Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Komunike #401 - Semiotika Moral

Print This Post   Email This Post

Judul itu terlalu bombastis. Saya tidak sedang berusaha menjelaskan semiotika moral, awalan pendek ini untuk menerangkan bahwa saya sampai pada kalimat di atas dikarenakan oleh sebutan yang disandang teman saya, Priyadi.

Beberapa waktu lalu Priyadi mendapat kesempatan mengisi acara talkshow di salah satu radio, cerita lengkap mengenai hal ini bisa dilihat di situsnya. Di tengah acara nara sumber, atau paling tidak yang sering dijadikan nara sumber, yang biasa kita lihat di koran maupun media lain dipanggil. Dia adalah RS.

Saya tidak akan mengomentari acara tersebut. Yang menggelitik saya adalah sebutan Nara Sumber Tidak Bermoral yang muncul di sana. Dilengkapi dengan screenshoot/tangkapan layar sms yang masuk, disebutkan bahwa sang pengirim keberatan dengan penunjukkan Priyadi sebagai nara sumber. Namun alasan yang digunakan oleh pengirim adalah karena Priyadi, menurut dia, tidak bermoral.

Tema talkshow hari itu bukanlah berkisar moral, tapi tentang blog. Saya tidak melihat kaitan antara moral dengan blog. Menurut Priyadi sendiri topik yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari apakah itu blog, perbedaannya dengan situs web dan bagaimana cara membuat blog. Maka ketika muncul sms yang berbunyi “narsum yang tidak bermoral” membuat tidak jelas ujung pangkalnya.

Ada dua hal yang muncul seketika di otak saya:

  1. Ketidak terkaitan antara topik dengan pilihan kata. Apa kaitan blog dengan moral? Jika dikatakan bahwa isi blog semestinya mengandung moral tertentu, itupun tidak cukup signifikan disampaikan pada forum tersebut. Tema membuat blog, apa itu blog, sangat tepat mengundang praktisi blog. Orang yang membuat blog-lah, yang secara periodik bahkan mengupdate blog-nya, yang layak dijadikan nara sumber. Karena dia memiliki pemahaman dan kemampuan untuk melakukannya, dalam bahasa RS maka dia cukup kompeten. Priyadi, dengan sendirinya, masuk dalam kriteria orang yang pantas untuk mengisi ini. Belum lagi kenyataan bahwa blog Priyadi banyak dikunjungi orang dan sering dijadikan rujukan.
  2. Saya justru melihat sang pengirim sms tersebut hilang akal. Dia sudah tidak bisa memakai kalimat yang tepat. Bagaimanapun terasa bahwa sang pengirim sangat sentimen terhadap Priyadi secara personal. Selama ini yang kita dengar adalah blogger sebagai katarsis, narsis, dan lain sebagainya. Juga dikatakan bahwa blogger tidak bermodal alias norak karena memakai gratisan. Dalam kaitan ini, postingan Priyadi lebih sering berupa analisis. Bahkan analisis dia selalu dilengkapi dengan daftar pustaka. Maka kriteria narsis ataupun katarsis mungkin agak jauh untuk model blog dia. Lantas masalah norak, Priyadi jelas membeli domain priyadi.net dan meng-hostingnya. Jadi dia sama sekali tidak masuk dalam kategori norak.

Kesimpulannya, sang pengirim memiliki dendam pribadi yang mendalam terhadap Priyadi dan sudah kehilangan akal untuk menyampaikan opininya. Sang pengirim dengan sendirinya sudah norak, narsis dan katarsis dengan menyampaikan hal tersebut.

Saya sempat terpikir, mungkin awalnya sms itu berbunyi “.. narsum yang tidak bermoDal..” tapi karena Priyadi termasuk orang yang bermodal (membeli domain sendiri) maka sang pengirim buru-buru mengganti huruf D dengan R. Akibatnya fatal.

Tulisan ini saya buat juga dengan buru-buru. Intinya saya hanya ingin menyampaikan bahwa pola dendam seperti ini sudah semestinya dihilangkan. Sama sekali tidak dewasa. Mengapa sang pengirim tidak meminta debat terbuka di stasiun radio terkait saja sekalian? Dengan demikian kita bisa tahu mana yang kompeten dan mana yang tidak?

Oh ya, saya sangat tahu, Priyadi termasuk orang yang sabar. Sebenarnya sms tersebut sudah termasuk mencemarkan nama baik. Kalau seseorang sudah dilabeli tidak bermoral, maka yang terbayang adalah orang begajulan, urakan, mengganggu orang lain dan bahkan meresahkan. Maka sungguh disayangkan orang yang asal teriak dikarenakan depresinya yang meninggi dibiarkan begitu saja.

Ngomong-ngomong soal depresi, bisa jadi si pengirim sms memang sedang depresi. Renovasi rumahnya sedang berlangsung besar-besaran, mungkin biayanya meledak sehingga butuh pelampiasan? Ya siapa tahu? Toh ada Priyadi yang selalu kalem setiap kali dijadikan bahan pelampiasan.

vale, demi kesabaran.

el rony, siap-siap meng-sms wartawan untuk menghina Priyadi, maklum saya juga sedang agak-agak depresi.:)

Category: Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

13 Responses to “Komunike #401 - Semiotika Moral”

  1. Priyadi Says:

    PERTAMA!™

  2. endhoot Says:

    yah…. kedua deh…. *bersungut2*

  3. fahdi Says:

    KELIMAXXX
    * masih lama *

  4. didats Says:

    kalo kata fahmi,
    narsis, katarsis, buncis…
    hahaha………

    nah, rs mungkin ga nemu buncis…

  5. mbu Says:

    talkshow nya udah lama, kog opini nya baru sekarang mas? tapi asyik juga baca tulisannya.. salam..

  6. sridewa Says:

    Mana moralku?… hei adakah di antara teman2 yang melihat moralku… Moralku di mana ya? Padahal tadi pagi masih ada tuh… duh… moral…
    moraaaaall… kau kemana? :(

    Moralku terselip entah di mana…

  7. loper Says:

    boikot wae .. cek nggak iso di google jeneng e … :D

  8. hericz Says:

    Saya juga penggemar Ransum yang tidak jelas gizinya kok.

  9. arie Says:

    ihihihi
    kowe depresi kenek opo ron
    anu ron nunut tulung deface ne web eroy suryo ae wes hahahakzx

  10. Ben Says:

    sekarang emang lagi tren menyebut orang lain tidak bermoral, bahkan ada yang sambil ngancam-ngancam segala…

  11. MaNongAn Says:

    Sebenarnya disini “Yang Tidak Bermoral” itu siapa sih? Dan landasannya shg menyebut kata tsb kpd seseorang itu apa?
    Shahdan katanya beliau merupakan salah seorang yg “memperjuangkan” hukum, tp kok senak udel’e meng-Hukum seseorang tanpa memberikan bukti² yg kuat.
    Nek mung nyangkem …. Bocah Cilik yoh iso! (kalau asal ngomong, anak kecilpun bisa)

  12. Tak BerModal Says:

    kok gitu sih, Oom? mending kayak saya, ya, Oom, tidak bermodal (meski sedikit norak) dari pada tidak bermoral apalagi tidak beragama *lho malah ngelantur*

  13. mangli Says:

    woah..makin seru..enak juga baca tulisannya Oom..
    makin gayeng aja..

    *mode ‘tembak’ ON

Leave a Reply