
Barusan saya mendapatkan forward email dari Toni. Dalam attachment, saya mendapati press release dari UGM yang memaparkan rencana/response plan UGM atas bencana yang terjadi di Yogyakarta. Paparan lengkap atas isi response plan ini dapat di lihat di sini dan di sini.
Secara garis besar, yang saya terima adalah sebuah penyikapan yang sangat wajar. Artinya penyikapan yang sudah terbayang akan diambil oleh institusi pendidikan. Dengan dalih keilmiahan maka pendekatan yang diambil adalah pendekatan positivis. Korban bencana, ataupun masyarakat Yogyakarta pada umumnya diletakkan pada satu preparat untuk kemudian dibolak-balik dan “diteliti” melalui kaca mikroskop.
Hal pertama yang menarik perhatian adalah poin ke-lima dari response plan tahap pertama. Dalam poin ke-lima tersebut dinyatakan,”Immediate recovery: to assist the delivery of GOI’s cash-for-work to clear rubbles and recycle building materials. Integrated efforts include restarting micro-enterprises in the rural informal economy and provision of environmental advices for recovery or the economy in impacted areas”.
Uang untuk Kerja, Kerja Untuk Uang - selamat tinggal gotong-royong.
Dengan pernyataan tersebut, UGM sebagai sebuah institusi yang cukup dipercaya oleh masyarakat Yogyakarta, bahkan di tingkat nasional, memposisikan diri sebagai pendukung program uang-untuk-kerja. Program yang berbentuk memberikan imbalan uang bagi korban bencana yang ikut membantu tetangganya memperbaiki kerusakan ataupun membersihkan puing-puing.
Program seperti ini pernah dijalankan di Aceh. Hasilnya? Modal sosial berupa semangat saling membantu, gotong royong dan senasib sepenangungan jadi menipis. Model uang untuk kerja telah mendorong migrasi pemikiran para korban bencana di Aceh sehingga mereka menjadi hanya mau bekerja jika ada uangnya.
Walaupun dikatakan bahwa program ini hanya untuk 1 hingga 2 minggu saja, namun program tetap saja program. Pelaksanaan program tersebut melibatkan masyarakat luas, khususnya korban bencana, dalam satu rangkaian kegiatan yang intensif dan terus menerus. Apakah UGM mau bertanggungjawab jika masyarakat sudah tidak mau bergotong royong lagi? Ketika ada dua buah rumah tersisa belum selesai dikerjakan, dan masyarakat sudah sibuk dengan dirinya sendiri, memilih untuk tidak membantu karena sokongan dana sudah raib? Bagaimana pula jika sokongan dana hilang ketika baru separuh desa yang dijamah? Bagaimana pula jika semangat kerja-untuk-uang ini berlanjut hingga ke sistem pedesaan semacam poskamling? Ataupun kerja bakti?
Mungkin orang bisa bilang bahwa ini ketakutan yang terlalu berlebihan. Namun saya di sini hanya ingin mengarahkan pandangan untuk kembali menengok kabar saudara kita di bumi Aceh. Tidakkah mereka pernah menjadi preparat bagi institusi pendidikan seperti ini? Tidakkah kondisi mereka sekarang, yang sudah kehilangan modal sosialnya, justru membuat nasib mereka semakin terpuruk? Adakah kegelisahan dihati nurani para cendikia? Inti terakhir dari pertanyaan ini adalah kenapa harus menilai kerja dengan uang?
Restarting Micro Economy - gempa ini bukan switch off maupun shutdown
Tentu saja hal ini berkait. Kebijakan berupa dukungan atas model kerja cash-for-work ini tentu berangkat dari asumsi bahwa infrastruktur dan perekonomian jatuh ke titik nadir. Saya, terus terang, bukanlah ahli ekonomi. Namun sebagai orang awam, saya bisa menilai kok, bahwa sebenarnya tidak ada restarting.
Waduh, kok saya terjebak di semiotika lagi ya? Tapi intinya begini, pemikiran yang memunculkan pengembalian modal (dalam hal ini adalah uang) ke masyarakat dalam bentuk filantropis-ngawur itu, pasti didasari oleh pemikiran bahwa masyarakat butuh modal kerja. Modal untuk memulai lagi perekonomiannya yang runtuh.
