
Demikian surat/email yang saya terima kemarin sore. Email ini dikirim oleh teman saya, seorang relawan yang terjun di daerah Seloharjo, Pundong, Bantul. Sebuah otokritik dari orang LSM atas kebijakan LSM lokal maupun internasional. Dan tentang kekuatan sesungguhnya dari kearifan penduduk.
Salam,
Empat hari setelah gempa, beberapa relawan yang mengunjungi desa-desa sudah menemukan hidangan singkong rebus dan jagung rebus. Tentu saja kami kaget, pertanyaan langsung saja meluncur, dari mana datangnya? “Lha dari situ” jawab warga sambil menunjuk ladangnya.
Sore ini, beberapa warga kelompok kandang di Dermojurang nampak baru pulang dari ngarit (memotong rumput) untuk memberi makan ternak. “Sapine nggih tetep kudu dipakani, mas. Najan atine sampun dadi cilik mergo lindu” (”Sapi tetap harus diberi makan, mas. Meski nyali sudah habis karena gempa”).
Salah satu yang tidak rusak karena gempa hari sabtu adalah sawah, ladang serta ternak korban di desa-desa. Hal ini yang penting diingat oleh para relawan dan pemberi bantuan. Tanggap darurat berupa pemberian bantuan logistik (makanan, pakaian, obat dan lain-lain) bagi korban gempa Jogja mungkin bisa lebih cepat dihentikan dibandingkan korban gempa tsunami di Aceh. Karena mayoritas warga desa korban gempa memang kehilangan rumah dan terluka namun tidak kehilangan fungsi dari faktor produksi tanahnya.
Namun rupanya hal ini belum dilihat oleh International NGOs dan United Nations yang dua hari ini mengundang kami untuk memperkenalkan program mereka serta sekaligus mengumumkan call for proposal. Kelengahan lembaga-lembaga ini bisa membuat korban ketergantungan atau bahkan korban kehilangan social capital/endowment factor/local wisdom-nya. Mengapa demikian?
Beberapa lembaga ini pernah menerapkan program cash for work untuk recovery di Aceh. Program ini adalah program yang memberikan balas jasa berupa uang untuk korban yang bekerja membenahi rumah tetangga, membangun kembali ruang publik dan perbaikan kerusakan lain karena gempa. Akibatnya bagi korban adalah korban melupakan gotong royong, sambatan, kerigan, prayaan atau kosa-kata lain yang maknanya adalah tolong-menolong antar sesama. Cash for work di Aceh sering terpeleset menjadi work for cash. Atau jargon serupa seperti what you pay is what you get, if you pay litle so you get monkey.
Sebaiknya temuan-temuan kecil ini dapat menjadi hikmah bagi kita untuk me-recovery gempa Jogja. Selain faktor produksi tanah yang tidak hilang, kami juga menemukan kelembagaan sosial di beberapa desa yang tidak ikut musnah. Kampung-kampung di Sleman mengirim nasi bungkus untuk warga Bantul yang lebih parah terkena gempa. Warga pengungsi Gunung Merapi menyumbang bambu-bambu siap rangkai (knock-down) untuk rangka tenda bagi warga Klaten. Kelompok kandang di Dermojurang menembus sistem birokrasi yang berbelit-belit untuk memperoleh logistik. Kelompok Tepat Maju di Jetis menembus birokrasi kecamatan untuk memperlancar laju penyaluran logistik.
Kelembagaan-kelambagaan di tingkat lokal ini bisa pula hancur karena penumpukan dan kelangkaan bantuan logistik. Perjalanan kami mengantar logistik ke Jetis dan Srunggo memaksa kami dicegat oleh warga yang menggunakan bahasa kekerasan untuk meminta logistik. Atau cobalah membawa logistik menuju Bantul, Anda akan diteriaki oleh pencegat logistik di sekitar perbatasan kota jogja dan bantul. Mereka juga mengalami rumah runtuh tapi sangat sedikit memperoleh bantuan karena bantuan langsung menuju Bantul. Pencegatan logistik oleh warga juga terjadi di Klaten. Para pencegat logistik ini bukan preman dan bukan pemalak, tapi mereka adalah korban yang sama sekali belum memperoleh logistik sementara di tempat lain logistik menumpuk.
