
Sungguh aku tak habis pikir. Luar biasa! Di saat semua hiruk-pikuk mengenai RUU APP berlangsung di mana-mana dan belum terlihat mereda, di saat kekhawatiran akan naiknya Tarif Dasar Listri, di saat PLN mulai gencar berkampanye menghapus ingatan orang-orang akan jahit mulut, DPR kita melakukan move yang luar biasa.
Dalam APBN 2005, gaji anggota DPR Rp 26.810.560 per bulan. Dalam APBN-Perubahan yang berlaku sejak Juli 2005, jumlahnya naik, menjadi Rp 36.810.560 per bulan. Dalam anggaran 2006, para wakil rakyat ini bakal menerima take home pay Rp 49.411.940 per bulan. Artinya, ada kenaikan Rp 12.601.380.
Take home pay anggota dewan yang memiliki jabatan tentu berbeda. Ketua komisi, badan, atau panitia menerima gaji Rp 52.250.940 per bulan. Wakil ketua komisi, badan, dan panitia mendapat Rp 51.179.940 per bulan.
Gaji pimpinan DPR lebih banyak lagi. Ketua DPR Agung Laksono berdasar anggaran 2006 yang baru akan mendapat take home pay Rp 89.238.356 per bulan.
Tiga wakil Ketua DPR Zaenal Maarif, Muhaimin Iskandar, dan Soertardjo Soerjoguritno juga kejatuhan naiknya take home pay itu. Mereka akan mendapat Rp 75.184.890 per bulan. Sebelumnya, dalam APBN 2005, jumlahnya Rp 53 juta dan sejak Juli 2005 naik, menjadi Rp 61,5 juta.
Hebat bukan?
Kalau kemarin saya sempat menuliskan tentang kecurigaan pengalihan perhatian, maka yang dilakukan DPR ini adalah “memanfaatkan perhatian yang teralih”.
Hiruk-pikuk ini telah membantu anggota dewan, para wakil kita yang terhormat, yang sudah tuli dan tak peka atas penderitaan rakyat ini, bersama-sama dengan eksekutif melakukan deal yang menyakitkan. Deal ini sangatlah busuk!
Anda boleh mengatakan bahwa saya mempolitisasi kejadian ini, namun hal yang menyangkut DPR dan Eksekutif memanglah politis. Selain itu, apakah Anda bisa menerima kinerja dewan yang tidak jelas itu mendapatkan tunjangan gaji yang seakan tidak berbatas? naik dan terus naik?
Kenaikan sebesar 12 juta rupiah tersebut, dengan dalih apapun sangat sulit saya terima. Kondisi masyarakat kita masihlah rapuh. Daya beli bukannya meningkat, justru merosot tajam. Apakah memang seperti ini model ekonomi politik negeri ini?
Sekilas Jaman Orba
Kalau mengingat waktu itu, sekitar Tahun 1980-an, kami para murid sekolah dasar dan lanjutan pertama mendapatkan informasi yang gencar tentang Income Per Kapita. Disebutkan bahwa income perkapita negeri ini meningkat cukup tajam. Perhitungan yang sering muncul adalah pertumbuhan pendapatan perkapita sebesar 7,625% per tahun.
Kenyataannya pendapatan orang-orang tua kita tidak bertambah. Paling tidak pertumbuhannya tidaklah sedrastis itu. Lantas angka itu dari mana? Jelas itu angka statistik yang didapat dengan kumulasi umum dibagi jumlah penduduk. Dan di akhir 1999 ditemukan jawaban, bahwa pertumbuhan dari satu lapis masyarakat melaju sedemikian pesat meninggalkan mayoritas lapisan masyarakat yang lain.
Munculnya konglomerat-konglomerat yang berhasil memutar hutang dari bank dan menjadikan pendapatan mereka cukup untuk mendongkrak angka statistik pertumbuhan ekonomi. Dan ini rapuh. Ketika tiba saatnya untuk membayar hutang — maaf, bunga dari hutang– maka perekonomianpun ambruk.
