
Sayang sekali saya tidak memiliki alamat email Anda. Tapi saya harap ada yang akan meneruskan, minimal Google, tulisan saya ini kepada Anda.
Bung Din, apakabarnya? Sepertinya menyenangkan berada di dua tapuk pimpinan atas nama lembaga agama. Satu kaki di Muhammadiyah, satu kaki di MUI. Bagaimana bung Din? Kaki yang mana yang merasa lebih nyaman?
Ah, langsung saja ke pokok persoalan. Saya mendapatkan email ini sudah agak lama, beberapa hari yang lalu, tepatnya 22 Juni 2006. Isi emailnya sendiri tentang berita di sebuah harian tertanggal 01 Juni 2006. Jadi “peristiwa”-nya sendiri sudah agak basi. Namun, isi dari berita itu yang membuat saya tidak merasa bahwa ini basi.
Anda bilang di harian itu bahwa “kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana”. Juga Anda masih memberikan penekanan:
Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana
Bung Din, saya masih ingat dulu sampeyan mengatakan isu yang sama untuk wilayah Aceh. Akibatnya mahasiswa-mahasiswa menuntut agar Pemerintah dan BRR mengusir LSM asing yang ada di Aceh. Kini isu yang sama persis coba Anda lontarkan untuk wilayah Yogyakarta.
Sejak pertama mendengar isu ini, saya mensikapinya secara sinis. Ayolah, kondisi Yogyakarta tidaklah separah Aceh. Gempa ini memang menghancurkan rumah, membuat beberapa anak menjadi yatim-piatu, tapi saya yakin (dan keyakinan saya terbukti) bahwa sesama korban gempa ada rasa tenggang dan kasih. Mereka tidak akan membiarkan anak tetangganya terlantar misalnya. Silakan Anda jalan-jalan ke Tanjungan, Wedi, Klaten. Atau ke Imogiri, Bantul.
Saya memang masih kuper. Tapi baiklah, saya mencari info dari tempat lain juga. Dan akhirnya saya menemukan artikel ini di satu majalah. Dan saya mendapati tulisan di majalah tersebut lebih mendekati kenyataan di sekitar saya. Di situ dikatakan bahwa Din, sampeyan, menyatakan “ada 1.300 anak muslim yang pindah agama di Yogyakarta”.
Kenyataannya, dari penelusuran berbagai pihak atas angka yang sampeyan peroleh tersebut, itu adalah angka/jumlah siswa muslim yang sekolah di yayasan non-muslim. Apakah indikasi itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa telah terjadi pemurtadan? Apakah sampeyan sendiri sudah melihat langsung bahwa anak-anak ini menjalani proses pemindahan agama? Dan mereka masuk ke sekolah non-muslim itu atas kehendak siapa? Sudahkah Anda tahu? Lantas ide bahwa terjadi pemurtadan itu datang darimana?
Statistik, Penguat Kata
Tak bisa dipungkiri setiap menyampaikan sebuah pendapat, haruslah disertai statistik/data. Dalam kasus isu pemurtadan anak-anak sekolah, senjata yang digunakan oleh sampeyan, bung Din, adalah angka 1300. Nah, untuk kali ini, statistiknya seperti apa bung?
Saya tentu saja tidak percaya penuh pada positivisme, hal ini perlu saya sampaikan kepada Anda, tapi paling tidak kalau saya berbekal pada angka, saya bisa lebih mudah meng-cross check-kannya. Begitu bung.
Ini mungkin seperti tantangan bung. Maklum, BRR saja, dalam hal ini bank dunia, menantang Jeffrey Winters waktu Jeffrey bilang ada 30% dana yang bocor dalam pemakaian dana di Aceh. BRR bilang bahwa itu data kebocoran dana pemerintah 10 tahun yang lalu, tentu kita ingat gegap gempitanya waktu itu. Dan BRR kali ini menolak bahwa angka 30% itu masih valid.
Jeffrey bukanlah RS yang berani mengatakan 68% walaupun tanpa data-data valid. Tapi toh tetap saja dibantah, bahkan ditantang oleh BRR untuk membuktikan. Saya sendiri tidak tahu tentang valid tidaknya angka 30% itu, tapi saya yakin ada kebocoran dana. Indonesia gitu loh™.
Nah, itu sekelumit tentang statistik yang jadi senjata untuk bicara. Bagaimana dengan Anda bung? Anda punya? mohon saya dikasih tahu.
Kegelisahan akar Keresahan
Itu yang jelas terjadi bung. Ungkapan sampeyan, dalam kapasitas baik Ketua MUI maupun ketua Muhammadiyah, jelas didengarkan oleh banyak orang. Minimal yang mendengarkan lebih dari yang mendengarkan saya.
Anda mestinya sadar bung, apa yang Anda sampaikan tersebut memicu keresahan di masyarakat. Lantas apa yang sebenarnya bung ingin sampaikan?
Jika saja benar bahwa ada upaya pemurtadan, tentu saja yang harus dilakukan adalah evaluasi diri dahulu. Bagaimanapun kapasitas Anda dan lembaga Anda patut melakukan itu. Apakah Anda dan lembaga Anda tidak mampu membendungnya? Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Yogyakarta. Yogyakarta adalah tempat lahir dan besarnya organisasi tersebut bukan?
Anda mengatakan bahwa “pemurtad” memiliki cadangan logistik yang melimpah sehingga bisa dengan mudah memancing umat untuk tertarik. Apakah Anda sudah ngobrol langsung dengan mereka bung? Sudah menanyakan benar apa yang mereka tangkap dari bantuan-bantuan itu?
Mari kita lihat dengan sederhana bung. Ketika gempa terjadi, semua luluh lantak. Sampai hari kedua, bantuan dari pemerintah sangat susah diakses. Artinya, pemerintah belum menggapai tiap ujung desa yang hancur. Sementara para warga sangat membutuhkan bantuan darurat seperti tenda dan makanan.
Lantas ketika ada lembaga luar yang memberikan bantuan, apa harus ditimang-timang dulu? Keburu lapar bung! Keburu sakit! Kenapa lembaga sampeyan yang besar itu tidak turun cepat dan meng-cover semua daerah?
Tuntutan saya tentu terlalu berlebihan kalau meliputi semua daerah, tapi perlu saya sampaikan karena Anda mengungkapkan kekhawatiran yang tidak perlu. Orang yang datang hendak membantu, kenapa harus dihalangi dengan keresahan tak mutu?
Saya punya cerita bung. Daerah saya, Tegallayang, termasuk daerah yang pelosok, dulunya. Listrik tidak masuk ke desa saya karena alasan politis. Desa saya tidak manut dengan Golkar. Ini fakta bung, karena waktu itu semua daerah sudah berlistrik, utara selatan barat timur desa, semuanya. Kami akhirnya urunan per warga untuk beli tiang, barulah listrik masuk.
Di dusun saya tersebut, ada satu keluarga yang sejak berpuluh-puluh tahun lalu mendakwahkan agamanya. Kami semuanya muslim, semuanya Muhammadiyah. Dia, keluarga pendakwah itu, sampai meninggal tidak mendapatkan satupun pengikut. Padahal waktu saya kecil, saya ingat selalu mendapatkan roti dan makanan enak tiap tahun. Kami terima saja, tapi tidak agamanya. Silakan kunjungi makam dusun kami, ada nisan yang mencolok di sana. Bahkan nama orang tersebut menjadi nama Islam karena saking baiknya mereka. Kami yang memberi nama, warga dusun. Ya, mereka baik karena tidak pernah memusuhi kami ataupun berlaku buruk.
Apa yang ingin saya sampaikan? Berdakwah agama apapun, kenapa harus dilarang? Silakan saja kan? Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing. Dusun kami membuktikan, dengan segala ketertinggalan kami, kami tidak tertarik. Tapi kami juga tidak harus memusuhi, toh kami tidak disakiti.
Dalam kerangka agama, ada kiranya yang dinamakan sebagai Lakum dinukum waliyadin. Kekuatan dusun kami hanyalah bahwa kami percaya agama kami benar. Dan kepercayaan ini tumbuh tidak seketika, dusun kami punya banyak orang yang menguasai ilmu agama. Mereka-lah yang menanamkan kepercayaan itu di hati kami, warga dusun, masing-masing.
Hal ini kurang lebih sama dengan kondisi yang bung khawatirkan. Kalau sampai warga terpengaruh, saya berani bilang bahwa institusi bung gagal dalam membina umat. Institusi bung yang harus bertanggung jawab.
Hentikan saja lah bung segala keresahan itu. Turunlah ke desa. Bantu mereka bercocok tanam, sambil mengajarkan mereka untuk tidak melupakan sholat. Itu pula yang dulu dilakukan oleh Pak A.R. Fachrudin. Itu juga yang dilakukan oleh para ulama di dusun saya. Jika Anda malas berkubang lumpur, ya sudah, diam saja lah.
vale, demi ketentraman jiwa
el rony, menendang jauh-jauh benih kebencian.
Category: Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 29th, 2006 at 12:24 pm
setuju….kadang saya juga gerah ngelihat banyak orang yang belum apa2 udah negative thinking, sama orang2 yang memang niatnya menolong. Toh kalau memang ada udang dibalik batu, tentunya manusia sudah bisa membedakan yang mana yang lebih baik untuk dirinya.
Yang cukup aneh, kita (gw islam) kadang terlalu mudah menyalahkan agama atau orang lain tanpa ada niatan untuk introspeksi apakah memang diperlukan dakwah yang lebih kuat lagi untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang tak tergantikan.
Allahu Akbar!
No Su’udzon!
June 29th, 2006 at 12:47 pm
dari dulu gw gag suka sama orang itu…
kebanyakan ngomong doang…
ah, sudahlah…
June 29th, 2006 at 12:48 pm
ah masak sih segitunya
hi Din 68% kah ?
June 29th, 2006 at 1:04 pm
jadi inget lum sholat… *berlalu*
June 29th, 2006 at 5:06 pm
yach begitulah kalo cuman dapet laporan tanpa terjun langsung ke lapangan.
June 29th, 2006 at 5:19 pm
wah, curigation.. ketakutan yg berlebihan, paranoia.. gejala apa yak?
June 29th, 2006 at 6:13 pm
Thx Ron atas tanggapan kritisnya..
Saya mencintai pemikiran Anda..
June 29th, 2006 at 7:44 pm
ya kalo nggak ingin umatnya berpindah agama yah segera tunjukkan teladan yang baik ke mereka, tuntun mereka, bantu mereka yang lemah, jangan hanya mengkritisi dari jauh.
tapi teman-teman juga jgn seperti din, jadinya malah seolah-olah membenci din. yah coba bersikap adil saja. kalau ada yang salah yah coba di benerin seperti mas roy suryo eh mas rony maksut saya. dalam tulisan ini tidak terbersit kebencian terhadap din, tapi mencoba meluruskan…!
wooow very nice bro!
June 30th, 2006 at 9:43 am
harusnya Islam itu agama yang sejuk. yang bikin orang merasa tenteram dan nyaman. tapi kenapa kalo ulama yang angkat bicara sekarang ini, hati rasanya jadi panas dan gerah ya? jadi terbakar…
kayaknya ada yang salah dengan cara para ulama berkata-kata. membakar-bakar…
June 30th, 2006 at 12:51 pm
rumah singgah yg pernah gue ikutin pernah juga kena isu kristenisasi. Gue mah cuma senyum-senyum. Yang ada bisa-bisa gue yang malah pindah islam karena kecantol sama salah seorang cewek di kampung itu …. hehehhehe.
Buat mas Din … saya katolik, kebetulan pernah buat rumah singgah sama teman-teman gereja di suatu daerah yg mayoritas betawi ….
Apakah kami terdorong dengan semangat mengkristenkan? Ndak lah … kami tidak sepicik itu memandang iman kami. Namun jika dikatakan bahwa kami terdorong dari “iman yang membebaskan” dimana penghayatan keagamaan tidak lagi cukup lewat bentuk-bentuk doa, itu baru benar. Bahwa kami saat ini sedang melakukan “contemplation in action” …. berdoa dengan bertindak … bukan mengurung diri di kamar.
Saya yakin alasan itu juga yang mendorong teman-tean dari agama islam yang kini terjun dalam gerakan sosial ….
Mending (ini himbauan saya juga kepada teman-teman kristen/katolik yg juga masih seneng gontok-gontokan) bergandengan tangan untuk sesuatu yang jauh lebih berguna ……….
June 30th, 2006 at 1:12 pm
Ini isu laten, mengerikan, tapi ga pernah habis. Semua sama aja, si A curiga/fitnah ada ‘proses ini-itu’ dari si B, demikian juga sebaliknya…Intinya tong kosong semua
June 30th, 2006 at 4:20 pm
selama tidak ada pemaksaan, biarkan saja promosi dari masing2 agama berlangsung.
kenapa harus takut, apalagi sampai marah-marah, kalo emang yakin dengan agama yang dianut?
mau pindah agama atau tidak, selama tidak ada pemaksaan, itu kan urusan pribadi masing-masing.
June 30th, 2006 at 5:55 pm
[…] Wajar. Mungkin. Ketika seseorang selalu membaca tindakan kami lewat frame yang keliru, maka apa-apa yang kami lakukan selalu dinilai ke arah sana. Ke arah pengkristenan. ——————————————– Saya kagun terhadap tulisan Mas Rony yang menanggapi pikiran Din Syamsudin mengenai isu kristenisasi di Yogya. Tulisan itu begitu introspektif. Komentar yang datang di blog itupun hampir seluruhnya bernada introspektif. Bagi saya, itu suatu bentuk kedewasaan tersendiri yang nampak dari kalangan teman-teman muslim. […]
July 1st, 2006 at 2:05 am
Ron, pemikiran yang menyejukkan. Saya yakin yang berpikiran luas seperti kamu lebih banyak dibandingkan segelintir manusia picik omong besar… (Maafin kata2 saya yang kasar ya)
July 1st, 2006 at 11:49 am
kalaupun iya kenapa? bukankah gama itu hanya sebuah persepsi?
July 1st, 2006 at 6:09 pm
lakum diinukum waliyadiin..
kalo Islam boleh berdakwah, kenapa agama lain dilarang?
cuma cara-caranya saja yg perlu diperhatikan sehingga tidak menyinggung satu sama lain.
agama adalah keyakinan. mo pindah agama kek, mo ngak beragama kek, itu hak manusia yg paling asasi. yg penting ndak saling memusuhi dan mengganggu saja
July 3rd, 2006 at 1:19 am
July 3rd, 2006 at 5:14 pm
Jika orang lain panas, kita harus dingin. Jangan terjebak pada pemikiran sempit dengan balik membenci.(counter-critic untuk Rony)

Tapi saya setuju dengan yang Rony katakan…
Rasisme bukan hanya masalah ras, tapi juga fanatisme agama. Dan rasisme adalah akar kehancuran peradaban.
Viva Rony + salam kenal
July 4th, 2006 at 7:29 pm
kalaupun mereka pada akhirnya pindah agama, s”Din”juga gak berhak melarangnya.karena itu hak mereka untuk memeluk apa yang mereka percaya..itu pilihan pribadi dan kita tidak berhak menghalanginya apalagi melarangnya…
July 6th, 2006 at 12:25 pm
Masak gitu
July 9th, 2006 at 10:28 am
ah… sing penting setan ora doyan, demit ora ndulit…
hidup mbuh mbuh ora weruh memang paling top markotop…
din syamsudin pancen gombal ginombal…
July 11th, 2006 at 8:19 pm
Bung Rony, dalam kalimat anda = “Apa yang ingin saya sampaikan? Berdakwah agama apapun, kenapa harus dilarang? Silakan saja kan? Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing” –> saya seorang muslim, tapi saya menghargai semua makluk Tuhan mempunyai kepercayaan masing-masing spt yang telah diajarkan oleh Nabi, dan dalam agama itu sendiri mengajarkan toleransi yang sangat besar, bukan masalah “Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing”. Pendapat ini salah besar bung, apalagi dimata seorang pemimpin umat seperti Bung Din Syamsudin, rasa kekuatiran itu justru lebih besar, dia pasti tidak akan tinggal diam dengan keadaan spt ini seandainya andapun pemimpin umat.. ?. Dan yang jelas lagi Bung Rony, kekuatiran kami itu beralasan karena pihak anda melakukan penyebaran agama dengan cara-cara yang “kurang halus”, bukan dengan cara-cara yang nyata.. tunjukkan bahwa itu benar tanpa “adanya sesuatu dibawah tangan/iming-iming materi” yang selama ini selalu pihak anda lakukakan, tidak fair bung. Dan buat komentator yang bilang bahwa agama adalah urusan pribadi, cobalah anda belajar lebih jelas dan lebih dalam tentang makna beragama itu sendiri, beragama itu tidak sedangkal itu, tidak sebatas hidup dan mati, tetapi sangat luas, marilah lebih banyak mendalaminya jangan mudah melemparkan pendapat yang dangkal dulu. Buat Bung Rony saya menghargai pendapat anda.
July 11th, 2006 at 11:32 pm
dengan segala maap,
sejauh ini kesan saya terhadap isu pemurtadan itu masih lebih banyak berdasarkan “konon” dan “ada indikasi”. salah satu yang laris adalah pemurtadan lewat pemberian permen, pemurtadan lewat pembagian mi instan.
ganti agama tak semudah ganti baju. masa sih gara-gara indomi lantas pindah? untuk ganti merek mi instan favorit aja susah, apalagi ganti sahadat…
July 11th, 2006 at 11:32 pm
ralat: urlnya yang ini… maap
July 12th, 2006 at 9:44 am
buat mas kamandanu:
Tapi ya nggak apa-apalah, anggap saja demikian (jika Anda membaca lengkap, sepertinya tidak mungkin anggapan ini timbul hehe).
matur nuwun sekali atas pendapatnya.
ehm, saya bingung, tapi setelah saya baca ulang, mungkin Anda berfikir bahwa saya ini non-muslim.
Mengenai pendapat saya,”agama urusan masing-masing” sangat bisa dibantah, dan saya terbuka untuk ini. Hanya saja saya melihat Agama sebagai satu -meminjam istilah Andry Huzain- puncak gunung es dari pemikiran yang kontemplatif tentang hakikat penciptaan. Ketika orang berpindah agama karena materi, berarti Tuhan dia adalah materi. Biar dikata KTP-nya agama A, tapi kenyataannya dia menyembah materi. Demikian juga sebaliknya.
Lain soal ketika dia merasa agama lain lebih benar dari agama yang sekarang dia anut, berarti itu adalah proses pencarian dia. Apakah kita mau menyalahkan dan memusuhinya hanya karena dia sampai pada kesimpulan bahwa keyakinannya selama ini salah?
Saya menyoroti perkataan Din, justru karena dia pemimpin umat. Semestinya dia menjaga kerukunan bukan malah memicu keresahan, bukan begitu? Saya mendambakan pemimpin yang mengayomi, sehingga orang patuh bukan karena takut atau curiga, tetapi karena cinta.
Oh ya, kritik adalah wujud penghargaan atas pendapat orang lain, dengan demikian insyaAllah kita masuk dalam orang yang saling menasehati. Amien.
July 13th, 2006 at 12:54 pm
To: Mas Kamandanu..
Sorry lho Mas.. Koq nyembunyiin link? Gak berani karena beda ya? Mudah2an seh karena lom punya seperti saya..:D
Mas Kam.. Bukannya Agama emang urusan pribadi? Hak azazi gituh. Trus masalah terpengaruh apa ngga yah urusan pribadi juga khan? khan itu masalah keimanannya tuh orang. Bener kata om Rony, Masing-Masing..:D.
Trus kalo menurut mas Kaman Sebagai seorang pemimpin umat si Din mesti kawatir kalo umatnya pindah agama, saya anggap bener kalo dgn itu dia jadikan cermin (kata Om ROn) dari apa yang udah dia lakukan buat umatnya. Tapi kalo kawatir dengan pindah agama berarti jumlah umatnya kurang, wah saya jadi malah bertanya, Din pemimpin umat apa marketing leader perusahaan MLM?
Makanya mas Kaman, sampaikan buat si Dien… Sini dong turun ke jalan, jangan cuma ngomong pake mic di belakang meja. Jangan sok Islami, kalo cuma pengen mo diarani wong Islam. Jaga diri + keluarga sendiri aja itu yang UTAMA.
July 13th, 2006 at 7:56 pm
Bung Rony, wah maaf sebelumnya ternyata anda seorang muslim juga, saya pikir saya wajar keliru karena dilihat dari tulisan anda seperti ada unsur-unsur lain sehingga semua komentator blog anda 90 persen sampai salut sama anda, hebat juga anda, cuma kasihan yang lain jalan pikirannya jadi toleran banget dan akhirnya menjadi penghujat, jangan gitu dong, saya bukan pemuja Din syamsudin tetapi menjadi seorang Din Syamsuddin itu bukan instan lo. Masalah isu permutadan itu bukan cerita basi lo dan termasuk masalah besar Bung Rony, harus kita cermati dari awal dan mata Din tentulah lebih jeli dari pada mata saya. Sebagai contoh aja dilingkungan tempat tinggal saya dulu ada tetangga (secara ekonomi minus, sang kepala rumah tangga kena PHK) yang rela pindah agama dengan iming2 materi; berarti pihak lain telah memanfaatkan mereka supaya berpindah, apa ini cara yang fair? memang sih ini hak mereka untuk menganut apa yang dia mau tetapi menurut pandangan pemimpin umat tentu hal ini tidak bisa diterima, dia harus bertanggungjawab juga kepada Tuhan.. , ini salah satu contoh kecil aja. belum lagi didaerah2 lain.. sedikit demi sedikit.. kemudian di daerah gempa besar semacam yogya yang mayoritas, tentu ini adalah sasaran empuk. dan bukan hanya kayaknya aja tuh Bung Kemlinthi, kenyataannya juga banyak loh..
jadi bukan masalah jumlah umatnya jadi berkurang Bung Kuskus.. nggak masalah sih, tapi salah satunya menjaga akidah umat yang lebih penting juga, begitu kan Bung Rony selain tentunya menjaga kerukunan, itu pasti. Ngomong2 pihak mana sih yang selama ini selalu sering merusak kerukunan..?
Saya pikir Din Syamsudin nggak sok Islami kok Bung Kuskus dia tetap berjuang di jalan Islam, nggak mungkinlah orang seperti dia mau main-main sama kedudukannya.. disamping dia menJaga diri + keluarga sendiri aja itu yang UTAMA, menjaga akidah umat juga LEBIH UTAMAdan LEBIH MULIA.
Semoga Bung Rony kita termasuk orang-orang yang selalu menasehati bukan menghujati. Amin.
July 14th, 2006 at 9:12 am
Mas Kamandanu:
Seperti telah saya sebut sebelumnya, jika seseorang pindah karena materi berarti dia berTuhankan materi.
Tapi tetap saja tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang pemimpin umat meneriakkan “pemurtadan”, terutama ketika dia sama sekali belum pernah turun ke desa.
Maaf mas, Din memang sepenuhnya politis. Ingat waktu dia menghujat Permadi? Dia bilang kafir dan sejenisnya? Namun ketika Din di Golkar dan waktu itu ummat muslim menghujat Harmoko yang komat-kamit baca mantra, Din tidak ngomong sama sekali.
Saya tidak ada niatan menghujat Din. Saya hanya menegur pemimpin umat yang memang sangat pantas untuk ditegur.
Anda bilang ada yang melakukan iming-iming materi? Mohon tanyakan kepada para pemimpin umat di Indonesia ini, mengapa ada umatnya yang masih miskin? Silakan direnungkan, Islam agama terbesar namun
tidakbelum bisa mensejahterakan umatnya? ataukah para pemimpinnya yang terlalu korup sehingga umat terbengkelai?Tapi sekali lagi, jika orang terpengaruh karena materi, atas nama apapun analisanya, agama dia adalah materi. Sudah sesat sejak awal bukan?
Salam hangat mas, saya tunggu nasehat Anda selanjutnya. Terimakasih.
July 15th, 2006 at 11:52 am
Salam hangat kembali Bung Rony, memang cukup menarik blog anda ini sampai saya menulis terus nih.. jangan bosan ya. semoga blog anda bisa menjadi media komunikasi yang informatif serta bermanfaat. Saya mau tambah lagi deh dikit. Komentar anda spt : “Tapi sekali lagi, jika orang terpengaruh karena materi, atas nama apapun analisanya, agama dia adalah materi. Sudah sesat sejak awal bukan?” saya setuju, cuma Bung.. kadar iman bangsa Indonesia ini kan mayoritas memang belum “tebal” sepenuhnya, ini terjadi karena sistem yang berjalan di Indonesia dalam hal membina keimanan bangsanya masih belum maksimal, sangat kompleks sehingga untuk mempertebalnyapun harus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan. Materi memang sepertinya masih merupakan pengaruh terbesar, jadi benar-benar suatu ancaman utama dalam hal merusak akidah, terutama didaerah-daerah “rawan”. jadi kalau agama dia adalah materi dan kebetulan kurang-kurang tebal yach akhirnya jadi benar karena itu tadi. Padahal dia masih bisa dipupuk untuk menjadi lebih baik, jadi dari sisi kekuatiran sang pemimpin itu pasti, kalau dari sisi mensejahterakan umat dan lain2.. silakan kritik anda dilanjutkan dan dipedaskan..biar mereka bukan jadi pendengar saja tapi bergerak, saya salut.