Sayang bila pasca gempa kita tidak bisa lagi menemukan kearifan yang dimiliki oleh salah seorang warga dusun Biro, Seloharjo. Rencananya beliau akan menikahkan anaknya minggu ini, sehingga saat gempa hari sabtu lalu, dirumahnya sudah terkumpul bahan-bahan makanan untuk resepsi pernikahan. Setelah gempa terjadi ketika tetangganya kelaparan, dengan ikhlas dibaginya seluruh persediaan makanan yang dimilikinya. Meski anaknya harus batal menikah.
Rinto Andriono
Pekerja di Perhimpunan IDEA
Fellow Ashoka
Kordinator Loby dan Advokasi
Solidaritas untuk Advokasi dan Rekonstruksi Korban Bencana
(SUARA Korban Bencana)
vale, demi gotong royong.
el rony, salut kepada warga pengungsi merapi, seloharjo dan warga lain yang berhati besar. Kalian semua: LUAR BIASA!
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 2nd, 2006 at 10:45 am
*terenyuh…*
June 2nd, 2006 at 11:09 am
Kearifan lokal!
ah, mudah sekali terlupakan itu pakde.
Untung ada sampeyan2 ini yang selalu menjaganya
June 2nd, 2006 at 11:42 am
*berkaca-kaca*
hal lain yang bikin aku sangat mencintai jogja
June 2nd, 2006 at 1:23 pm
** speechless **
June 2nd, 2006 at 1:42 pm
hanya orang susah yang dapat merasakan penderitaan sesamanya ncen …
June 2nd, 2006 at 2:02 pm
ya ya.. cukup, 2 menit lagi dan air mataku juga akan menetes, sial! kenapa aku jadi sensitip ginih!
June 2nd, 2006 at 6:57 pm
jowo style kang
June 3rd, 2006 at 1:41 am
kadang…apa yang kita lihat dari jauh….bisa berbeda dari apa yang kita lihat dari dekat. Banyak orang yang menganggap orang kampung di Jogja bodoh karena tidak mau mengungsi lebih jauh. Padahal, selain mereka tidak mau meninggalkan ternak dan sawahnya, mereka juga lebih mementingkan kebersamaan dan kearifan lokal daripada sekedar lembaran kertas yang bernama uang.
June 3rd, 2006 at 11:00 am
hemm
kearifan tradisional..emang selalu di lupakan..padahal ini yang bikin jogja itu jadi kuat..bahkan mungkin indonesia..
June 3rd, 2006 at 3:26 pm
Jadi maksud kamu intinya kalau gagal menikah akan membuat orang memiliki kearifan? (*alah salah fokus) hahahaha…
Konsep Cash for work sangat mendidik mental kita sedikit malas, malas, malas, dan selalu menyalahkan orang lain atas kemiskinan diri sendiri. Ora nyambut gawe kok yo njaluk sugih gemah ripah loh jinawi… OPO THO YO!! PIYE’EEEE!!
Untuk saudara2x di Yk, bangkit dan bekerjalah taruh kardus-kardus pak ogahmu ambil cangkul dan mulailah bercucooooooo……yuuuuuuuu….
June 3rd, 2006 at 11:18 pm
Yang tak bisa hancur oleh gempa adalah kearifan warga Jogja. Bukan begitu, mas?
