Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Militerisme!

Print This Post   Email This Post

Kita sudah sering mendengar istilah ini. Bahkan komik tentang hal inipun sudah beredar di pasaran semenjak lebih dari enam tahun lalu. Lantas apa sebenarnya militerisme ini?

Isme sendiri terjemahan bebasnya adalah paham. Jadi secara ringkas militerisme adalah paham kemiliteran. Sebuah paham membawa ciri-ciri bagi penganutnya. Ciri-ciri dari militerisme ini tercermin dalam attribut yang dikenal dengan sebutan militeristik. Apa sajakah ciri-ciri itu? Mari kita lihat lebih dekat.

  1. Seragam
    Seragam adalah simbol paling mudah untuk menengarai tingkat militeristik dari seseorang atau lembaga. Seragam sendiri diciptakan di kalangan militer untuk meniadakan perbedaan antara masing-masing anggota.
  2. Struktur
    Keberadaan struktur jelas ada di sistem yang militeristik. Sistem komando adalah sistem yang mereka anut. Keberadaan struktur ini, mengakibatkan ada perombakan dari semangat seragam mereka sendiri. Yaitu dengan menempelkan sesuatu yang membuat seragam mereka tidak seragam lagi, disebut sebagai pangkat.
  3. Kepatuhan
    Tingkatan lebih rendah harus manut dan tunduk pada yang lebih atas. Hal ini memberikan ekses atau keluaran lain berupa dendam. Tidak masalah, dendam bukanlah hal negatif bagi militer. Dengan dendam, para anak bawang bisa dikirim ke medan laga menghadapi maut, dengan penuh semangat.
  4. Angkuh
    Berkait dengan tiga hal di atas, maka sifat ini muncul sebagai anak haramnya. Jika Anda memiliki pangkat terendah, maka kepada siapa kalian akan menekan? Masak tiap hari ditekaaaaaaaaaannn terus. Gak enak banget kan? Maka, angkuhlah!

Empat tanda di atas belumlah mewakili semuanya. Masih ada upacara, mars, senjata, bentakan (teriakan) dan lain-lain sebagai wujud atau contoh hal-hal yang militeristik. Namun saya merasa cukup dengan empat indikator di atas.

Dari empat indikator di atas, maka bisa dikatakan bahwa orang atau lembaga yang menganut sistem militerisme adalah orang atau lembaga yang menunjukkan empat hal di atas dalam kesehariannya. Dan tidak mengherankan jika kita mendapati hal di atas tidak hanya di Kantor Distrik Militer, namun juga di kelurahan atau bahkan di pojokan pasar.

Preman adalah satu contoh kelompok militeristik. Angkuh, kepatuhan, pangkat dan “seragam”, semuanya ada pada mereka. Dan mereka rata-rata lahir dari orang dengan kekuatan besar namun tidak memperoleh penyaluran. Sementara untuk bekerja, otak mereka tidak mampu. Sudah semestinyalah mereka masuk militer, karena yang dibutuhkan hanyalah mau berseragam, mau berjenjang-birokrasi, mau patuh dan mau angkuh. Tidak diperlukan otak.

Militerisme adalah Penyakit

Dari tanda-tanda di atas, maka jelas bahwa militer sudah semestinya di barak saja. Ketika mereka hadir di tengah masyarakat, maka mereka kurang lebih mirip dengan penyakit. Ah, mungkin memang mereka penyakit.

Seragam mereka membuat keberagaman menjadi tabu. Sistem kepangkatan mereka yang memenatkan, membuat semua masyarakat harus ikut jirih dengan simbol itu. Bahkan seorang kopral bisa semena-mena di tengah masyarakat karena bagi dia masyarakat adalah pangkat terendah. Kopral masih memiliki tanda kepangkatan, sementara masyarakat? Nggak ada.

Sifat angkuh mereka mengakibatkan keresahan yang terpendam. Masyarakat kita yang sangat welas asih, gotong royong, pengertian, halus budi, mau tidak mau jadi tidak bisa berkomunikasi secara dewasa dengan para militerime-minded.

Jadi, dalam hemat saya, siapapun yang mendapatkan pendidikan ala militer, sebelum terjun kembali ke masyarakat haruslah menjalani karantina. Mereka harus diberi pendidikan yang intensif tentang bagaimana bermasyarakat yang baik. Pendidikan ini haruslah serius dan intensif, karena jika masih ada sedikit saja sifat militer tersisa, maka penyakit itu akan kambuh dan meraja lela.

Pendidikan sudah semestinya lengkap karena militer hanya mengenal seragam, mereka sudah bisa dipastikan akan kebingungan memilh baju untuk ke pasar, baju untuk ziarah, baju untuk ibadah, baju untuk tidur. Jika pendidikan tentang cara berpakaian tidak diberikan secara intensif, saya yakin di lemari pakaian mereka hanya akan berisi baju batik dan kaos oblong putih.

Juga pendidikan tentang hak dan kewajiban pemakai jalan. Sebagai anggota masyarakat tentunya mereka tidak bisa mengharapkan jalan dibersihkan dan semua orang disingkirkan ketika mereka mau lewat. Sifat menyingkirkan yang berkait erat dengan sifat angkuh mereka inilah yang juga sangat berbahaya. Satu saat jalan lingkar utara Yogya dikosongi. Arus dari utara dan selatan dihentikan. Arus dari barat dan timur dialihkan. Ternyata bukan karena ada Perdana Menteri Inggris atau Raja Brunei yang mau lewat, tapi tiga buah bus dengan tulisan besar AKADEMI MILITER.

Angkuh bukan? Baru akademi lho ya, belum penuh sebagai militer. Seperti itulah bahayanya penyakit bangsat ini. Sudah semestinya bis penuh penyakit seperti itu tidak boleh memasuki kawasan penduduk!

Jadi, militerisme adalah penyakit. Mereka boleh kembali ke masyarakat tapi harus dikarantina dulu. Kalau tidak mau dikarantina, kumpulkan mereka di barak. Kokang senjata, tarik pemicu, dan biarkan mereka lepas menerjang babi hutan.

vale, hapuskan penyakit militer di dunia

el rony, butuh militer, untuk menjaga nyala api

nb: coba anda pelajari dulu bagaimana cara menjadi manusia.

nb: ya, anda bukan manusia sekarang, anda adalah militer!

Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

5 Responses to “Militerisme!”

  1. lafea Says:

    oh, pemicu tulisan ini ternyata kemarin si komo lewat, to… :D

  2. Ben Says:

    Yg angkuh tapi non-militer juga banyak…

    eh, warna ijo bukannya identik juga dgn militer? sementara blog ini ada warna ijonya…

    *jalan pelan-pelan lewat pintu samping*

  3. starchie Says:

    helem nya dia juga tuh … helm nazi

  4. mpokb Says:

    kasihan babi hutan dong.. dia kan makanan obelix.. lho?

  5. Sermatar Imam Prasadja Says:

    Mohon maaf jika kehadiran kami menganggu Mas Rony. Sungguh, sebagai orang kecil, saya beruntung bisa masuk AKMIL karena kalau harus bayar kuliah yang makin mahal saya tak mampu. Dengan AKMIL saya bisa jauh meringankan orang tua.

    Sermatar Imam Prasadja

Leave a Reply