Terima kasih Bung Rony.
July 16th, 2006 at 11:31 pm
seru euy ….
Lagi, saya kebetulan katolik. Dan saya pernah baca sebuah dekrit dari satu pimpinan serikat imam (pastur) yang berpengaruh di dalam kalangan katolik. Mungkin pernah dengan namanya : serikat jesuit (Franz Magnis Suseno adalah salah satu imam katolik dari serikat itu)
Dalam dekrit itu yang memang diarahkan pada “option for the poor” (keberpihakan pada kaum miskin) ditulis bahwa : untuk melakukan sebuah tindakan baik (berdimensi sosial) kita tidak perlu berangkat dari alasan biblis (kitab suci = agama = iman). Bayangkan! Dekrit itu dikeluarkan oleh Jendral (= begitu memang gelar hirarkisnya) Serikat Sedunia untuk secara struktural di hayati oleh para imam di lapangan. Lalu apa latar belakang sebuah tindakan sosial? Ya, demi pihak yang ditolong saja! Titik!
Dari dekrit itu saja sudah nampak, bahwa setiap orang (terutama sasaran dekrit itu, yaitu para imam jesuit) diutus untuk berbuat baik TANPA harus mengkait-kaitkan dengan alasan biblis apalagi alasan peningkatan kuantitas jumlah umat.
Lain lagi, di dalam kalangan katolik sedang deras autokritik terhadap praktek keagamaan para pemeluknya. Bahwa kini banyak orang terjebak sebagai seorang atheis praktis : katanya beragama tapi prakteknya seperti tak bertuhan (ada ketidakadilan ya diam saja, ada bencana ya sibuk doa doank, ada kekerasan di depan mata malah takut menghadapi … pokoknya yang paling penting adalah melulu hal-hal religius … tanpa aksi!)
Pembandingnya adalah Atheis Humanis … jelas nggak beragama tapi praktek hidupnya benar-benar menganggumkan : ia hidup untuk orang lain, tanpa membedakan SARA.
Kalau saya amat malu jadi orang atheis praktis. Makanya, itupula yang melecut saya untuk mengubah kontemplasi saya menjadi aksi. Lalu disebut mengkristenkan orang lain kah saya dengan demikian ?
Maaf jika ada kata yang salah
July 18th, 2006 at 8:53 am
Saya pribadi sudah lama kecewa dengan berbagai “pemimpin” umat, yang seringnya justru menjerumuskan yang dipimpinnya. Sudah terlalu banyak kiyai/ulama yang tidak melakukan yang benar-benar benar, namun yang benar “secara politis” (politically correct).
Namun di lain pihak, kalau seorang pemimpin yang (kita anggap) ngawur mengatakan sesuatu yang benar, tidak betul juga kalau kemudian langsung kita nafikan / tolak mentah-mentah.
At least di Aceh, hal ini betul terjadi.
Saya punya kawan-kawan yang terjun langsung sejak hari-hari pertama. Ketika mereka sedang sibuk menolong para korban disana, dengan kondisinya yang sangat miris dan meremukkan hati, mereka makin terhenyak ketika melihat ada oknum-oknum yang memanfaatkan bencana tersebut untuk memurtadkan para korban.
Kalau kasus ini berbeda, karena bukan soal materialis / mata duitan, tapi sudah soal hidup atau mati. Anda murtad, atau mati kelaparan. Kejam sekali.
Sempat muncul juga di media massa, seperti anak-anak Aceh yang akan dilarikan ke luar negeri itu. Tapi, itu puncak gunung es, kasus di lapangan lebih banyak lagi.
Note; saya mengerti bahwa ini adalah “exception rather than the norm”, bahkan kawan-kawan saya dari umat Nasrani pun banyak yang menyatakan kejijikannya dengan hal ini. Namun di lain pihak, hal ini betul-betul terjadi. Dan harus bersama-sama kita cegah, siapapun pelakunya (muslim, christian, dll). Kalau tidak, atau malah mengatakan “there’s no such thing”, orang-orang baik seperti mas Johan dan kawan-kawan saya lah yang malah akan kena getahnya.
Sedangkan orang-orang tidak bermoral itu bisa terus melakukan tindakan-tindakan kejinya.
Summary, denial soal ini tidak benar, begitu pula dengan generalisasi (bahwa semua pemeluk agama Kristen = pelaku kristenisasi)
Din ? Saya kira kita perlu untuk selalu kritis terhadap para pemimpin kita, supaya kita tidak terus menerus menjadi sapi perahan mereka.
Trims untuk diskusinya yang menarik sekali.
July 18th, 2006 at 10:20 am
salam kenal mas rony…
saya “terdampar” di blog Anda dan membaca topik yang menarik ini….
saya setuju bahwa sebaiknya pemimpin, yang dianggap pemimpin, pakar, ataupun yang dianggap pakar tidak perlu mengeluarkan komentar2 yang meresahkan…yang bikin geger…komentar2 mencari popularitas.
subjektivitasnya akan dianggap objektif bagi pengikutnya.
dalam bencana, dalam kondisi darurat, (seperti bencana Aceh, Yogya, dll) memang lebih baik melakukan aksi simpatik daripada omong2 tak bertitik.
meskipun demikian, saya berharap, saya berdoa, semoga data dan fakta yang Anda minta tidak kemudian muncul yang menunjukkan bahwa benar2 ada pemurtadan….
saya kurang sependapat dalam “Perkara nanti umat terpengaruh atau tidak, itu urusan masing-masing.”
syukur alhamdulillah, kampung Anda banyak memiliki orang yang mengerti ilmu agama, sehingga warga memiliki aqidah dan keimanan yang mantap.
lalu bagaimana dengan kampung2 yang lain? di kampung sekitar? di kampung saya? di jakarta? di kota2 lain?
islam tidak mengajarkan individualistis… islam penuh perhatian pada sosial kemasyarakatan, pada kemakmuran dan kedamaian bersama. diibaratkan dengan sesama muslim adalah saudara, akan merasa sakit kita jika ada saudara kita yang disakiti. apabila ada saudara kita yang kiranya “melenceng”, maka wajib kita ingatkan.
mungkin Anda juga tahu, azab tidaklah datang pada yang berbuat maksiat saja, tetapi pada 40 penghuni di sekitarnya.
tidak hanya ibadah yang berjama’ah, bahkan konsekuensi-pun ada konsekuensi berjama’ah.
“Lakum dinukum waliyadin” bukanlah berarti “individualistis” atau “terserah masing-masing”
“Lakum dinukum waliyadin” disampaikan pada Nabi sebagai perintah meneruskan dakwah, bukan menghentikan dakwah.
“Lakum dinukum waliyadin” disampaikan dalam konteks peribadatan…menolak menyembah Tuhan-Tuhan yang lain dan meneruskan dakwah Islam.
Dan dakwah dalam Islam hanyalah menyampaikan, memberi contoh, memberi panutan, bukan memaksa…
wallahu a’lam
demikian pemikiran saya yang sempit ini, yang ilmunya tak seberapa, tertiup angin…hilang…tersiram air…buyar….
July 18th, 2006 at 10:45 am
Bung Harry:
saya setuju denial sepenuhnya bisa jadi salah. Dan saya membahas apa yang musti dilakukan, bukan menolak mentah-mentah.
terimakasih atas komentarnya
Bung Untoro:
terimakasih juga atas komentarnya. Seperti sudah saya sampaikan ke bung harry juga, bagi saya keputusan akhir untuk ikut atau tidak ikut satu faham, itu terlepas di masing-masing. Tapi Proses atas keputusan itu, semua berhak terlibat. Tugas pemuka agama untuk memperdalam keimanan masing-masing umatnya. Nah, nanti umat sendiri yang memutuskan dan menanggung akibat atas keputusannya.
Ini pendapat saya saja mas, jadi sorotan utama saya adalah pemimpin umat yang meresahkan, bagi saya bukanlah pemimpin yang baik.
July 22nd, 2006 at 12:49 am
Kalo soal Jin Syamsu Jin … eh maaf, Din Syamsudin … ga komen banyak dah. Kayanya Bapak satu ini bermata dan bertelinga empat, bermulut dan berhidung ganda. Dengan kata lain, Beliau ini memang asli bermuka dua. Yah, begitulah politisi Indonesia. Mudah diduga, Beliau ini pengen sekali duduk di kursi kabinet. Cuma soal waktu Beliau buka kartu. Pak Jin, eh Pak Din … selamat bermuka dua. Umat toh sudah bisa membaca.
July 23rd, 2006 at 10:48 am
Kalau MUI masih saja menebar bibit kebencian, perpecahan, dan permusuhan, maka yang harus dilakukan adalah BUBARKAN MUI!!
Indonesia tidak butuh pemecah belah macam mereka.
July 28th, 2006 at 7:39 pm
Numpang lewat en numpang komentar terhadap komentar-komentar yang ada di postingan ini ^_^
Buat mas Rony @dian ina,
saya setuju dengan pendapat anda.
MesQpun saya Kristian, tapi kan kalo lagi ada ceramah di mesjid kan speakernya kemana-mana tuh… hehe.
Jadi kedengeran ustad / da’i-nya ngomong apa… Kadang serem serem euy ceramahnya.
Just FYI, seumur idup saya kalo saya pergi ke gereja GAK PERNAH saya nemuin pembicara yang khotbahnya ‘ngomongin’/men-diskreditkan
pihak lain.
@johan (30 Juni),
kita masih suka gontok-gontokan ya…? Hehe.
Kalo pun ada itu pasti karena perbedaan denominasi. Buat sodara-sodara Kristian yang baca ini, ingat aja lagU lama ini…
ku tak pandang kau dari gereja mana
asalkan kau berdiri atas FirmanNya
……….
Sesama pengikut Kristus berarti bagian dari Tubuh Kristus. Perbedaan yang ada berarti saling melengkapi.
Setuju dengan ajakannya, kita harus saling bergandeng-tangan. Ngapain ? Yah, jadi saksi Kristus-lah… ^_^
July 28th, 2006 at 7:58 pm
Aduh-aduh komen pertama kok ngaco ?
Itu bukan buat mas Rony tapi bukan mbak dian ina.
Nah yang ini buat mas Rony… (hehe)
Saya sebagai Kristian yang tinggal di Indonesia ini seneng banget mengetahui bahwa ada sesama sodara Muslim Indonesia yang punya pemikiran seperti mas Rony. Yang mau crosscheck terlebih dahulu dengan berita-berita yang ada di tengah masyarakat.
Karena kadang serem en bete juga ngeliat ada orang cepet ‘panasan’ cuma karena isu yang gak jelas…
Karena gak heran di beberapa daerah pernah terjadi perpecahan hanya karena isu dan provokasi. Menyedihkannya banyak sekali ‘yang main telen’ aja…
Thanxx for internet so can I can know many Muslim bros / sizts from my country that have a different mind like you, guyz *hualah, bhs Inggrisnya ngaco*
Makasih juga buat blog (hehe) sehingga saya bisa tau pendapat-pendapat yang berbeda seperti mas Rony ini…
Okz deh, GBU ^_^
July 28th, 2006 at 8:10 pm
Numpang komen lagi… ^_^
@johan (16 July),
Iya saya juga kalo gak kenal Yesus udah jadi Atheis Teoritis dan Praktis, wakakak. Seriuss. Krn ngliat orang-orang yang ngakunya
beragama tapi bisa berantem gara-gara agama. Kelakuan juga gak kayak punya Tuhan. Bahh, mendingan gak usah beragama.
Malahan gak aman gara-gara ada orang beragama. Orang-orang humanis percaya gak ada Tuhan, meninggal cuma kembali jadi materi TAPI
mereka memanfaatkan bener-bener hidup yang hanya sekali itu.
Buat mereka, ’saya gak percaya Tuhan bukan berarti saya hidup secara ngawur.’
Mann, asik juga sih… Mereka uda mantap dengan ‘iman’ gak ada Tuhan gak ada surga en gak ada neraka, jadi jalanin aja hidup ini
sebaik - baiknya…
Tapi buat yang percaya adanya Tuhan makanya jadi beragama mungkin karena takut meninggal masuk mana kali ya ? Heaven or hell ?
Kixkixkix…
Tuhan tinggal geleng-geleng, ‘Hati lo gak murni tuh nyari GW’.
September 1st, 2006 at 12:46 am
[…] Intinya : bahkan ayat ini TIDAK BERBICARA SAMA SEKALI tentang kristeni***i. Ibu Irene main ‘comot’ ayat aja nih… *Liar & provocateur* What else do I need to confirm ? Hmmm, Wie kalo ada pernyataan dari Ibu Irene yang menjadikan lo bertanya-tanya feel free untuk nanya ke gw. That’s the reason why I wanna watch it right ? Maap kalo gak sesuai dengan harapan lo bahwa vcd ini MUNGKIN akan ‘mencerahkan’ gw tentang iman di dalam Kristus. Maap kalo gak sesuai dengan harapan lo bahwa vcd ceramah ini akan ‘membukakan mata’ gw dari kebohongan-kebohongan gereja yang kata Ibu Irene ‘disimpan berabad-abad’. The truth is… being Christian is not about ‘he said she said’ Bukan tentang dibohong-bohongin ama pendeta-pendeta di gereja. Being Christian, it means have your own relationship with Christ. Berbicara tentang Kristen tidak sama dengan berbicara tentang agama. Coba jangan memandang Kristen sebagai agama. Ingin mencari jalan menuju kekekalan ? Well, jangan pernah punya pikiran untuk mencari agama mana yang paling benar. Tapi cari dan bertanya : Siapa Tuhan yang sebenarnya ? Just wanna share, waktu gw kecil gw pernah nanya ke bro & sizt gw : Emang agama apa sih yang paling benel, kaka ? Hehe… En jawabannya : GAK ADA agama yang benar. Yang benar adalah Tuhan, Sang Pencipta. Sebagai anak kecil, itu jawaban yang provokatif. Kakak gw seorang Kristen, kenapa dia gak bilang aja kalo agama Kristen yang paling benar. Kalo dia jawab seperti itu, gw gak akan heran. But they didn’t say like that. Felt strange… Just another share, JANGAN KIRA orang-orang Kristian adalah ‘orang yang main telen’ saja seperti kata Ibu Irene. Gw sendiri dan gw menemukan orang Kristian yang lain bertanya-tanya akan kekristenan itu sendiri. Karena bertanya-tanya makanya I’ve read and learn other basic of religions. The core of other religions. Curiosity and wanna find the truth are the reasons. So, why I still being a Christian ? ‘Cause I found The Truth, The Way, & The Life in Jesus Christ. Itu sebabnya gw tetap menjadi seorang Kristen… He offers me a relationship. He offers me Himself. The Creator offers Himself ! Not only prophets that can have relationship with God. And He offers me an eternal life. He never offers me a religion. You get it ? ^_^Dan kesimpulan dari materi ceramah Ibu Irene adalah : bahkan masih banyak hal mesti dipertanyakan dari Ibu Irene, contohnya : seperti beliau berasal dari ordo mana / kesusteran mana, pernah kuliah di Institut Teologi mana, dsb-nya. Mengatakan bergabung dengan Legiun Maria bukan jawaban, karena Legiun Maria adalah kelompok doa yang diselenggarakan oleh sodara Katolik. Another thought : so sorry, maybe my conclusion would sounds provocative… Tapi intinya buat gw, ceramah Ibu Irene sangat berbahaya untuk persatuan dan kesatuan bangsa kita. *ceile* Kenapa ? Karena provokatif, tidak 100 % berbicara kebenaran / fakta, dan terdengar seperti penghasutan. Isu SARA adalah isyu paling gampang untuk diprovokasi di Indonesia mengingat banyak sekali perbedaan yang ada di sini. Intinya sih, menghormati & menghargai perbedaan yang ada dong ! En jangan pernah mau diprovokasi ama orang lain ! Dan selalu cari another point of view seperti mas Rony, misalnya. Ibu Irene, kalo baca postingan di blog saya ini saya cuma pengen bilang : Tuhan berkati Ibu Irene ! ^_^Buat Dewi : hah hah hah, akhirnya janji gw terpenuhi juga ! “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” – Perkataan Yesus Kristus kepada Rasul Yohanes di Pulau Patmos –He’s not only prophet (no no), He is GOD ! Hmm, prepare yourself for That Day, folks. Maranatha and GOD Bless ! […]
October 3rd, 2006 at 12:35 am
kalau ada yang pindah agama karena dikasih indomi, mungkin dia beragama indomi.. hehe..
November 13th, 2006 at 11:56 am
kesasar abisssss..gua
ini bicara atas nama tuhan semua ya?
gile…tuhan kalian emang akal ya..
November 25th, 2006 at 2:47 pm
Saya menjadi Muslim sejak kecil dengan seluruh. Setelah dewasa, saya kuliah di Jogja di mana keragaman dirayakan. Bahkan, profesor adalah seorang romo yang cerita bahwa dulu kakeknya adalah Muslim. Tanpa sadar, ia bercerita bahwa kristenisasi memang ada. Bahkan, dia bilang bahwa sindrom minoritas akan terus menjadi hantu, sehingga tidak boleh tidak angka pemeluknya harus digelebungkan, apa pun caranya! Ini bukan provokasi, tapi sebuah tindakan wajar apabila mereka terancam.
Sebagai mahasiswa perbandingan agama, saya dihadapkan dengan pelbagai cara untuk menarik orang Islam ke dalam agama Kristen. Ini nyata, bukan fiksi.
Saya rasa bukan soal benar atau tidak, karena sejak kecil di surau kami diajarkan bahwa sesama Muslim adalah saudara, ibarat satu tubuh. Jadi, persoalannya adalah saudara kita makin jauh dan telah ‘menjadi’ lain.
Ya, emosi kita dicabik! Tapi, bukannya diri itu tidak meluli emosi, tapi juga akal, tindakan dan realitas yang harus dilampaui dari bingkai linguistik?
Mari, perjuangkan keyakinan, tapi jika dianggap mengganggu, gampang aja cari cara lain. Sebab mereka yang ingin menarik orang lain kepada agamanya adalah fundamentalis, sebab tak mengakui ada kebenaran pada liyan. Ini sebenarnya musuh negara!
December 8th, 2006 at 9:25 pm
Dalam menanggapi sebuah persoalan memang macam macam. Seperti contoh diatas ttg perkataan Din Sjamsudin yg menjelaskan adanya gerakan pemurtadan di satu daerah di jawa tengah. mas rony bisa menanggapinya sedemikian karena dia memandang ini dari sudut pandang(kaca mata pandang) yg demikian. Sedangkan mas kamandanu menanggapinya dg pemandangan yg lain soalnya dia melihat ini dari sudut pandang yg lain juga. satu permasalahan bisa membuahkan permasalahan baru karena titik pandang yg tidak ketemu. Pada dasarnya ini tidak perlu terjadi andaikata pribadi kita masing masing mau menerima dan menghargai segi pandang masing masing tanpa memaksakan cara berpandang dia terhadap satu permasalahan yg ada. yg terakhir kebenaran itu bisa jadi sifatnya relatief tergantung dari mana kita memandag, siapa yg memandang dan dg kaca mata apa dia memandang.
mohon maaf jika ada kata kata yg kurang berkenan. wassalam.
Jokotulip
January 31st, 2007 at 3:03 pm
Pasti yang buat tulisan di atas orang non Islam, emang buktinya begitu, maju terus Pak Din umat Islam berada di belakangmu. OK
January 31st, 2007 at 3:05 pm
Ojo gentar barisan PKS berada bersmamu, hidup calon presiden
January 31st, 2007 at 3:11 pm
mas siapapun anda
pola pikir seperti di atas, membabi buta asal beda, bukanlah pola pikir orang Muhammadiyah yang saya tahu.
sayang sekali, saya muslim. dan saya besar dan hidup dalam tradisi Muhammadiyah.
February 7th, 2007 at 12:46 pm
kalo aku seh sekali muslim sampai mati tetep islam dung………islam agamaku……….ALLOHHU-AKBAR
February 7th, 2007 at 12:52 pm
Assalamu’alaikum wr wb……………bagi saudara”muslim semua baik yg dari muhammadiyah ato yg dari N.U ato dari mana lagi deh sesama umat islam marilah kita untuk menjalankan -UKHUWAH ISLAMIYAH-dengan benar sesuai tuntuttan nabi MUHAMMAD S.A.W ……
February 7th, 2007 at 1:06 pm
pemurtadan yg dilakukan oleh kelompok sepihak sangatlah licik dan curang…….karena mereka menagajrkan ajaran yesus tak lain adala TUHAN berambut gondrong………liat diayat perjanjian baru…….wahai umatku(yesus)bagi siapa yg membawa domba-domba(islam)kedalam ajaranku kalian akan mendapatkan jaminan masuk syurga”(lukas:30:45)
February 20th, 2007 at 6:54 pm
hati2 bung rony blog ini mulai kemasukan yg iseng2 bukan cari pengetahuan
February 27th, 2007 at 2:48 pm
Salam untuk semua…
Sudah semua saya baca dan saya menjadi semakin paham bahwa setiap individu pasti berbeda pendapat apalagi dari sudut pandang yang berbeda pula.
Blog… ini akan mencerdaskan orang-orang yang berpikiran cerdas dan akan menjerumuskan orang-orang yang berpikiran sempit.
Mohon maaf, bukan mengatakan saya ini orang yang cerdas, tetapi saya bisa melihat teman-teman yang berpikiran cerdas dan mana yang hanya mempropokasi saja.
Saya Islam… Dan saya menghormati orang-orang non Islam. Saya selalu berterus terang kepada teman yang beragama lain ketika berhari raya dengan mengatakan bahwa saya tidak bisa mengucapkan selamat kepada hari raya anda (saya meyakini seperti itu, walaupun banyak orang Islam yang berbeda. Mohon maaf.. Inilah yang terjadi, tetapi tidak merusak hubungan pertemanan saya..
Melalui mimbar ini, saya ungkapkan keprihatinan saya tentang maraknya acara-acara televisi, baik tentang kekerasan dan pornografi yang langsung masuk ke ruang-ruang di rumah kita dan langsung ditonton oleh anak-anak kita. Namun tidak ada satu organisasi keagamaanpun yang secara keras dan terus-menerus memperhatikan hal ini.. Menurut saya hal ini juga lebih serius dibandingkan dengan ‘kristenisasi’.
Menanggapi ‘kristenisasi’, saya hanya menghimbau kepada umat Islam untuk mempertebal keimanan dengan lebih mendalami ajaran Islam sendiri. Sedangkan kepada rekan-rekan umat kristian, saya ucapkan terima kasih, karena saya tahu lebih banyak diantara anda orang-orang yang baik.. Sama halnya dengan umat Islam yang lebih banyak orang baik daripada orang tidak baik..
Terima kasih untuk semua… Mohon maaf, atas kesalahan saya.. Wassalam.
March 8th, 2007 at 4:49 pm
Buat Mas Rony dan Mas Din Syamsudin serta seluruh tokoh Islam.. Kalo sampeyan kabeh ngaku wong Islam kalau lagi ada selisih paham.. mbok ya sing podho sabar. Kita semua kalo yakin dng kalimah Syahadat berarti kita semua saudara. Mas Rony sampeyan wong Islam kan ? Ini sesuai data yg bisa di percaya juga banyak orang bukan Islam tapi ngaku2 Islam. Kalo sampeyan lagi selisih paham datang aja ke Masjid terus diselesaikan di masjid dengan cara yg islami saling menghargai.. jangan berantem lewat Internet, Televisi, Radio, media masa… itu malu2in. Orang yg gak seneng Islam malah tepuk tangan. Saya prihatin banget kalo ada Tokoh Islam di undang ke TV terus berantem, saling olok dengan saudaranya sendiri.. sungguh sangat memalukan.. demi uang receh mau jadi tontonan.. KOYO’ AREK CILIK AEE..NGISIN2I.. POKOKNYA 1X LG KALO SELISIH PAHAM SING PODHO SABAR, SAREH, DATANGLAH KE MASJID SELESAIKAN BERSAMA DNG SEMANGAT UKHUWAH ISLMIYAH.. untuk umat lain kalo menyangkut urusan intern jangan ikut2 campur tangan. Soale kami juga gak pernah ikut campur tangan Agama sampeyan nggih !
