
Kawan saya, godril, mengingatkan tentang niat saya menuliskan peristiwa kemarin lusa. Satu siang menjelang sore yang layak untuk dibagi.
Siang itu (tepatnya menjelang sore) kami, saya dan godril, sedang asyik ngobrol di sebuah warung burjo. Godril memesan indomie telur dan minum, saya sendiri karena sudah makan siang jadinya hanya minum.
Tak berapa lama muncul rombongan anak-anak SMP, sepertinya ada yang mau mentraktir. Gradak-gruduk-grusak-grusuk, ribut mereka berebutan memesan minuman. Rata-rata memesan minuman sirup. Seragam mereka jadi terlihat mencolok, ditambah dengan kehadiran mereka yang berrombongan.
Godril mendesis,”mereka seumuran kan?” merujuk pada sekumpulan pembeli ini dan membandingkan dengan si penjual. Ya, penjual burjo ini masih belia. Menurutku mereka memang seumuran. Lantas kami tenggelam dalam satu obrolan kelam, tentang nasib yang sedemikian berbeda.
Sekilas aku melihat si penjual burjo, entah kenapa kali ini dia kelihatan lesu. Biasanya sepertinya juga seperti itu, namun kali ini entah kenapa saya melihat senyumnya sedemikian kecut. Terbayang perasaan ketika saya masih kecil, keinginan untuk belajar sedang tinggi-tingginya berkembang, kalau tiba-tiba terdesak keadaan dan terpuruk di lembah pencarian uang, apa yang harus kuperbuat?
Jurang itu Sedemikian Dalam
Itu saja yang terlintas olehku. Pengalamanku sendiri mengajarkan bagaimana sulitnya bekerja untuk bertahan hidup dan membiayai sekolah. Apalagi dengan bekal ijasah yang tidak laku. Namun kali ini saya tidak akan membagi hal itu.
Hal yang lebih penting adalah si pencipta jurang itu tadi. Lontaran wajib belajar sudah terngiang dari jaman saya SD. Sekarang wajib belajar 12 tahun dicanangkan. Namun kenyataannya masih ada si mamang yang jual burjo.
Seragam diciptakan agar tidak memunculkan perbedaan. Sesama pelajar SMP, semuanya berbaju sama, putih biru. Mahal atau tidaknya bahan yang dipakai tidak terlalu terlihat kentara kecuali kita memperhatikan dengan seksama. Tapi kenapa si mamang masih menjual burjo? Apa yang membedakannya?
Kesempatan seperti apa yang tidak dimilikinya? Nasib seperti apa yang melemparkannya dari jangkauan subsidi pemerintah? Kebijakan seperti apa yang membuat dia harus menanggalkan cita-cita belajar tinggi?
Kesulitan ekonomi dan hancurnya daya beli, demikian jawaban yang aku terima. Jawaban tersirat dalam bahasa yang lebih sederhana.
Kesulitan itu diciptakan kawan. Oleh seorang yang bersimaharaja saat ini.
vale, …
el rony, …
nb: postingan kali ini tidak terlalu terstruktur. tak kuasa aku menuliskan kejahatan yang berlaku di sekitar. terlalu banyak. sementara waktu terlalu sedikit.
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 16th, 2006 at 2:05 pm
jadi, ceritanya kenapa? mereka minum gag bayar?
posting gag jelas…
March 16th, 2006 at 2:36 pm
kejahatan, karena adanya jurang pemisah
yaitu kemiskinan
March 16th, 2006 at 2:42 pm
iya nih, gag jelas ah..
March 16th, 2006 at 4:04 pm
tanpa skrinsyut siswi berseragam adalah basbang !
kamu harus liat tuh di perempatan2 jalan jakarta. jauh lebih menyedihkan
March 16th, 2006 at 4:32 pm
Jadi ingat sama berita kemarin, saat para ibu-ibu miskin rame-rame ke Istana Presiden.
Aku cuma kepikiran, kalau tahu tidak mampu…kok ya ngotot punya (banyak) anak? Apa nggak kepikir bahwa membesarkan anak itu berat? Apa tidak kepikir bahwa di negara ini, pendidikan itu mahal?
Kapan orangtua seperti ini lebih bertanggungjawab? Anak bukan cuma titipan, tapi tanggungjawab besar.
March 16th, 2006 at 4:40 pm
*junk*
68% dari hidup adalah kejahatan, konsumsi adalah setan.
68% dari mati adalah kebaikan, paling tidak belatung kenyang dan tanah jadi subur.
*apa sih*
March 16th, 2006 at 4:55 pm
mendesis? emange aku sejenis ular-ularan… udah jelas biawak gini.. huehuhehuehiuehi
March 16th, 2006 at 5:37 pm
** sedih **
March 17th, 2006 at 9:12 am
yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin
*udah ada tm-nya tapi siapa gua lupa*
March 17th, 2006 at 11:35 am
Ehm…Bukan sesuatu yang baru. Tapi tetap bikin miris. Dan kalau masih mengandalkan pemerintah dan kroni-kroninya untuk nanganin masalah ini, adalah salah besar. Kita mau teriak sampai urat leher putus, mereka nggak akan peduli. Bagi mereka, semakin banyak rakyat yang tidak terdidik, semakin mudah mereka mengatur negeri ini untuk kepentingan mereka. Jadi ayo kita bikin sekolah sendiri dengan sistem subsidi silang dan memberdayakan sekolahnya itu sendiri!!! Satu saja di setiap kota, bisa mengurangi jumlah “mamang burjo”.
March 17th, 2006 at 12:36 pm
titip salam buat si mamang.
semoga kabarnya hari ini baik-baik saja.