
Yogyakarta.Sabtu, 27 Mei 2006, Pukul 05:49 WIB saya beserta istri masih tidur setelah semalam melembur pekerjaan yang sempat tertunda karena urusan rumah sakit. Kami terbangun saat itu karena rumah tergoncang hebat. Pintu rumah yang selalu terkunci, berhasil menciptakan kepanikan baru, saya kesulitan memasukkan anak kunci ke lobang kunci karena goyangan yang luar biasa! Setelah keluar dari rumah, kami dapati genteng rumah terlontar hingga sekitar 3 meter.
Warga sekitar rumah kami, Mayangan-Trihanggo-Sleman, juga berlarian keluar rumah. Gempa berlangsung hanya beberapa menit saja, dan lima belas menit kemudian kami mendapat kabar, tetangga kami masuk rumah sakit karena kepalanya tertimpa genteng rumahnya.
Isu Tsunami
Pukul 07:30 WIB kami putuskan untuk menengok tempat kerja istri saya, Resistbook. Kami dapati kondisi kantor yang merupakan bangunan tua, beberapa sudutnya mulai rontok. Buku-buku di gudang juga berjatuhan. Sudah ada lima anak Resist di sana. Saat berbincang, tiba-tiba dari masjid kampung Kutu Dukuh (Jl. Magelang Km 5 Gg Bima) terdengar pengumuman bahwa ada tsunami. Jalan Magelang sudah penuh dengan motor dan mobil yang terburu-buru ke utara, dengan lampu menyala dan sirine/bel meraung-raung diselingi teriakan “banjir! banjir!”.
Saya dan istri segera mengambil motor. Tujuan kami adalah rumah saudara istri saya, tante Is, di daerah Duwet dekat kantor USC Satunama. Namun ternyata rumah itu juga sudah ditinggalkan oleh Tante Is, dan kami menemukan Tante Is sedang berjalan ke arah utara sambil mengajak anaknya. Mukanya terlihat panik, namun beliau meyakinkan kami bahwa sedang menunggu Om Yanto (suaminya). Kamipun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami jelas: Kepolisian! Dalam bayangan kami, hanya polisi yang memiliki alat komunikasi yang bisa diharapkan. Sekedar informasi, semenjak pagi hari setelah gempa, jalur komunikasi macet total. Hanya bisa sms dengan delay yang tidak bisa diperkirakan. Hal ini menjadi semakin parah ketika isu tsunami naik.
Sampai di Pos Polisi Denggung, kami sempatkan bertanya kepada petugas polisi yang berjaga di posko. Jawaban yang kami dapatkan justru memancing kepanikan,”kabar dari Polres Bantul masih belum bisa kami dapatkan. Tapi bapak segera ke ketinggian saja pak, silakan ke utara, info yang kami dapat air sudah naik ini”. Saya kaget dengan jawaban seperti ini. Akhirnya saya memang ke utara, menujur Kantor Polres Sleman.
Jalanan penuh, banyak truk dengan penumpang penuh sesak, bahkan mobil kecil macam ceria-pun diisi penumpang dengan jumlah melebihi kuota hingga sesak. Sepanjang jalan yang kami lihat wajah-wajah bingung. Ketika saya mengecek hp untuk mengontak rumah di Bantul, seorang perempuan bahkan bilang,”mas, bisa? mbok saya pinjam, rumah saya gimana ini??” sambil menangis. Saya bilang,”nggak bisa mbak, ini saya juga sedang mencoba mengontak rumah saya di Bantul, maaf”. Akhirnya saya tidak berhenti-berhenti lagi, saya putuskan harus segera mencapai kantor kepolisian resort Sleman segera.
Sampai di kepolisian ternyata halamannya sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berpikiran sama dengan saya. Dan saya segera mencari orang dengan “tanda” di dadanya, bagi saya orang yang berpangkat di sini mestinya infonya lebih “tidak ngaco”. Dan akhirnya sekitar pukul 08:30 WIB kami dapat informasi bahwa tsunami hanyalah isu. Saya sendiri sudah cukup yakin akan hal ini, yang saya butuhkan adalah info desa di Bantul, dan ternyata informasinya adalah hampir semua rumah di Bantul rusak. Saya langsung teringat rumah. Ya sudah, kami kembali ke kantor Resist saja dulu, mengingat kemungkinan anak-anak panik dan meninggalkan kantor dalam kondisi terbuka. Sampai saat menuliskan berita ini, saya masih belum tahu apakah ada yang memanfaatkan kepanikan kemarin untuk keuntungan pribadi.