March 10th, 2007 at 10:28 am
Marilah kita introspeksi dan perbaiki diri kita masing-masing. Jangan mementingkan diri sendiri dan kelompok sendiri. Mari bergendengan tangan mengatasi segala kesulitan yang sedang dihadapi bangsa kita. Kita semua adalah ciptaan Tuhan, jadi jangan saling menyakiti. Kita tidak bisa memilih sebagai bangsa apa, sebagai suku apa pada saat kita dilahirkan. Kita juga tidak bisa memilih siapa orang tua kita sehingga keyakinan yang kita anut sejak kecil adalah mengikuti orang tua yang telah melahirkan kita. Pada saat kita dewasa bisa saja mempunyai pemikiran sendiri yang akhirnya kita berbeda dari orang tua kita, namum kita tidak bisa menyangkali kalau Tuhan adalah pencipta kita. Sang Pencipta tentunya ingin kita hidup rukun. Marilah jangan saling mencurigai, kita dilahirkan di tanah air ini sebagai satu saudara, bangsa Indonesia. Kalau ada saudara kita yang menderita, seyogyanya siapapun yang bisa menolong segera membantu. Yang diberi kemampuan secara keuangan membantu dalam hal dana, sedangkan yang tidak mampu secara keuangan membantu secara fisik.
Niscaya musibah demi musibah yang kita alami dapat berkah akan diberikan kepada kita sekalian.
March 21st, 2007 at 9:01 am
Nenek moyang kita agamanya apa, dulu mayoritas bangsa ini adalah hindu, budha, dan sekaramg islam, orang hindu, budha tidak bilang ada islamisasi, orang kristen dari dulu ya segitu-gitu nambah, mungkin malah berkurang, nabinya mengajarkan tidak membuat kerajaan di dunia ini, jadi untuk apa banyak-banyak, kalau diobok-obok itu sudah biasa wong nabinya saja mati karena ditonjoki, puas-puas-puas
April 9th, 2007 at 2:06 pm
Maaf bung Rony, saya ingin tahu komentar anda tentang Paus Benedictus menyoal Jihad Islam. Apakah anda mampu mengulas secara “kritis” sebagaimana anda mengulas tentang Din Samsuddin. Seorang Paus bisa keliru, karena bicara Jihad yang notabene adalah milik Islam, dengan kaca mata Kristen. Jadi kalau anda begitu “kritis” ; katanya Charly Silaban, coba komentari tuh “orang suci”nya saudara yang Katolik. Apalagi anda mengaku muslim. Anda tulis, “Dalam kerangka agama, ada kiranya yang dinamakan sebagai Lakum dinukum waliyadin”.Coba anda buka asbabun nuzul ayat itu. Saran saya ketika Anda menyebut agama, agama apa yang Anda maksud. Kalo Islam, jadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan pemaknaan. Jika Kristen, jadikan al-Kitab. Bagi seorang muslim yang “bener”, ketika bicara Islam ya dengan Al-Qur’an dan Hadis itu. Dan bagi seorang muslim yang memahami dua sumber itu, beragama (ber_Islam) bukan semata-mata urusan pribadi an sich. Aqidah harus dipelihara. Dan saudara Din melakukannya dalam kerangka itu. Jika apa yang dilontarkan sudara Din ternyata tidak benar, gunakan jalur hukum. Kristenisasi itu fakta mas, bukan hayalan. Kami baru saja dikejutkan dengan peristiwa yang sama di Depok. Ujung-ujungnya kami dirugikan karena pelaku dilepaskan hingga melarikan diri. Kalo tidak, ngapain harus kabur dan ga kembali lagi. Thank’s
April 9th, 2007 at 2:23 pm
@mas Abdul Mutaqin:
tujuan penulisan saya adalah himbauan agar tokoh sekaliber Dien tidak mengeruhkan kondisi sosial masyarakat dengan menyebar isu yang memancing emosi.
Perkara ada masalah dengan perkataan Paus Benedictus, kebetulan saya tidak/belum mengulasnya.
Nah, mengenai akidah yang harus dipelihara, saya sangat setuju! namun apakah caranya dengan menimbulkan keresahan? Mengapa dulu Pak AR (pimpinan Muhammadiyah terbaik hingga saat ini menurut saya) memilih untuk tidak seperti itu? Menurut saya cara yang lebih bijak jauh lebih disukai oleh-Nya. Kalaupun ada seruan agar para pejuang Muhammadiyah lebih waspada dengan adanya data yang –diyakini– benar, maka sampaikan seruan tersebut di dalam lingkup aktivis, agar tidak menimbulkan keresahan. Ini menurut pendapat saya saja. demikian.
April 9th, 2007 at 4:46 pm
Saya senang respon Mas Rony. Mas, saya yakin tokoh sekaliber Dien tidak sembarangan dan serta merta melakukan tindakan di luar perhitungan dan menimbulkan “keresahan”. Jika topiknya adalah keresahan dengan tema agama, bukan hanya segelintir orang yang merasa resah dan gerah. Ummat Islam juga demikian dengan sepak terjang sebagian saudara Kristen kita itu, sebagaimana yang baru-baru ini kami rasakan. Dan, perlu diakui, strategi kita kalah canggih dengan mereka.
Mas, saya membaca berita yang diturunkan Republika itu, 02 Juni 2006, bukan 01 Juni 2006 seperti yang Mas tulis di awal, yang menjadi bahan “imbauan” Mas Rony untuk Dien. Kalau Mas bilang, “Kalaupun ada seruan agar para pejuang Muhammadiyah lebih waspada dengan adanya data yang –diyakini– benar, maka sampaikan seruan tersebut di dalam lingkup aktivis, agar tidak menimbulkan keresahan”, Dien berbicara di situ bukan semata-mata atas nama Pimpinan Muhammadiyah tetapi atas nama MUI yang memiliki peran atas ormas Islam Indonesia. Untuk lebih jelas ini beritanya :
Jumat, 02 Juni 2006
Waspadai Pemurtadan
YOGYAKARTA — Wakil Ketua MUI pusat Prof Dr Din Samsuddin meminta kepada umat Islam melalui ormas dan lembaganya mewaspadi gerakan pemurtadan korban bencana gempa bumi yang terjadi di Jateng-DIY. Ia mensinyalir, kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana.
”Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana,” kata Din di hadapan peserta rapat koordinasi Dakwah dan Kegiatan Pasca Bencana Gempa Bumi di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta kemarin petang.
Selain Din Samsuddin, dalam rapat koordinasi tersebut tampak hadir Ketua Umum MUI DIY Drs HM Thoha Abudrrahman serta ormas dan lembaga Islam lainnya seperti HMI, KAMMI, MER C dan lain-lain.
Menurut Din, gerakan kristenisasi di Yogyakarta termasuk cukup besar, sehingga untuk menjaga kemungkinan terjadinya pemurtadan dikalangan korban gempa bumi, seluruh ormas dan lembaga Islam, selain memberikan bantuan logistik dan makanan, bersama-sama melakukan pengawalan aqidah. Termasuk melakukan pembinaan rohani terhadap anak-anak.
”Mereka itu memiliki logistik dan dana yang cukup, oleh karena itu mari kita bersama-sama mengawal aqidah mereka. Meski ini agak terlambat, kami mengajak seluruh ormas dan lembaga Islam untuk mengirimkan dai-dainya ke lokasi bencana ” tandas Din.
Bagi yang sudah bergerak di lapangan, kata Din, tidak harus bergabung dengan lembaga dan ormas Islam yang ada di bawah koordinasi MUI. Supaya tidak tumpang tindih, sebaiknya menjalin komunikasi di lapangan. Selain perlu ada relawan melakukan bimbingan dakwah, harus ada relawan yang melakukan pengawasan terhadap gerak-gerik mereka.
Menurut Ketua Umum PP Muhammdiyah tersebut, untuk melakukan bimbingan rohani kepada kurban bencana gempa bumi ini, yang saat ini paling dibutuhkan selain mengirim dai, adalah mendirikan tenda-tenda kecil untuk mushala, serta mukena. Kata Din, ada ratusan bahkan mungkin ribuan kurban bencana itu kehilangan mukena.
”Saya minta seluruh lembaga dan ormas Islam yang ada di lokasi bencana, hari Jum’at ini menyelenggarakan Shalat Jum’at, dengan kondisi apapun.” n
(asd)
Emosi ataupun keresahan sebenarnya bukan hal baru dalam pergulatan wacana pemikiran ataupun aksi. Dan biasanya orang yang memiliki “kepentingan” lah yang paling banyak merasakan itu.
Pak AR. rahimahullah, adalah Pak AR. Dien adalah Dien. Keduanya memiliki setting masa memimpin yang berbeda. Tidak ada satupun yang meragukan keteduhan Pak AR. Dan tidak ada seorang pun yang menegaskan, Pak AR akan tinggal diam jika persoalan aqidah dipertaruhkan. Dulu, Ki Bagus Hadikusumo adalah orang yang paling teguh mempertahankan 7 kata dalam piagam Jakarta. Kalo bukan karena Kasman Singodimejo yang membujuknya dengan dalih Indonesia Timur akan tidak ikut kerangka NKRI, Ki Bagus akan tetap teguh. Tapi coba liat, apakah setelah dihapusnya 7 kata itu gerakan sparatis berhenti ? seperti RMS misalnya dan yang lain. Saya hanya ingin membuktikan bahwa yang namanya resah dan emosi, adalah sebuah kewajaran dan tidak perlu dijadikan dalih berlebihan. Mas Rony, saya ingin memenuhi statemen Anda “Sayang sekali saya tidak memiliki alamat email Anda. Tapi saya harap ada yang akan meneruskan, minimal Google, tulisan saya ini kepada Anda “, sebenarnya naif banget sih, Mas Rony orang yang terbiasa dengan dunia maya (internet). Bukan perkara sulit hanya untuk sekedar melacak alamat email Dien Syamsuddin (dinsyamsuddin@gmail.com). Silahkan ingatkan Dien jika menurut Anda perlu, tentu akan lebih bijak jika langsung ke alamat pribadi. Hingga tidak ada orang-orang yang lepas kontrol nimbrung mengaminkan tulisan Anda. Thank’s
April 9th, 2007 at 4:50 pm
@mas Abdul Mutaqin: terimakasih
April 27th, 2007 at 6:06 am
Menarik, saya agak ketinggalan, agak menyesal baru gabung di blog ini.
Bro Rony, tulisan yg bagus, kritis. mudah2an niatnya untuk saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan, semoga Allah melimpahkan rahmat dan kemuliaan untuk bro Rony atas inisiatif dan niat baiknya.
Bahwa Islam rahmatan lil Alamin adalah benar, Islam ajaran yg sejuk penuh kasih, jadi ajaran Islam terhadap sesama manusia toh juga seiring dengan ajaran Yesus dalam Kristiani, Islam juga mengimani Isa A.S sebagai salah satu rasul, penyampai firman Allah.
Bahwa Islam harus disampaikan dalam bahasa yang sejuk dan didakwahkan tanpa menebar keresahan, saya juga sepakat.
Bahwa seorang pemimpin Islam sekaliber Dien Syamsudin perlu menjaga perkataan dan berhati hati dalam lisan, saya juga sepakat.
Namun, sesuai apa yang juga telah dikatakan oleh saudara Abdul Muttaqin, bahwa ada gerakan (itu) juga fakta dan nyata Bro Rony.
Angka statistik tidak selalu bisa menunjukkan fakta, karena banyak sekali fakta yang tersembunyi dan tidak terbaca oleh statistik.
Mungkin akan lebih baik mendiskusikannya via japri dan email saya atau email Bro Rony.
Jadi menurut saya, niat pak dien manyampaikan itu juga baik, mungkin caranya kurang bijak, tapi groundnya menurut saya sudah baik , seperti niat Bro Rony untuk mengingatkan ummat
Salam kenal,
your brother in Islam
May 11th, 2007 at 12:29 am
bertekadlah seperti setan
dan berjuanglah dijalan tuhan.
May 28th, 2007 at 9:13 am
Mas Rony, numpang ya. Thank’s.
Untuk saudara dani ahmadramdani.
Baru kali ini saya menemukan ungkapan model dani. Lama saya mengira-ngira apa makna di balik ungkapan cukup singkat itu. Sementara saya berkesimpulan, berjuang di jalan Tuhan (Allah bagi saya)haruslah kuat, tidak kenal putus asa, seperti tidak kenal putus asanya setan dalam menyesatkan manusia beriman dari jalan-Nya dan melawan Allah.
Kita faham sekali tekad Rasulullah SAW berjuang di jalan Allah,
Kita kenal siapa Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Hamzah, Hanzalah dan sederetan nama-nama sahabat besar yang mempertaruhkan syahidnya demi tegaknya agama. Kita juga kenal para tabi’in, tabi’it tabi’in serta ulama-ulama muta’akkhirin yang hampir separuh hidupnya untuk Agama. Bahkan siapa yang tidak kenal Sayyid Quttbh, yang merelakan lehernya di tiang gantungan sebagai syahid; pengarang Fi zhilal al-qur’an itu. Apakah Rasulullah bertekad seperti setan ? Apakah para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in serta ulama-ulama muta’akkhirin semacam Sayyid Quttbh menjadikan tekad setan sebagai semangat perjuangannya ?
Mensejajarkan tekad setan dengan berjuang di jalan Allah adalah dua hal yang aneh. Sekuat-kuatnya tekad setan hanya lah kemunkaran dan melawan Allah, sedangkan berjuang di jalan Allah, adalah tugas suci dari-Nya. Untuk apa firman Allah tegas-tegas melarang: ” …janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”.
Tidak perlu mengadopsi tekad setan untuk tugas mulia, cukuplah Rasulullah sebagai teladan dan manusia-manusia mulia di bawahnya.
Mas Dani, salam kenal melalui blog ini, menulislah yang dapat menyelamatkan anda dan orang lain.
May 31st, 2007 at 11:38 am
Setuju dengan Mas Abdul Mutaqin….
Sebaiknya kita nggak perlu bikin ungkapan yang aneh-aneh bahkan kontradiktif!
June 3rd, 2007 at 10:34 am
tidak benarlah bahwa muhammadiyah kurang tanggap dengan penderitaan korban bencana gempa yogya, sebagai gambara saya ikut mendistribusikan bantuanuntuk korban gemba yogya atas nama muhammadiyah sudah berusaha semaksimal mungkin kedaerah2 pelosok tanpa melihat korban dari latar belakang apa.
June 15th, 2007 at 1:51 pm
Assalamu’alaikum Wr>Wb.
untuk semua yang ngritik bang Din dsaya do’akan segera insyaf dan mendapat hidayah dari Allah SWT, masak membela agama dan umat sendiri kok di kritik. yang ngritik bang din itulah yang saya minta untuk insyaf ank kalau ndak tau caranya insyaf datang aja ke Bang Din.
dan kalau marah dengan saya datang aja ke Sragen pasti saya akan memmaafkan anda.
wassalamu’alaikum Wr.Wb.
July 6th, 2007 at 5:37 pm
islamisasi, kristenisasi, hindunisasi, budhanisasi, konghucunisasi…
apa sih yang dikhawatirkan? emangnya tuhan rugi ya, kalo umatnya berkurang?
perbuatan baik dengan niat apapun (pamer, pemurtadan, udang di balik bakwan) tetep aja lebih baik daripada sikap paranoid tapi gak ada gunanya.
salut buat mas rony yang berhati baik…
salam,
gp
July 30th, 2007 at 1:20 am
Saya telat mengikuti… tapi ada hal menarik… Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, keluarga besar Islam, kuliah di Yogya kost di lingkungan pesantren… Namun sampai saat ini saya belum pernah menemukan namanya apa yang disebut “Kristenisasi” walaupun saya aktif di Gereja (namun jarang ke gereja)… Dari kecil teman-teman saya bilang kalau bergaul dengan non muslim nanti di-kristenkan… Saya terus terang berusaha mencari ciri atau tipikal tentang bagimana t4eknik/ritual kristenisasi… Bahkan di dalam rekan-rekan yang bergabung di Forum Persaudaraan Umat Beriman yang nota bene merupakan kumpulan para Ulama/Kyai, Romo (Katolik), Pendeta, Romo (Buddha), dan hampir semua agama dan kepercayaan, juga sulit untuk mendefinisikan apa yang disebut Kristenisasi atau Permurtadan… Saya percaya 100% adanya Tuhan bahkan merasa cukup dekat, namun bahwa apa yang kita kerjakan akan mendapat pahala sehingga masuk surga atau neraka… saya tidak percaya seratus persen… Namun saya hanya byakin bahwa apabila kita mngerjakan sesuatu itu baik dan benar paling tidak kita mendapatkan ketenangan batin… Bagib saya itulah surga… Bhakan pasa saat tahun 1992 saya diculik oleh Soeharto (mungkin saya mahasiswa pertama yang diculik) dimana ada tim/pasukan khusus rangkap 3 dan bahkan dijemput pakai pesawat khusus (non TNI-AU) dengan segala penderitaan namun saya merasakan kedekatan dengan Tuhan… Sekedar berbagi, saya hanya berdua dengan Xanana Gusmao di tahanan Inteljen, tapi suasana hati membuat situasi seperti surga, saya bahkan lupa saya beragama apa… Tapi saya salut dengan bung Rony, informasi anda dan teknik ulasan anda cukup baik dan berusaha menjadi moderator yang baik… Sukses selalu…
August 12th, 2007 at 5:02 pm
Din Syamsudin sudah melakukan hal yang benar
dia memperingati umat islam di Indonesia atas bahaya pemurtadan. memang itu tanggungjawabnya sebagai ketua mui dan muhammadiyah
kebanyakan orang sudah melupakan sih hal2 kaya gini..
saya sendiri bukan muhammadiyah, saya malah bisa dibilang iut ke aliran yang lebih keras dari muhammadiyah.
=================================================
tampaknya malah sodara Rony yang sedikit banyak telah menyepelekan isu pemurtadan ini
August 20th, 2007 at 10:58 am
Halo Semua….
Saya tertarik dengan pemikiran dari Bung Ronny…dan saya mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Bung Ronny untuk Bung Din…
Tetapi saya pikir..semua orang yang membela Bung Din..lebih kepada sikap fanatisme kepada agama yang mereka anut.
Misalnya : Jika bung Din salah..maka mungkin umat islam tidak ada mengkritisi beliau ( akan diam saja –> Karena Bung Din adalah saudara saya dalam islam ). Artinya adalah Fanatisme agama yang bermain. Jadi sebenarnya hal ini jadi DILEMA.
Seharusnya kita sebagai bangsa yang Pluralisme selalu melihat kepada KEBENARAN dan KEBENARAN.
Soal pemurtadan..saya kira bukan ISLAM saja yang panik “Kebakaran jenggot” akan hal itu….tetapi juga pasti UMAT KRISTEN.
Jika umat Islam tidak suka jika ada saudaranya yang pindah agama….apakah jika umat lain pindah ke ISLAM…Apakah Umat ISLAM menolaknya…Jawabnya TIDAK kan.
Terkadang saya berfikir sebenarnya negera kita ini negera apa? Negera Agama ? atau Negera untuk semua AGAMA ( 5 Agama yang di diakui di Indonesia ). Dimana semangat Pancasila ” Ketuhanan yang maha esa” dan dimana yang katanya di UUD 1945, bahwa setiap umat berhak memeluk agama dan menjalakan ibadahnya…dst”
Perhatikan saja kondisi yang ada di Indonesia ini….Bangun GEREJA harus banyak banget BIROKRASInya dan bisa2 tidak bangun karena tidak ada ijin yang lengkap…tetapi perhatikan saja…Mo bangun Mesjid..dimana saja dan kapan saja BISA….TIDAK ada larangan. Apakah ini keadilan beragama di Indonesia.
Apakah Indonesia adalah Negera 1 AGAMA ????
Jadi saya setuju…bahwa agama adalah hak asasi dari setiap manusia..dan kita tidak boleh memusuhi yang berbeda agama dengan kita dan kita harus menghormati PILIHAN agama yang dianut oleh setiap umat…
Trims;
August 24th, 2007 at 4:08 pm
Buat Iben_aff, salam kenal.
Tulisan Anda menarik dicermati.Pertama, dalam Islam fanatisme itu tidak boleh terhadap tokoh selain Nabi, kecuali pada keyakinan Islamnya. Anda menilai orang-orang yang membela Din dalam respon atas tulisan Rony sebagai fanatis, padahal itu terjadi karena tulisan itu hanya melihat satu kasus saja, dan justru mengundang polemik baru. Jika Anda mengatakan tertarik atas tulisan itu, bisa jadi itu karena Anda merasa diuntungkan dengan beritanya Rony dan senang atas tulisan itu. Kenapa Anda senang ?, Saya kira karena Anda juga fanatis terhadap keyakinan Anda. Coba Anda baca-baik-baik semua komentar atas tulisan Rony. Ada yang jelas-jelas senang terhadap tulisannya. Sekali lagi karena merasa diuntungkan sebab kebetulan Kristen. Jadi yaa, fanatis juga kan namanya. Saya juga lihat, justru banyak komentar yang mendukung Rony, agak kasar menilai Din. Kenapa kasar, karena fanatismenya juga terusik. Jadi dalam kasus ini, Anda tidak beda dengan yang dituduh fanatis itu.
Anda perlu tahu, tidak semua koleganya mendiamkan Din ketika salah seperti dugaan Anda, bahkan sebelum Din melakukan apapun sudah banyak yang mengingatkan ketika beberapa saat terpilih menjadi ketum Muhammadiyah. Kami tahu peris itu. Itu artinya, persepsi Anda keliru.
Kedua, kata plurasime yang Anda gunakan pada kalimat “Seharusnya kita sebagai bangsa yang Pluralisme selalu melihat kepada KEBENARAN dan KEBENARAN ” sebenarnya kurang tepat. Semestinya Anda menggunakan diksi plural atau pluralitas. Memang akar kedua kata itu sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Menempatkannya dalam konteks yang salah, juga akan salah artinya. Plurasime biasanya digunakan untuk istilah suatu faham ” Pluralisme Agama” yang memandang bahwa semua agama itu benar. Maksud Anda mungkin harus toleransi kepada keyakinan berbeda-beda.
Toleransi memang penting sebab merupakan hajat bagi individu penganut agama. Mereka tak mungkin eksis tanpa adanya toleransi. Tapi toleransi bukan pluralisme. Ia hanya sebatas menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya. Sementara pluralisme agama, pada hakekatnya, akan menghacurkan agama-gama yang ada. Ketika ia mengklaim sebagai tafsir agama yang paling benar, justru ia hendak memaksakan paham-paham agama lain ditinggalkan dan mengambil tafsir agama versi di pihaknya. Pada titik ekstrimnya, target pluralisme agama adalah untuk menghabisi agama-agama. Minimalnya akan membiarkan agama-agama bergentayangan tanpa ruh atau esensi dari agama-agama tersebut.
Ancaman pluralisme agama ini sebenarnya sudah banyak disadari oleh para pemikir, filosof, dan pemuka agama. Untuk Indonesia, misalkan, ada beberapa tokoh yang menolak gagasan Pluralisme agama. Antara lain, dari kalangan Kristen. Tesis doktoral yang ditulis oleh Pdt. Stephly Lumintang, yang dibukukan dengan judul ”Ideologi Abu-Abu”. Disebut abu-abu karena tidak jelas. Menurut buku ini, pluralime agama ini akan membabat habis agama-agama, termasuk Kristen. Sedangkan dari kalangan Hindu ada buku juga yang diedit oleh Ngakam Made Madra Suta, yang diterbitkan tahun 2006, dengan judul ”Semua Agama Tidak Sama.” Buku ini ingin merespon beberapa argumen yang dipkai oleh kalangan pluralis, utamanya John Hick. Sementara Romo Franz Magnes Suseno, nampaknya, bersikap mendua. Maksud mendua di sini ia dalam beberapa tulisannya tidak setuju dengan pluralisme agama, tapi dalam beberapa diskusi, ia mengaku mendukung pluralisme agama.
Jadi kalau boleh disimpulkan, pluralisme agama bukanlah toleransi agama. Sebab pluralisme agama berbeda dengan pluralitas. Hal-hal yang digaungkan oleh pengusungnya sebagai pendamai dan solusi untuk mendamaikan antara agama-agama justru menunjukkan sebaliknya, yakni akan memusnahkan agama-agama lainnya. Pluralisme Agama melarang klaim kebenaran (truth claim), tapi ternyata ia sendiri yang mengklaim dirinya paling benar, dan agama-agama yang ada adalah salah. Dengan demikian, pluralisme agama ini bukanlah solusi, tapi lebih merupakan ancaman bagi eksistensi agama-agama.
