
Begitulah Jogja. Kota yang kutinggali dari lahir sejak kini. Selalu saja menyisakan kata “untung…” setiap kali mendapati bencana. Dan setelah itu, kita berkumpul membahasnya. Akhirnya, hasil kumpul dan ngobrol itu akan mengungkap hal-hal lucu yang dirasakan. Yah, minimal dada terasa lebih lapang karena masih bisa tertawa
Orang yang selalu kuingat setiap kali mendapati bencana, terus terang saja, adalah Pak A.R. Fachrudin (almarhum). Beliau yang mengajarkan saya, secara tidak langsung, bagaimana menghadapi bencana dengan senyuman. Saya ingat pernah menunggu beliau, waktu itu saya masih SD, yang katanya mau mampir ke rumah saya hingga jam 10 malam. Itu satu rekor tersendiri, karena saya tidak pernah boleh untuk terjaga hingga lebih dari jam 9 malam.
Pak A.R. saat terakhir kali saya ketemu, baru saja keluar dari rumah sakit akibat “stroke ringan” (kalau gak salah ingat). Dan beliau bercerita ketika itu sang perawat sudah membolehkan beliau untuk pulang. Lantas beliau bertanya,”kok saya masing kunang-kunangen ya sus?” Suster menjawab,”nanti lama-lama juga hilang kok pak” Dengan tenang sambil tertawa pak AR berseloroh,”lha iya to sus, kalo mati mosok kunang-kunangen hehe”. Itu sangat membekas di ingatan saya. Juga ketika beliau bercerita dulu banget, waktu beliau naik sepeda motor Yamaha 75-nya, dan jatuh. Berkali-kali yang keluar dari mulut beliau adalah “alhamdulillah nggak apa-apa, alhamdulillah saya selamat, alhamdulillah semua selamat”. Ya, saya sangat kagum pada beliau.
Pengalaman Andi Seno Aji
Andi Seno Aji adalah seorang seniman yang baru menanjak karirnya. Dia sendiri sebenarnya mahasiswa Ilmu Pemerintahan UGM, namun semenjak bergelut di bidang grafis di B21 (balairung dan bulaksumur pos), lantas berlanjut menjadi desainer grafis di sebuah penerbitan, goresan ilustrasinya semakin dikenal. Akhirnya dia semakin dikenal orang karena ilustrasinya dipakai oleh Tempo dan Kompas untuk menjadi penghias (baca: penguat) cerita. Pameran pertamanya berjudul “Pastiche, this is not I” diselenggarakan baru tahun lalu di LIP Yogyakarta.
Dia memang orangnya pendiam, namun membuat orang ingin ngobrol dengannya. Nah, kemarin saya bertemu dia, dan dia bercerita kekonyolannya saat gempa. Malam sabtu (sehari menjelang gempa) dia, seperti halnya saya, sedang mengerjakan tugas yang menumpuk. Pekerjaannya baru selesai setelah pukul 05:00 WIB pagi hari. Dari daerah Janti dia pulang ke arah Sewon (kontrakannya dekat kampus ISI). Sampai kost-nya dia putuskan untuk tidur, mengingat hari itu (Sabtu, 27 Mei 2006) dia harus ikut workshop mulai jam 09:00 hingga 17:00 WIB.
Baru sebentar terlelap, gempa mengguncang rumah kostnya. Semua orang sudah di luar, karena mendengar keributan, dia melongok dari lantai dua tempat kamarnya berada. Orang-orang berteriak menyuruh dia turun. Tapi dia ingat bahwa hari itu dia ada workshop, pasti capek kalo bangun, mendingan tidur lagi, demikian pikirnya. Goyangan besar seakan tak dirasakan olehnya, mungkin karena kantuk. Dia menutup pintu. Orang-orang bingung, akhirnya mereka melempari batu pintu kamarnya sambil berteriak menyuruhnya turun.
Kaget karena lemparan batu, dia berfikir,”ini kalo gak turun kayaknya dimarahi deh” maka diapun turun. Baru sampai tangga, dia baru benar-benar terbangun, ternyata tembok samping kamarnya sudah ambrol.
Komentar saya: owalah ndi, lha wong mau selamat kok ya ndadak dilempari batu segala. hihihi
Pengalaman Kosong Tiga
Kelompok kosong tiga. Aku sudah sering mendengar namanya, tapi sampai sekarang aku tidak pernah tahu itu apa
Sudah terlalu lama rupanya aku tidak main dan ngobrol dengan teman-teman seniman.