Pertama, mengapa saya sebut filantropis ngawur? Saya jawab saja dengan pertanyaan balik, masyarakat ini bekerja untuk siapa sih? Tetangganya? Atau siapa? Bukankah mereka sebenarnya bekerja untuk diri mereka sendiri? Apakah selama ini masyarakat membayar tetangganya yang membantunya memanen padi dengan uang? Bukankah “bayaran” yang lumrah bagi masyarakat kita adalah timbal balik berupa sikap saling asah-asih-asuh? Saling jaga, saling peduli, saling membantu? Silakan jawab pertanyaan bertubi ini dengan kertas ukuran A4, laminasilah dan pasang di dinding untuk menjadi pengingat.
Kedua, modal kerja yang dibutuhkan masyarakat dalam hemat saya bukanlah uang. Uang justru menjadi pemicu masalah. Mari kita tengok saja kasus BLT (bantuan langsung tunai) sebagai wujud pengganti subsidi BBM. Ataupun kasus serupa yang paling dekat dan di daerah yang sama, upaya pemberian uang bagi korban bencana dari pemerintah. Semuanya memicu kericuhan. Memicu kecurigaan antar sesama dan akhirnya memuncak menjadi konflik horisontal. Masyarakat yang tadinya satu jadi terpecah. Apakah ini bisa disebut sebagai rescue?
Sementara saya hanya bisa menulis ini, analisis apapun sedang buntu di pikiran saya. Semoga saja program itu segera dihentikan, bantuan bisa diwujudkan dalam alat-alat mengingat banyak alat dari warga yang tertimbun reruntuhan rumah sehingga tidak bisa dipakai.
Vale, demi kesehatan bermasyarakat
el rony, memandang warna biru yang memudar dan memucat
NB: UGM, kamu makin jauh saja dari wong ndeso.
tambahan: file release dari UGM bisa di download di sini. Authornya masih Jurusan Sastra FIB UGM *hi roy™* ![]()
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 8th, 2006 at 5:02 pm
Walah, institusi gemblung!
Kalau ITB mungkin masih bisa dimaklumi kalau ngomong seperti itu. kalau UGM, wah menyedihkan ini pakde!
June 8th, 2006 at 5:04 pm
hmm…
UGM emang bukan lagi kampus kerakyatan. wajar saja, karena untuk bisa kuliah di UGM saja harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Ada kemungkinan itu yang memicu perubahan visi UGM yang kerakyatan menjadi UGM bervisi kerakusan dan materialistis.
kemudian segala sesuatunya hanya diukur dengan uang.
lengserkan saja Sofian Effendi :p
June 8th, 2006 at 5:19 pm
rony, ada baiknya pemikiran ini dibawa supaya sampai ke telinga para pembuat program. kearifan lokal yang hilang harganya lebih mahal dari jumlah uang yang mereka sumbangkan. pasti itu.
June 8th, 2006 at 5:20 pm
Sudut pandang yang menarik Ron..
Tapi kan itu baru “rencana”..
Lamaan dikit, ntar juga lupa..
Kamu ingat kan Ron bangsa ini pelupa ?
June 8th, 2006 at 5:24 pm
Untung dulu gak keterima di UGM
June 8th, 2006 at 5:33 pm
daku ndak kuliah di UGM maz, tapi kampus rakyat itu tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan dan nongkrong. gedungnya bagus-bagus. oh, iya. bayarnya sekarang mahal denk ya…
June 8th, 2006 at 7:59 pm
atau ganti saja sofian effendi dengan mbah maridjan, agar sang rektor bisa belajar tentang kearifan lokal dan visi kerakyatan :p
June 8th, 2006 at 9:02 pm
UGM ga sendirian, banyak kampus sudah begitu
June 9th, 2006 at 12:14 am
sudah kebanyakan uwang kali ugmnya
June 9th, 2006 at 9:08 am
no comment….rasanya pengen nangis…..
June 9th, 2006 at 9:44 am
Lebih baik bertindak secara riil Ron, daripada cuman memberikan kritik, Ingatlah pepatah lama, diskusi tanpa aksi = onani.
UGM hanya melakukan rencana, dan rencana bisa berubah, look at ur self before you give more critical to another ones.
June 9th, 2006 at 10:03 am
Betul ron…
Semangat gotong royong nggak ada dan hanya dinilai dari uang karena mereka membantu rekan,saudara, dan tetangga hanya karena uang. apakah ini yang akan terus terjadi.?? atau hanya dua bulan saja…
kita tanya mbah marijan…..
mbah.. mbah….