Ketiga, ungkapan Anda “Perhatikan saja kondisi yang ada di Indonesia ini….Bangun GEREJA harus banyak banget BIROKRASInya dan bisa2 tidak bangun karena tidak ada ijin yang lengkap…tetapi perhatikan saja…Mo bangun Mesjid..dimana saja dan kapan saja BISA….TIDAK ada larangan. Apakah ini keadilan beragama di Indonesia “. Ada apa denganmu ?. Di antara komentar-komentar atas tulisan Rony, inilah ungkapan komentator yang paling menunjukkan fanatismenya yang amat berlebihan. Seolah-olah itulah fakta umum yang terjadi. Padahal itu hanya pemikiran pukul rata. Indonesia tidak bisa difahami dengan hanya mengambil sempel kondisi daerah tertentu.
Kenapa bangun masjid mudah ? karena mayoritas penduduk suatu daerah tertentu memang muslim, aspirasi terbesar itu. Tapi, jangan harap hal itu akan sama, jika misalnya membangun masjid di tengah-tengah mayoritas Kristen. Wajar jika warga Kristen keberatan karena muslim minoritas di situ dan warga muslim jangan coba-coba memaksakan diri. Adapun pukul rata Anda di atas, yang ada, beberapa gelintir warga Kristen memaksakan diri untuk membangun gereja di tengah-tengah mayoritas muslim. Tapi yang diekspos, katanya ummat Islam menghalangi orang membangun gereja tanpa dijelaskan demografinya, kan lucu. Anda ga perlu khawatir. Bangunlah dari tidur Anda dan baca PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 9 TAHUN 2006 NOMOR : 8 TAHUN 2006 tentang aturan mendirikan rumah ibadah yang baru. Semua di atur di situ. Beberapa tahun ke belakang jika ada yang terjadi seperti yang Anda sebutkan, lebih karena ada satu pihak yang ingin memaksakan diri atas nama agama dengan mengabaikan kepentingan dan agama pihak lain.
Keempat, kalau Anda katakan “Jadi saya setuju…bahwa agama adalah hak asasi dari setiap manusia..dan kita tidak boleh memusuhi yang berbeda agama dengan kita dan kita harus menghormati PILIHAN agama yang dianut oleh setiap umat…” oke, 100 % benar !. Tapi itu adalah tataran normatif, pesan moral agama memang mengajarkan begitu. Di lapangan, lain lagi ceritanya Bung !.
Baru-baru ini kasus seorang wanita yang bernama Nifin Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip www.almesryoon.com, (19/8) itu menyatakan bahwa ia merasa terancam oleh Anas Abduh, ayahnya, Faiza Habib, ibunya serta Anggie, saudara kandungnya. Hal itu disebabkan karena mereka mencoba untuk memaksa Nifin agar kembali memeluk agama Nasrani setelah ia memilih memeluk Islam.
Ia menambahkan, bahwa dirinya telah menyatakan diri memeluk Islam pada 21 Juli 2007, dan mengganti namanya dengan nama Islam lalu menikah dengan seorang Muslim yang bernama Aiman Mahmud serta tinggal bersamanya di propinsi Mathariyah.
Namun ketika ia berkunjung kepada keluarganya, mereka mengurungnya dan melarang suaminya untuk bertemu dengannya. Tidak hanya itu, keluarga memaksanya agar meng-khulu’ (mengajukan cerai dengan mengembalikan mahar) suaminya. Akan tetapi ia menolak, sehingga keluarganya memutuskan untuk mengurungnya dalam rumah. Pada malam harinya Nifin berhasil kabur dan mendatangi kantor polisi untuk minta perlindungan. Ia menginginkan agar keluarganya berjanji supaya mereka tidak memaksanya lagi untuk murtad dari Islam.
Bahkan ia juga menegaskan bahwa ia menginginkan tetap memeluk Islam yang telah ia pilih sesuai dengan hati nuraninya, juga menegaskan bahwa ia menikah dengan suaminya dikarenakan sama-sama suka dan tidak ada paksaan, dan ia mengharap agar pihak keamanan menjaga ia dan suami dari keluarganya.
Ah, ternyata ada juga contoh seperti yang terjadi di sini di seberang benua kita. Mengapa ?, karena memang setiap penganut agama, wajib fanatis terhadap agamanya.
Hidup orang beragama, yang cinta pada agamanya.
September 13th, 2007 at 10:11 am
rony lagi-rony lagi, pamali atu puasa2 ngomongin orang. Dosa lho.
September 13th, 2007 at 10:58 am
fanatisme bukanlah kesalahan. saya pikir munculnya kata keimanan tak lepas dari hal yang *di satu sisi* bisa disebut sebagai fanatik.
saya tidak mau makan babi, sikap saya ini tentu bisa disebut sebagai fanatik.
Yang bermasalah adalah ketika saya mengatakan bahwa warung A, B, C menggunakan daging babi, jangan makan di sana. Padahal tidak ada bukti nyata akan hal ini.
Atau dengan contoh lain, alangkah indahnya jika misalnya ternyata warung A,B,C itu memang menggunakan daging babi, dilakukan pendekatan dulu. Jika memang itu pilihan mereka, baru menyampaikan ke warga seiman agar tidak makan di sana, dan minta ke warung itu untuk menuliskan lambang babi di warungnya. Jangan pakai kekerasan, karena itu bukan jalan.
bukankah begitu?
p.s. jika tidak mau dikritik ataupun dibahas di media (termasuk blog), sebaiknya jadilah rakyat biasa, jauhkan diri dari kekuasaan dan sorotan.
September 13th, 2007 at 9:26 pm
Memang susah kalau bicara soal agama di ngr kita ini. Di satu sisi (maaf) sebagian umat Islam merasa takut dg isu kristenisasi. Saya setuju dengan pola pikir mas Rony yg saya anggap kritis. Memang skrg ini sebagian umat Islam merasa adanya ancaman Kristenisasi, mungkin dalam benak mereka sangatlah gampang untuk berpindah keyakinan karena iming2 harta, indomie atau apa sajalah.
Menurut saya terlalu naif bila kita berprasangka spt itu. Menurut saya jika ada orang berpindah agama, tentulah mengalami suatu proses yg tdk mudah. Perlu pertimbangan yg sangat masak (tdk serta-merta / gegabah).
Sekarang ini bila umat Islam tidak ingin kebobolan maka yg harus dibenahi adalah pola syiarnya. Bagaimana dakwah yg disampaikan oleh kiai/ustad dll bisa menyentuh hati umatnya sehingga umat tsb semakin mantap dg imannya.
saya sgt setuju bila mas Rony mengatakan bhw pimpinan sekaliber Bung Dien hrs turun ke bawah. Cross check dulu.
September 13th, 2007 at 10:17 pm
Nggak tahu ya kenapa kalu ada orang Kristen mengadakan kegiatan sosial langsung aja dicap Kristenisasi. memang susah sekali berbuat baik di negeri ini, tanpa hrs merasa was-was, jangan-jangan dianggap Kristenisasi.
Namun bila sebaliknya orang Kristen tdk ikut membantu saudara-saudara yang terkena musibah, mmmmhh…bisa-bisa dicap gak peduli dengan saudara sebangsa setanah air.
Perjumpaan Islam dan Kristen memang tdk bisa dihindari di muka bumi ini, terutama di indonesia. Harus disadari bahwa keduanya adalah agama yg bersifat misioner. Artinya masing2 melakukan kegiatan dakwah/syiar atau apa sajalah namanya, shg tidak munghkin tidak bila terjadi tarik ulur di antara keduanya. Artinya ada kemungkinan org Islam masuk Kristen dan sebaliknya org Kristen masuk Islam. Itu adalah proses yg wajar dimana orang bebas memilih keyakinannya. sebab apabila seseorang memeluk agama tertentu krn terpaksa apalagi dipaksa, maka saya yakin hasilnya adalah nol besar. Namun, sebaliknya bila ia merasa yakin dgn agama yg dianutnya saya berkeyakinan bhw ia akan bewrpegang teguh kepada imannya, misalnya masyrakat di mana mas Rony tinggal.
Perlu diketahui bahwa dalam agama Kristen berbuat baik kepada sesama itu adalah sebuah kewajiban (saya rasa Islampun mengajarkan hal tsb). Menjadi Kristen itu dasarnya adalh panggilan (bukan paksaan, apalagi di beri iming2) artinya hanya Kristuslah yg memanggil seseorang itu untuk bisa menjadi pengikutnya, it means bhw org Kristen tdk serta merta bisa membuat orang lain menjadi Kristen, sekali lagi hanya Yesus yg mampu melakukannya, namun apabila orang Kristen harus mewartakan/menyiarkan ajaran Kristus maka itu adalah tugassebagaimana orang Islam memiliki kewajiban yang sama thd agamanya. Bila ada orang Kristen yg menjadi mualaf misalnya, kenapa hrs bingung?? Biarin aja itu pilihannya gak perlu dipertengkarkan. Namun sebaliknya bila ada orang Islam yang masuk Kristen jangan pula dipaksa atau dimusuhi.
October 2nd, 2007 at 10:45 am
Bung Rony, tidak makan babi, bagi umat Muslim (anda bilang anda juga muslim), bukan soal fanatik atau tidak fanatik dong !!!! Itu kan larangan !!! Larangan dan perintah tidak ada hubungannya dengan fanatik atau tidak fanatik, tapi berhubungan dengan ketakwaan. Perasaan, dulu waktu SD pernah dibahas di pelajaran Agama deh. Kecuali SD-nya di luar negeri…hehe…
Soal Dien dan isu pemurtadan atau Kristenisasi, saya lebih setuju biarlah semua berjalan seperti apa adanya. Yang mau melakukan pemurtadan ya silahkan….., sebaliknya….kalau ada yang mau memperingati umatnya atau melakukan tindakan perlawanan….ya silahkan.
Itung-itung ladang dakwah buat kami saudara-saudara sesama muslim.
October 5th, 2007 at 1:37 pm
Kini kita tahu, siapa yang berteriak-teriak maling, namun dia sendirilah malingnya.
kini kita tahu, siapa yang berteriak-teriak kebakaran, padahal dia sendirilah yang membakar.
Kini kita tahu siapa yang berteriak-teriak PECAHNYA BANGSA TERCINTA INI, PADAHAL DIA SENDIRI YANG MEMECAH BANGSA.
Din, hati-hati omonganmu. Jabatanmu yang mentereng dan menyilaukan itu tidak akan menulikan dan membutakan hati kami atas kebusukan hatimu dan prasangka buruk yang kamu jadikan api pembakar kedamaian bangsa !!
Ternyata kamu sama saja dengan mempraktekkan politik penjajah : mengadu domba !!
Din, di tas kamu masih ada langit. Di atas langit masih ada Alloh !!
October 6th, 2007 at 5:46 pm
Sdr Rony,
Salam kenal. Awalnya saya nyasar ke blog ini, tapi setelah menelusurinya….semakin ingin ke dalam, lebih dalam… Salut hormat untuk Sdr. Rony yg jujur apa adanya dan yakin dengan pendapatnya meski berbeda dengan beberapa “saudara” Anda yg berada di bawah bendera agama yg sama. Saya sependapat dengan pendirian sdr. Rony, Johannes, Dony, dll yg senada.
Untuk teman-teman lainnya, apapun keyakinan (sekali lagi:KEYAKINAN! itu artinya penganut Kejawen dan Parmalin, dll.)atau agama Anda, selama Anda yg selalu berada di samping saya saat ditimpa kemalangan atau ikut bergembira saat saya sedang bergembira, dan Anda melakukan hal sama pada orang lain juga….bagi saya Anda adalah saudaraku.
Jadi, kalau mau bantu orang, ya tanpa syarat dan jangan berpikir dua kali dan berharap pahala menjadi meningkat hanya karena
menolong orang yg seagama dengan Anda. Yg dinamakan SAUDARA adalah umat manusia yg MENCINTAI manusia lain, BUKAN SAUDARA adalah mereka yg seagama.
Jadi kalau ada yg berubah keyakinan (saya enggan pakai kata MURTAD), selama BUKAN karena materi, alasan praktis, atau mengukuhkan tanda cinta dengan kekasih Anda, bagi saya itu berarti Tuhan sendiri berbicara kepada Anda dengan caraNya sendiri. Orang “tercerahkan” hanya melalui perenungan bathin pribadi dengan Tuhan. Jadi, mau pindah ke Kristen kah atau ke Muslim kah, biarkan saja. Selama orang itu tidak pongah dengan agama barunya, saya pikir tidak ada masalah.
Saya bersyukur, pastor/romo di gereja saya idak pernah menyebarkan benih-benih kebencian atau menghakimi umat lain. Selalu mengingatkan menolong siapapun yg membutuhkan.
Jadi, sekarang ini jangan sibuk dengan perkara dogmatis, yg penting bagaimana kita bisa menjadi manusia, selayaknya manusia yg diciptakan Tuhan dengan kemampuan berpikir dan merasa ;)…ada banyak perkara penting di dunia yg menuntut perhatian dan aksi kita:KELAPARAN, KEMISKINAN, PEPERANGAN, KERUSAKAN ALAM,PENDIDIKAN TERTINGGAL.
Menurutku. MANUSIA TIDAK HIDUP UNTUK AGAMA, TETAPI UNTUK MANUSIA DAN MAKHLUK HIDUP LAIN YG DICIPTAKAN TUHAN. Agama DICIPTAKAN manusia untuk mendukung dan mengarahkan pada kemuliaan Tuhan, BUKAN sebaliknya: Tuhan mendukung agama
Sejauh ini, saya mengagumi dan menjadikan panutan penulis dan pemikir (dari tulisan dan ceramah) seperti:Romo Magnis Suseno, Nurcholis Madjid, Gus Dur, Romo Mangunwijaya, Ghde Prama, Mudji Sutrisno. (maaf, mungkin ada yg lain, tapi baru Bapak-bapak ini yg saya baca tulisannya.Oh, ya, Bapak Jalaluddin Rakhmat dan Goenawan Moehammad jg.
Selamat berbuka puasa bagi teman Muslim atau non-Muslim yg jg berpuasa;)
Salam damai,
Esther (Anti kebencian atas dasar perbedaan agama/keyakinan)
October 13th, 2007 at 2:36 pm
udah jangan dengerin omongannya si rony, dia itu senang kalau orang lain susah. sirik banget loe rony.
October 16th, 2007 at 11:15 am
@mas yugo:
lebih tepatnya adalah saya nggak suka liat “orang senang karena menyusahkan orang lain”.
October 17th, 2007 at 5:13 pm
Wah telat nih.
Udah….gitu aja berantem.
Masih banyak yang harus diurus, bukan cuma isu-isu seperti itu. Daripada ngurusin sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan, lebih baik ngurus perut aja, yha to…
October 20th, 2007 at 8:10 am
wah mencerahkan masih banyak juga yang beragama =baik yang pro maupun yang kontran= saya kira semua udah pindha agama ke agama baru “webblogging” salam kenal mas rony.
October 23rd, 2007 at 8:09 am
Mas Rony, sekedar “out of the box” berupaya mengulas dari sisi yang lain….In business there is a valid golden rule, “when you dont take care of your customers, others will” in human resource management ada juga rumusan standard “when you dont take care of your staff, others will” Tanpa membenarkan maupun membantah isue kristenisasi, rasanya kita gagal untuk “take care atas ummat kita sendiri” dan pada saat ummat lain menawarkan sepotong roti dan secangkir susu (Bukan anggur loch yah hehehehe) kita serta merta tersinggung. Mengurus ummat bukan masalah “logisitcs” its a matter of “willingness” alias “niat”, bila niat itu ada, automatically logistics akan by default ikut serta. Remember wahai “all you better than the rest moslems…..(ditulis dengan nada sinis)” kalau kita terus berkutat sama retorika dan gagal untuk take care ummat kita sendiri, maka “others will take care” its as simple as that. Bilamana sesungguhnya kristenisasi tidak ada, sungguh sesat kita semua
karena berbalut dalam fitnah!!! Namun bilamana sesungguhnya upaya kristenisai itu ada, apa yang akan kita lakukan? 1. Membinasakan semua umat kristen sampai ke mereka yang ari2 nya masih tersambung dengan ibunya? (BTW ini sesuai nggak yach dengan ajaran Rassullulah?) 2. Menyebarkan aqidah dan Mensejahterakan ummat kita sendiri sehingga ummat Islam hidup layak dan menjadi insulated dari segala upaya kristenisasi?
Demikian tanggapan saya, maaf kalau sedkit dicampur bahasa English….jangan ada yang tersinggung, moga2 udah nggak ada lagi yang berpikiran bahasa English itu Bahasa Nasaroh hehehehehe Emang kalo gue pake bahasa Arab, pada ngerti wakakakakaak. Ass Wr Wb….STOP KEKERASAN
October 25th, 2007 at 1:05 pm
Bagi orang islam yang moderat dan orang islam yang tidak tau BETUL tentang islam, memang soal agama itu urusan masing-masing pribadi. yang saya tau di indonesia ini, orang anjing nasrani, babi yahudi dan amerika selalu dijadikan kambing hitam. klo ada orang islam pindah agama ke kristen selalu sasarannya telah diberi hal-hal yg bersifat MATERI oleh orang kristen dan dipaksa, kalo tidak orang kristen yang menyamar dan belajar islam kemudian mengaku pindah KRISTEN. (baca itu tulisan-tuslian si majalan SABILI isinya sama dengan provokator dan fitnah buat non-muslim)
Klo ada orang kristen yang memaksa untuk pindah agama itu PUKULI atau BUNUH saja tdk apa-apa karena dalam ajaran mereka tidak seperti itu (dilarang/tidak boleh memaksa) memang mereka diperintahkan untuk memberitakan Injil, tetapi tidak memaksa, klo ada yang mau terima itu BAGUS, klo tidak yang TIDAK APA-APA.
Jangan SALAHKAN kenapa ada orang muslim yang marah terhadap non muslim seperti Pak Din, ini dasarnya :
Surat 9:123 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.
Surat 8:12 Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
Surat 3:85 Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Surat 2:191 Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.
Surat 9:5 bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka
Surat 2:193 Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah
Surat 9:14 Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.
Surat 9:29 Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
Surat 9:30 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.
Surat 9:28 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini…
Surat 3:61 Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan
diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
Surat 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka
maka tawanlah mereka.
Surat 8:65, Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir
Surat 3:28 Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman atau penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).
Dan bagi yang moderat atau mungkin yg menggunakan
LOGIKA AKAL SEHAT ini dasarnya :
Surat 2:256 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)
Surat 73:10 Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
Surat 109:6 Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.
Surat 20:130 Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu
Surat 2:83 ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….
Surat 10:99 Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.
Surat 29:45 Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara
yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami
dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri
Surat 2:62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Surat 7:199 Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh..
Surat 6:108 Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan
Surat 43:88-89 Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)
Surat 50:45 Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka
Surat 16:90 Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran
dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran.
Tergantung SUKA PILIH AYAT YANG model mana (keras/lembut) ?
Jadi jangan salahkan perbuatan IMAM SAMUDRA dan kawan-kawan (bukankah mereka selalu merasa tidak bersalah klo diwawancarai di TV), karena ada dasarnya AYAT-NYA, bahkan dinegara-negara islam timur tengah seperti itu penerapannya khsusnya iran.
Di toko buku, khususnya di buku-buku Islam, ada banyak buku yang dengan se-enak udelnya sendiri menghujat agama lain, tetapi klo agamanya baru di KRITIK aja sudah MARAH BESAR apalagi di hujat, hukum mati sudah pasti ANCAMANNYA.
Mengapa orang orang islam murtad pasti dibuat sengsara, ini salah satu dasarnya :
“..Rasulullah (nabi Muhammad) telah menyatakan : ‘Jika seorang Muslim meninggalkan agamanya (Islam), bunuhlah dia. Hadis sahih al-Bukhari 4/260.
October 25th, 2007 at 2:18 pm
Terima kasih bisa pasang iklan saya di sini.
indonesia.faithfreedom.org (versi indonesia)dan versi inggris www.faithfreedom.org
October 27th, 2007 at 1:40 pm
assalamualaikum wr.wb
mari kita berlindumg dari godaan setan yg terkutuk. mas rony,setiap orang pasti punya kelemahan dan lelebihan.jgn menilai seseorang dari sisi negatifnya saja.anda yg mengaku muslim,mengapa tak malu menguak aib saudaranya sendiri,memusuhi.
smg Pak Din selalu dilindungi dari orang2 dengki,dari perkataan2 org ya membenci ato skedar tdk suka dg beliau.semoga keimanan beliau selalu terjaga.amiin. maaf atas kata2 yg kurang berkenan.fastabiqul qairat.
wassalamualaikum wr.wb
October 30th, 2007 at 2:24 pm
Baru-baru ini saya melihat berita yg lagi hot di TV, yang mana dalam 1 bulan ini ada 3 aliran sesat dalam islam yang muncul, diantaranya aliran Al Quran suci. Apanya yang menarik ? lagi-lagi komentar Pak Din pada running text mengatakan bahwa ke-3 aliran tersebut DISINYALIR ada KEPENTINGAN/HAL-HAL YANG BERBAU DAN BERTUJUAN YANG BERSIFAT POLITIK.
Apa maksud beliu berpendapat begitu ??
Jangan-jangan nanti nuduh lagi itu perbuatan licik setan amerika, babi yahudi dan satu lagi ….. krist….
October 30th, 2007 at 3:27 pm
Dear Taqqiya…setuju bawha akan selalu ada buku-buku provokatif yang meng anjingkan si X, mem babikan si Y ataupun men setankan si X, my only comment is that semangat dari tulisan pertama Mas Rony adalah untuk “critacally introspect” agama kita masing2 dan apa yang terjadi didalamnya, dan bukan secara “heboh” menggaris bawahi perbuatan zalim apa yang telah dilakukan ummat lain terhadap ummat diri kita sendiri. Foul Play telah di lakukan oleh banyak orang dengan dalih agama, jangan sampai kita ikut terjebak. Peace my friemd, lets heal the wounds…..Christianity is about peace, Islam is about peace, also Hinduism, Budhism and other religons. Agama-agama ini memang berbeda (TIDAK SAMA!!!), tapi berbeda tidak berarti harus saling baku hantam & baku zalim.
November 2nd, 2007 at 12:43 pm
Memang mayoritas bangsa indonesia ini pali suka melakukan TAQQIYA.
November 5th, 2007 at 1:54 pm
Makin seru blognya Rony.
Termasuk Anda;Taqiyya Menjijikkan, baru saja melakukan Taqiyya. Cuma Anda yang menggunakan sarkasme seperti “… orang anjing nasrani, babi yahudi dan amerika selalu dijadikan kambing hitam”. Oh ya, KristenNoTengkyu, saya senang sekali Anda menulis komentar dengan Bahasa Arab, kalo perlu utuh Arabnya, sekedar menunggu bukti bahwa Anda memang mampu, seperti kata Anda ” Emang kalo gue pake bahasa Arab, pada ngerti wakakakakaak”.
November 6th, 2007 at 3:13 pm
Salut buat anda yang berkomentar…
November 7th, 2007 at 10:20 am
Beberapa tanggapan terakhir atas tulisan saudara Rony kembali memancing wacana. Tanggapan Esther, Kristen NoTengkyu dan Taqiyya Menjijikkan adalah di antara komentar yang agak sayang jika didiamkan. Kristen dan Taqiyya dalam komentarnya melupakan akar historis hubungan Islam-Kristen, sehingga komentarnya ahistoris. Keduanya hanya melihat buihnya tanpa melihat gelombang pasang-surutnya dinamika Islam-Kristen. Sementara Esther, menggunakan logika Kristiani murni dalam komentarnya.
Logika nalar KristenNoTengkyu rupanya enggan, atau tidak siap mengungkap kembali benih Kristenisasi, baik di seluruh dunia maupun Indonesia sehingga ia mengatakan “ …Bilamana sesungguhnya kristenisasi tidak ada, sungguh sesat kita semua
karena berbalut dalam fitnah!!! Namun bilamana sesungguhnya upaya kristenisai itu ada, apa yang akan kita lakukan? 1. Membinasakan semua umat kristen sampai ke mereka yang ari2 nya masih tersambung dengan ibunya?.”. Mas Kristen, misionaris yang berhimpitan dengan gereja dan kristenisasi itu bukan isapan jempol dan disuarakan oleh orang Islam secara sepihak, tetapi diwartakan oleh orang Kristen sendiri, baik Paus, dan pendetanya. Yang banyak mengingkari malah orang Kristen akar rumput yang komentarnya bahu membahu seperti dapat dicium aromanya dalam blog Rony ini. Secara nalar, siapapun dapat dipastikan akan lebih percaya ucapan dan pernyataan ‘gembongnya’ dari pada ‘coronya’. Bagi kaum Kristen, misi Kristen adalah misi suci yang wajib mereka emban. Baik kelompok Protestan maupun Katolik di Indonesia, sama-sama menegaskan, bahwa misi Kristen harus tetap dijalankan.
