
Kejadian yang luar biasa! Saya baru saja mengontrak rumah di daerah Mayangan, Yogya Utara. Berhubung saya belum bisa menempati pada bulan-bulan ini, rumah itu saya biarkan kosong. Sambil pelan-pelan memindahkan “kekayaan” saya ke sana. Sudah tiga minggu ini buku-buku saya beberapa dos berpindah tempat. Tumpukan dos sudah mulai membentuk di kontrakan baru tersebut.
Dan tiba-tiba, kemarin pagi saya mendapat kabar, kontrakan saya kemasukan maling! Wow! Saya bergegas ke sana. Saya tidak terlalu bingung dengan barang-barang saya. Terus terang saya tidak khawatir buku-buku saya akan hilang. Bukan berarti saya meremehkan buku-buku itu atau yang lain, hanya saja saya berfikir kalau sampai buku saya diambil berarti kemungkinannya ada dua:
1. Si pencuri sudah benar-benar lapar,
2. Si pencuri ingin ikut belajar sosialisme.
Dua-duanya sama sekali tidak merugikan saya. Namun tetap saja saya bergegas ke sana, bapak pemilik kontrakan sudah menunggu di sana. Setelah masuk, saya temui hanya satu ruangan yang dimasuki si pencuri. Jendela yang penguncinya sudah rusak, bekas-bekas jugilan ada di jendela. Dan beberapa tapak kaki di lantai. Kesemuanya saya potret.
Lantas saya memotret bagian tumpukan kardus saya. Tampak tutupnya sudah terbuka. Kardus-kardus itu tampaknya secara buru-buru telah diperiksa. Hasilnya, hanya dua buku puisi yang sempat tercabut dan tidak kembali dengan sempurna. Ah, bahkan si pencuri itu putus asa demi melihat buku puisi di sana. Tidak ada satupun yang hilang.
Yang Terlintas
Sungguh, yang terlintas di kepalaku ketika mendapat kabar itu adalah kegeraman. Ya, aku geram sekali. Seperti judul di atas, mengalir di kepalaku pertanyaan yang sama,”negara macam apakah yang melahirkan pencuri?”.
Warga yang kesulitan mencari pekerjaan, himpitan ekonomi yang semakin berat sementara dorongan PHK semakin membengkak, deraan penyakit dari demam berdarah hingga flu burung yang mengancam di sekitar, daya beli masyarakat yang hancur, yang membawa kabar suram tentang “wabah” kelaparan, semuanya itulah yang melahirkan profesi ini.
Sendi hukum yang lemah, aparat yang korup, didukung oleh perilaku penguasa yang sebenarnya pengusaha jual beli pulau dan moral, ini juga yang mempertinggi potensi frustasi dari anak bangsa.
Orang bertanya pada saya,”Apakah kamu marah ron? Apa kamu dendam tip?” Saya jawab dengan sangat tegas,”Ya! Saya marah!” Saya marah besar pada pemerintah ini. Pemerintah yang sama sekali tidak menjaga hak-hak dasar penduduknya. Hak untuk hidup layak, sebagai satu hak asasi yang paling utama diperjuangkan oleh dewan hak asasi dunia.
Hak asasi itu sama sekali tidak digubris oleh penguasa kita yang sibuk menyisir kumisnya agar selalu rapi, menjaga giginya agar selalu bisa tersenyum cerah, dan mengoles hitam di seputar matanya agak selalu bisa mengeluarkan kebijakan bodoh untuk menutupi kelemahan kelelakiannya.
Kini pemilik kontrakan mengeluarkan kebijakan, memberi engsel dobel untuk jendela. Pintu-pintu juga digembok. Terpikir untuk membuat teralis. Tetapi, aku bertanya, apakah ini jawabannya?
Ya ampun, sama sekali bukan! Kengerian tuntutan akan hak asasi itu menyisip bahkan melalui rongga kunci paling kecil sekalipun. Kengerian keputusasaan itu menyusup hingga ke lubuk hati orang miskin, dan keputusasaan yang berkelana ini membentur tembok-tembok dingin yang menjulang di gedung-gedung pemerintah dan orang kaya. Berpusing, menyatu di tengah-tengah kota, di perkampungan-perkampungan, di pertemuan-pertemuan ibu-ibu, menciptakan teror yang akan hadir di setiap mimpi-mimpi kita. Jadi, gembok, teralis dan dobel engsel sama sekali bukan jawaban. Jawabannya adalah memasang borgol di tangan para pemegang kekuasaan. Segera!
vale, demi kesehatan.
el rony, memanaskan api!
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 6th, 2006 at 10:48 am
Makan2….!!!
Btw, blogrolnya diganti dong Om…
Link ke saya gitu ahhh…
March 6th, 2006 at 11:07 am
hihihi….
*kalem*
March 6th, 2006 at 11:49 am
malinge asu! akibate aku mung berduaan tok ndik Boyong Kalegan! ora seru blas….
March 6th, 2006 at 12:42 pm
Turut berduka. Meski tidak ada yang hilang tetap menimbulkan luka. Saya jadi ingat maling yang menggondol sebagian besar buku di perpustakaan anak yang saya dirikan bersama beberapa orang di kelurahan. Sampai sekarang saya masih bersusah payah untuk mengumpulkan buku-buku cerita anak dan mencari tempat yang aman untuk membangun kembali perpustakaan itu. Tempat yang lama, akhirnya dijadikan poskamling…hiks..hiks..hiks..
March 6th, 2006 at 1:37 pm
Namanya juga Maling..
Seharusnya kita bisa lebih marah dengan SUPER MALING NEGERI INI(KORUPTOR)
Mari marah sama sama
March 6th, 2006 at 1:49 pm
Ron, tidak baik men-generalisir seperti itu.
Negeri maling itu kan hanya jogja.
** ngumpet ***
March 6th, 2006 at 3:13 pm
malingnya apes
March 6th, 2006 at 4:13 pm
dah lupa, tuh
March 6th, 2006 at 5:21 pm
negeri itu bernama republik kleptokrasi endonezah
March 7th, 2006 at 1:12 pm
kelemahan kelelakian apaan? ditutupi kebijakan bodoh apa malah bukan tambah keliatan?
March 7th, 2006 at 5:43 pm
Yang di lantai itu jejak si malingnya? :O
March 7th, 2006 at 10:55 pm
Soal Teralis … hiiy… malah jadi kaum terpenjara, belum lagi kalo kebakaran. malah mati gosong neng njero goro2 tralis.. pokoke omahku ra bakal nganggo tralis. Hidup mati urusan malaikat, manusia hanya bisa berusaha.
September 19th, 2011 at 3:14 pm
[…] berbeda, meskipun aku pernah mengalaminya. Tepatnya Bulan Maret Tahun 2006 yang lalu, rumah kontrakan saya dimasuki pencuri. Sekarang, rumah saya sendiri yang dijebol pintunya. […]