Kini, semua anggota DPR seakan didorong untuk menjadi usahawan besar. Diberi modal berlimpah agar bisa mendongkrak posisi negeri ini dalam hal laporan kemajuan ekonomi. Apakah kecurigaan saya ini benar? Entah, yang jelas hampir semua anggota DPR sekarang memiliki lini bisnis, ah ini sudah dari dulu.
Yang menjadi pokok masalah kemudian, bagaimana mungkin pemerintah kita menyetujui tunjangan/gaji sedemikian besar? Sementara rakyat yang diwakili oleh para orang berjas-berdasi-suka-tidur-dan-ngelantur itu sedang kelaparan (Yakohimo), atau kebanjiran (banyak tempat nih) atau masih mengungsi (Aceh), atau atau-atau yang lain yang tak kalah mengenaskan.
Aku sudah tidak tahu lagi. Jelas-jelas kecerdasan Dewan Pemangsa Rakyat ini sudah di ambang batas pemahamanku.
vale, demi rakyat
el rony, demi rakyat.
nb: seandainya saya bisa berdoa, dan do’a saya dikabulkan, maka saat ini do’a saya hanyalah: semoga Yang Maha Kuasa menghukum manusia secara langsung di dunia.
nb: bukannya saya sok suci, saya juga pasti ikut dihukum. tapi dengan demikian, dunia pasti akan mengalir dalam kesahajaannya yang adem.
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 11th, 2006 at 1:25 pm
Iya gw juga baca koran tadi pagi, asli emang itu ga ngerti gw isi otak meraka apaan (kalo masih punya otak).
March 11th, 2006 at 1:59 pm
HEBAT!!! Salut buwat DPR!!
March 11th, 2006 at 3:04 pm
hiehaihaeihaihei.. Selamat Buat Anggota DPR! SHINE!
March 12th, 2006 at 1:04 am
Jadi inget iklan salah satu produk rokok. Betapa mengasyikkannya menjadi anggota DPR. Mari ramai-ramai mencalonkan diri jadi anggota DPR :p
March 12th, 2006 at 8:48 am
mas, ini form pendaftaran DPR masukin ke mana yah?
March 12th, 2006 at 11:58 am
Hmm.. kemarin si agung masih menyanggah tuh. jadi bingung mana yg bener
March 12th, 2006 at 9:46 pm
mari dicek..
1. napsu: pasti ada
2. otak: diragukan ada atau tidaknya
3. nurani: emang pernah ada?
March 12th, 2006 at 10:31 pm
klo mo jadi anggota DPR kudu punya modal berapa yah?
March 13th, 2006 at 2:08 am
lha, kan wis pas karo lagune iwan fals…
“wakil rakyat kumpulan orang hebat”
March 13th, 2006 at 12:24 pm
buat hericz: Agung tidak menyanggah. Kemarin itu ada ribut kecil karena BURT (urusan rumah tangga) “membocorkan” info ini ke pers. Tapi akhirnya “bocoran” ini tidak menjadi masalah kok.. intinya semua senang karena kantong makin tebal :p
March 14th, 2006 at 3:55 am
Makin Pintar saja para wakil kita itu,
Makin Buta saja para wakil kita itu,
Makin Budeg aja para wakil kita itu,
ANGGOTA DPR MEMANG BANGSAT!!!
March 14th, 2006 at 2:24 pm
ada juga yg gak setuju gajinya dinaikkan, tp malah dia di anggap berkhianat dan melanggar ( rapat rahasia :O) BURT yg katanyaaaa belum resmi di syahkan??? jadi kita musti nunggu naik gaji dulu baru boleh protes gitu ya ?? hihihihi
dasar DPR mau menang sendiri
March 14th, 2006 at 6:08 pm
ya, memang bangsat!