Coba Anda simak ungkapan kalangan Protestan, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Dr. AA Yewangoe, menegaskan: “Setiap agama mengklaim diri sebagai yang mempunyai misi dari Tuhan, yang mesti diteruskan kepada manusia. Klaim ini adalah klaim imaniah yang tidak dapat diganggu gugat. Memang, tidak dapat dibayangkan sebuah agama tanpa misi, sebab dengan demikian, tidak mungkin agama itu eksis. Agama tanpa misi bukanlah agama… Tanpa misi, gereja bukan lagi gereja.” (Suara Pembaruan, 5/12/2005).
Seringkali, ‘saudara’ tidak seiman saya itu menempuh cara-cara naif dan tidak beradab, seperti orang tak beragama dalam menjalankan misinya. Pantas, kalau pentolan gereja Yewangoe menekankan, agar misi Kristen dilakukan dengan cara-cara yang santun. Ia tidak setuju dengan penggunaan cara-cara misi Kristen, misalnya, melalui cara-cara mendatangi rumah orang Islam dan menyebarkan Bible ke rumah-rumah orang Islam itu, seperti yang dilakukan kelompok Gideon yang banyak ditentang kalangan Kristen sendiri.
Tetapi, misi Kristen harus tetap dijalankan. Caranya, disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Bagi kelompok Kristen seperti Gideon, cara seperti itu, dipandang sebagai pemahaman literal dari Markus, 16 :15 : ‘’Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’’
Sebagian kalangan Kristen memahami, ayat Bible itu tidak harus dipahami secara literal, dengan cara membagi-bagikan Injil ke semua orang.
Kalau ditengok sejarah misi Kristen, sebenarnya cara itu telah lama dipraktekkan. Dan ternyata memang, apa yang dilakukan Gideon dengan cara membagi-bagikan Bible kepada kaum non-Kristen telah lama dilakukan di Indonesia.
Tahun 1962, H. Berkhof dan I.H. Enklaar, menulis buku berjudul Sedjarah Geredja, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962), yang menggariskan urgensi dan strategi menjelankan misi Kristen di Indonesia. Berikut ini ungkapan mereka:
“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa…. di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil. Apalagi bukan saja rakyat djelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi djuga dan terutama para pemimpin masjarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah”.
“Pelaksanaan tugas raksasa itu selajaknya djangan hanya didjalankan dengan perkataan sadja tetapi djuga dengan perbuatan. Segala usaha Pekabaran Indjil jang sudah dimulai pada masa lalu, hendaknya dilandjutkan, bahkan harus ditambah. Penerbitan dan penjiaran kitab2 kini mendapat perhatian istimewa. Penterdjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah oleh ahli2 bahasa Lembaga Alkitab, yang sudah mendjadi suatu berkat rohani jang tak terkatakan besarnya, harus terus diusahakan dengan radjin. Perawatan orang sakit tetap mendjadi suatu djalan jang indah untuk menjatakan belas-kasihan dan pertolongan Tuhan Jesus terhadap segala jang tjatjat tubuhnya. Pengadjaran dan pendidikan Kristen pun sekali2 tak boleh diabaikan oleh Geredja… Dengan segala djalan dan daja upaja ini Geredja Jesus Kristus hendak bergumul untuk merebut djiwa-raga bangsa Indonesia dari tjengkeraman kegelapan rohani dan djasmani, supaja djalan keselamatan jang satu2nya dapat dikenal dan ditempuh oleh segenap rakjat.”
Di kalangan Katolik, misi Kristen juga sangat ditekankan, meskipun, pasca Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mengubah sikap eksklusifnya terhadap agama-agama non-Katolik. Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan 8 Desember 1975. Di katakan dalam dokumen ini:
“Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen. Gereja menghormati dan menghargai agama-agama non-kristen sebab merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Agama-agama tadi mengandung gema usaha mencari Allah selama ribuan tahun, suatu usaha mencari yang tidak pernah lengkap tapi kerap kali dilakukan dengan ketulusan yang besar dan kelurusan hati… Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar… Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.”
Jadi, misi Kristen untuk mewartakan Bible kepada umat Islam dan agama-agama lain, adalah ajaran pokok dalam Gereja, sebab itu tidak mungkin umat Islam meminta mereka untuk meniadakan ajaran tersebut dan kurang waras menuduh balik bahwa umat Islam ngarang-ngarang tentang wujud penampakkan Kristenisasi. Dengan berbagai cara dan bentuk, misi itu tetap dijalankan.
Pada tahun 1967-an, pemerintah mempertemukan M. Natsir dan TB. Simatupang untuk meneken surat agar umat yang telah beragama tidak menjadi objek pengabaran Injil. Hanya yang belum beragama sajalah yang dikabarkan Injil. Tapi, Simatupang mengatakan: “Lho, pengabaran Injil kan semangat terdalam kekristenan. Kalaupun diteken, nantinya di lapangan bisa berjalan lain.”
Pdt. Dr. Martin Sinaga ( dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta) mengatakan bahwa,“Kristenisasi itu tidak ilusi. Itu sungguh-sungguh terjadi. Menurut saya, umat Kristen dan umat Islam perlu mencarikan solusinya bersama-sama. Sebagai orang Kristen, saya berkewajiban secara internal untuk memperkenalkan teologi agama-agama ini, dan mengajak mereka untuk lebih luas memahami agama “. (wawancara di Jaringan Islam Liberal).
Lalu, apalah artinya mengeluarkan keringat dan membuang kata untuk mengatakan bahwa kristenisasi itu fitnah. Fitnah dari Hongkong !
Poin kedua Anda, KristenNoTengkyu, juga mengandung cacat sejarah, sebab justru yang banyak sekali menumpahkan darah dan memutus ari-ari orang lain dari ibunya adalah sejarah Kristen.
Pada masa permulaan, ketika timbul dua aliran Kristen, yakni Unitarian dan Trinitarian. Kelompok Unita¬rian dipelopori oleh Iranaeus, Tertulianus, Origenes, Diodorus, Lucianus dan Arius menolak doktrin Trinitas dan berpegang teguh pada ajaran tauhid dan peribadatan sesuai dengan ajaran Yesus. Sedangkan Trinitarian memegang teguh doktrin Trinitas.
Untuk meredam perbedaan pendapat dua kelompok tersebut, maka Kaisar Konstantin meng¬adakan kongres yang dikenal dengan Konsili Nicea tahun 325 M yang dihadiri oleh 2.048 utusan dari berbagai negeri untuk menetapkan konsep ketuhanan dan Injil yang dianggap sah. Karena konsili berpihak kepada kelompok Trinitarian, maka para tokoh Unitarian ditangkapi, disiksa dan dibunuh dengan tuduhan “aliran sesat.”
Sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 395 M Kaisar Theodosius membentuk institusi gereja Kristen yang dikenal dengan Inkuisisi (Inquisition). Inkuisisi adalah institusi hukum kepausan yang dibentuk untuk memberantas kaum heretic, kekuatan magic dan kekuatan yang dianggap berbahaya. Inkuisisi memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Siapapun yang dianggap berbahaya ditangkap dan dijatuhi hukuman yang berat: digantung, dibakar hidup-hidup, dibunuh pelan-pelan, giginya dicabut satu persatu, kulitnya dikelupas, dst. Beberapa tokoh Unitarian yang mati tragis karena mempertahankan ideologi Tauhid antara lain: Iraneus, Origenes, Lucianus, Arius, Nestorius, Discorus dan Benjamin.
Di tengah merosotnya pengaruh Gereja dan konflik antar kekuatan Kristen, pada 25 November 1095, Paus Urbanus II, menyerukan Perang Salib. Para ksatria Kristen diminta menghentikan konflik antar mereka dan bersatu padu menghadapi musuh Tuhan, yang mereka sebut “Turks” yakni bangsa Turki muslim. Paus bilang, “The Turks adalah bangsa terkutuk, dan membunuh monster seperti mereka adalah suci. Maka, wajib bagi kaum Kristen memusnahkan mereka,” kata Paus.
Seruan Paus Urbanus mendapat sambutan luar biasa. Ratusan ribu pasukan Kristen bergabung, dengan semangat tinggi merebut Jerusalem. Dalam buku klasiknya, Islam and the West (terbit pertama tahun 1960), Norman Daniel menyebut ‘semangat Crusade adalah melakukan pembantaian demi Kasih Tuhan’. Maka, tidak heran, jika tentara Salib kemudian melakukan pembantaian yang luar biasa sadisnya terhadap Muslim, Yahudi, dan berbagai kelompok masyarakat lain.
Tahun 1099, saat menaklukkan Jerusalem, mereka membantai sekitar 30.000 warganya. Puluhan ribu kaum Muslim yang mengungsi di atap al-Aqsa dibantai dengan sadis, tanpa pandang bulu, wanita, anak-anak, atau orang tua. Setahun sebelumnya, 1098, pasukan Salib (Franks/Crusaders) membantai ratusan ribu kaum Muslim di Marra’t un-Noman, Syria. Paus menjanjikan pengampunan dosa bagi siapa pun yang bergabung dalam pasukan Salib dan jaminan surga bagi yang mati dalam perang suci itu. Dengan iming-iming surga dan pengampunan dosa, maka bergabunglah para pendosa, rampok, garong, begal, pembunuh, pencoleng, perompak, penyamun, copet, tukang jagal, pemabuk, penjudi, pezina untuk bergabung membantai umat Islam untuk mencuci segala dosa masa lalu atas garansi Pausnya.
Pembunuhan dan penyiksaan terus berlanjut hingga zaman pencerahan Eropa. Tahun 1142 gereja membakar hidup-hidup Abelard, seorang filosof dan tokoh Kristen di Prancis. Tahun 1415 di Spanyol dibakar 31.000 orang yang menen¬tang gereja. Tahun 1416 gereja membakar John Hus dan Jerome sampai mati di Bohemia.
Tanggal 27 Oktober 1553, Michael Serveteus, dokter paru-paru ahli Injil dibakar pelan-pelan sehingga meronta-ronta dan berteriak-teriak kesakitan selama dua jam lalu mati tragis. Dokter ini dibakar karena menulis buku De Trinitas Erroribus (Kesalahan Trinitas). Di Nederland, ribuan orang dipotong lehernya pada tahun 1568.
Nama-nama tenar Martin Cellarius, Ludwig Hoetzer, Louis Socianus, George Blandrata beserta ribuan pengikutnya di Hongaria, Gregory Pauli, Francis David, dan masih banyak lagi menjadi korban kebiadaban Inquisisi yang menegakkan doktrin Trinitas. Pertikaian berdarah dalam internal Kristiani ini sesuai dengan sindiran Al-Qur‘an:
“Dan di antara orang-orang yang mengata¬kan: Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat…” (Qs. Al-Ma`idah 14).
Bartolome de Las Casas (1474-1567), seorang pastor Ordo Dominican, menceritakan perilaku penjajah Kristen Spanyol terhadap penduduk asli Amerika, saat mereka menjajah wilayah itu. Kata de Las Casas, mereka membantai dengan sangat sadis siapa saja yang ditemui, tanpa peduli apakah penduduk itu wanita hamil, anak-anak atau orang tua. Para penjajah itu juga membuat aturan, jika ada seorang penjajah Kristen terbunuh, maka sebagai balasannya, 100 orang Indian juga harus dibunuh.
(The Christians, with their horses and swords and lances, began to slaughter and practice strange cruelties among them. They penetrated into the country and spared neither children nor the aged, nor pregnant women, nor those in childbirth, all of whom they ran through the body and lacerated, as though they were assaulting so many lambs herded into the sheepfold… and because sometimes, though rarely, the Indians killed a few Christians for just cause, they made a law among themselves that for one Christian whom the Indians might kill, the Christians should kill a hundred Indians). ( Philip J. Adler, World Civilization, hal 311).
Jujur harus dikatakan, tidak semua misionaris menyukai cara-cara ala perang salib, tetapi spirit kristenisasinya tidak berubah. Menguasai dan menaklukkan umat Islam tidak mesti dengan senjata, tatapi jga dengan pemikiran. Sejak Perang Salib berlangsung, ada sebagian tokoh Kristen yang menilai Perang Salib merupakan cara yang tidak tepat untuk menaklukkan kaum Muslim. Salah satu tokoh terkenal adalah Peter The Venerable atau Petrus Venerabilis (1094-1156M). Peter adalah tokoh misionaris Kristen pertama di dunia Islam, yang merancang bagaimana menaklukkan umat Islam dengan pemikiran, bukan dengan senjata. Ketika itu, ia seorang kepala Biara Cluny, Perancis – sebuah biara yang sangat berpengaruh di Eropa Abad Pertengahan.
Sekitar tahun 1141-1142, Peter mengunjungi Toledo, Spanyol. Di situ ia menghimpun sejumlah cendekiawan untuk menerjemahkan karya-karya kaum Muslim ke dalam bahasa Latin. Terjemahan itu akan digunakan sebagai bahan untuk misionaris Kristen terhadap dunia Islam.
Salah satu sukses usaha Peter adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton (selesai tahun 1143), yang diberi judul “Liber Legis Saracenorum quem Alcorant Vocant” (Kitab Hukum Islam yang disebut Al-Qur’an ).
Inilah terjemahan pertama al-Quran dalam bahasa Latin, yang selama beratus-ratus tahun menjadi rujukan kaum Kristen di Eropa dalam melihat Islam. Barulah pada tahun 1698, Ludovico Maracci, melakukan kritik terhadap terjemahan Robert of Ketton dan menerjemahkan Al-Qur’an sekali lagi ke dalam bahasa Latin dengan judul “Alcorani Textus Receptus”.
Menurut Peter Venerabilis, pengkajian Islam (Islamic Studies) perlu dilakukan oleh kaum Kristen, agar mereka dapat “membaptis pemikiran kaum Muslimin”.
Jadi, kaum Muslim bukan saja perlu dikalahkan dengan ekspedisi militer, melainkan juga harus dikalahkan dalam pemikiran mereka. Di tengah berkecamuknya Perang Salib, Peter membuat pernyataan: “… aku menyerangmu, bukan sebagaimana sebagian dari kami [orang-orang Kristen] sering melakukan, dengan senjata, tetapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan, namun dengan pikiran; bukan dengan kebencian, namun dengan cinta…”(But I attack you not, as some of us [Christians] often do, by arms, but by words; not by force, but by reason; not in hatred, but in love…) Petrus Venerabilis mengajak orang Islam ke jalan keselamatan Kristen dengan cara mengalahkan pemikiran Islam. Ia berangkat dari kepercayaan Kristen bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus).Weleh-weleh, sebegitu pentingkah arti orang Islam ke pangkuan Kristiani ?
Taqiyya Menjijikkan, menampilkan kasus majalah Sabili dan menilainya provokator dan ditelan bulat-bulat oleh KristenNoTengkyu. Padahal jauh sebelum sabili ‘diberanakin’, Peter pendeta di Maimuma, pada tahun 743 menyebut Nabi Muhammad sebagai nabi palsu. Yahya al-Dimasyqy atau dikenal juga sebagai John of Damascus (m 750) juga menulis dalam bahasa Yunani kuno pada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus. John of Damascus menyebut bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, katanya, Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memilki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. (Daniel J.Sahas, John of Damascus on Islam : ‘The Heresy of The Ishmaelites” Leiden; E.J. Brill, 1972, hlm. 67-95).
Segaris lurus dengan John of Damascus, Pastor Bede, dari Inggris (673-735) mengatakan bahwa Muhammad adalah manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). Bede menggambarkan Muhammad sebagai kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, dan tamak kuasa, sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim sebagai seorang nabi.
Pada masa renaissance dan reformasi Barat, Marlowes Tamburlaine menuduh Al-Qur’an sebagai karya setan. Marthin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman pencerahan Barat, Voltaire menyebut Muhammad sebagai fanatik, ekstremis dan pendusta yang paling canggih. Snouck Hurgronje bahkan dengan sangat yakin mengatakan, “ in our skeptical times there is very little that is above criticism, and one day or other we may expect to hear that Muhammad never existed”.
Klimovich di belakang hari mewujudkan harapan Hurgronje di atas dengan menulis artikel tahun 1930 dengan judul “Did Muhammad exist?”. Dalam artikelnya dia menyimpulkan, bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buat-buatan. Muhammad dikatakan sebagai fiksi yang wajib karena selalu adanya asumsi setiap agama harus mempunyai pendiri.
Petrus Venerabilis tidak lebih santun nilai provokasinya. Islam, menurutnya, adalah sekte kafir terkutuk sekaligus berbahaya (execrable and noxious heresy), doktrin berbahaya (pestilential doctrine), ingkar (impious) dan sekte terlaknat (a damnable sect); dan Muhammad adalah orang jahat (an evil man). Sampai saat ini belum pernah saya dengar, jangankan ‘Paus’nya orang Islam, bahkan ‘Teri’nya sekalipun yang lancang menghina Nabi mulia Isa alaihissalam seperti yang dilakukan Peter pendeta di Maimuma, John of Damascus, Pastor Bede, Marlowes Tamburlaine, Marthin Luther, Voltaire, Snouck Hurgronje dan Petrus Venerabilis terhadap Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Bahkan sebaliknya, iman seorang Muslim dianggap tidak sah apabila tidak meyakini dan menghormati Nabi Isa sebagai utusan Tuhan.
Berbahagialah Esther Regina Purba (halo Esther …, assalaamu ‘ala manittaba’al huda) yang mendapati asuhan Romo dan Pastornya yang berhati bersih, jauh dari sikap seperti “leluhur teologia”nya yang disebutkan. Saya membayangkan Romo dan Pastor Anda seperti Karen Armstrong, yang secara jujur mengatakan bahwa orang yang melakukan tindakan yang mengerikan, tidak memiliki agama, apakah mereka menyebutnya sebagai Muslim, Kristen atau Yahudi yang melakukan kejahatan atas nama agama mereka.
“Maka, meskipun Muslim, seperti juga Kristiani atau Yahudi, seringkali gagal untuk mengedepankan idealismenya, hal itu bukan karena agamanya,” kata Armstrong yang dengan simpatik menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, cinta dan toleransi serta tidak pernah melakukan paksaan yang berkaitan dengan agama.
“Dan selama berabad-abad Islam sudah memiliki catatan yang lebih baik dalam hal toleransi dibandingkan dengan agama Kristen. Hukum Islam tidak membenarkan perang terhadap negara yang memberikan kebebasan bagi warga Muslimnya untuk beribadah, Islam melarang pembakaran, perusakan bangunan-bangunan dan pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa dalam sebuah kampanye militer,” tambah Armstrong.
Ah, ternyata nafsu rendah provokatif Petrus Venerabilis tidak berhenti sampai di situ. Selain menugaskan para sarjana Kristen menerjemahkan naskah-naskah bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, Peter juga menulis dua buku yang menyerang pemikiran Islam. Tentang Al-Qur’an Peter menyatakan, bahwa Al-Quran tidak terlepas dari para setan. Setan telah mempersiapkan Muhammad, orang yang paling nista, menjadi anti-Kristus. Setan telah mengirim informan kepada Muhammad, yang memiliki kitab setan (diabolical scripture). (Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an, (Jakarta: GIP, 2005). Di sini kita tidak melihat pancaran cinta dari seorang Venerabilis seperti dalam ungkapannya di awal.
Strategi Peter Venerabilis ini kemudian menjadi rujukan kaum misionaris Kristen terhadap kaum Muslimin. Henry Martyn, tokoh misionaris berikutnya, juga membuat pernyataan, “Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta.”
Hal senada dikatakan tokoh misionaris lain, Raymond Lull, “Saya melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci, dan berpikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh.”
Lull mengeluarkan resep: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa.
Ungkapan Lull dan Martyn itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, dalam buku Islam: A Challenge to Faith (1907). Buku yang berisi resep untuk “menaklukkan” dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai “beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen”.
Urusan provokasi-provokasian, Taqiyya Menjijikkan mengambil sampel majalah Sabili yang ruanglingkupnya sangat kecil dan sempit. Padahal Kristen dan Barat berkongsi melakukannya terhadap Umat Islam jau lebih dahsyat. Strategi penaklukan Islam melalui pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh para orientalis Barat. Sebagian dari mereka memang membawa semangat lama kaum misionaris, sebagian lagi melakukannya untuk kepentingan penjajahan (kolonialisme) dan sebagian lagi bermotifkan semata-mata untuk kajian ilmiah.
Sarana terpenting yang digunakan oleh para penguasa dan kapitalis Barat dalam upaya provokasi itu dan diarahkan untuk menciptakan Islamfobia adalah jaringan media massa Barat yang sangat efektif menciptakan atmosfer ketakutan terhadap Islam di tengah masyarakat. Meskipun media massa Barat menguasai kecanggihan dan kemajuan teknologi informasi, namun keterkaitan mereka kepada puncak-puncak kekuasaan dan keuangan membuat komitmen mereka untuk menampilkan kebenaran menjadi semakin menurun. Oleh karena itu, kita melihat bahwa media-media Barat malah menjadi corong bagi para politisi dan menampilkan Islam dengan wajah yang kasar dan ekstrim. Di sini peran politis menyeruak menunjukkan taringnya.
Cara yang dipakai oleh media Barat dalam mendiskreditkan Islam antara lain dengan menyusun berita dan laporan-laporan sedemikian rupa sehingga kaum muslimin berada dalam posisi sebagai pelaku dan penyebab terjadinya berbagai krisis, terutama di Timur Tengah. Misalnya, ketika memberitakan tentang suatu bentrokan di Palestina, para pejuang Palestina disebut sebagai pemberontak, dan aksi perlawanan militer yang dilakukan oleh pejuang Plaestina disebut sebagai aksi teroris. Selain itu, setiap kali ada peristiwa terorisme di Barat, tanpa menunggu adanya penyelidikan, media-media Barat langsung melancarkan tuduhan bahwa kelompok muslimlah pelakunya. Ketika kemudian terungkap bahwa pelakunya adalah kelompok ekstrim dari agama lain, media-media itu sama sekali tidak melakukan klarifikasi atas pemberitaan salah mereka. Licik !
Fasilitas lain yang digunakan untuk memburuk-burukkan citra Islam di tengah masyarakat Barat adalah sinema. Hingga kini, sebagian besar film-film produksi Barat, khususnya di AS, dengan berbagai bentuk dan metode menampilkan kaum muslimin sebagai kaum yang terbelakang dan menyukai kekerasan. Sebagai contoh, bisa kita lihat dalam film The Siege yang menceritakan rangkaian teror di AS, yang dilakukan oleh orang-orang muslim. Bahkan, dalam film itu ditampilkan si teroris mengambil wudhu dahulu sebelum melakukan aksi terornya. Lagi-lagi, licik !
Penerbitan buku-buku anti Islam juga merupakan faktor lain yang menyebabkan meluasnya Islamfobia di Barat. Buku karya Oriana Fallaci yang berjudul The Force of Reason adalah salah satu di antara sekian banyak buku anti Islam yang diterbitkan Barat. Dalam buku itu, Fallaci mengatakan, “Eropa sedang menjadi sebuah provinsi Islam dan sebuah koloni Islam. Italia adalah sebuah pos terdepan dari provinsi itu dan poros kekuatan dari koloni itu. Di dalam setiap kota kita ada kota kedua, yaitu kota muslim, yang dijalankan oleh Al Quran. Inilah sebuah panggung dari ekspansi Islam.”
Negara-negara Barat bahkan juga menggunakan polling atau jajak pendapat sebagai sarana untuk mendiskreditkan Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dibuat sedemikian rupa agar orang-orang memberi jawaban yang merugikan Islam. Misalnya, dalam sebuah jajak pendapat di Jerman yang dilakukan terhadap para pelajar, pertanyaan yang diajukan antara lain, “Manakah yang lebih baik antara Tuhannya Al Masih dengan Tuhannya Muhammad?“ Dalam polling ini, jawabannya sudah disediakan dalam bentuk pilihan berganda, misalnya: “Tuhannya Al Masih penuh kasih sayang dan Tuhannya Muhammad memerintahkan kekerasan.” Polling seperti ini telah mengabaikan kenyataan bahwa Tuhan adalah satu dan Tuhan Yang Maha Esa-lah yang telah menurunkan semua agama-agama samawi, baik itu Islam, Kristen, maupun Yahudi.
Namun masih ada tokoh gereja yang kemudian sadar, seperti Creighton Lovelace, seorang pastor gereja baptis Danieltown di Forest City, Carolina Utara yang akhirnya membuat pernyataan resmi berisi permohonan maafnya pada warga Muslim Amerika Serikat karena telah menghina Al-Quran. “Saya minta maaf dan menyampaikan penyesalan yang sangat mendalam karena pesan yang saya buat telah menyinggung komunitas Muslim di sini,” demikian isi pernyataan Lovelace.