Sampai di Resist, gempa ketiga terjadi lagi. Listrik menyala, tapi televisi hanya berisi stasiun-stasiun TV jelek (TVRI, Indosiar dan SCTV), jadi hanya memperlihatkan sinetron! Sungguh stasiun TV yang tidak punya nilai jurnalisme sama sekali! Dan akhirnya kami beralih ke radio, stasiun radio SONORA FM dan RRI tampaknya yang paling bisa diandalkan. Stasiun lain, ada yang mati (rusak), ada yang lebih suka lagu-lagu! Saat itu rekan Eko Juniarto menyampaikan sms bahwa USGS mencatat penyebabnya adalah gempa tektonik berkekuatan 6,2 skala Richter.
Oh ya sepanjang peristiwa, selain mencoba mengontak teman dan keluarga di Yogya, saya juga mengontak teman luar dengan harapan infonya segera menyebar sehingga bantuan bisa cepat datang. Saya mengontak Endhoot, Priyadi dan Pakerte, teman saudara yang saya kenal melalui ID-GMAIL. Saya juga berusaha mengontak Idban, saudara terdekat saya di kampung tersebut, tapi selalu gagal.
Perjalanan Ke Bantul
Kengerian Terpantul
Pukul 10:30 WIB saya antar istri saya ke rumah mertua di daerah Kadisoka, Purwomartani, Sleman, Yogyakarta. Mertua saya beserta beberapa tetangga sedang “piknik” di sawah, mengingat kemungkinan gempa susulan (yang memang terjadi). Hampir semua orang “berkemah” saat itu. Apalagi di belakang rumah mertua saya, sebuah rumah hancur berantakan. Rumah tersebut terbuat dari batako.
Pukul 12:13 WIB saya pamit kepada kedua mertua, orang tua baru saya, untuk bertolak ke selatan. Mertua saya juga berusaha mengontak rumah Bantul, tapi memang jalur komunikasi ke sana macet total. Saya mengarah ke selatan, mengambil rute memutar melalui Ring Road. Sepanjang jalan saya temui orang-orang di luar rumah sambil memandang kosong atap rumahnya yang runtuh. Belum ada yang berani memperbaiki genteng, karena gempa masih terus terjadi, walaupun kecil sekali.
Sampai di daerah Kweni, sebelah selatan perempatan Dongkelan, saya temui jalanan retak. Jalan Yogya-Bantul mulai ruas ini ambles sedalam 5cm. Rumah di sekelilingnya juga hancur, rumah bata maupun batako. Saya langsung terbayang Jembatan Winongo, benar saja, jembatan penghubung Yogya-Bantul ini juga ambles 10cm di kedua ujungnya. Dengan was-was saya lewati jembatan ini. Sepanjang jalan pemandangan sama saja, rumah roboh. Saya semakin memacu motor saya. Walaupun, entah bagaimana, dalam hati saya tumbuh keyakinan bahwa rumah saya baik-baik saja.
Sampai di rumah, Tegallayang-Caturharjo-Pandak-Bantul pukul 13:25 WIB. Dan memang rumah saya utuh, bahkan –alhamdulillah– tidak ada yang retak. Kedua orang tua saya selamat. Adik saya sedang menuju ke Pakem untuk menjemput anaknya. Di rumah saya sudah ada kakek saya yang diungsikan oleh tante. Ayah saya sedang di rumah tetangga depan waktu itu, ternyata kakak dari tetangga saya itu luka parah di bagian kepala karena tertimpa rumahnya yang runtuh. Untung sekeluarga selamat.
Pukul 15:30 WIB saya menuju ke rumah kakek saya di daerah Murtigading, Sanden. Rumah kakek saya ternyata sebagian rubuh. Kami semua memaksa kakek untuk tinggal di rumah saya saja, tetapi kakek saya tetap bersikukuh. Bagaimanapun beliau merasa bertanggung jawab atas profesinya sebagai Kaum (penghulu kampung).
Pukul 17:00 WIB saya dan ibu saya meninggalkan rumah Ngentak (nama dusun tempat kakek saya tinggal) dengan hati galau. Saya membawa mobil kakak saya dengan harpan bisa membawa barang-barang kakek untuk bekal “mengungsi”, namun ternyata kakek tetap tidak mau. Kami terpaksa mengalah.
Beratap Langit, Berdinding Hujan
Malam tadi, serentak seluruh warga Bantul menginap di bawah naungan langit. Beberapa warga beruntung mendapatkan tenda, namun sebagian besar masih tidak kebagian tenda. Juga logistik. Kampung saya yang sebagian besar rumahnya selamat, tidak mengalami kesulitan logistik. Namun tetangga kampung kondisinya memprihatinkan. Satu desa di Bambanglipuro, sekitar 7 km dari rumah saya, 100% rata dengan tanah. Sampai pukul 00:00 WIB warga di sana masih banyak yang tidur di lapangan maupun di pinggir jalan dan sawah. Hal ini saya tahu dari pantauan saya di gelombang RRI Pro-2 Yogya.
