Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Jalan Kaki itu Sehat!

Print This Post   Email This Post

Sabtu pagi saya mendapat sms. Mengabarkan bahwa si pengirim sedang di Yogya. Walah, saya bingung, lha wong saya sedang packing pindahahan kontrakan. Ya sudah, jam 12:00 saya minta dia ke kantor saya.

Dia adalah Didats si kupluk. Jam 12:00 tepat dia sudah di kantorku, sementara jam saya masih belum menunjuk angka 12, maka dia-pun protes. Belum lagi tugas yang diberikan pada saya, mengontak anggota id-gmail Yogya, fyuh.

Sampai di kantor sudah ada Ayik, bos ID-Webhost. Maka saya kenalkan mereka berdua. Didats terlihat syok setelah tahu tampang bos tempat dia selama ini hosting. haha.. Saya hanya bisa bilang,”sebentar lagi bakal lebih banyak orang aneh datang”. Ya, anggota ID-GMAIL yang muncul hanyalah godril dan paydjo. Yang lain nggak datang. Bahtiar the mantan id-gmailers saja muncul. Heran saya.

Tak berapa lama muncul Sridewa, teman dekat Pak Amal :) Dengan sepeda, kaos bolong-bolong nggak karuan. Didats makin heran, berbisik penuh tanya,”dia ini orangnya cuek ya?” dan jawaban kami semua sama,”dia bukan cuek dats, dia itu wierd, aneh!” Hehe..

Makan siang berjalan aman di sebuah warung gado-gado cabang Colombo. Gado-gado versi Yogya tentu saja penuh dengan rasa manis. Dan akhirnya diputuskan bahwa nanti sore akan jalan kaki ke sekaten dari kantor saya.

Membelah Kota, Berbagi Tawa

Hari sudah senja, pukul 5 dikabarkan oleh layar hp saya. Maka kamipun mulai berjalan. Struktur lengkap peserta adalah saya (tentu saja disebut duluan, narsis dong), istri (hmm…), didats, godril, sridewa, ayik, manongan (gandung), bahtiar.

Rute perjalanan ditempuh melalui Sagan, nembus Terban, mampir Edward Forrer karena didats mau mencari tas kulit. Ternyata di sana tidak ada yang sesuai. Di depan EF, ayik ada transaksi dengan kliennya. Lalu kami ke selatan, nembus jalan Sudirman. Berbelok ke barat, tepat di jembatan Gondolayu terjadi kecelakaan. Sebuah mobil menabrak becak. Saya sempat motret bapak polisi ikut andil dalam transaksi antar kecelakaaners itu. Lalu berjalan ke Barat ke arah Tugu untuk kemudian berbelok ke jalan Mangkubumi.

Sepanjang jalan kita temui orang-orang sedang persiapan membuka warung “klithikan”. Warung yang menjual berbagai pernik-pernik dari onderdil elektronik hingga sepeda motor. Juga ada yang menjual baju dan sepatu. Geliat ramainya ruas jalan ini mulai terasa.

Terus ke selatan, sampailah kami di penyeberangan kereta api. Di pojokan situ angkringan Lek Man sudah penuh sesak. Kami hanya bisa bercerita ke Didats tentang nasi kucing yang berharga 500 rupiah (dia kaget karena ini), dan kopi yang diberi bara api, kopi joss.

Perjalanan masih panjang. Kami menyeberang rel kereta api, masuk ke wilayah Malioboro. Sepanjang jalan sudah penuh dengan penjual pernak-pernik oleh-oleh. Dari mulai kaos, baju, sendal, sampai aksesori-aksesori aneh-aneh. Didats tertarik tas dan gaun. Mampir di dua gerai dan melakukan aksi tawar menawar. Harga awal ditawar jadi seperempatnya. Deal! didatspun mendapatkan oleh-oleh.

Sampai di ujung pasar Beringharjo, kami masuk ke Mirota Batik. Pusat pernak-pernik keraton, demikian menurut tour guide kami alias bahtiar. Setelah sibuk dengan pamor keris, bau kemenyan dan macam-macam mainan tradisional, kami keluar tanpa beli apapun.

Perjalanan berlanjut ke selatan. Di perempatan Km 0,0 Yogya, alias perempatan kantor pos besar, kami beristirahat sejenak untuk foto-foto. Public space Yogya memanglah hanya di situ. Maksudnya untuk wilayah Malioboro. Di seberang, di benteng Verdebrugh sedang diadakan pembukaan pameran foto oleh Sri Sultan. Kondisi sangat ramai, mungkin juga karena sedang malam minggu.