June 5th, 2006 at 7:27 am
“wisata” bencana di Bantul … hiks …
butul2 …
June 5th, 2006 at 12:57 pm
hihihi iya… kalo perlu nyumbang tu beras aja,,, wong isih iso nggopek kok,,, bantul tanah yg subur
June 6th, 2006 at 1:34 am
jogjaaaahhh, aku sayang kamuuhhhhhh :*
June 6th, 2006 at 2:03 am
[…] June 6th, 2006 Baru hari ini mungkin, saya tahu kenapa saya jatuh cinta dengan jogja. Today, maybe I just found out the reason why I love Jogja so much […]
June 6th, 2006 at 9:49 am
setuju sekali, karena kearifan lokal bisa membantu mereka untuk survive pasca disaster, dan gaak bisa semua dibantu dengan metode sama seperti cash for work ini, *sedih*, betapa aku cinta banget ma jogja
June 6th, 2006 at 8:46 pm
tradisi luhur yang terkubur, moga² tetap terjaga & tak tergilas kuasa masa
June 7th, 2006 at 12:39 pm
Oh ya katanya Pasar Bantul sudah buka lagi, ya.
June 7th, 2006 at 4:27 pm
* sepitcles *
June 8th, 2006 at 12:33 pm
salut selalu untuk warga jogja..
bring back the real jogja to the world
June 9th, 2006 at 10:27 am
Attn : SUARA.
Gotong-royong adalah kepribadian
Uang adalah realitas
Kalau anda percaya bahwa orang jogja kuat ke pribadian nya … anda gak perlu kuatir bahwa uang akan mengikis habis semangat gotong royong mereka.
Coba bayangkan kondisi (fiktif) ini :
Sebuah perkampungan yang isinya bakul bakso , bakul jamu , tukang becak …. kena gempa
Semua rumah hancur, dan karena biasanya rombong bakso parkir di emperan rumah .. maka semua rombong dan alat produksi hancur tertindih tembok.
Mereka bergotong royong saling membangun kembali rumah rumah mereka.
Rumah selesai dibangun , lingkungan kembali asri … nah … mau apa lagi ?
Bagaimana mreka bekerja ?
Darimana duit beli rombong dan alat kerja lain ?
Anda mau bagi bagi duit ??
Coba pilih, mana yang lebih manusiawi :
a. Anda di kasih duit karena anda jatuh kere (akibat gempa) ? atau
b. Anda di kasih duit karena anda bersedia meluangkan waktu dan tenaga ikut membangun rumah tetangga dan lingkungan ??
Salam
-bino-
June 16th, 2006 at 9:26 am
yup… dampaknya memang ‘mengerikan’… sekarang banyak warga yang hanya mengandalkan bantuan, khususnya yg dalam bentuk uang… mereka lupa masih ada yang bisa dikerjakan di sawah mereka yang tinggal panen (ditempat saya hanya sedikit warga yang sudah mulai pergi mengurus sawahnya lg)… selain itu mereka yang bekerja sebagai ‘buruh bangunan’ sebenarnya juga masih ada proyek yang dikerjakan untuk memperoleh uang, tp semuanya itu tidak dilakukan… banyak yang masih sibuk dengan rumah mereka yang hancur ataupun menunggu bantuan uang lauk pauk dll yg justru sering menyebabkan masalah…
June 21st, 2006 at 2:28 pm
Biasanipun kearifan meniko kantun kagunganipun piyayi sepuh, lan ugi poro kaneman ingkang nggadahi kepinteran batin…narimo ing pandum. Ananging ugi kathah kaneman inkang sampun kecalan watak puniko, amargi lampahipun jaman…PRAMILO SUMONGGO PORO KAWULO MUDO SAMIO ANDEDONGO…MUGIO PANGERAN TANSAH MARINGI KANUGRAHAN DUMATENG KITO SEDOYO…….Is it correct????
August 20th, 2008 at 9:29 am
kenangan lama hadir lagi dalam memory. gempa jogja, membawa sejuta hikmah dan kenangan tersendiri bagiku yang kebetulan berada di sana saat itu. Jadi kangen Jogja nich…..