Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Siaga 1 Mei

Print This Post   Email This Post

Selamat siang saudara! Apakabar? Kali ini saya mau bertanya, maaf jikalau merepotkan, kira-kira menurut sampeyan semua, apa sih kaitan antara merapi dengan kaum pekerja, ataupun dengan pilkada?

Terus terang saya ini bingung. Yang saya tahu, semuanya menjadi menegangkan, paling tidak hingga beberapa waktu lalu, tepatnya sehari-dua hari kemarin.  Merapi dinyatakan mulai menunjukkan aktivitasnya lagi, setelah Jumat kemarin sempat mereda. Tetangga kantor, waktu Sholat Jumat, bilang kepada saya,”itu bukan reda mas? juga belum tentu lelehan merapi tidak ke Jogja. Sekarang itu merapi baru mecucu (mimik bibir ketika menahan muntahan isi mulut, seperti ketika akan meniup lilin). Makanya menggembung di dua sisi, ya toh? Bentar lagi njebluk mas!” Dan saya hanya bisa senyum. Ya mau gimana lagi coba? Senyum toh sedekah.

Lantas pulang-pulang, ya nggak langsung sih, mendapatkan info yang lain lagi. Gara-gara calon yang didukung tidak menang pilkada, warga Tuban ngamuk. Weleh-weleh, mengerikan negeri ini. Piye coba? Dipikirnya kalau calonnya menang, maka jumlah kerugian baik moral maupun material yang dirasakan oleh seluruh penghuni Tuban itu, akan diperjuangkan dan dikembalikan oleh si calon? Maksud saya begini, mbok berakal sehat dulu. Gak setuju itu ada caranya, bukan dengan membabi buta. Ujungnya cuma jadi babi deh, jadi buta (raksasa)!

Lantas ada lagi, desas desus yang tidak desis. Katanya 1 Mei akan ada demo besar-besaran para buruh. Maka orang-orang berseragam hijau loreng pun menggila, eh maksud saya ngumpul di mana-mana. Saya membayangkan di pusat negeri ini pasti lebih ketat lagi penjagaannya, lha wong di ndesa saya saja sampai ada dua mobil hongib je. Eh, tapi kalo polisi gak pake loreng. Tapi mereka bawa senapan mesin, ini lebih mengerikan lagi bukan?

Ya kemudian muncul pertanyaan tadi. Apa sih keterkaitan antara ketiganya? Yang jelas semuanya membikin resah. Tidak adakah yang membikin bahagia di negeri ini? Sementara pengangguran masih meraja lela di mana-mana, tidak ada juga jaminan dari pemerintah atas kelangsungan hidup layak bagi rakyatnya. Akibatnya rakyat mudah tersulut, bencana alam (hal yang lumrah, niscaya terjadi) menjadi musuh, dan bahkan warga yang sudah bekerjapun merasa tidak tenang, tidak nyaman.

Siaga 1 Mei mengingatkan saya, bahwa amandemen UUD ‘45 sudah menghilangkan dua pasal, yaitu pasal 33 dan pasal 34.

Siaga 1 Mei, saat satu nyawa penuh seni, harus kembali.
Siaga 1 Mei, engkau pergi kini, kami kan menyusul nanti
tapi maaf,
Karyamu tak tersusul lebih dari tiga generasi
Selamat Pram, silakan tinggal di surga

vale,

el rony,

*masih koma, belum titik*

Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

3 Responses to “Siaga 1 Mei”

  1. didats Says:

    nanti kalo merapi meledak,
    jangan lupa di jepret ya…

    hehehe

  2. Buruh Says:

    Ngomong apa, sih… kok kedengarannya tidak bikin happy kami, deh *sedih dulu* :(

  3. lafea Says:

    saya pramuka siaga aja… :p

Leave a Reply