Dalam pernyataannya itu Lovelace lebih lanjut mengatakan, dia sama sekali tidak menyadari betapa umat Islam sangat menjujung tinggi dan menghormati Al-Quran, bahkan penghormatan umat Islam terhadap Al-Quran lebih tinggi dari pada orang Amerika menghormati Injil.
Permohonan maaf ini disampaikan Lovelace, setelah ia menempelkan sebuah pesan yang berbunyi ‘Al-Quran harus dicampakkan’ di depan gerejanya, yang langsung menimbulkan kemarahan komunitas Muslim setempat. Awalnya, Lovelace menolak untuk mencopot pesan yang dibuatnya itu dengan alasan tujuannya membuat pesan itu hanya untuk ‘membenarkan dan memberikan penghargaan terhadap injil dan ajarannya,’ dan ‘mengingatkan masyarakan di sekitarnya akan keagungan firman Tuhan.’ Namun setelah melakukan perenungan dan berdoa, Lovelace mengaku mempertimbangkan kembali perbuatannya itu.
Skenario buatan Huntington, ternyata ampuh dan berhasil menghasut Amerika dan Barat dalam menghembuskan kebencian terhadap Islam. Dalam bukunya ‘The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order’. Buku ini sudah mengarah untuk menempatkan Islam sebagai tantangan terpenting bagi peradaban Barat, pasca runtuhnya komunisme. Hal itu ditekankan lagi saat berdialog dengan Anthony Giddden, pada akhir musim semi tahun 2003, bahwa militan Islam adalah ancaman terhadap Barat. (We must distinguish between militant Islam and Islam in general, but militant Islam is clearly a threat to the West-through terrorists and rogue states that are trying to develop nuclear weapons, and through a variety of other ways).
Huntington adalah seorang guru besar ilmu politik di Harvard University, Huntington juga merupakan penasehat kawakan dalam politik luar negeri AS. Dalam tahun 1977-1978 ia menjabat sebagai koordinator Perencanaan Keamanan untuk Dewan Keamanan Nasional (National Security Council) di Gedung Putih. Diantara buku-bukunya adalah The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil-Military Relations (1957), The Common Defense: Strategic Programs in National Politics (1961), Political Order in Changing Societies (1968), American Politics: The Promise of Disharmony (1981), The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (1991), The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), dan Who Are We? The Challenges to America’s National Identity (2004).
Sungguh, AS dan Eropa, yang mayoritas penganut agama yang mengajarkan cinta kasih itu gemar membunuhan rakyat Palestina melalui tangan Israel. AS masih terus memperlakukan Israel sebagai anak emasnya. Sejak meletusnya intifadah ke-2, pada 28 September 2000, jumlah warga Palestina yang terkorban sudah mencapai 3250 orang. Sementara jumlah kaum Yahudi yang mati sekitar 800 orang. Jika berlaku aksi serangan terhadap warga Yahudi, maka Israel akan melakukan serangan balasan yang membunuh berkali-kali lipat jumlah warga Yahudi yang terbunuh. Sebuah pola pikir yang juga sama dengan yang digunakan penjajah Kristen Spanyol terhadap kaum Indian.
Weleh-weleh, sejarah memang tidak pernah berdusta apabila ditulis dan dibaca oleh orang jujur apapun agamanya, ras dan warna kulitnya, bahasa dan kulturnya. Jadi biarlah ia bicara, selama fakta tidak dimanipulasi dan dicatut pembajak kebenaran.
November 7th, 2007 at 1:41 pm
Le’ la kita ini di ajarkan untuk segera sadar mbantu mereka, untuk menyelamatkan nyawa n iman mereka, kan banyak yang orang islam atau apapun agamanya masih kurang “tergugah perasaanya” untuk mbantu mereka, lha Pak Din kan kapasitasnya pimpinan Umat Islam ya tentunya yang di “ithek-ithek” ya umat Islam biar semangat mbantu, bukan hanya nonton TV terus tanya “Sing mati Piro, Rusake parah pora, terus ngirim email ” wah kurang membakar semangat dong.
November 7th, 2007 at 10:26 pm
Mas Abdul, your knowledge of history luar biasa. Saya betul-betul terinspirasi untuk mencoba mencari referensi yang lebih banyak mengenai apa yang disampaikan dan mempelajarinya, mungkin Mas Abdul ada saran buku atau bacaan lainnya. However, apa saran Mas Abdul mengenai bentuk hubungan Kristen-Islam untuk kedepannya? tentunya sesuatu yang konkrit dan aplikatif, dan yang pasti TANPA KEKERASAN. Pertanyaan kedua, apakah dalam sejarah menurut Mas Abdul ada kesalahan2 dari umat Islam yang harus kita akui? Kejadian-kejadian di mana kita yang berbuat zalim terhadap umat lain ? (Masa iya kita semua begitu Mulianya? yang nggak shalat aja banyak, yang bulan puasa ketangkep razia macem2 aja banyak) Karena segala fakta sejarah yang ditunjukan Mas Abdul hanya mengenai keadaan di mana umat muslim yang di zalimi, tentunya itu satu fakta sejarah yang nyaman buat umat umat muslim karena posisinya umat kita yg tertindas (DAN SAYA YAKIN BETUL ADA BANYAK KEBENARAN DI BALIK APA YANG DI PAPARKAN MAS ABDUL). Tapi sejarah harus dilihat dari banyak sisi, bukan hanya sisi yang nyaman untuk diri kita sendiri. Menghujat orang memang gampang Mas, meghujat diri sendiri….NANTI DULU KALI hehehe. Sekalian bicara sejarah, saya pikir kita harus juga mengerti dosa-dosa umat kita di masa lalu agar tak terulang di masa yang akan datang, so tolong Mas kalau boleh di paparkan dosa2 kita dan kezaliman yang pernah di lakukan umat kita. Pasti bermanfaat Mas…Boleh di bantu???
November 9th, 2007 at 12:49 pm
MasKristenNoTengkyu,
Luar biasa ? Tak ada yang luar biasa dalam komentar itu. Di mana letak luar biasanya ? Nothing ! Biasa saja.
Saya hanya ‘terprovokasi’ atas tesis Anda “Bilamana kristenisasi itu tidak ada, sungguh sesat kita semua karena berbalut fitnah !!!”. Saya terpaksa mengais-ngais, bertanya kepada orang yang kepadanya saya belajar, benarkah tesis Anda itu. Saya menemukan. Ternyata saya tidak perlu mengeluarkan keringat terlalu banyak. Karena yang mematahkan tesis Anda tersebut bukan saya, tapi pihak yang seolah Anda bela, dengan mengangap sesat (kita semua?) dan berbalut fitnah sebab percaya ada kristenisasi. Jadi, keraguan tentang adanya kristenisasi, malah diyakini dan diakui secara riil dan dibenarkan oleh barisan kristiani sendiri. Wallaahu a’lam, saya bisa saja keliru dalam menginterpretasi fakta yang saya temukan dan ditunjukkan pada saya. Clear. Ini poin yang saya gulirkan.
Saya percaya Anda memiliki kemampuan ‘membaca’ sejarah lebih baik dari saya. Anda menguasai Bahasa Inggris dengan sangat baik serta Bahasa Arab yang mungkin saja jauh lebih baik. Data dan informasi sejarah; khususnya sejarah Islam, bertebaran di mana-mana yang ditulis dengan dua bahasa itu. Tidak terhitung yang berbahasa Ibu. Dengan dua kemampuan berbahasa Asing di kantong Anda, wow, Andalah yang luar biasa dan memiliki kesempatan lebih besar melahap semuanya.
Benar, sejarah harus dilihat dari banyak sisi, tapi terlalu banyak sisi yang diulas dapat mengaburkan tema pokoknya. Dan tidak terlalu salah bukan, apabila kita ingin fokus pada satu sisi guna mendapatkan ketajaman. Siapapun yang berusaha menyajikan obyektifitas persoalan, dia tidak akan pernah bisa keluar dari nilai-nilai subyektifnya sendiri. Apakah Anda beripikir telah sepenuhnya obyektif ketika menilai bahwa percaya kristenisasi itu sebagai sesat dan hanya fitnah?
Lahirnya komentar pertama, kedua, ketiga dan seterusnya dalam forum ini, pun karena mengambil satu sisi saja, yakni isu kristenisasi dan pemurtadan yang dilemparkan Dien Syamsuddin yang diangkat oleh “Sohibul Blog” ini.
“Karena segala fakta sejarah yang ditunjukan Mas Abdul hanya mengenai keadaan di mana umat muslim yang di zalimi, tentunya itu satu fakta sejarah yang nyaman buat umat umat muslim karena posisinya umat kita yg tertindas”.
Benarkah anggapan Anda ini ? Coba Anda ulangi sekali lagi membaca komentar saya, atau saya bantu menelusurinya.
Yang saya sajikan, bahwa ‘kesialan’ dan kekejaman yang dialami korban dogma Kristen, tidak hanya saya sebut kasus pembantaian dalam semangat Crusade yang sebagian besar diderita umat Islam. Saya juga menyajikan fakta kelompok Unitarian; Iranaeus, Tertulianus, Origenes, Diodorus, Lucianus dan Arius, orang Kristen yang disiksa dan dibunuh sebagai ‘korban’ Konsili Nicea tahun 325 M karena menolak doktrin Trinitas. Di antara mereka, Iraneus, Origenes, Lucianus, Arius, Nestorius, Discorus dan Benjamin yang mati tragis karena dianggap berdosa menolak paham bahwa Tuhan terdiri dari tiga unsur.
Begitu juga saya singgung peristiwa tahun 1142, di mana gereja membakar hidup-hidup seorang filosof dan tokoh Kristen di Prancis; Abelard. Atau 31.000 orang dibakar tahun 1415 di Spanyol yang menentang gereja. Juga tahun 1416 gereja membakar John Hus dan Jerome sampai mati di Bohemia.
Lalu pada 27 Oktober 1553, dokter paru-paru ahli Injil; Michael Serveteus, dibakar pelan-pelan sehingga meronta-ronta dan berteriak-teriak kesakitan selama dua jam lalu mati tragis. Dokter ini dibakar karena menulis buku De Trinitas Erroribus (Kesalahan Trinitas).
Martin Cellarius, Ludwig Hoetzer, Louis Socianus, George Blandrata beserta ribuan pengikutnya di Hongaria, Gregory Pauli, Francis David, dan masih banyak lagi menjadi korban kebiadaban Inquisisi yang menegakkan doktrin Trinitas. Apakah mereka semua muslim ?
Mestinya, Anda tulis begini : “Karena segala fakta sejarah yang ditunjukan Mas Abdul lebih banyak mengenai keadaan di mana umat muslim yang di zalimi, tentunya itu satu fakta sejarah yang nyaman buat umat umat muslim karena posisinya umat kita yg tertindas”. Redaksi seperti ini, sedikit lebih tepat dan proporsional karena memang saya tidak bisa keluar sepenuhnya dari subyektifitas dalam komentar saya.
Malah, saya merasa kenyamanan saya terusik, bukan semata-mata karena fakta dizalimi dan tertindasnya umat Islam dalam konteks Crusade, tapi karena masih ada orang yang menganggap fakta itu hanya fitnah padahal darah muslim dan Kristen sudah tertumpah karenanya. Anehnya lagi, fakta itu berserakan di lembar-lembar sejarah konvensional dan mutakhir dan diakui oleh pihak yang dianggap difitnah. Wa qoolatinnsshooroo inna altanshiiro zhaahirun.
Saya angkat fakta-fakta itu karena sekali lagi tesis kedua Anda menggelitik sensitivitas saya. Ya, Anda katakan : “Namun bilamana sesungguhnya upaya kristenisai itu ada, apa yang akan kita lakukan? 1. Membinasakan semua umat kristen sampai ke mereka yang ari2 nya masih tersambung dengan ibunya?”
Nyatanya, Kristenisasi itu tetap berjalan dan umat Kristen tidak dibinasakan. Satu, sebagian atau semuanya.
Haata burhaanaka in kunta min al-shaadiq wa ‘indaka hujjatun katsiiratun fi haadzal al-maudhu’i !!!
Sejarah itu kan rekaman hidup Mas. Siapapun pemilik sejarah itu, adalah gambaran hidupnya. Apapun agamanya. Dalam rentang hidupnya, tentu salah dan benar selalu bergandengan yang mereka torehkan. Meskipun pada kasus tertentu ada nilai-nilai yang dianggap mutlak selalu benar, seperti para Nabi. Persoalannya, relevan atau tidakkah fakta itu untuk mendukung tesis masing-masing. Di mana relevansinya mengaitkan ketidakmuliaan orang Islam yang tidak sholat dan kena razia di bulan Ramadhan, dengan topik ini?.
Saya tidak menampik kalau sejarah ummat Islam punya kesalahan. Juga tidak tertutup kemungkinan kesalahan itu menyangkut kezaliman terhadap umat lain. Tapi kezaliman itu dalam konteks apa ? Islamisasi?, sebagai padanan Kristenisasi. Berikan fakta buat saya kalau ada seorang muslim memaksa orang memeluk Islam tapi ditempuh dengan cara-cara kotor atau dibunuh.
Anda perlu tengok lagi makna kata “menghujat”. Hujat tidak hanya berarti “caci”, dan “cela” yang bermakna mengeluarkan kata-kata buruk untuk menista. Tapi hujatan dapat bermakna fitnah, yaitu perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Saya balik bertanya, kepada siapa ungkapan Anda “Menghujat orang memang gampang Mas, me[n]ghujat diri sendiri….NANTI DULU KALI hehehe”, ditujukkan ? Kalau itu untuk saya, tunjukkan pada bagian mana dari komentar saya telah menghujat ? Dan siapa menghujat siapa ? Kalau fakta yang dibeberkan adalah sebuah kebenaran, apakah pantas disebut hujatan atau fitnah ? Lalu disebut apa dan bagaimana dengan orang-orang yang menuduh Nabi Muhammad saw sebagai gila, kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, bodoh tentang dogma Kristen, tamak kuasa, pengidap epilepsi, hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan, orang jahat, anak setan, fanatik, ekstremis dan pendusta yang paling canggih ?
Saya jadi tidak habis pikir, Anda begitu yakin dengan mengatakan, “Sekalian bicara sejarah, saya pikir kita harus juga mengerti dosa-dosa umat kita di masa lalu agar tak terulang di masa yang akan datang,…” Anda mengerti betul dosa-dosa masa lalu itu. Anda juga sadar betul dosa-dosa itu jangan terulang di masa datang. Tapi, mengapa Anda meminta saya yang harus membeberkan dosa-dosa itu? Dan di mana relevanisnya dengan topik Kristenisasi?
Cukuplah para tokoh yang berwenang yang merumuskan bagaimana pola hubungan dua agama besar itu. Lagi pula, saya tidak punya kekayaan pengalaman hidup yang cukup dalam berinteraksi dengan ‘saudara’ tidak seiman itu yang bisa dijadikan pijakan ril untuk sebuah saran. Apalagi harus konkret dan aplikatif tanpa embel-embel kekerasan pula. Saya hanya berpegang prinsip sederhana, jangan ganggu apapun dari saya, Anda aman. Jangan ganggu siapapun, Anda aman. Dan jangan saling mengganggu, kita semua aman.
‘Alaikum bissidqi, yahdiyakallaahu sirrokum wa jahrokum.
‘Afwan ala kulli tasyhishi alladzii maa laa yattafiqu baynii wa baynakum ala al maqoolaaat. Wa syukron jaziilan bihtimamikum qirooata wa naqda ‘anhaa fi haadzihi al furshah al sa’iidah. Ilaa al liqaa.
November 10th, 2007 at 1:35 pm
Mas Abdul, setuju…….totally appreciate your honesty. Point saya adalah bahwa untuk maju kedepan terkadang kita harus melupakan luka masa lalu, tapi sekaligus ingat akan dosa-dosa masa lalu. Complex…yes, achievable?yes juga. stop lingkaran setan akan kekerasan, stop menjustifikasi kezaliman dengan azas “siapa memprovokasi siapa lebih dahulu” karena sungguh ini tidak akan ada akhirnya. Toh Mas Abdul yang mengatakan bahwa sejarah bukan rekaman peristiwa dan tidak lepas dari subyektifitas kita masing2. sedikit mengenai sejarah….pada saat cordoba dibawah kuasa muslim, semua masyarakat memilik hak yang sama dalam batasan2 sharia. Kenapa sejarah emas Islam ini tdk bisa terulang di Indonesia? bedanya cordoba dan Indonesia adalah masalah posisi tawar ekonomi. Cordoba tidak tergantung dengan kekuatan ekonomi luar, semua policy menjadi independent dan tidal berpihak. Mari bangun bangsa tanpe kekerasan.
November 13th, 2007 at 2:03 pm
saudara sekalian, saya senang ikut membaca berbagai komentar sebagai bagian dari otak depan saya menimbang segala kebaikan dan mencari kebenaran hakiki. Dialog is the process of seeking the truth. Berdialoglag dengan bahasa yang santu agar tampak keindahan agama masing-masing dalam upaya membangun peradaban rohani yang diridhoi Tuhan Sang Pencipta.
December 19th, 2007 at 9:54 am
menurut pengamatan saya, (setelah baca keseluruhan tentunya) tindakan bung Din tak lain hanyalah sebuah usaha pencegahan untuk melindungi umatnya, agar lebih waspada terhadap kristenisasi tapi BUKAN berarti kita memusuhi umat kristiani, saya rasa hal di atas perlu dibedakan. saya rasa kristenisasi tetaplah ada karena saya pribadi pernah mengalaminya (mohon maaf untuk saudara2 umat kristiani)jadi saya sangat mahfum dengan himbauan bung Din.
December 19th, 2007 at 4:33 pm
@mbak/mas eria:
Usaha untuk menambah jumlah penganut, pasti ada. Saya juga tidak menafikkannya, tapi cara untuk mencegahnya semestinya bisa lebih sirri kan? lebih tertutup begitu. biar para ulama turun ke lapangan dan menguatkan keimanan ummatnya. kalo misalnya ada umat yang dikasih indomie, toh muhammadiyah mampu juga kalo cuma ngasih indomie. artinya, ucapan yang disampaikan lewat media hanya akan memicu keresahan. apalagi ketika berita itu dirilis oleh media-media lokal maupun nasional. bukankah begitu?
January 6th, 2008 at 2:43 am
Assalamu’laikum
Mudah2an semua muslim yang masih dalam blog ini tetap satu keimanan. terlepas dari isu yang disampaikan mas roni dan beberapa isu nyasar yang mencoba untuk mengadu domba kita umat muslim, saya cuma mencoba mnegingatkan kembali bahwa kita berapa dalam satu kepemimpinan. Rasullullah sendiri mewajibkan kita untuk tunduk kepada pemimpin walau ia mengambil hartamu dan selama ia tidak kafir dan menyuruhmu berbuat maksiat, alasan kuat pasti ada dibalik perintah ini. Bahwasanya kebersamaan sesama muslim adalah utama.
diriwayatkan dari ibnu Umar ra, dari nabi SAW, beliau bersabda:”wajib atas kalian orang muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasanya dalam apa yang dia sukai dan yang tidak ia sukai, kecuali jika ia diperintah untuk bermaksiat. jika dia diperintah untuk bermaksiat maka tidak wajib baginya untuk mendengar dan taat”.
Saya coba kemukakan hadis diatas:
1. agar tidak terjerumus dalam perpecahan argumen yang lebih mendalam. dari ibnu mas’ud ra bahwa ia berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk taat dan tetap bersama jamaah. karena itulah tali Allah yang sangat kuat. Ketahuilah! apa yang tidak kalian sukai bersama jamaah lebih baik dari apa yang kalian sukai bersama perpecahan”.
Begitu besarnya anjuran rasulullah untuk tetap menyatukan diri kita dalam satu atap kepemimpinan.
2. Untuk saudara Rony, Orang yang kritis sangat baik, dan semua menghargai argumen saudara rony, permasalahannya, Dien syamsudin adlah salah satu dalam tangga kepemimpinan MUI yg nota bene masuk dalam koridor pemerintahan. Seperti kata Rasulullah, selama pemimpin kamu (dalam hal ini dia tergabung dalam pemerintah) tidak menjerumuskan kamu dalam perbuatan maksiat maka taatlah. saya rasa waspada terhadap kristenisasi adalah anjuran yang baik, kecuali MUI mengeluarkan fatwa untuk membenci agama lain dengan cara melenyapkan mereka. itu jelas salah karena Islam rahmatan lil ‘alamin. bukankah MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa membenci umat lain.
waspada itu seperti menyediakan payung sebelum hujan. mengapa harus disuarakan di media massa? sebab itu memang kewajiban untuk saling mengingatkan, berhubung negara kita besar, sangat tidak mungkin mendatangi daerah satu persatu sampai ke pelosok. maka hal termudah adalah menggunakan media massa.
Semoga mas Rony dan saya menegerti.
@ taqiyamenjijikkan… jika anda muslim,
1. muslimkah anda, jika iya mengapa anda seolah-olah begitu merendahkan ayat2 Allah, padahal ada tafsir dibalik seluruh firman Allah.
2. Saya teriris dengan anda mengatakan anj.. nasr, bab yah…amerik…, rasullah pernah mengatakan, jika kita tidak ingin agama kita dihina maka jangan hina agama lain, karena dengan begitu kita akan memancing orang untuk menghina agama kita, dan itu sama saja kita sudah menghina agama kita
3. atau mungkin anda bukan muslim….
January 25th, 2008 at 4:17 pm
hhmmm seru banget!!! ma’af saya ga sepinter para komentator diatas yg panjang lebar.
Saya hanya mau beri kesaksian saja,mungkin agak panjang dan ga karuan.
Saya hidup di lingkungan muslim, rumah orang tua saya hanya satu2nya yg non muslim dalam satu wilayah RT, tepat dibelakangnya masjid. waktu kecil saya suka ke masjid ikut sekolah ngaji (orang tua tdk melarang), waktu usia sekolah saya sekolah di sekolah katolik. Saya bekerja di kantor yang seluruh karyawannya muslim dan muslimah yg berjilbab. Dulu Orang tua saya hidup susah, sering ditawarin masuk islam supaya hidupnya lebih mudah, gampang cari kerja, jadi pegawai negri gampang dll, tapi iman orang tua saya bukan soal perut. Bahkan saya juga sering di ajak masuk islam oleh saudara saya yang muslim, saya cuma jawab ” kalo kamu aku ajak masuk ke agama aku, kamu mau ga ?”dengan lantang dia jawab “jelas ga mau dong, ya udah sama aja sama aku”. saya inget waktu kecil sering ditakutin kalo orang katolik itu matinya dipaku di salib. (EGP)
Beberapa waktu lalu teman kantor saya komplain sm saya, waktu di halte dia didatangi cewe yang kasih undangan untuk ikut kegiatan umat non muslim, padahal jelas2 dia pake jilbab, saya dengernya bt juga, orang non muslim seperti itu ga punya etika, dan bikin ribut antara muslim dan non muslim.
Sedari bayi saya jadi katolik, saya belum pernah denger romo/rohaniwan katolik menyuruh menarik umat lain menjadi katolik, saya hanya disuruh jadi lilin/garam dunia, jadi contoh hidup, berbuatan kebaikan tanpa syarat, bukan hanya untuk meraka yg seiman sm saya. Dan setiap minggu saya kegereja, belum pernah denger romo menghujat ato menjelekan agama laen. SUMPEE DEH!!! Ga pernah!!!
Tapi ya amplop!!!! saya sering dikatain kapir sm pak ustad yg kotbah di mesjid. (Yo wis lah sing waras ngalah)
Sampai saat ini saya tetap katolik dan hubungan saya dengan teman2 muslim sangat baik(banyak teman dekat saya yg muslim)kita saling menghoramati.
orang tua saya tetap menjadi katolik meskipun semua tetangganya muslim.
maaf kalo ada yg bingung, tersinggung ato bt sm saya.
Buat om rony, numpang ngomong ya… om rony kayak temen2 muslim saya, baik, dan ga mudah kebakaran jenggot.
Tuhan memberkati!
February 10th, 2008 at 2:26 am
Gitu aja kok repot.
Kalo ada kalangan yang nawarin 5jt supaya pindah agama, terima aja. Akhir tahun uang-nya udah abis ya minta lagi aja untuk perpanjangan. Biar Kapok !!!!.
Gw mau aja di kasih lima juta pindah agama…satu bulan lagi uang nya abias ya minta lagi, kalo gak ya balik lagi aja. Beragama (KTP-Ibadat) itu kan hanya kulit nya aja…..yang ada di dalam hati kan siapa yang tahu. Biar dikasih duit 5jt buat jadi Kristen…tapi kalo dalam hati masih Islam..ya tetap Islam..tinggal tunggu waktu balik lagi sholat cara ISlam. Kalo gak balik2 lagi ya….itu namanya menemukan pencariannya. Kalo udah menemukan pencariannya…udah gak butuh terima 5jt…bahkan berubah menjadi orang yang rela “memberi” bagi orang lain.