Setiap kali didats terbengong-bengong dengan kondisi jogja, selalu ditimpali oleh sridewa dengan,”ya itulah jogja, banyak orang aneh”. Kondisi dimaksud adalah seperti orang yang pacaran di tengah keramaian.

Akhirnya kami masuk ke arena sekaten setelah berjalan di antara sesaknya pengunjung. Jalan penuh sekali. Begitu masuk ke wilayah alun-alun utara, godril membeli arum manis (gulali?). Semua berebut makan. Lalu berlanjut berjalan pelan ke arah Keraton. Jalan yang penuh sesak membuat kami harus berjalan sangat pelan.

Kami sempat mampir di rambu-rambu penunjuk arah utara, selatan, barat, timur di agak tengah alun-alun. Saya pikir ini ide yang bagus sekali, karena suasana yang penuh sesak kadang membuat kita kesulitan menentukan arah.

Setelah sampai keraton, kami duduk-duduk sebentar. Lalu lanjut ke arah plengkung wijilan. Di daerah depan bekar bioskop widya jalanan macet total. Motor dari arah alun-alun ingin keluar, sementara dari arah jalan mau masuk. Tidak ada yang mau mengalah. Kami tetap berjalan, lalu di pertigaan berbelok ke kiri, ke utara.

Perut keroncong minta diisi, maka bahtiarpun menyarankan satu tempat. Tempat makan soto tegal, walaupun cukup dekat dengan lokasi sekaten, namun masih menjual dengan harga normal.

Setelah makan malam dan bersenda gurau, kami lanjutkan menuju rumah. Bahtiar menyarankan kembali ke jalan besar. Menurut dia perjalanan masih separoh lagi, jadi kalau berjalan di jalan tikus nanti justru terasa capek karena tidak ada pemandangan. Sepanjang jalan pulang kutemui ulah usil seniman yogya yang menempel ataupun membuat grafiti kecil di tempat-tempat aneh. Box/gardu listrik, tembok, tempat sampah, menjadi “korban” mereka.

Kami sempat berhenti di pertigaan nJambu, tempat vcd bajakan dijual di sepanjang jalan. Setelah foto-foto, kami lanjut ke utara. Sampai di pertigaan kewek, kami duduk lagi. Perjalanan pulang terasa lebih berat, kaki sudah terasa capek. Mas Gandung sempat keseleo karena tidak memperhatikan tinggi rendahnya trotoar. Di sini tour guide kami menunjukkan peran ganda-nya sebagai tukang urut.

Lalu kami menyisir pinggiran jembatan kewek, dan masuk ke wilayah kotabaru. Berjalan masuk melewati bekas kantor di Jalan Patimura. Lalu berjalan ke timur menuju SMA 3 Yogyakarta. Sampai di Jalan Suroto kami berbelok ke utara.

Perjalanan sudah semakin dekat. Sridewa memutuskan untuk berlari, sementara kami memutuskan bahwa dia sudah semakin aneh. Dan akhirnya kami sampai ke kantor Sagan, beli indomie (maklum, makan malam habis menjadi energi perjalanan) dan es milo.

Didats Panik

Setelah ngobrol panjang lebar dan ngalor ngidul, didats mulai nampak gelisah. Dia harus naik pesawat besok paginya, jam 6! Sementara tiket dan tas masih dititip di tempat temannya Saylow. Saylow adalah teman kerja didats sekarang, dulu teman kerja saya :D

HP Saylow tidak bisa dihubungi, sementara teman yang lain juga tidak tahu alamat rumah temannya. Ada yang tahu sih, tapi hanya bisa menunjukkan kalau dia mengantar. Hari sudah menjelang tengah malam. Jam 12:00 tepat masih belum ada kabar dari Saylow. Akhirnya godril punya ide, mengontak mas Iwan. Tokoh temukonco dari Yogya ini memang luar biasa. Begitu saya telfon, dia langsung mencari kemungkinan-kemungkinan siapa saja yang bisa ditanya. Akhirnya selang beberapa waktu, mas Iwan telfon dan memberikan nomer hp teman Saylow.

Oh ya, semestinya didats punya nomer telfonnya, tapi sayang hp dia juga mati dan charger ada di tas. Pukul 01.30 didats di antar oleh Godril dan Sridewa menuju ke tempat janjian mereka untuk ketemu dengan saylow dan temannya. Selamatlah dia.