Hari itu anak-anak kosong tiga juga sedang kelelahan. Saat sedang asyik dengan mimpi masing-masing, mereka terbangun oleh goncangan dahsyat. Buru-buru mereka berusaha membuka pintu, alamak pintunya susah dibuka. Goyangan ke kanan dan ke kiri seakan membuat si pintu berlarian.
Demi keselamatan, mereka akhirnya melempar kursi ke jendela. PRANG. Semua melompat keluar. Untung jendela tidak pake teralis. Semua selamat. Setelah gempa reda, sekitar di atas jam 12 siang, akhirnya mereka memutuskan mengkalkulasi kerugian. Layaknya perusahaan besar, siapa tahu bisa klaim asuransi ke RT setempat.
Teliti demi teliti, alhamdulillah, rumah mereka termasuk kuat. Tidak ada kerusakan berarti. Dan ketika dilihat dalam daftar bagian rumah yang rusak, ternyata kerusakan yang termasuk berarti hanya satu: JENDELA YANG MEREKA PECAHKAN!
Komentar saya: kenapa gak pintunya sekalian yang didobrak? hihihi
Pengalaman Muna
Muna, gadis manis berjilbab ini selalu mengingatkanku pada peristiwa memalukan. Ketika aku mengisi acaranya PMII tingkat nasional, aku justru membuat acara tersebut jadi ricuh
Dan saat itu Muna-lah yang jadi moderator.
Saat gempa kemarin, dia di rumahnya. Kejadiannya mirip dengan anak-anak kosong tiga, dia kesulitan membuka pintu rumah. Sangat sulit, bahkan ketika tembok di kamar tengah sudah mulai roboh. Pikiran cerdasnya bekerja, “aku harus lari dari jendela”. Ketika dia sudah bulat tekatnya mau memecah jendela, tiba-tiba dia tersadar. “Apa yang akan aku lakukan? Memecah kaca jendela ini tidak sulit, tapi bagaimana dengan teralisnya?”
Komentar: untung kamu gak sibuk cari gergaji besi dulu mun. hehe.. alhamdulillah kamu selamat.
Pengalaman Saya
Wah kalo ini mungkin gak lucu. Saya mengalami saat paling lucu sekaligus tegang, ketika berusaha membuka pintu. DOH! Semua kok selalu urusan pintu. Beneran, pintu serasa lari ke kanan dan ke kiri. Setelah berkutat beberapa saat, pintu akhirnya terbuka. Alhamdulillah. Tapi gempa sudah selesai.
Lantas aku ke kamar mandi, karena semalam lembur, otomatis ketika berkutat dengan pintu tadi saya masih belepotan dengan bunga tidur (alias blobok)
dan sayapun kencing. Eh, lha kok gempa gedhe lagi. Istri saya teriak-teriak menyuruh saya keluar, lha tapi saya kan sedang kencing. Mana semalaman saya lembur, minum kopi banyak-banyak pula. Kencing saya tidak mau saya hentikan. Ketika kencing selesai, saya guyur, langsung lari keluar. Tapi gempa sudah berlalu
Yang paling aneh adalah ketika gempa itu. Ingat saya sih saya itu misuh-misuh karena kunci gak mau masuk ke lubang kunci. Tapi istri saya bilang saya teriak “Allahu Akbar, Allahu Akbar” terus. Aneh ya?
Vale, tersenyum itu sehat kawan
El rony, daripada kecut terus! :p
NB: Ada lagi cerita Jampez. Saat gempa dia sedang di Blora, habis rapat sama penduduk kampung sana hingga dini hari. Sebenarnya di sana juga terasa gempa, tapi dia yang kecapekan tidak merasakannya. Ketika bangun, orang-orang sibuk menelfon dia. Mengira dia di Jogja, dan karena dia di Blora maka orang bisa menelfonnya. Namun sampai siang dia tidak tahu kalau kotanya berantakan. Dan seharian dia hanya menerima tumpahan kemarahan orang-orang, wong Jogja gempa kok malah di Blora.
Sepulang dari Blora, gempa susulan masih ada, tapi selalu saja pas dia tidur. Sehingga ketika gempa 3,3SR beberapa malam lalu, saat kami semua keluar rumah, dia malah kebingungan dan bertanya,”gempa-nya mana?”
Owalah pez, orang Jogja kok gak merasakan gempa. Malu kamu! hihihi
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 12th, 2006 at 11:42 am
Lha simbahku, pas gempa malah sibuk nyari sandal. “Lantainya dingin” katanya.
Hihihi, Alhamdulillah slamet mbah, simbah.
