
Bulan Maret adalah bulan yang penuh dengan hari-hari “kepahlawanan”. Dari mulai “Serangan Oemoem 1 Maret”, “Surat Perintah 11 Maret”, hingga hari ulang tahun bagi sosok yang selama saya kecil dikenalkan sebagai cikal bakal kepahlawanan, yaitu TNI.
Sosok Pahlawan dikaitkan dengan jasanya memperjuangkan kemerdekaan bagi negara ini. Pengertian ini sepertinya sama saja di setiap negara. Lantas ketika kita menginjak masa sekolah, kita mulai berkenalan dengan sosok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang mengajari kita bagaimana menulis dan membaca serta yang lainnya, adalah sosok pejuang yang telah membebaskan kita dari belenggu kebodohan. Merekalah pahlawan itu, yang selain tanpa tanda jasa juga tanpa taman makam pahlawan.
Seiring usia, perkembangan pemikiran juga tumbuh. Pahlawan-pahlawan dalam hidup kita bermunculan, dari mulai Orang tua kita mungkin, kekasih kita, tetangga kita (mungkin sempat menyelamatkan Anda dari kebakaran? atau tabrakan?
) atau bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Saya sendiri membubuhkan tanda pahlawan pada dua orang yang akan segera saya ceritakan.
Pahlawan Tanpa Tanggal Lahir
Subjudul yang aneh bukan?
Kedua sosok pahlawan ini bekerja siang malam tanpa mengenal lelah. Suatu keberuntungan bagiku bisa mengenal mereka. Mereka adalah tukang cetak buku. Buku-buku yang mereka cetak selalu rapi dan enak dibaca. Kualitas pekerjaan mereka, setahu saya hingga dua tahun ini, tidak mengalami penurunan. Walaupun aku tahu mereka selalu kerja siang dan malam. Anda bisa ke Yogya atau datang ke tempat saya untuk kemudian saya antar ke tempat kerja mereka, saya jamin Anda akan menyaksikan mereka bekerja dari pagi (jam 8.00) hingga malam (biasanya hingga sekitar jam 12.00 malam).
Beruntunglah mereka bekerja pada perusahaan kecil namun didirikan dengan dasar pemahaman atas kualitas dan kapasitas kerja masing-masing orang. Perusahaan buku kecil itulah yang membawa wacana pemikiran saya, atau mungkin lebih tepatnya ikut mewarnai, hingga menjadi seperti sekarang ini. Oleh karenanya kerja dua orang pahlawan saya itu hanya dihitung hingga jam 16.00 alias jam 4 sore, selebihnya dihitung sebagai kerja lembur. Tidak ada paksaan, setahuku, bagi mereka untuk bekerja seperti itu.
Dua orang itu bernama Pino dan Radi. Satu lebih akrab dipanggil sebagai mas Pino, sementara yang lain lebih sering dipanggil sebagai Mbah Radi. Masih muda kok, mereka seumuran (kurang lebih) dengan saya. Dedikasi merekalah yang membuat mereka memiliki kelebihan dibanding saya. Ketelitian kerja, ketepatan waktu (bahkan lebih sering mereka menyelesaikan lebih cepat dari jadwal, ini kutahu dari manajer percetakannya) dan kerapian hasil, sungguh memuaskan.
Mereka lahir dari sebuah desa cukup terpencil di perbatasan Wonosari dan Wonogiri. Desa (atau dusun) itu bernama Gundi. Sebenarnya limpahan air cukup banyak kalau mengingat wilayah geografis mereka yang selama ini terkenal kering. Untuk membuat sumur hanya diperlukan mengeduk tanah hingga sekitar 4 meter. Namun khusus untuk rumah Mas Pino yang terletak di atas bukit, kita harus turun ke bawah untuk mengambil air.
Makanan pokok mereka, tentu saja nasi
Namun beberapa hari ini sedang penuh dengan jagung. Wilayah yang juga cukup subur. Di dusun/desa itu sudah jarang pemuda dan pemudi, rata-rata mereka merantau ke kota besar setelah lulus SMA. Hiburan yang ada di desa/dusun itu, seperti halnya desa/dusun yang lain, adalah televisi. Semua rumah dihiasi dengan tiang-tiang penyangga antena TV. Namun justru dari desa/dusun yang tidak terlampau jauh dari Pathuk (tempat semua stasiun TV di Yogya memasang pemancarnya) itu (paling tidak satu kabupaten dengan desa itu) ternyata siaran yang bisa ditangkap hanyalah tiga atau empat stasiun TV saja.
Kita tinggalkan saja TV, karena bukan itu yang menjadikan mereka pahlawan
Sekedar informasi, khusus untuk mas Pino ini saya termasuk sangat kagum. Semua teman kerjanya memiliki HP, dan dia tentu saja mampu membeli HP, di kantor itu (berkat kerja lemburnya) dia sempat menjadi pemegang gaji terbesar selama beberapa bulan. Namun Mas Pino memilih tidak ber-HP. Demikian juga dengan Yahoo Messenger. Hanya saja akhir-akhir ini beliau mulai ikut main Game PS/2.
Rumah keduanya, kalau kita kembali ke setting desa mereka, sangat sederhana. Namun berkat kerja mereka pula, geliat untuk mengganti kayu dan gedhek menjadi batu bata nampaknya akan segera terwujud. Poster Che berjejer dengan poster Iwan Fals di rumah salah satu dari mereka, rumah Mbah Radi. Seperti mengingatkanku bahwa mereka bukan sekedar mencetak, tapi juga mengerti apa yang mereka cetak.
Wah, banyak yang bisa kuceritakan tentang mereka. Namun yang jelas keduanya memiliki kesamaan. KTP mereka tidak ada tanggal lahirnya. KTP mereka hanyalah berisi tahun. Mengingat mereka seumuran denganku, maka hal ini sangat janggal bagiku. Kenapa pihak kelurahan tidak punya catatan? Atau paling tidak mengarang tanggal lah, toh untuk bulan tidak sulit mengingatnya? Saya tidak tahu kenapa.
Namun berkat itulah, sub judul di atas lahir. Ya, mereka, bagiku, adalah pahlawan tanpa tanggal lahir.
Vale, demi buku
El rony, sekian kali bertanya tentang proses cetak, tapi belum sempat mencoba mencetak sendiri. ![]()
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 15th, 2006 at 12:55 pm
Hmm…Aku sedih, karena Taman Makam Pahalawan Kalibata, cuma dipenuhi oleh Jenazah TNI (yang belum tentu Pahlawan Rakyat), kenapa bukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, atau pahlawan devisa.
March 15th, 2006 at 1:09 pm
pahlawanku, adalah murdock… si gila di the a-team. menurutku dia keren gitu loh. otak dari semua aksi gila the a-team yang memerlukan kecerdasan. makanya semua pada rela untuk menjemput dia di rumah sakit jiwa setiap kali mereka mau beraksi…
March 15th, 2006 at 1:34 pm
lho, tapi yang punya ktp tahu kan tanggal lahirnya kapan?
March 15th, 2006 at 4:00 pm
dirahasiain mkn biar ga usah nraktir makan-makan
March 16th, 2006 at 1:35 am
Ternyata bisa ya punya KTP tanpa tanggal lahir.
Kalau ada urusana dengan birokrasi sucks, apa gag tambah menyulitkan tuh..
*heran*