Peace
February 21st, 2008 at 10:03 pm
Assalami’alaikum.
Duh, Rony….. Kok koe seneng ngomong uwong toh! Udah lah. Kalau kamu itu ISLAM, saya do’akan kamu cepet-cepet Insyaf dan bertaubat, soalnya kamu ini udah nyeleneh. Orang agamanya diteror agama lain kok malah mendukung. Kristenisasi itu udah dimana-mana kang… cobalah buka mata lihat sekitar kamu, baru ngomong !!! jangan - jangan pikiran kamu udah dimasuki pikiran yang gak bener.
Kalo kamu bener-bener Islam, lihat saudara-saudara kamu yang menjadi target KRISTENISASI. Kita tahu agama kita sangat toleran tetapi kalau udah pemurtadan seperti ini, itu sudah tidak patut ditolerir lagi. Kita lihat suatu negara yang minoritas Islam, selalu mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Namun pernahkah anda mendengar ada sebuah negara ISLAM yang ,memperlakukan umat minoritas secara keji ???????
Saudaraku Roni, hidup kita di dunia itu tidak lama, jadi jangan sampai salah pilih, karena setelah mati kita akan hidup lagi dan dimintai pertanggung jawaban.
Sudahkah anda berpikir sampai di situ……??????????
March 14th, 2008 at 4:40 am
Saudara Rony,
Saya sungguh minta maaf karena forum bernuansa agama ini di singgahi oleh saya yang merupakan mahkluk tak beragama ini.
Apakah yang harus di waspadai dengan kristenisasi?
Saya yakin iman seseorang yang tersentuh hatinya oleh ajaran agama yang diyakininya,tidak gampang dirobohkan oleh materi yang tidak seberapa.
Umpamakan “korban” tersebut belum mempunyai Iman seorang muslim yang belum kuat dan berniat untuk masuk ajaran kristen,saya percaya “korban” tersebut masih bisa kembali kepada agama Islam jika saudara muslimnya kembali menumbuhkan “Iman seorang muslim” yang terdapat pada korban.Cukup sederhana bukan?
Sebetulnya saudara Din Syamsudin layak ditegur seperti apa yang dikatakan saudara rony.
Mungkin kekhawatirannya sebagai tokoh Islam tidak salah,
akan tetapi komentar yang disampaikannya kepada media massa dapat memunculkan perpecahan di dalam tanah air kita.
Mengapa?
Dalam pernyataan saudara Din Syamsudin, ada 2 pihak agama yang terlibat yaitu Islam dan Kristen. 2 pihak agama ini lah yang sejak dahulu mempunyai perbedaan pandangan bahkan perselisihan. Maka sangatlah mudah bagi kedua umat beragama ini untuk kembali berselisih mengulang kesalahan masa lalu.
Sungguh dalam bahaya tanah air kita jika dalam kondisi ekonomi dan moral yang terpuruk, terjadi perselisihan antara tubuh bangsa ini sendiri.
Hal inilah yang menurut saya sebaiknya saudara din syamsudin perhitungkan sebelum menyampaikan sesuatu.
Mohon maaf kepada umat muslim, menurut saya kata “pemurtadan” sangatlah kasar. Seakan anda memandang hina kepada seseorang yang pernah menjadi muslim akan tetapi ia merasa lebih cocok dengan agama lain. Mohon maaf atas kelancangan saya, saya hanya berpikir alangkah sejuknya jika kata “murtad” tidak dipergunakan untuk mendefinisikan seseorang yang berpindah agama.
Sekali lagi mohon maaf jika ada kata-kata saya telah menyinggung norma agama. Mohon ditegur.terima kasih
March 19th, 2008 at 8:37 pm
Agak rancu memahami comment Cait sith. Kristenisasi, saya sudah merasa cukup. Hingga hari ini, fakta-fakta yang saya beberkan soal itu masih bisa dibaca di blog ini. Belum ada yang tuntas untuk mengoreksi jika fakta-fakta itu keliru. Saya sangat berterima kasih jika memang fakta itu keliru dan dikoreksi.
Kembali ke Cait Sith yang saya katakan rancu. Orang ini terang-terangan mengaku sebagai manusia tak beragama (entah maksudnya tidak meyakini agama apapun, atau menganggap semua agama benar hingga tak perlu meyakini salah satunya?) tetapi bicara soal iman dan menyederhanakan soal itu. Rancu, orang tak beragama tapi bicara soal yang sangat prinsip dalam agama.Tapi perlahan saya bisa memahami, tidak beragama sama halnya dengan tidak memiliki keterikatan dengan segala kewajiban agama. Artinya pula, ia bebas melakukan apapun yang sejalan atau bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk bebas bicara iman. Sekali lagi jadi rancu, sebab orang yang tak beriman bicara iman.
“Mohon maaf kepada umat muslim, menurut saya kata “pemurtadan” sangatlah kasar. Seakan anda memandang hina kepada seseorang yang pernah menjadi muslim akan tetapi ia merasa lebih cocok dengan agama lain. Mohon maaf atas kelancangan saya, saya hanya berpikir alangkah sejuknya jika kata “murtad” tidak dipergunakan untuk mendefinisikan seseorang yang berpindah agama”.
Sdr. Cait, Anda tak perlu khawatir, Islam mengajarkan memberi maaf. Siapapun Anda, meski tak beragama pantas menerima maaf Muslimin jika itu yang Anda minta. Namun perlu Anda sadari, ungkapan Anda yang saya kutip di atas hanyalah buah pikiran Anda yang tak beragama. Saya ajak Anda sedikit mengorek secara benar beberapa hal dalam Islam, khususnya kata “murtad” yang Anda soal. Kata murtad bagi kami ummat Islam bukanlah kata yang dibuat oleh ummat Islam. Tapi kata itu dapat dirujuk pada sumber pokoknya Yaitu Qur’an dan Sunnah yang berarti “lari dari keyakinannya”. Jadi kalau Anda berpikir kata itu jangan digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang pindah agama, atas dasar apa Anda berkata begitu ? Kesejukan bukanlah alasan untuk mengubah pengertian yang telah mapan yang merupakan hal yang telah diterima hakikatnya. Sebenarnya, kesejukan menjadi kegerahan bukan karena penggunaan kata murtadnya, tapi cara-cara yang membuat orang berpindah agama yang tidak mengindahkan perasaan orang lain dan aturan negara.
Sama sekali kami tidak memandang hina dengan siapupun dari orang Islam yang memilih dengan rela agama barunya. Al-Qur’an menegaskan tidak ada paksaan dalam (memilih) agama. Itu hanya perasaan Anda saja. Perasaan orang yang tak beragama yang masuk wilayah agama. Bagi kami, kata-kata murtad sangat biasa, tidak kasar. Memang, orang yang berbeda keyakinan memandang keimanan orang lain sebatas perasaannya.
Dulu pada zaman nabi kami, manusia mulia, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ada pembesar pemimpin satu kabilah memeluk Islam. Jabbalah ibnu Aiham namanya. Sebagai orang terpandang yang dihormati kaumnya, ia merasa sebagai manusia terhormat yang lebih tinggi derajat dan kedudukannya di banding yang lain meskipun telah jadi muslim. Saat ia melaksanakan haji, kain ihramnya terinjak budak hitam. Ia merasa hal itu sebagai hinaan, karena orang terhormat seperti dirinya tiba-tiba ada budak yang menginjak pakaiannya. Jabbalah menampar budak itu. Nabi mendengar peristiwa itu dan manasehati, bahwa dalam Islam manusia sederajat, tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah satu dengan lainnya kecuali karena taqwanya.
Apa yang terjadi kemudian, Jabbalah lebih memilih keluar lagi dari Islam karena lebih memilih kehormatan dan derajat yang selama ini dirasakan manisnya. Apakah Rasul membenci, No!.
Beberapa waktu lalu, saya mendatangkan Din Syamsuddin utuk berdialog dan bersillaturrahim dengan warganya. Kesan umum yang terbaca dalam blog ini yang kontra tentang Din, amat jauh panggang dari api. Saya sarankan, bertemulah langsung secara jantan dan betina dengan Din. Bawakan masalah ini ke hadapannya. Apalagi sohibul blog ini (sdr. Rony) mengaku dekat dengan tradisi Muhammadiyah. Tapi ya silahkan saja, orang punya persepsi sendiri meskipun persepsinya itu keliru luar dalam. Termasuk Anda yang keliru menyoal kata murtad dengan dalil perasaan.
Lagi-lagi Anda keliru. Islam dan Kristen tidak sama. Jadi tidak akan ada pengulangan perbedaan sejak dulu hingga kini. Kami akan tetap berselisih dalam hal-hal keyakinan yang tidak mungkin dipertemukan. Silahkan saja orang Kristen mengatakan Nabi Isa mati di kayu salib, 100 % tuhan 100 % manusia, sementara sampai kapanpun kami tidak pernah percaya Nabi Isa disalib dan beliau hanyalah Rasul, rasul mulia. Silahkan menjelaskan panjang lebar tentang itu, kami juga punya panjang lebar dan tinggi penjelasan itu. Hanya saja, penghormatan akan keyakinan masing-masing perlu dipelihara.
Bahaya apa yang Anda maksud? Disintegrasikah? Asal Anda tahu, Islam tidak pernah membawa masalah bagi bangsa ini. Sebab sebelum republik ini lahir, Islam dan syari’ahnya sudah eksis. Ummat Islam pula yang turut berjasa besar mengamankan negara ini dari perilaku penjajah. Tidak perlu saya sebut, agama apa yang dianut penjajah penghisap darah bangsa ini. Tidakkah Anda ingat sejarah bangsa Anda sendiri, pekik ‘Allahu Akbar’nya Bung Tomo membakar arek-arek Suroboyo mengusir penjajah?
Inilah teguran saya yang Anda minta sendiri.
Terima kasih telah merangsang dendrit otak saya.
March 28th, 2008 at 8:57 pm
kalau kamu percaya akan keyakinan yang kamu anut maka anutlah jangan saling memburuk-burukkan orang lain karena itu tidak diajarkan dalam agama manapun. kalau ada orang yang kau anggap bersalah coba untuk mendoakan dan memaafkannya, kalau kamu orang yang beriman tidak perlu saling memburuk2kan. mari kita bangun saling percaya kepada sesama
May 24th, 2008 at 1:12 am
Lakum dinukum waliyaddin itu ya seperti itu (bang Din) Menjaga saudaranya agar tidak sesat. Ini bukan soal curiga mencurigai … tapi waspada. Meyembarkan agama kpd orng yang blm beragama atau untuk menguatkan keimanan boleh-boleh saja tapi kepada yang lain agama? HABISI!
September 10th, 2008 at 12:28 pm
Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya. Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kemapuannya utk melewati para misionaris. Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris. Apakah ada banyak pengabdi islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil. Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat. Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh ………
September 11th, 2008 at 5:32 pm
kilas balik ke jaman nabi…islam bersikap melindungi kaum kecil sebagai kaum nasara-bukankah islam adalah rahmatanil alamin kalo Bung din lebih banyak belajar lagi pada ajaran nabi dan tidak menyebarkan berita tanpa data yang dapat dipercaya yang mungkin saya nilai suuzdon saya yakin islam akan lebih terkesan cinta damai.gimana Bing din…saya penggemar anda lho….
September 18th, 2008 at 2:50 pm
salaam alaikum,mas abdul muttaqin.saya membaca ulasan anda dan keperluan saya adalah menjadi murid anda.bagaimana caranya?terimakasih.
October 11th, 2008 at 3:39 pm
Halo Anto.
Sayangnya, tanpa informasi Bung Din pun isu itu telah banyak diterima dari sumber-sumber lain. Bung Din bukan sumber tunggal masalah ini. Benar, Islam adalah rahmatan lil alamin, tapi dalam soal keyakinan agama, Nabi, para sahabat dan tabi’in tidak mengenal kompromi. Segala aktivitas yang mengarah kepada pendangkalan dan pemurtadan, harus diluruskan. Dengan tangan, lisan atau tulisan. Yang lebih dulu mencitrakan kesan bahwa Islam adalah garang, adalah ‘the other’.
Halo Nelwan.
“Untuk semua moslem Indonesia, kalo hub anda dgn Tuhan dah baik, lantas hub dengan manusia bagaimana? Bukankah Allah swt mengajarkan agar manusia saling tolong menolong dgn landasan iman kepadaNya…”.
Mestinya pernyataan dan pertanyaan ini lebih pantas ditujukan kepada “Orang-orang yang telah diurapi dan dipermandikan”. So, para misionaris. Sebab kepada merekalah pernyataan ini relevan dan menemukan bobot serta akurasi yang didukung fakta sejarah. Bukan ditujukan kepada hidung orang lain dengan segmen yang sangat sempit. Akhirnya, statemen itu menjadi mubazir.
Nelwan pura-pura, seolah-olah belum pernah membaca tentang gerakan Misionaris sama sekali. Saya harus kembali membuka soal ini; soal yang sesungguhnya ‘sensitif’ setelah kemarin merasa telah cukup. Tapi, ternyata belum dan hampir tidak sensitif lagi. Atau bahkan mungkin akan terus dan terus.
Saya kok agak yakin, tidak ada orang yang mau menyangkal kedekatan para misionaris dengan Tuhan. Tapi banyak sekali orang tahu, bahwa misionaris pernah mengenakan ”cincin kawin” dengan imperialisme di negara-negara muslim. Mari saya tunjukkan di belahan bumi lain, bagaimana aktivitas misi Kristen seperti dua sisi dari satu mata uang dengan urusan jajah menjajah yang menunjukkan kekejaman manusia atas manusia lain meskipun kepada tuhan mereka terbilang soleh?
Kita tengok Afrika dan Asia Tengah yang merupakan salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.
Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesejalanan dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.
Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.
Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut, sebagai berikut.
“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”
Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Katanya,:
“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun, saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”
Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.
Aktivitas kelompok misionaris di urusan politik juga sangat besar. Ketika rakyat muslim dan pejuang Nigeria berhasil meraih kemerdekaan dari Inggris dan mendirikan pemerintahan, pasukan Inggris dengan pertolongan para misionaris mendalangi kudeta dan membunuh beberapa pemimpin muslim, di antaranya Tafawa Balewe dan Ahmad Bello. Kudeta ini dilakukan oleh lima perwira Kristen dari kabilah Eibo yang diketuai Jenderal Aguiyi Ironsi. Dalam sebuah majalah bulanan terbitan London tahun 1966, ditulis mengenai terbunuhnya para pemimpin muslim Nigeria ini. Menurut majalah tersebut, “Kejadian ini diperlukan agar dapat menghalangi pengaruh kaum muslim di utara yang semakin hari semakin meningkat.”
Dalam buku “Nigeria Tahun 1966” yang diterbitkan di Lagos, ibu kota negara ini, tertulis,:
“Sejarah masa lalu dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Nigeria yang memiliki penduduk mayoritas muslim mendirikan negara federal dengan pemerintahan pusat di Lagos, situasi negara berjalan dengan baik. Tetapi, keinginan orang-orang Eibo Kristen untuk memimpin kaum muslimin dan untuk membalas dendam secara kejam terhadap para pemimpin muslim, membuat kepentingan negara dikorbankan oleh ambisi-ambisi yang tidak pada tempatnya dan nafsu balas dendam kaum minoritas Kristen.”
Setelah terbunuhnya Jenderal Ironsi dalam pelarian, Ojukwu, komandan militer provinsi timur Nigeria yang berpenduduk mayoritas Kristen, mengumumkan kemerdekaan daerah tersebut dan mendirikan negara baru yang bernama Biafra. Tindakan ini, menurut media massa Barat, mendapat perlindungan dari negara-negara Barat dan Vatikan karena keberadaan sumber minyak di provinsi tersebut.
Ketika akhirnya Biafra berhasil dijatuhkan oleh pemerintahan pusat Nigeria, di antara para pemberontak yang tertangkap ditemukan 150 ruhaniwan Kristen. Pemerintahan pusat Nigeria kemudian mengusir keluar para misionaris tersebut yang di antaranya warga negara Selandia Baru.
Begitulah. Bahkan misionaris; orang yang dekat dengan Tuhan itu, tidak memiliki rasa malu menjalin ”kemesraan” dengan komunis dan kelompok sparatis demi ambisi politis dan kepentingan gereja seperti yang terjadi di Turki. Hubungan Partai Komunis Kurdi (KDK), yang sebelumnya bernama Partai Buruh Kurdi (PKK), dan gerakan separatis Kurdi dengan gereja adalah sebuah fakta yang harus diperhatikan. Sejak tahun 1983, gereja memiliki hubungan erat dengan kelompok-kelompok separatis. Perlu disebutkan pula bahwa gerakan separatis pertama yang terjadi di tenggara Anatolis pada tahun 1962, didalangi oleh para pakar AS yang terkait dengan gereja-gereja Katolik dan Anglikan.
Lalu, ”Kalo para misionaris berkomitmen untuk lebih berpihak kepada kaum miskin, …”
Misionaris berkomitmen untuk kaum miskin? Yes and No! Yes, karena para misionaris sering menampakkan diri di tengah-tengah mereka. No, karena kehadiran misionaris ada ‘udang di balik tepung’ berupa kepentingan misi. Komitmen pada kaum miskin hanyalah teknologi kamuflase alias tembok di mana mereka bisa berlindung. Apa yang terjadi di Turki bisa lagi dijadikan contoh. Misionaris yang beraktivitas di tengah masyarakat fakir menipu masyarakat dengan tawaran kerja dan janji pemberian uang. Sebaliknya, para fakir miskin itu diminta untuk mengenakan pakaian Kristiani.
Majalah Aidin Lik terbitan Turki, beberapa waktu yang lalu menyebutkan tentang adanya sebuah buku terbitan New York yang berisi “metode-metode misionaris Prostestan”. Dalam buku ini, secara jelas dituliskan bahwa lokasi terpenting aktivitas misionaris adalah negara-negara Arab dan Islam. Kepada para misionaris, buku ini menuliskan pesan sebagai berikut, :
“Peluang terbaik bagi kita adalah di negara-negara yang baru lepas dari perang dan kondisinya diliputi kehancuran, kelaparan, dan standar hidup yang rendah. Daerah terbaik untuk menyebarkan agama adalah di pinggiran kota. Jika diperlukan, orang-orang yang tinggal di daerah-daerah seperti ini bisa dibeli.”
Menyusul keruntuhan Uni Soviet dan kemerdekaan negara-negara Asia Tengah seperti Azerbaijan, puluhan kelompok misionaris atas dukungan negara-negara Eropa dan Amerika dikirimkan ke wilayah ini.
Secara umum, metode yang dipakai delegasi misionaris di Azerbaijan sama dengan metode mereka di Afrika. Mereka memanfaatkan situasi sosial-ekonomi yang buruk di negara tempat mereka bertugas dan dengan berbagai cara mereka berusaha melakukan berbagai infiltrasi di tengah masyarakat. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi dan sosial di negar-negara yang baru merdeka seperti Azarbaijan merupakan kondisi yang cocok bagi para misionaris untuk melaksanakan misi mereka. Para misionaris itu mendapat dukungan dana yang besar dan perlindungan politik dari negara-negara Barat, seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Belgia.
Tahun yang 2002 yang lalu, sebuah surat kabar “Echo” terbitan Baku edisi 9 April menulis bahwa gereja Baptist di Azerbaijan telah memanfaatkan kondisi kemiskinan anak-anak untuk menarik mereka ke dalam ajaran Kristen. Anak-anak yang menjadi terget gereja ini adalah mereka yang berusia antara 6 hingga 10 tahun.
Soal kaum miskin, ummat Islam juga tetap peduli, walaupun dengan kapasitas yang boleh dibilang terbatas. Jika Anda belum tahu hal ini, itu soal lain, sebab memang para dermawan muslim tidak ada urusan Anda tahu atau tidak.
Lalu,” apakah tokoh/pimpinan islam/kiai juga mau demikian. Kalo ya mulailah, tapi saya kok ragu kema[m]puannya utk melewati para misionaris”.
Pada dasarnya, tokoh, pimpinan Islam atau kiai juga mau demikian, seperti yang dilakukan para penginjil itu. Bahkan sudah dimulai sejak lama. Islam sebagai “rahmatan lil alamin” yang bermula dari jazirah Arabia hanya dalam waktu singkat dapat diterima di belahan dunia lain, bahkan masuk ke kampung Anda. Bedanya dengan misionaris, para mujahid Islam memperkenalkan Islam dengan cara-cara yang khas Islam, bil hikmah wa mau’idzhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Sehingga hasilnya pun sangat gemilang. Para mujahid Islam berdakwah untuk memperkenalkan Islam dan ajaran-ajarannya semata. Tidak dengan hidden agenda untuk “memusnahkan” kepercayaan lain sehingga perlu menggandeng kekuatan imperialis. Para ulama berdakwah sebagaimana “prajurit Gereja”. Tapi tidak dengan cara-cara sebagaimana para misionaris lakukan, dengan sokongan dana yang besar; seperti Anda akui, tapi hasilnya tidak memuaskan harapan. Yang perlu Anda ragukan bukanlah kemampuan para ulama melewati para misionaris. Tapi pendekatan dan cara-cara yang dipergunakan para misionaris yang patut pula Anda pertanyakan efektifitasnya.
Spekulasi saya, Anda tidak lebih jeli dari Kardinal Lavie Garry yang agak sedikit pesimistik menyatakan,:
“Tanpa diragukan lagi, agama yang paling kuat dan tidak bisa ditaklukkan adalah agama Islam. Oleh karena itulah para misionaris berharap agar seluruh kaum muslimin menjadi Kristen. Meskipun para misionaris juga menyebarkan ajaran mereka di kalangan Budha dan Hindu, namun tujuan asli mereka adalah kaum muslimin.”
Anda juga tidak lebih hati-hati dari Shataliah, seorang pendeta Perancis yang dengan setengah putus asa berkata dalam “Le Monde Musulman” (Dunia Islam); sebuah majalah propaganda agama. Shataliah menekankan perlunya menggunakan berbagai pendekatan baru untuk melancarkan misi. Salah satunya dengan pendekatan bahasa. Ia menulis,:
“Para misionaris kita hingga kini masih belum berhasil membuat kaum muslimin berada di bawah pengaruh kita. Untuk mencapai tujuan ini, kita bisa memanfaatkan penyebaran bahasa-bahasa Eropa. Melalui bahasa-bahasa Eropa tersebut, pemikiran Eropa bisa disebarluaskan. Selain itu, dunia Islam bisa berhubungan dengan media massa Eropa dan dengan jalan itulah organisasi-organisasi misionaris bisa mencapai tujuannya untuk merusak pemahaman Islam di kalangan umat muslim.”
Satu di antara metode yang kemudian dikembangkan untuk merespon kecilnya hasil dibanding biaya dan tenaga yang dikeluarkan adalah mengubah pengajaran Kristen dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Metode seperti ini diungkapkan dalam sebuah buku berjudul “Re-thinking Mission” dan dianggap sebagai sesuatu hal yang diperbolehkan dalam penyebaran Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1932 oleh sebuah yayasan misionaris. Menurut buku ini, propaganda Kristen harus terus dilakukan, namun metode-metodenya harus diubah agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Contoh pelaksanaan metode ini adalah mengenai masalah perkawinan. Sebagian mazhab Kristen di Eropa hanya mengizinkan monogami dan tidak memperbolehkan perceraian. Namun, di Afrika, mazhab Kristen tersebut mengubah ajaran mereka dengan mengizinkan kaum pribumi Afrika untuk menikahi lebih dari satu perempuan dan melakukan perceraian.
Lebih jauh lagi, para misionaris bahkan berani mengubah wajah Isa Al-Masih. Selama ini, Isa Al-Masih di Eropa digambarkan sebagai seorang kulit putih, bermata biru dan berambut pirang panjang. Namun, demi menyesuaikan dengan kebudayaan Afrika, di negara-negara Afrika mereka menggambarkan bahwa Isa Al-Masih seorang Ethiopia berkulit hitam dan berambut keriting.
Lalu, “Kenapa, dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”.
Mungkin Anda benar, the have moslem tidak memberikan dukungan sehebat yang diterima para misionaris. Why? Persoalannya tidak terlalu rumit. Berdakwah bagi para ulama merupakan bagian dari tugas suci untuk memberikan pencerahan atas ajaran agama yang lebih ditujukan bagi komunitas muslim sendiri. Tugas para ulama itu bukanlah tugas raksasa, sebagaimana mega proyek yang dibebankan di pundak misionaris. Bagaimana tidak membutuhkan sokongan yang hebat, sebab sasarannya lebih banyak adalah kaum miskin yang butuh uang, makan dan pakaian serta ummat Islam dalam jumlah yang amat besar. Wajar bukan kalau dibutuhkan sokongan dana yang mungkin tidak terbatas besarannya. Nah, para penyokong misionaris sangat memahami itu.