Demikian perjalanan seorang Jakarta Udik di Kampung bernama Yogyakarta.

vale, demi apapun

el rony, menulis apapun

Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

21 Responses to “Jalan Kaki itu Sehat!”

  1. achmadi Says:

    seru !!

    didats udik ya ternyata ?
    sigh….

  2. amen Says:

    pertamaaaaaaaa

  3. lafea Says:

    jadi inget pegel-pegel kaki kemarin.. :p
    btw, sekrinsot-nya mana, neh?

  4. hericz Says:

    didats gak sadar kalau dia lebih aneh…

  5. andriansah Says:

    wah jalan2nya jauh yah?

    *sok tau

    Ya jauh. Sekitar 20-an KM lah kalau aku gak salah mengira. :D - rony

  6. Charly Silaban Says:

    ahhhh… mau…. !!!!
    Koq ngga ngajak2 sih ?
    Jadi terkenang kembali masa-masa di yogya !
    Bukannya kilometer 0,0 itu dagadu ?

  7. wesly Says:

    hiehaiehaihei.. asik banget jalan-jalan dari sore sampai tengah malam :D

  8. Yanuar Says:

    Salam boeat Mr Hi.!!

  9. fajri Says:

    Anjrit.. jalan dari sagan ke alun2 utara? kamu bener2 tidak menghormati tamu, ron !!

  10. vnuz Says:

    kalau ke jogja sudah ada daftar guidenya nih. :)

  11. endhoot Says:

    waaaa….. jalan kaki???? aku mbonceng godril wae ah…. *towel2 godril*

  12. endhoot Says:

    ato mbonceng wisata sepedahe bahtiar???
    hhmmm…. *mikir*

  13. MaNongAn Says:

    Diawali dengan kedatangan temen lama ke kantor Indoakses, Saylow dan temennya Didats. Mereka datang diantar oleh Djati (wanita loh). Gak berapa lama, rekan kerja lama Saylow yaitu den bagus’e Rony su Lantip datang bersama Nyonya Fitri (mbok sekretaris). Setelah mereka kangen-kangenan, and bla-bla-bla …… akhirnya berdatangan dan berkumpullah ke Indoakses beturut-turut => si orang aneh Dewo, Prof.langlinglung mas Ayik, Paydjo (GAMA Techno), serta pramuwisata kita Mas Bahtiar. Setelah kita pada ngumpul, si Saylow dan Djati pulang, sedangkan Didats yg notabene katanya pernah ke Yogya (saat masih kecil) terpaksa kita culik…….

    btw, 0 KM Jogja kie ……. perempatan Kantor Pos apa TUGU sih ?? … waduh kadung gembar-gembor ama tamu²/temen² luar kalo TUGU tuh 0 Km nya JOGJAKARTA jeh *garuk²*

    -=he509x™=-

  14. golda Says:

    ohh.. Jogja kyk gitu yah?

  15. didats Says:

    doh, susah amat komen disini.
    dari kemaren ga bisa bisa…

    hi rony!
    gw udah buat tulisan juga,
    sayang, benwit gw abis!

    gw cuma berharap ayik lupa kalo gw pake paket kecil. tapi kapan ya?

  16. bahtiar Says:

    sepurone Bro kabeh,

    selepas makan soto tegal sebaiknya naek andong aja … walau mahal - kita urunan

    :)

    Lhaa.. nek numpak andong lak malah kurang sip to ya bah. Nggak terkenang ngono lho. hihihihi - rony

  17. saylow Says:

    maaf biji saya lebih sibuk dari kalian!

  18. MaNongAn Says:

    Nyoba Quote, gmn sih hasilnya ….

    => sepertinya itu suatu hil yg mustahal BRO, soalnya kalo urusan DUIT dia (Ayik) paling APAL / Inget.

    => aku urun numpak’e (naeknya) aja yah.

    => masih punya biji toh “low” ??

    -=he509x™=-

  19. MaNongAn Says:

    ada kesalahan …. cuek ah, silahkan berimajinasi sendiri ……

    -=he509x™=-

  20. godril Says:

    masih kurang ceritanya.. pas mau brangkat ke jakarta, saat itu mendung. Saya sama Dewa cerita ke Didats kondisi mengerikan yang bisa terjadi saat terbang di cuaca mendung. Waktu itu.. didats keliatan lebih putih… *pucet maksudnya* Bwahahah…
    Endhoot: mrene meneh mbok.. tak jak engklek tekan Alun2.

  21. paydjo Says:

    aku ditinggal :((

Leave a Reply