June 9th, 2006 at 10:09 am
Hmmmmm …. Cash-for-work …
Saya sempat numpang di Posko nya AirPutih di banda aceh.
Posko tersebut sangat minim kondisinya, disana sini ada retakan di dinding nya. saat kejadian gempa nias .. saya sedang berada di luar posko .. dibagian lain kota bandaaceh …. saya sempat kepikiran .. apakah temen temen slamet gak kurugan tembok.
AP sangat minim dana operasional nya … tapi memang terlihat gemerlap kalau diliat alat alatnya .. ya .. karena bantuan ke AP banyak berupa perangkat kerja.
Di sisi lain .. banyak LSM LSM mendapat bantuan berupa uang, bahkan anggota nya di gaji.
Jangan tanya mengenai NGO Asing dan UN Agents .. wuah .. makan siang mreka seperti di rumah makan Tio Ciu (saya sempat makan siang dengan mereka setelah ngurusi WiFi FAO)
Saya dengar juga ada penterjemah yang sempat dapet gaji dahsyat disana.
Bahkan ada lagi UN-Agent yang membayar orang untuk bekerja membersihkan rumahnya sendiri atau menggembalakan kerbau nya sendiri.
Saya rasa ini baik .. karena disana para korban itu kehilangan seluruh aset nya … baik berupa barang/uang .. maupun jaringan bisnis nya …. lalu dari mana mereka akan memulai bisnis nya kalau gak ada yang kasih duit ??
So .. Cash-For-Work … kalau dengan perhitungan yang presisi … akan sangat baik.
salah satu pentolan AP … duit nya sempat hanyut juga dalam kegiatan itu .. jumlah nya lumayan. Coba kita berdiri On-his-shoe : Pekerjaan di aceg selese … aceh sudah sehat … orang aceh sudah mulai bisnisnya … sedang dia, kere tanpa modal .. udah terlalu tua untuk nglamar kerja.
Cash-for-work dengan perhitungan presisi akan baik … Orang di bayar untuk bnersihin rumah nya dan rumah tetangganya …. ketika semua sudah rapi .. mreka punya duit untuk beli bibit padi … untuk patungan beli traktor .. untuk membangkitkan kembali koperasi mereka … bla bla bla.
Bantuan dari luar yang non-duit .. sebaiknya berupa barang …masalah SDM sebaiknya semaksimal mungkin bayar para korban untuk kerja, toh mreka bosen juga di tenda bengong ngeliatin relief-worker berpoto ria di depan mereka.
Sorry ron … mungkin kali ini saya bersebrangan …, minimal angle kita berbeda.
Keep up the good work
ciao
June 9th, 2006 at 10:16 am
hmmm… jangan sampe budaya DUIT jadi masalah bangsa ini(walaupun sudah), kalo misalkan nilai sosial sudah hilang ya mau ngarepin nilai apalagi soalnya nilai moral juga sudah berkurang.
@scut, tetap saja yang namanya rencana itu membuat miris kita semua.
June 9th, 2006 at 10:18 am
Hi Scut.UGM sekarang anti kritik ya? mudah2an dalam melakukan aksi tidak perlu membawa2 si pamrih, kalo dibawa2 ya, lebih baik onani lagi. Jogja pasti bangkit!
June 9th, 2006 at 10:26 am
#buat pak bino:
Thanks pak! Secara umum saya sepakat. Titik yang saya ambil di sini adalah pola program yang tak berujung pangkal. Kasus Aceh adalah tidak berujung, saya menuliskan bahwa masyarakat Aceh jadi tergantung dengan bantuan uang, itu berdasar informasi dari lapangan. Semangat gotongroyong yang hilang ini yang menjadi kegelisahan saya. Modal sosial, modal ketika semua orang tidak punya apa-apa dan bersama-sama menempati satu daerah bernama Aceh untuk bareng-bareng bertahan hidup di sana.
Lantas mengenai Bantul, saya melihat tidak ada pangkalnya. Kondisi masyarakat Bantul tidaklah separah kondisi ketika Tsunami di Aceh. Modal masyarakt masih ada, sawah tidak rusak (sebagian besar sawah di Bambanglipuro dan Imogiri sudah siap panen), dagangan juga masih ada. Yang hilang hanyalah semangat hidup/survive karena prinsip jawa “sakdumuk bathuk sak nyari bumi” luluh lantak. Tanah dan Rumah yang menjadi tolok ukur capaian masyarakat Jawa, telah hancur. Semangat ini yang musti dibangun. Dengan memberi uang, sama saja dengan menjatuhkan moral masyarakat ke titik terbawah, sebab selama ini mereka toh bisa bertahan hidup dengan saling membantu dan bergotongroyong.
