
Sudah berbilang bulan tahun, slogan Jogja Never Ending Asia bergaung dimana-mana. Dari sejak semula digaungkan, April 2001, slogan ini dimaksudkan untuk menjaring wisatawan luar negeri agar berkunjung ke wilayah ini.
Banyak kalangan, terutama dari kalangan pebisnis, melihat slogan ini keluar sebagai reaksi atas berkembangnya isu otonomi pada waktu itu. Mengingat Yogyakarta termasuk daerah yang minim sumber daya alam (terutama untuk kebutuhan sektor tambang), maka pilihan paling realistis adalah menjual asset budayanya.
Semua orang tahu bahwa di negeri Indonesia, satu-satunya propins, yang masih kuat pengaruhnya kerajaannya adalah Yogyakarta. Dengan masih berdirinya simbol-simbol kekuasaan jaman keraton, juga masih terjaganya adat istiadat baik di seputar keraton maupun di masyarakat, maka hal ini bisa dikemas untuk dijadikan tulang punggung bagi jalannya pemerintahan di wilayah ini.
Bagaimanakah Perkembangannya?
Dalam dua tahun terakhir, terlepas dari banyaknya isu/informasi kerusuhan di beberapa tempat di Indonesia, juga semakin kuatnya isu terorisme, saya secara subyektif melihat bahwa efek dari penerapan slogan tersebut tidaklah signifikan.
Dugaan saya ini berkembang dari kenyataan adanya kegelisahan dari dinas pariwisata DIY. Kenyataannya, gembar-gembor Yogyakarta sebagai tujuan wisata ke-dua setelah Bali telah bergeser. Hal ini terungkap dalam travel dialog yang dilangsungkan oleh Dinas Pariwisata kota Yogyakarta, bersama dengan dinas pariwisata tingkat II se DIY di luar wilayah DIY, tahun 2005.
Apapun pokok permasalahan penyebab hilangnya predikat sebagai kota wisata ke-dua tersebut, bukanlah hal yang akan saya bahas. Namun hal ini hanya menunjukkan bahwa ada kegagalan dari strategi yang disusun oleh tim penggagas “Jogja Never Ending Asia”.
Jogja Never Ending Asia, satu slogan yang diangkat untuk menanamkan citra Yogya di mata orang luar, jelas telah terjawab dengan kegagalan. Saya sendiri melihat kalimat “Jogja Never Ending Asia” tidak menggambarkan apapun.
Bagi saya, kata “Jogja Never Ending Asia”, sebagaimana judul, memberi makna hampa berupa kalimat “Jogja, Asia yang tak kunjung selesai”. Tak kunjung selesai membangun, tak kunjung selesai mengatur strategi, tak kunjung selesai mengurus CDMA, tak kunjung selesai membangun kampung IT, kota yang selalu berubah tanpa tujuan jelas. Secara semiotis-psikologis, saya menyalahkan kata tersebut sebagai penyebab. Citra Malioboro yang tidak pernah tidur, sama sekali tidak tergambar. Pun kalau tergambar, tidak menunjukkan daya tarik sama sekali.
Jogja, Lifestyle of Asia
Mengapa tidak kalimat seperti itu yang muncul? Atau kalimat lain. Yang menggambarkan kekuatan budaya. Singapura, sebuah negara tanpa akar, negara transit, dengan bangga menyampaikan diri sebagai The Trully Asia. Siapa yang setuju bahwa Asia adalah tempat transit? Tempat berdagang? Tidak ada bukan?
Inti dari promosi seharusnya menggambarkan citra yang pas dan menarik. Singapura telah berhasil dengan Trully Asia-nya. Demikian juga dengan Malaysia. Didukung dengan perangkat promosi yang handal.
Jogja, yang dulu dikenal sebagai kota pelajar, sebenarnya juga merupakan satu kunci. Mengapa tidak menonjolkan Yogya sebagai pusat belajar Asia? Bukankah jika banyak pelajar dari luar daerah, baik luar negeri maupun dalam negeri, masuk ke wilayah ini sama dengan penambahan PAD?
Belum lagi jika dilihat dari sudut pandang bahasa. Idiom “never ending” memuat dua suku kata negatif. Never berasal dari kata no ever. Bagaimana Anda mempromosikan diri Anda dengan kata “tidak” ? Lantas ending, tamat, selesai, apa yang menarik dari tamat? Orang bukan mau berhenti di Yogya, Yogya bukanlah terminal akhir dari segalanya.