June 12th, 2006 at 12:05 pm
gimana ya lantip.. dibilang musibah mengerikan, tapi kok ya ada lucu2nya juga.. semoga yogya sekitarnya cepat pulih yak..
June 12th, 2006 at 12:16 pm
stress mpok, trauma tiap hari

malu sebenarnya, tapi kemarin presentasi, duduk di kursi sofa, karena goyang kupikir gempa. hwah.. tidur juga gak nyenyak. saya ternyata trauma. huhuhuhu.. jadi ya.. mari tertawa saja lah
June 12th, 2006 at 12:35 pm
ini namanya news in depth, pesona di balik berita
June 12th, 2006 at 12:39 pm
jadi kenangan manis tuh…yang kayak gitu yang bikin pertemanan jadi tambah manis
June 12th, 2006 at 1:05 pm
wah pas gempa lagi pipis? pas lagi megangin itu.. tiba2 gempa.. pikirnya “loh.. kok enak ya rasannya”.. jebul masturbasi pasif.. huahahahahhaa…
June 12th, 2006 at 9:21 pm
ron pas buka pintu misuhnya gimana ?
6# dasar :d
June 12th, 2006 at 11:08 pm
=))
June 13th, 2006 at 7:37 am
walaah…itu yg selalu aku bayangin tuh waktu gempa, gimana dengan orang2 yang sedang di kamar mandi…apa pada keluar telanjang bulat…eh ternyata mas rony malah cuek aja megangin *****-nya sampe gempa slese… :p
June 13th, 2006 at 8:11 am
absen….! huhuhu bingung mo komen apa…
June 13th, 2006 at 8:32 am
misuhnya pakai kunyuk, kampret dan wedhus gak?
June 13th, 2006 at 3:26 pm
bwahahaha…
kalo pas lagi sama istri,
trauma juga gag goyang2nya?
*kabur ah*
June 13th, 2006 at 4:27 pm
pasti semalamnya abis ‘lembur’ sampai buka pintu aja gag bisa…
*kabuuur*
June 14th, 2006 at 1:28 am
June 14th, 2006 at 5:53 pm
wahaha.. memang seperti pak Pras bilang, Jogja termasuk “beruntung” mendapatkan gempa. Karena tidak semua daerah mendapatkan pengalamana kek di Jogja. Yah.. Minimal kita diberi sebuah pelajaran yang sangat berharga..
Oya.. lam kenal mas, ya!
Thanks dah memberikan informasi dan pemikirannya 
June 15th, 2006 at 10:19 am
ahahaha… si andi itu…
ya, yang kayak gitu memang andi banget!
trus muna itu tinggal beramai-ramai di rumah yang di cemorojajar ‘kan? berarti rumah itu roboh sebagian?
*teringat waktu ke jogja bulan maret sempat ke rumah itu*
June 16th, 2006 at 7:45 am
hehehe… saya malah ngira rumah saya ditabrak truk… yang lucu tu bapaknya temen saya yg lagi di jalan… pas goyang2 dia bilang, “e,,, kebanan ki” hehe
June 16th, 2006 at 9:47 am
di tempatku ada kakek2 yang waktu diajak mengungsi ke daerah yg lebih tinggi karena isu tsunami gak mau karena dia tetep ingin di deket rumahnya dan kalau memang ada tsunami mo manjat pohon sukun disamping rumahnya hehehe
June 17th, 2006 at 9:14 am
hihi.. gelik jadinya!
btw, ini ceritanya beneran Om rony?
nice perspektif, really!
June 19th, 2006 at 12:05 pm
Pada saat gempa, tetangga dan keluarga berteriak-teriak. Saya, “Sridewa!™” berjalan dengan santai keluar rumah, layaknya seorang teroris.
Lha soalnya kalo lari mesti malah jatuh, wong lantainya goyang terus seperti lantai kapal. Pada waktu itu lari bukan keputusan yang bijak.
Saya juga tertawa karena asyik juga berdiri di atas lantai. Bergoyang-goyang, seperti naik papan selancar.
June 19th, 2006 at 5:57 pm
lah…Ronceh ternyata bisa ndagel juga
June 22nd, 2006 at 1:03 am
Moga2 cobaan ini bisa dilalui dengan tawakal dan bisa bangkit kembali…
Seneng udh bisa mampir kesini, salam kenal dan salam hangat dari afrika barat
October 10th, 2008 at 6:39 pm
Semoga Pak AR senantiasa diingat dengan kebaikannya . Alfatihah …
amin
Akmal B.Y
-Muhammadiyah Eksternal-
http://akmalbudiyulianto.co.cc