Hujan turun rintik-rintik. Kami berpindah ke emper-emper rumah. Saya sendiri beserta ayah dan ibu memang dari awal sudah tiduran di emper rumah. Terbayang tetangga desa tadi, bagaimana mereka bertahan? Di sana juga banyak balita dan lansia. Sungguh memprihatinkan.
Balik ke Yogya
Kondisi listrik padam, dan supply baterai hp yang super minim semalam telah membuat komunikasi terputus total. Perkembangan hanya bisa dipantau melalui radio. Beberapa orang berjalan ke arah kota untuk mencapai wartel terdekat, mereka berusaha menyuarakan kegelisahan warga melalui radio RRI maupun SONORA.
SMS terakhir saya kepada Endhoot adalah meminta dia untuk menyuarakan hal ini ke teman-teman di seantero Indonesia. Bantul butuh bantuan. Korban jiwa hingga tadi malam untuk seluruh Jogja berkisar 1.900 jiwa. Dan tadi pagi saya mendapat kabar bahwa korban jiwa di Bantul saja sudah mencapai 2000 jiwa. Data masih belum valid tentunya.
Perjalanan ke Jogja saya putuskan melalui kota, tidak lagi menyisir Ring road. Maka sekali lagi saya melihat tugu depan kecamatan Pandak yang patah dan berguling ke jalanan. Juga rumah-rumah roboh. Memasuki kota Bantul, jalanan ditutup. Ternyata ruas utama jalan Bantul dipakai sebagai rumah sakit umum mendadak. Korban yang luar biasa banyaknya memenuhi jalan dan lapangan Dwiwindu.
Saya segera memacu ke Jogja, pemandangan mobil tertimbun rumah, gotong royong warga menyingkirkan reruntuhan, tambah dalamnya amblesan jembatan Winongo, iring-iringan mobil PMI dan lain-lain menuju Bantul, Pojok Beteng yang runtuh, semua saya lewatkan. Sebenarnya ini adalah “obyek” yang menarik secara fotografi, namun hati saya sedang penuh dengan tekad. Pikiran saya hanya satu, menyuarakan hal ini dan mengharap uluran tangan dari seluruh dunia.
Sampai di kantor saya temui ada mas Gandung. Setelah berbagi cerita sebentar, saya putuskan untuk segera mengetik laporan ini. Maka demikian sementara laporan saya. Saya sangat mengharap aliran bantuan baik Tenda, Logistik (terutama makanan dan air bersih), serta alat komunikasi segera datang. Ohya, daerah terparah di Bantul sementara ini yang terpantau oleh saya adalah Bambanglipuro, Banguntapan, Sedikit wilayah Piyungan, Jalur selatan seputar Pantai Pandansimo dan wilayah Sanden. Hari ini warga sudah membuat posko. Status Bantul adalah SIAGA.
vale, demi kemanusiaan.
el rony, menanam harapan.
NB: Polisi sepertinya juga panik. Dalam perjalanan pulang, hampir semua lampu merah mati, dan tidak ada satu polisipun yang mengatur.
NB: saran buat polisi: mohon jembatan Winongo (dan mungkin jembatan lain) dipantau. Aliran mobil yang membawa alat berat, bisa memperparah amblesnya jembatan tersebut.
NB: gambar bisa di klik untuk versi besarnya.
Category: Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
May 28th, 2006 at 10:14 am
Saya prihatin mas, saya bisa merasakan bagaimana repot dan sedihnya…
Bantuan pasti datang, semoga, karena Tuhan tak pernah diam.
NB: yg aku bingung, bagaimana sampeyan posting ini…bukankah listrik dan akses komunikasi di sana sempat berada dalam titik nadir?
May 28th, 2006 at 10:17 am
saya sempatkan ke kantor. kebetulan yogya pusat dan daerah sleman tidak dipadamkan. koneksi internet juga sudah beroperasi, menurut mas gandung sudah online dari kemarin. terimakaih untuk do’anya.
May 28th, 2006 at 12:16 pm
turut berduka cita buat para korban.. semoga bantuan bisa segera disalurkan, entah bagaimana melihat aksesnya begitu. syukurlah kalau rony sekeluarga selamat..
May 28th, 2006 at 2:18 pm
Alhamdulillah, Mas Ron dan keluarga selamat. Turut berdukacita untuk korban lainnya. Sabar ya mas…
May 28th, 2006 at 2:35 pm
Turut berduka Mas. Alhamdulillah Mas dan sekeluarga selamat.