Tapi intinya, bantuan apapun PASTI berguna untuk masyarakat. Bahkan nasi bungkus (paling tidak untuk proses tahap rescue kemarin). Namun, planning memang harus dijaga. Nah institusi seperti UGM selayaknya menempatkan diri sebagai bagian dari Monev (monitoring & evaluasi), bukan melibatkan diri sebagai aktor pendukung cash-for-work. Toh selama ini memang posisi mereka di luar masyarakat, silakan saja pelajari release mereka, sebagian besar adalah top down.
Jadi, kita tidak berseberangan kok pak, ini hanya masalah prioritas.
thanks!
June 9th, 2006 at 11:37 am
wah … dadi isin dewe aku …
June 9th, 2006 at 11:51 am
BUKAN PROVOKASI.rm!
cukup 1 ukoro : TOLAK CASH FOR WORK, *konsisten :-\*
Lho Ron, memang itu upaya2 asing untuk menghancurkan kehidupan sosial bangsa kita, ingat ratusan tahun nusantara diincar oleh asing. bahkan sampai sekarang!
Kalau mau nggak onani, gini Langkahnya:
1. sebarkan isyu di masyarakat, uang CashForWork itu bisa saja sumbangan dari orang yang cari tumbal pesugihan, Sebaiknya Jangan diterima!
2. Tolak obat suntik maupun pil dari bangsa asing, kita tidak tau apa yang dimasukkan oleh tim medis asing ke urat nadi bangsa kita. Bisa saja genocide/sterilisasi massal. Tanpa suntik/obat dalam, saya pikir mereka masih bisa bertahan. *maaf rodo ra ono hubungane*
3. Bangkitkan kembali kearifan lokal, sandang/pangan/obat-obatan yang mudah didapat dari lingkungan sekitar. Kembali ke alam!
Sekian
(Sridewa siap dimintai keterangan oleh pihak berwajib apabila informasi ini dianggap melanggar hukum!)
June 9th, 2006 at 12:14 pm
coba sofian effendi dan rekan2 baca tempo yang cover nya ‘ampun gusti’,program cash for work dan livehood itu kan metode untuk aceh yang luluh lantak, dan buntutnya panjang, persoalan korupsi, isu keberlanjutan terutama untuk livehood atau kalo di ugm namanya microeconomy, kurang tepat caranya membuat jogja survive…
June 9th, 2006 at 10:14 pm
UGM = Universitas Gag Mutu…
*kabboorrrr…*
June 10th, 2006 at 3:08 pm
Dear Jessie, Hehehe UGM bukanlah institusi yang anti kritikan, dan kebetulan sayapun tidak termasuk dalam institusi tersebut. Cuman menurut saya apapun motif dan tujuannya, lebih baik kita menghargai selama konsep tersebut dalam penerapan tidak menyimpang.
Kalau ketika dalan praktik ditemukan penyimpangan, tentulah kita baru angkat bicara untuk melakukan kritikan, bukannya ada konsep kita lantas gencar kritik sana dan kritik sini. Nanti malah takut dicap No Action Talk Only.
Cheers.
June 10th, 2006 at 6:33 pm
Deepest sympathy for Yogya
June 11th, 2006 at 8:37 am
Saya rasa, membangkitkan hasrat untuk mencari nafkah adalah penting, tetapi jika ini dilakukan dengan merusak modal sosial yang sudah ada, itu menjadi salah. Jadi saya rasa kita perlu mencai jalan tengah yang arif selokal-lokalnya.
Scut: dalam pandangan saya dalam semua tahap, sesuatu dalam tataran konsep ataupun pada masa pelaksanaan harus terus-menerus di kritisi. Mengkritik itu tidak salah kok, karena itu bagian dari action. Bisa jadi kesalahan ada pada tingkat konseptual, bukan pada implementasinya.