Analisa dangkal ini tidak akan saya selesaikan dengan kesimpulan. Saya hanya ingin menggelitik dinas pariwisata Yogyakarta untuk lebih cerdas. Cerdas adalah satu ciri Yogyakarta, generasi muda-nya telah muncul dengan produk DAGADU (walaupun di dalamnya tidak melulu diisi oleh warga Yogya asli). Tidakkah dinas pariwisata Yogyakarta mampu memunculkan produk yang lebih cerdas? Minimal cerdas dalam memilih konsultan, sehingga uang bermilyar-milyar rupiah tidak terbuang percuma.
vale, demi pariwisata
el rony, memandang sesak pada kalimat bodoh “never ending”.
nb: jikalau uang untuk konsultan itu dipakai untuk membangun perpustakaan, tentu akan terbentuk satu perpustakaan super lengkap. Dan akan menarik “wisatawan” lebih banyak. Juga menaikkan citra sebagai kota cerdas.
nb: jikalau uang untuk konsultan itu dipakai untuk membangun sekolah gratis, atau menyekolahkan beberapa putra daerah sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintahan Meiji masa lalu, tentu kota ini akan melahirkan potensi baru sebagai kekuatan dari selatan.
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
May 22nd, 2006 at 4:10 pm
jadi, bagaimana cara menyelesaikannya?
May 22nd, 2006 at 4:11 pm
itu yang di jalan raya magelang km 5 harusnya dijadiin objek wisata kali ya *kabuuur*
May 22nd, 2006 at 4:14 pm
mm, tapi sekarang katanya di yogya dah da 21 yak mas?hehehhe
paling ga satu penantian terselesaikan =p
May 22nd, 2006 at 4:23 pm
masalahnya itu slogan di dukung ama kenyataan ga. malaysia bisa ngaku2x truly asia karena ada budaya india, malay + chinese
kalo jogja claim never ending asia itu konkritnya gimana? abstrak gitu bow hueheuheuheu
May 22nd, 2006 at 6:12 pm
budaya sepeda, mungkin udah (nyaris) ending di Jogja
May 22nd, 2006 at 7:09 pm
Tapi Jogya sekarang ngetop kok, gara² merapi
May 22nd, 2006 at 7:43 pm
Never say never!
Jangan bilang jangan!
May 22nd, 2006 at 9:25 pm
jogja sering jadi tempat darmawisata putih-merah (baju anak sd) … coba deh kalo bulan liburan, sekolah-sekolah paling seneng bikin darmawisata ke jogja
May 23rd, 2006 at 1:15 am
ron, yang trully asia itu bukannya malessiah?
aku ingat banget, si michelle yeoh yang ngomong :
“melesie, de truli esie”
kalo singapur mah, apa ya? gag ada kali ya, saking keringnya.
May 23rd, 2006 at 8:46 am
yang pertama mencetuskan “never-ending” ini sepertinya penggemar berat cerita peterpan ya.
May 23rd, 2006 at 9:44 am
#johan: iya, makanya kenapa tidak => jogja, school of asia. gitu lho. hehe
#jipeng: yup, malaysia. tapi singapore juga kurang lebih mirip itu. aku lupa. hehe
#jaim: tema tersebut digodok oleh satu tim konsultan. salah satu anggota (atau pimpinan?) dari konsultan tersebut adalah pak Hermawan Kertajaya.
May 24th, 2006 at 9:57 am
seluruh komponen masyarakat Jogja harus musyawarah untuk menentukan kebijakan masa depan kotanya…
May 24th, 2006 at 2:46 pm
Apa yang bisa dijual dari pariwisata Jogja?
…coba deh lihat http://www.sarnow.com/sardinia/ minimal sebagai acuan konsep “menjual”…
btw, INDONESIA… MAKIN KAGAK JELAS AJA!
May 24th, 2006 at 3:57 pm
so..kumaha?
*dengerin Kla-Yogjakarta*
July 6th, 2006 at 11:19 am
Semua pihak harus bekerja sama yang baik, dan betul2 serius, apapun pekerjaannya. Jika semua belum menyadari tentang janggung jawabnya dalam tanda petik yang dibebaninya maka saya rasa semua persoalan tidak berhasil karena sekecil apapun tugasnya pasti ada masalah atau hambatan. Oleh karena itu, jangan kita selalu menyakahi orang lain, mari kita sama2 melaksanakan tugas kita masing2 dengan serius dan tekun. Ingat “serius dan tekun”, jangan melakukan sesuatu hanya karena seseorang namun lakukanlah sesuatu dengan hati nuranimu dan tanggung jawabmu, semoga berhasil.
November 21st, 2006 at 1:53 pm
salam dari Kami Rinjani Trekking Club,
kamu merupakan perkumpulan anak muda pecinta alam, specialis kamiad: Gunung Rinjani, Gunung agung, dll.
visit kami di www.info2lombok.com.
Thnk, Ronie