Salut saya, kok ya masih sempet ngeblog to Mas.
May 28th, 2006 at 3:41 pm
syukurlah mas rony selamat. semoga korban yang meninggal di beri tempat di sisiNya dan korban yang selamat di beri ketabahan. dan juga semoga bantuan cepat datang …
May 28th, 2006 at 4:30 pm
turut berduka cita kepada keluarga para korban, semoga diberi kekuatan, ketabahan, dan kesabaran. Semoga arwah para korban diterima disisi 4JJI dan diampuni segala kesalahannya didunia. -aamiinn-
Ma’af blom sempet posting …
-=he509x™=-
May 28th, 2006 at 6:55 pm
[…] baca juga versi teman : 1. LANTIP. 2. ….. […]
May 29th, 2006 at 8:55 am
syukurlah…
May 29th, 2006 at 9:01 am
[…] You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your ownsite. […]
May 29th, 2006 at 9:31 am
Yogyakarta Berduka
Semoga cobaan ini semakin menguatkan keyakinan kita kepada yang Maha Berkehendak, dan semakin meyakinkan keimanan kita kedapa Yang Maha Kuasa,
Nurudin Jauhari dan Istri serta saudara mengucapkan ikut berbela sungkawa atas ujian yang melanda Daerah Ist…
May 29th, 2006 at 9:46 am
Semoga diberikan ketabahan dan juga menguatkan iman kita kepada Nya
May 29th, 2006 at 10:07 am
[…] Rony Lantip […]
May 29th, 2006 at 11:11 am
bro, kalo ada yang gawat2 sms yah.
romah di Janti retak2 kabarnya malah ada korban di Janti. keluarga disana pada ngungsi ke jalan kaliurang km 8. sampe kemaren janti masih mati lampu jadi otomatis pompa air gak jalan
May 29th, 2006 at 11:36 am
*ikut berduka*
May 29th, 2006 at 12:51 pm
[…] Alhamdulillah rumah (daerah Janti) yang ada disana cuma mengalami retak - retak dan tidak ada sanak saudara yang mengalami cidera karena kebetulan mereka berada diluar rumah, keberuntungan gw ini nggak diikuti oleh temen gw Eko Juniarto yang kehilangan sepupunya dan anaknya (sabar ya ko). Waktu itu sulit sekali mendapat kabar dari sana, sms saja delay sampai 30-40 menit bahkan dalam hitungan jam. Rony waktu itu mengabarkan kalau beliau sedang mencari informasi mengenai tsunami. […]
May 29th, 2006 at 12:53 pm
Nderek bela sungkawa atas tragedi Gempa Jogja
Moga Tuhan senantiasa menyertai kita semua….
May 29th, 2006 at 1:25 pm
seng sabar mas
May 29th, 2006 at 1:43 pm
sabar ya, ron…
bantuan sedang dalam perjalanan. pasti akan datang.
May 29th, 2006 at 3:34 pm
[…] Mas Lantip : http://rony.dgworks.net/ […]
May 29th, 2006 at 3:53 pm
seng sabar ron
May 29th, 2006 at 5:14 pm
tabah ya, Ron, kita di sini sedang menggalang dana untuk disalurkan ke sana.
May 29th, 2006 at 5:40 pm
Tabah dan sabar ya Ron..
May 29th, 2006 at 6:09 pm
serem juga baca ceritanya
May 29th, 2006 at 7:47 pm
duh sing sabar yo….
May 30th, 2006 at 1:30 pm
Sedih bacanya. Tabah ya.
June 3rd, 2006 at 10:56 am
[…] http://rony.dgworks.net/2006/05/28/jogja-berduka-peristiwa-ke-peristiwa/ […]
May 12th, 2007 at 11:40 pm
Jangan menyerah jogja …………..bangun dan bangkitlah !!!
janganlah engkau merasa kecil dan pendek …..
hanya kalian ,jogjalah yang bisa bangun dan bangkit kembali!
Bencana hanyalah ujian yang Tuhan berikan……
Jangan lah engkau menyerah dengan apa yang Tuhan berikan?
1 Tahun sudah kalian Jogja berjuang untuk tumbuh kembali sebagai pulau BaLi-nya Jawa,Berjuanglah dan bangkitlah
Janganlah engkau bersedih dan menangis Jogja…..!
Berjuanglah dan Bangkit - Lah JOGJAKU/BALIKU…….!
December 15th, 2007 at 5:38 pm
love jogja n kabeh wae…
sing penting slamet, lan waras, rejeki lancar…
salam tuk masyarakat jogja semua, thanks mas…