Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Kekerasan

Print This Post   Email This Post

Bush, USA, dalam pidato kenegaraannya menggunakan satu idiom ala koboi. Waktu itu dia bilang tentang,”an eye for an eye“. Kemudian berkembanglah satu idiom di kalangan pers barat menyadur kata itu menjadi “an eye for an eye, in the end, the world will be blind“. Mata dibalas mata, akhirnya dunia menjadi buta.

Kekerasan sering kita jumpai, yang kita lihat secara telanjang ternyata hanyalah satu bagian dari kekerasan itu sendiri. Galtung memisahkan menjadi tiga bentuk kekerasan. Kekerasan langsung, kekerasan struktural dan kekerasan kultural. Pembedaan akan tiga hal ini digambarkan seperti gempa. Gempa, retakan bumi dan pergeseran lempeng. Gempa adalah peristiwa, sesuatu yang terjadi langsung. Retakan bumi adalah proses, dan pergerakan adalah sesuatu yang permanen (kultural).

Aku ingat beberapa tahun lalu, bersama beberapa teman, kami membuat sebuah kaos. Kaos itu bergambar swastika di bagian depan, besar, lengkap dengan slogan-slogan berbahasa Jerman. Lantas di bagian punggung kami beri tulisan yang tak kalah besarnya,”BAHAYA”.

Namun masih saja kami mendapat protes :) Ada satu orang Kanada waktu itu yang memprotes, dia bilang bahwa Nazi adalah tokoh terburuk sepanjang jaman, kaos kami seakan memujanya. Dia tidak rela kematian sekian Yahudi akibat kekejaman Nazi kami lecehkan (kurang lebih demikian pemahaman dia) dengan cara seperti itu. Kamipun sempat terbata-bata menjelaskan bahwa maksud kaos itu adalah memberitahukan orang-orang bahwa hal itu berbahaya. Tapi ujungnya sama saja, kami harus menarik semua produksi kaos tersebut.

Kini, sudah sebulan kiranya boikot ekonomi berlaku di tanah Palestina. Bangsa Yahudi yang meyakini tanah tersebut sebagai tanah terjanji (Yisraeli) dan hanya berlaku bagi bangsanya, menolak daerah barat dipakai oleh orang-orang Philistin. Dengan bantuan Amerika Serikat, daerah itu kini harus menghadapi kesulitan. Pasokan dari manapun di dunia dihambat. Ini adalah kekerasan kawan. Kekerasan ini masuk dalam wilayah kekerasan struktural. Akibat akhir dari kekerasan ini jauh lebih mengerikan dibanding dengan genocide. Para balita dan lansia semakin pendek kesempatan hidupnya, dan akhirnya warga menyerahkan kedaulatannya. Boikot adalah kekerasan paling berbahaya.

Lantas Ahmadinejad, Presiden Iran, berkeliling dunia. Dia menerangkan tentang teknologi nuklir yang dimilikinya. Dengan pola hidup sederhana, dengan sandang yang jauh dari mewah, dengan gaya kuliah (maklum dia seorang dosen) yang bersahaja dan memberi perhatian pada setiap pertanyaan, dia mencoba menentang negara adikuasa.

Pertanyaan simpel yang diajukannya,”jikalau energi nuklir adalah berbahaya, mengapa negara anda memakainya? jikalau energi nuklir itu baik, kenapa hanya negara anda yang boleh memilikinya?” Satu usikan atas kekerasan kultural yang didengungkan oleh kapitalis. Mengapa kekerasan kultural? Karena memang dengan tatacara hegemoni kultural-lah negara adikuasa mencekoki setiap orang tentang berbahayanya energi nuklir, sementara dia sendiri memakainya. Sekedar informasi, Perancis memakai energi nuklir untuk pembangkit tenaga listriknya.

Jadi kawan, kekerasan ini masih berlangsung. Akankah kita diam? Tentu saja tidak. Namun melawan kekerasan bukanlah dengan kekerasan. Pukulan polisi, kurungan penjara, cacimaki, bukanlah ukuran bagi tindakan non-kekerasan kita. Bahkan Anda bisa mendapatkan itu semua ketika Anda melakukan kekerasan.

Mahatma Gandhi mengajarkan padaku, boikot produk Inggris (waktu itu), sambil menghimpun iuran untuk menyokong pedagang, karena memang pedagang yang paling dirugikan dengan gerakan boikot ini. Nah, apakah kita siap?

Vale, untuk non-kekerasan.

el rony, nir kekerasan, sering dan mungkin bisa dipastikan tidak menjanjikan kekuasaan.

nb: negara ini dibangun dengan kekerasan. kekerasan atas nama PKI, melibatkan kaum agama. Kini negara ini mengerasi kaum muslim, asal berjenggot dicurigai, atas nama terorisme.

nb: kekerasan dalam tiga bentuknya, merupakan segitiga yang tak jelas ujung pangkalnya. Demikian lingkar kekerasan menurut Johan Galtung.

Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

7 Responses to “Kekerasan”

  1. lafea Says:

    keras nian ni tulisan… :p

  2. mpokb Says:

    pan biar bush ada alasan buat invasi lagi pan.. lho, pan-nya kok dua kali yak?

  3. Hedi Says:

    padahal orang-orang bijak bilang: “kekerasan justru membuat pihak yang bertikai babak belur”, tapi kok banyak yg suka ya?

  4. johan bukan galtung .. hehehe Says:

    memutus lingkar kekerasan (spiral of violence - istilahnya helder camara) memang harus radikal (bukan radikal blogger :))

    katanya jangan cuma sebatas aktivitas (demo, civil disobidience ) karena nanti terpuruk menjadi aktivisme

    jangan cuma sebatas omongan (kayak saya ini …hehehe) nanti jadi lip service … verbalisme tok!

    Harusnya, kayak gandhi … aktif tanpa kekerasan adalah nafas hidup. Kalau nggak nafas ya berarti mati!

  5. MaNongAn Says:

    KERAS …… tiap pagi bangun tidur saya juga keras tuh *eLuS²*. KEKERASAN … tinggal dilembekkin lagi (rendem di air/minyak tanah) akhirnyakan gak jadi keras *garuk²*. mbuh kah ….. -=he509x™=-

  6. merahitam Says:

    Wah mas…masalahnya banyak juga orang yang suka dikerasi…

  7. asarian Says:

    Rumsfel pun melenggang ke Istana RI. Tanpa ada yang mengusik, kecuali sekumpulan kecil HTI.

    Rendra berkata: perjuangan adalah satunya kata dengan perbuataan. Lalu, siapa yang berjuang sekarang?

    Jelas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Yang lain cukup mengamini, sebab berteriak di siang hari membuat lelah. Cukup menulis di sini di dalam kamar sejuk AC.

Leave a Reply