
Demikian banyak orang mengatakan. Tak kurang, John Perkins si penulis yang tulisannya lagi banyak dibahas juga mengatakan demikian. Aku sendiri tidak pernah terlalu peduli apakah hidupku ini kebetulan ataukah ini jalan lurus saja.
Yang kuyakini adalah hidup ini seperti memanjat pohon. Ada kalanya kita berhenti sejenak untuk memetik buah atau menikmati pemandangan atau sekedar menikmati buaian angin. Kadang kita terlena dengan nikmatnya buah, sehingga berhenti di satu dahan. Kadang kita terlena oleh nikmatnya angin, sehingga kehidupan tidak beranjak.
Bahwa satu saat kita menemukan buah yang pahit, waktu lain buahnya asem, itu mungkin yang dikatakan sebagai faktor kebetulan. Orang beragama mengatakannya sebagai takdir. Dengan demikian istilah kebetulan, demikian juga dengan takdir, bisa dibagi menjadi dua. Kebetulan yang telah terjadi dan kebetulan yang akan terjadi. Maksudnya?
Kebetulan yang sudah terjadi adalah kebetulan yang kita alami dan kita serap. Kemudian kita pahami bahwa kita baru saja menemukan kebetulan. Namun bisa saja sebuah kebetulan adalah rangkaian dari kejadian-kejadian non kebetulan yang lain. Sebagai misal adalah pertemuan. Kita bertemu dengan seseorang, lantas berkenalan dengan temannya, lantas diajak ngeblog, lantas posting, lantas .. nah di sini baru kebetulan.. muncul comment yang kebetulan mengenal seseorang tadi. Ini adalah sesuatu yang niscaya, mengingat sudah berkembangnya teori tentang pertemuan. Jadi, ini bukan kebetulan, bukan? ![]()
Agak rumit mungkin, tapi bagi Anda umat muslim mungkin sudah familiar dengan istilah Qadha dan Qadar, walaupun taraf yang saya bicarakan ini jauh di bawah itu. Saya, untuk sementara, menafikkan kuasa ruhiyah dan menggantikannya –ingat, sementara!– dengan hukum alam.
Lho, kenapa saya sampai pada tulisan seperti ini? Ya bagaimana lagi. Kemarin saya secara kebetulan menemukan rekan lama muncul di Koran Kompas. Kalau dulu menemukan di antara sekian demonstran, dengan baju lusuh, saya tidak akan menganggapnya sebagai kebetulan. Namun kemarin saya menemukannya dalam pose ceria yang sepertinya sangat nyaman. Jauh dari hiruk pikuk. Judul kolomnyapun sangat jauh dari apa yang saya kenal akan dia. Luar biasa bukan? Tiba-tiba dia menjadi ikon “pasangan karena teknologi”
Tapi saya senang. Paling tidak saya tahu bahwa teman saya baik-baik saja. Tidak seperti nasib beberapa teman yang hilang tak tentu rimbanya.
vale, demi kebetulan.
el rony, menata pixle-pixle.
nb: selamat buat ayu! ![]()
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 9th, 2006 at 12:58 pm
dan sebuah kebetulan gue klik url di feeder rss gue sampe akhirnya muncul di sini
dan sebuah kebetulan pula akhirnya gue komen di sini
March 9th, 2006 at 4:42 pm
yak. saya juga kebetulan mampir sini. :p
March 10th, 2006 at 3:19 am
Dini hari ini aku kebetulan lewat sini Ron, dan kebetulan pula aku ngetik komen disini.
kenapa semua jadi serba kebetulan gini??
March 10th, 2006 at 8:42 am
kebetulan gua sampe ke blog ini.
*lirik ke kanan, loh.. blog roll ke blog gua blom ada? *
March 10th, 2006 at 8:43 am
kanan … kiri … kanan … kiri
*sama aja* :p
March 10th, 2006 at 12:20 pm
Namaku ayu,s’lam knal :j
aku ju9a suka film * Serendipity * satu film y9 isinya kebetulan” semua,.,.,.
March 14th, 2006 at 12:26 pm
hmm.. sekarang aye kurang percaya sama kebetulan.. tapi aye percaya, hidup emang penuh kejutan.. hehe