Saya juga mencoba menulis opini saya soal permasalahan ini disini:
http://hermansaksono.blogspot.com/2006/06/program-cash-for-work-ngo-asing.html
June 13th, 2006 at 10:48 pm
hmm..
anda belum dateng ke Bantul bukan?
tentu anda dengan mudah bisa mengatakan demikian. tanpa dibayar pun masyarakat dengan semangat gotong royong saling bahu membahu. anda tentu saja tidak bisa dengan mudah membandingkan masyarakat jawa dengan Aceh. masyarakat Jawa terekenal akan budaya gotong royongnya yang kuat. dan saya rasa, dengan adanya pemberian uang itu tidak akan melunturkan semangat gotong royong. justru bisa jadi penambah semangat. istilah katanya sih “uang makan” dan “uang rokok”. toh mereka sudah tidak punya harta lagi.
Anda jangan langsung men-judge bahwa UGM institusi pendidikan yg mengambil keuntungan. ini merupakan “berkah” tersendiri, di mana UGM bisa mengambil pelajaran dari peristiwa di jogja.
sebagai tambahan info. saat ini masih banyak masyarakat yg datang berbondong-bondong untuk membantu tanpa peduli ia dibayar atau tidak.
ngomong emang mudah..
June 14th, 2006 at 10:10 am
buat anda_yang_namanya_tak_boleh_disebut
Alhamdulillah, kebetulan saya asli dari Bantul selatan mas. Adik saya sekeluarga, alhamdulillah selamat walaupun masih dirawat di Rumah Sakit karena patah kaki. Rumah sih hancur.




Jadi begini, saya bertanya saja nih. Kenapa muncul istilah “uang rokok” dan “uang makan”? Kalau dalam pandangan saya, sebagai salah satu warga Bantul, itu adalah rasionalisasi belaka.
Gak masuk akal bagi kami, wong bantu tetangga kok dapat duit, maka akal kami cari pembenaran, aha! uang rokok!
Jadi, istilah itu justru bukti bahwa moral kami, hati kami, tersakiti. Dasar wong mBantul, disakiti hatinya malah dijadikan bahan guyonan. Uang rokok dab! mayan, iso ngrokok!
Benar sekali, masih banyak yang datang tanpa peduli dibayar, justru harus seperti itu. Ini saudara kita, anda mau dibayar untuk nyuapin adik Anda? ya kalau mau, berarti Anda termasuk orang yang keterlaluan
Nah, pertanyaan saya lagi, bagaimana bisa anda men-judge saya bahwa saya men-judge UGM telah mengambil keuntungan?
uhm.. ngomong mudah ya? tapi kenapa blog yang bermutu gak banyak ya? koran yang bermutu juga gak banyak… hmm.. kayaknya gak mudah deh.
June 17th, 2006 at 3:31 am
@ Herman Saksono
Saya sangat setuju sekali dengan pendapat anda, cuman disatu sisi lain kita perlu sedikit berprasangka baik dengan tidak melakukan judge and prejudice terlebih dahulu, memang sebagai seorang masyarakat kita diharuskan untuk lebih mengkritisi segala kebijaksanaan yang ada.
Cheers
June 17th, 2006 at 3:38 am
@ Rony
Saya usul, bagaimana kalau melakukan reviewing terhadap sebuah planning dengan melibatkan diri kamu secara langsung dengan institusi tersebut? Mmm.. mungkin bisa dilakukan dengan diskusi peer to peer, jadi segala kritik yang kamu lontarkan menghasilkan sebuah conslusion yang lebih baik.
Blog kamu bagus Ron, dengan konsep mempercayakan perubahan dengan kata-kata tapi sayangnya masih sedikit yang mempercayakan perubahan dengan tindakan yang riil yang memang sangat dibutuhkan daripada sekedar semiotika? Tunduk tertindas atau bangkit melawan Ron.
Danke Kamerad.
June 30th, 2006 at 3:27 pm
good….good……good…….
June 30th, 2006 at 3:28 pm
manut wae lah mas
September 6th, 2006 at 1:53 pm
Selamat siang mas Rony. Jika tidak merepotkan saya ingin kontak dengan anda. Mohon email saya jika anda berkenan. Terima kasih
February 26th, 2009 at 10:35 am
maseeeeeeeeee
mau donk jadi………….
maent khe solo kotha budaya dongk
February 26th, 2009 at 10:37 am
eeembt
maaas’ee . . . . embt lech knalan ndaa??? tmendquu apriliia moo nikaaah loo mbeeg qmuuch . . . cuuakeeebt beeod