddin utuk berdialog dan bersillaturrahim dengan warganya. Kesan umum yang terbaca dalam blog ini yang kontra tentang Din, amat jauh panggang dari api. Saya sarankan, bertemulah langsung secara jantan dan betina dengan Din. Bawakan masalah ini ke hadapannya. Apalagi sohibul blog ini (sdr. Rony) mengaku dekat dengan tradisi Muhammadiyah. Tapi ya silahkan saja, orang punya persepsi sendiri meskipun persepsinya itu keliru luar dalam. Termasuk Anda yang keliru menyoal kata murtad dengan dalil perasaan.</p>
<p>Lagi-lagi Anda keliru. Islam dan Kristen tidak sama. Jadi tidak akan ada pengulangan perbedaan sejak dulu hingga kini. Kami akan tetap berselisih dalam hal-hal keyakinan yang tidak mungkin dipertemukan. Silahkan saja orang Kristen mengatakan Nabi Isa mati di kayu salib, 100 % tuhan 100 % manusia, sementara sampai kapanpun kami tidak pernah percaya Nabi Isa disalib dan beliau hanyalah Rasul, rasul mulia. Silahkan menjelaskan panjang lebar tentang itu, kami juga punya panjang lebar dan tinggi penjelasan itu. Hanya saja, penghormatan akan keyakinan masing-masing perlu dipelihara.</p>
<p>Bahaya apa yang Anda maksud? Disintegrasikah? Asal Anda tahu, Islam tidak pernah membawa masalah bagi bangsa ini. Sebab sebelum republik ini lahir, Islam dan syari&#8217;ahnya sudah eksis. Ummat Islam pula yang turut berjasa besar mengamankan negara ini dari perilaku penjajah. Tidak perlu saya sebut, agama apa yang dianut penjajah penghisap darah bangsa ini. Tidakkah Anda ingat sejarah bangsa Anda sendiri, pekik &#8216;Allahu Akbar&#8217;nya Bung Tomo membakar arek-arek Suroboyo mengusir penjajah?</p>
<p>Inilah teguran saya yang Anda minta sendiri.<br />
Terima kasih telah merangsang dendrit otak saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