Saya ulangi lagi ungkapan H. Berkhof dan I.H. Enklaar dalam buku mereka Sedjarah Geredja, yang ditulis tahun 1962, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1962). Berikut ini pengakuannya:
“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa…. di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil. Apalagi bukan saja rakyat djelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi djuga dan terutama para pemimpin masjarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah”.
“Pelaksanaan tugas raksasa itu selajaknya djangan hanya didjalankan dengan perkataan sadja tetapi djuga dengan perbuatan. Segala usaha Pekabaran Indjil jang sudah dimulai pada masa lalu, hendaknya dilandjutkan, bahkan harus ditambah. Penerbitan dan penjiaran kitab2 kini mendapat perhatian istimewa. Penterdjemahan Alkitab kedalam bahasa daerah oleh ahli2 bahasa Lembaga Alkitab, yang sudah mendjadi suatu berkat rohani jang tak terkatakan besarnya, harus terus diusahakan dengan radjin. Perawatan orang sakit tetap mendjadi suatu djalan jang indah untuk menjatakan belas-kasihan dan pertolongan Tuhan Jesus terhadap segala jang tjatjat tubuhnya. Pengadjaran dan pendidikan Kristen pun sekali2 tak boleh diabaikan oleh Geredja… Dengan segala djalan dan daja upaja ini Geredja Jesus Kristus hendak bergumul untuk merebut djiwa-raga bangsa Indonesia dari tjengkeraman kegelapan rohani dan djasmani, supaja djalan keselamatan jang satu2nya dapat dikenal dan ditempuh oleh segenap rakjat.”
Lalu, ”Apakah ada banyak pengabdi islam yg diketahui oleh halayak, yang mau menjalankan tugasnya dengan jalan kaki atao onthel seperti misionaris? Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil.
Ungkapan Nelwan yang ini agak ngawur, kalau tidak dikatakan mengada-ada. Seolah-olah Nelwan telah menghitung semua para pengabdi Islam dan tahu persis jumlahnya sehingga ia mampu membagi-bagi “Yg lebih banyak ada adalah pengabdi yg hanya mau djemput mobil, diamplopin, rumahnya mentereng dan sederet motivasi yg lebih materiil”.
Nelwan, masih ada pengabdi Islam yang rela berjalan kaki untuk berdakwah. Bukan kepada orang yang berbeda agama, tetapi sesama muslim; saudara mereka. Memang, pengabdian mereka tidak banyak diketahui oleh halayak, termasuk Anda juga tidak tahu. Ya, karena mereka tidak pernah melapor pada Anda.
Jika Anda mempermasalahkan soal dijemput mobil atau amplop, itu relatif. Jumlahnya pun tidak seperti pernyataan kebanyakan. Anda menggunakan jurus pukul rata. Yang lebih masuk akal, tidak sedikit para misionaris didatangkan dari berbagai Negara untuk ‘menyapa’ domba-domba yang tersesat? Bahkan mereka dibayari naik pesawat. Apa mungkin dari Eropa atau YU ES E menuju negeri ladang subur pengkabaran Injil naik onthel? Aya aya wae.
Soal amplop mana mungkin amplop ustadz atau kyai lebih besar dari amplop misionaris. Kan Anda sendiri yang bilang, “ … dukungan dari the have moslem, tidak sehebat mereka yg menyokong misionaris”. Ditambah lagi dengan kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat yang merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.
Lalu, “Tapi mungkin para misionaris lebih hebat dalam berbuat”.
Saya setuju. Bagaimana tidak lebih hebat, proyek raksasa dibandingkan dengan proyek biasa. Didukung duit yang tebal dan motivasi atas nama Tuhan sekaligus? Lebih dahsyat, lebih ulet, lebih bandel. It’s oke. Media yang digunakan pun beragam. Hampir tak ada celah yang luput dari sentuhan tangan misionaris apabila sudah terjun ke lapangan misi.
John Moot, seorang misionaris Afrika dalam bukunya menulis, “Metode terang-terangan atau langsung para misionaris tidak berhasil menarik kaum muslimin untuk berpaling dari agamanya, karena baju yang digunakan oleh para misionaris hanyalah menimbulkan kebencian.” Roise, seorang misionaris lainnya juga mengkritik cara langsung gereja dalam menyebarkan ajarannya. Dia berkata, “Kami melihat sekelompok misionaris telah bertahun-tahun hidup di sebuah kota, namun mereka tidak mampu menemukan teman seorang pun.
Menurut para misionaris, pengajaran adalah cara dakwah yang paling bagus. Mereka amat mengutamakan pendidikan di kalangan anak-anak karena anak-anak memiliki kesiapan dan bakat untuk menerima pengajaran. John Moot, juga menekankan pentingnya peran sekolah-sekolah dalam penyebaran ajaran Kristen. Dia berkata, “Kami harus mengajarkan ajaran agama kepada anak-anak. Sebelum dewasa, anak-anak itu harus kami tarik ke arah Kristen dan sebelum konsep Islam terbentuk dalam dalam jiwa anak-anak itu, jiwa mereka harus kami tundukkan.”
Metode lain yang dipakai para misionaris adalah pelayanan kedokteran dan kesehatan. Para dokter memberikan dukungan yang amat besar bagi gerakan misionaris dalam mencapai tujuannya. Menurut mereka, di manapun manusia di dunia ini, orang yang sakit akan selalu ada dan orang sakit akan selalu memerlukan dokter. Di manapun ada kebutuhan terhadap dokter, di sanalah ada kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama.
Kondisi seperti ini tercatat dengan jelas pada sebuah buku berjudul “Christian Workers”. Contohnya adalah pada beberapa kawasan di Sudan. Di sana, ketika tengah mengobati para pasiennya, para dokter Kristen memulai aktivitas pengobatannya dengan meminta penyembuhan dari Al-Masih. Sejumlah dokter Kristen di kawasan Nasser bahkan secara terang-terangan memberikan syarat pengobatan kepada pasiennya berupa kesediaan para pasien untuk mengakui bahwa yang akan menyembuhkannya itu adalah Al-Masih.
Menyusul ucapan Paus pada akhir tahun 1960-an bahwa “dunia secara menyeluruh harus menjadi Kristen”, serangan para misionaris terhadap berbagai agama lain, terutama Islam, muncul dalam bermacam-macam bentuk. Dengan mengadakan berbagai konferensi, yayasan, organisasi, dan lembaga keagamaan di berbagai negara, para misionaris melakukan aktivitasnya secara amat luas di berbagai lapisan masyarakat. Yayasan-yayasan ini, setiap tahun membagi-bagikan ratusan ribu Injil, buku-buku, dan majalah secara gratis untuk menyebarkan pemikiran Kristen di tengah pemuda dan remaja dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Yayasan-yayasan ini memanfaatkan penulis, psikolog, dan spesialis lain yang terkemuka agar isi tulisan, warna, gambar dan desain grafis jilid buku, serta foto-foto bisa menarik perhatian pembaca.
Berkenaan dengan masalah penggunaan fasilitas canggih oleh para misionaris untuk menyebarkan pemikiran mereka, Doktor Zainab Abdul Aziz dalam pidatonya pada Konferensi Toleransi Islam di Casablanca, Maroko, yang berjudul “Perluasan Propaganda Kristen dan Pentingnya Kewaspadaan Dunia Islam” berkata, “ Pada tahun 1990, di kota Brussel didirikan sebuah universitas bernama Penyebaran Kristen. Universitas ini memiliki pengajar-pengajar dari kalangan jurnalis dan pembicara terkemuka yang mahir dalam menyampaikan ilmu agama dan pengajaran gereja. Mereka bertujuan untuk mendidik para misionaris. Di antara perlengkapan canggih yang dimiliki universitas ini adalah satelit Luman 2000 yang bertujuan untuk menyebarkan terjemahan Injil dalam berbagai bahasa ke seluruh penjuru dunia sehingga bisa ditangkap oleh pesawat radio. Negara-negara seperti Sudan, Kenya, dan Uganda dengan mudah bisa menangkap siaran radio berisi terjemahan Injil ini dengan kualitas suara yang sangat bagus. Satelit ini dioperasikan dengan bekerjasama dengan Vatikan dan pejabat kota Dallas Amerika.
Akan tetapi, meskipun telah dilakukan upaya yang sangat luas oleh para misionaris Kristen di Afrika serta telah digunakannya berbagai fasilitas dan keuangan yang sangat banyak dalam program misionaris itu, kenyataan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok penyebaran agama Kristen itu tidak pernah mampu mencapai tujuan-tujuan mereka secara maksimal. Sebuah majalah AS “Life” pernah menulis sebagai berikut.
“Di Afrika meskipun kaum misionaris yang jumlahnya tak terhingga telah melakukan berbagai program penyebaran agama, dan untuk itu telah dikeluarkan dana yang tidak terhingga, mereka hanya mampu mengkristenkan satu berbanding 10 orang Afrika yang masuk Islam. Padahal, Islam hingga kini tidak pernah mengirimkan satupun kelompok penyebar agama secara resmi ke tempat manapun di dunia. Umat Islam juga tidak pernah mendirikan rumah sakit, masjid, dan pusat pendidikan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran mereka.”
Secara pribadi, saya tidak terlalu bergembira dengan isi laporan yang disampaikan pihak yang berwenang berkaitan dengan hal ini. Bisa saja laporan itu tidak seluruhnya akurat. Dan sangat besar kemungkinan sipat spekulatifnya demi kebaikan misi. Ya, jangankan hanya sebentuk laporan yang interpretable, persoalan yang sangat mendasar saja seperti gambar rupa Isa al-Masih, masih mungkin dimanipulasi dengan rekaan rupa gambar yang baru. Namun sebagai naskah yang dapat terbaca, ummat Islam perlu menyikapinya dengan arif. Bahkan sikap arif saja tidak cukup, tetapi perlu kewaspadaan. Mengapa? Misi Kristen tidak akan pernah berhenti. Dokumen Konsili Vatikan II, ad gantes secara tegas menggariskan masalah ini :
“Landasan karya misioner ini diambil dari kehendak Allah, Yang ”menginginkan bahwa semua manusia diselamatkan dan mengakui kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Perantara antara Allah dengan manusia yaitu Manusia Kristus Yesus, Yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang (1 Tim 2:4-6),” dan tidak ada keselamatan selain Dia” (Kisah 4:12). Maka haruslah semua orang berbalik kepada Dia, yang dikenal lewat pewartaan Injil, lalu menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja, yang adalah tubuhnya, melalui pemandian … Oleh sebab itu, karya misioner dewasa ini seperti juga selalu, tetap mempunyai keampuhannya dan tetap diperlukan seutuhnya”.
Lalu, “Kalo o islam mau belajar dari mereka atao lebih pintar dari mereka juga boleh ………”
Islam mao belajar dari misionaris? Sebentar. Soal kegigihan dalam berdakwah, cukuplah Islam belajar dari para sahabat, tabi’in dan para salafussoleh; generasi terbaik kaum muslimin. Tidak perlu kepada misionaris. Islam punya manhaj sendiri, kitab suci sendiri, tradisi sendiri, etika sendiri yang amat berbeda dari yang dipahami, diyakini dan diperbuat oleh misionaris. Kalo belajar naik onthel, bolehlah, sebab para sahabat Rasulullah dahulu, para tabi’in dan genarasi salaf muslim tidak ada yang menyinggung tentang kereta angin itu.
Bukankah yang lebih banyak belajar dari tradisi Islam itu adalah para misionaris? Meskipun dengan tujuan yang tidak semuanya mulia. Cobalah buka catatan tentang Christiaan Snouck Hurgronje. Orang ini tekun sekali belajar Islam tapi dengan tujuan mencari titik lemahnya. Bahkan harus berpura-pura menjadi muslim segala. “Theorie Resptie” adalah hasil buah belajarnya. Konsep ini ampuh untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam .
Snouck lahir tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout Belanda, merupakan anak keempat dari pasangan Pendeta JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Nama depannya diambilkan dari nama kakeknya, pendeta D Christiaan de Visser. Pada tahun 1874 selepas dari pendidikan HBS di Breda, ia melanjutkan ke Fakultas Teologi Universitas Leiden.
Tahun 1884 -atas prakarsa JA Kruyt Konsul Belanda di Jeddah- Snouck dikirim ke Makkah untk melakukan penelitian tentang Islam. Untuk mendapatkan ijin tinggal di Makkah, Snouck mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, ia juga mengerjakan Shalat dan ritual agama Islam lainnya. Dengan sikap tersebut, Snouck dapat mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari umat Muslim di Makkah serta dengan mudah bergaul erat dengan para pelajar dan ulama, terutama yang berasal dari Hindia Belanda.
Dalam penelitiannya tersebut, Snouck memusatkan perhatiannya pada tiga hal. Pertama, dengan cara bagaimana sistem Islam didirikan. Kedua, apa arti Islam didalam kehidupan sehari-hari dari pengikut-pengikutnya yang beriman. Ketiga, bagaimana cara memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk mengajak orang Islam bekerjasama guna membangun suatu peradaban yang universal.
Snouck tahun 1889 dipindah tugaskan ke Hindia Belanda, oleh Gubernur Jenderal Pijnacker Herdijk, ia diangkat sebagai peneliti dan penasehat urusan bahasa-bahasa timur dan Islam. Guna memuluskan tugasnya dan memperkuat penerimaan masyarakat, Snouck mengawini wanita Muslim Pribumi secara Islam. Snouck melangsungkan perkawinannya dengan Sangkana, anak tunggal Raden Haji Muhammad Ta’ib, Penghulu Besar Ciamis. Dari perkawinannya itu terlahir empat orang anak, Salmah, Umar, Aminah, Ibrahim. Pada tahun 1895, Sangkana meninggal dunia, kemudian tahun 1898 Snouck mengawini Siti Sadiyah, putri Haji Muhammad Soe’eb, Wakil Penghulu kota Bandung. Pada tahun 1910 Snouck melangsungkan pernikahan dengan Ida Maria, putri Dr.AJ Oort, pendeta liberal di Zutphen, perkawinannya yang ketiga ini dilangsungkan di negeri Belanda.
Berdasarkan konsep Snouck, pemerintah kolonial Belanda dapat mengakhiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculnya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dimotori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck -berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya- menjadi landasan dasar doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai Doktrin Politik”.
Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Snouck meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, di usianya yang ke 81 tahun.
Kebesaran Snouck selalu dikenang, dialah ilmuwan yang dijuluki ‘dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya. Ia “berjasa” menunjukkan “kekurangan-kekurangan” dalam dunia Islam dan perkembangannya di Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen “Snouck Hurgronjehuis” untuk mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya.
Misionaris sangat berhajat pada Islam dan belajar tentangnya. Tujuannya? Seperti yang selama ini diketahui sedikit orang.
October 21st, 2008 at 4:47 pm
ini memang masalah bersama.. mari qt renungkan bersama dgn cara ya lebih baik lagi.. Jgn slh menghasut.. Karna sesungguh’nya (bagi kaum muslim) ALLAH SWT sangat tw syapa diri qt.. mari qt tunjukan Islam adalah agama yg Cinta damai.. karna qt tidak sendiri dalam dunia ini.. Jalan menuju surga.. Hanya kebaikan engkaw menjadi manusia.. yg menyadari, betapa indahnya hidup rukun bersama dan bersyukur atas apa yg telah diberikan kpd Qt..
jangan kamu pernah “men-judge” seseorang.. walaupun kmu tw kebenaran’nya.. tapi.. doa’kan lah dya.. insya allah.. dy bisa kembali ke jalan yg benar.. dimana dy tw hakikat dy sbgai manusia, sbgai hamba ALLAH SWT.. karna qt sebgai sesama manusia.. tak lebih,tak kurang.. qt semua SAMA derajat’nya..
maaf klu ada kata saya yg salah.. saya hanya tidak ingin bumi ini menjadi neraka untuk qt smw.. saya hanya seseorang yg percaya ALLAH SWT menyayangi saya.. sehingga saya dapat memberi pendapat saya ini..
Terima kasih..
November 1st, 2008 at 10:28 pm
bung ronny menurut q anda terlalu banyak berkomentar, baiknya anda belajar dulu sampe gelar doktor baru baru berkomentardan menganalisis pendapat orang.memang ada benarnya jk di jogja banyak kemurtadan pasca gempa, karena dengan bantuan2 untuk korban gempa punya misi untuk memurtadan orang muslim. banyak juga org muslim murtad karena belajar di lembaga non muslim. anda bisa lihat sendiri banyak pemurtadan di daerah imogiri, gunungkidul, kalten utara deket boyolali.org secerdas bang Dien nga ngaruh dengan kata-kata LOE, kacian dech loe.belajar dulu baru berkomentar
November 24th, 2008 at 1:20 pm
heheheh….singgah juga gw di blog ini…ada beberapa fakta yang tidak bisa di pungkuri, kristenisasi emang ada faktanya, begitupun islamisasi ada faktanya….perebutan hegemoni keyakinan tersebut sudah ada dari dulu, dan itu syah-syah saja… beberapa literatur telah membahas perebutan tersebut, kaum kristen membunuh 10.000 muslim pada abad 16 demi agama dan keyakinan kristen…. kaum muslim membunuh ribuan nasrani demi agama nya juga….. pihak kristen dibelahan bumi sana kuatir ada islamisasi, di indonesia pimpinam umat islam wajar kuatir juga dengan kristenisasi…. ini dunia, semuanya wajar….din syamsuddin kuatir umatnya pindah agama,,,,,dan bung roni kuatir juga din buat perpecahan,,,,gax perlu ribut dan saling cerca kan….lagi-lagi semuanya wajar
salam. Afri Erisman, Ph.D
January 15th, 2009 at 9:46 pm
Weleh..weleh…Semua pada khawatir..jika ada perpindahan Agama.Emangnya kamu2 itu “Duta Besar” YME ? Saya sih enteng saja melihat kamu2 orang.. yakni : “POHON DIKENAL DARI BUAHNYA ” Tidak mungkin pohon Duren berbuah Jengkol. tul nggak ? Nah “Pohon” sekarang banyak berbuah
kemunafikan.
January 18th, 2009 at 12:12 am
Alhamdulillah semoga semua menyadari memang selalu ada perbedaan, pro maupun kontra. Tetapi seharusnya disampaikan dalam cara yang santun, tidak menghina dan mencaci-maki.
Semoga Negara kita aman sentausa, rakyatnya makmur semua. Amiiiin
January 21st, 2009 at 1:49 am
@to all : amien rais & din syamsuddin sama sama orang orde baru (suharto) yang suka adu domba, fitnahan dan lain sebagainya jadi jangan heran klo mereka itu asbun (asal bunyi) sedangkan Bukti nya tidak ada.
klo bener ada kristenisasian tolong disertai bukti nya biar din syamsuddin tidak dianggap ato dicap sebagai provokator & tukang fitnah.
February 11th, 2009 at 8:39 pm
Yang Jelas.. yang pada kasih coment ini juga asbun / asal bunyi Dien Syamsudin maupun Bank Rony kgk jauh beda.. cuman Dien Syamsudien Profesor yang terbiasa berstatemen dengan didasari pengumpulan data, analisis, hipetesa… baru kesimpulan dan dipercaya lebih dari 20 juta penduduk Indonesia.. YANG JELAS ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN (AGAMA PEMBAWA KEDAMAIAN DI DUNIA) TAPI ISLAM JUGA AGAMA FISABILILLAH (PEMBELA AJARAN TUHAN YANG MEMANG TUHANNYA HANYA SATU ..ALLAH S.W.T)Jadi Wajib bagi Umat Islam dan mengaku Islam untuk melaksanakan KEDUANYA.. apabila diajak damai.. Islam bisa lebih damai.. Namun bila ada yang mengajak mengakui Tuhan lebih dari satu maka WAJIB.. UNTUK DI LIBASSSSSSSSSSS… ALLAHU AKBAR !!!
February 22nd, 2009 at 11:22 am
din din
ente benar2 nafsu buat masuk berita, mau jaid presiden siapa sih yang mau pilih anda?
Rakyat butuh org yang tdk diskrimihatif ….yag punya wawasan luas
pilih bu mega
April 10th, 2009 at 11:18 am
Sayang, banyak coment yang out of context. Meskipun ada yang terlalu menyerang Dien atau yang agak sedikit menggebu membelanya.
Bung Fakhrurrazi bahkan terlalu jauh konteksny dengan isu yang diwacanakan. Padahal masalah yang diangkat bung Rony adalah Dien dengan kasus dugaan pemurtadan. jadi, orang bicara A ia bicara B. Jaka Sembung naek ojek, kaga nyambung Jek.
Menurut saya, Bobot isu yang diangkat bung Rony menjadi sangat menonjol dengan komentarnya mas Abdul. Komentar berani tetapi tidak sekedar asal komentar.Terutama menanggapi Kristen notengkyu.
Salut buat Rony, Abdul dan Kristen.
April 13th, 2009 at 3:39 am
percaya ga sih,kalo bung rony seorg muslim????!! aku ngeFans berat sama mas ABDUL MUTAQIN. HANYA ORG YG BERIMANLAH KPD ALLAH SWT ,YG BS MENJAWAB & MENJABARKAN SMUA INI DGN KONGKRIT!!! Buat bung rony ..sadar ga seh wkt buat blog ini???!! yg buat provokasi& bs membuat keributan & memecah belahkan agama..ya SAMPEAN BUNG RONY!! bkn niat BAIKnya bung Din ,tuk mengingatkan Umatnya!!
April 25th, 2009 at 5:40 pm
Saya seorang Muslim sejujurnya saya jijik melihat tingkah laku seorang anak setan bernama din samsudin, manusia munafik, menjadikan agama cuma untuk cari kedudukan, popularitas dan sensasi, din”setan”samsudin ini tipe manusia yang cuma gede bacot doang, actionnya nollll, saya seorang muslim, menurut saya, kita tidak perlulah takut dan ribut dengan yang namanya kristenisasi atau yahudisasi atau apalah, yang dibutuhkan ummat ini cuma action, action dan action. Yakinlah jika semua pemimpin islam menjalankan agamanya dengan baik maka tidak akan ada ummat yang murtad, ini yang terjadi kan sebaliknya, para pemimpin ummat kerjanya sibuk bermesraan dengan para pencuri di senayan dan di pemerintahan untuk kepentingan birahi memperkaya diri yaa seperti din”setan samsudin itu. Gimana ummat gak jijik. jijik deh akiu.
Abah
May 11th, 2009 at 3:18 pm
Subhanalaah, ada SETAN menuduh “setan”
May 14th, 2009 at 6:17 am
bagi umat yang baca blog ini, kita jangan heran, kl da seorang yang muslim menjadikan orang lain ragu dan bimbang terhadap agamanya, urusa agama bukan urusan gampang, negara pun mngatur tentang etika beragama, tidak boleh mendakwahkan agama kepada orang yang sudah beragama, bagi umat islam mari beristigfar , kuatkan aqidah, bagi mas rony , tulisan ada bagus, tapi anda terlalu emosi dan saya yakin anda belum faham dengan islam, karena ucapan seorang muslim berfikir dengan ilmu bukan dengan nafsu, mhn maaf kalo tersinggung.
May 14th, 2009 at 6:19 am
sekali lag mhn maaf ok….
May 14th, 2009 at 9:32 am
mas santri: tidak perlu minta maaf
saya justru heran, saya menegur seorang bernama din syamsudin, tau-tau orang malah sibuk mengkaitkan seorang manusia yang masih doyan uang dan nasi dengan agama.
maksud saya begini, bagus mengingatkan, lakukan secara internal. ada media-nya sendiri kok. suara muhammadiyah itu oplahnya banyak. tapi ini ngomong ke media umum, sementara dia sendiri nggak turun langsung ke lapangan.
oh iya, kader muhammadiyah turun ke lapangan, itu pasti, tapi naif kalau kadernya bela-belain pemimpin yang tidak punya jiwa kepemimpinan. bukan begitu?
kawan, pemimpin itu boleh dikritik. mohon diingat itu.apalagi yang masih doyan duit.
May 15th, 2009 at 4:26 pm
Saya kira mas Roni perlu belajar banyak lagi. Akhlak, Tauhid,syariah. Kalo sudah ahli baru berargumentasi. Kalo ahli tata boga ngomongin komputer kacau jadinya.
May 18th, 2009 at 11:53 am
Mas Roni… Mas Roni…
Istighfar mas…
Ada yg salah dengan cara berfikirnya tu.
June 19th, 2009 at 5:59 pm
bwt mz rony…klo anda seorng muslim tdklah pantas membuka aib orng d dpan khayalak rame….!!!islam tdk mengajarkan demikian….!