Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
9
comments

Mengadili Pikiran

June 16th, 2008

Sebuah kotak tergeletak di atas meja bertaplak hijau. Seorang petugas berseragam membuka kotak itu, dan seiring kepulan uap dingin dikeluarkanlah sang otak. Masih segar, putih, otak itu baru saja lepas dari kebekuan untuk hadir dalam sebuah majelis, persidangan.

Tegap, Jaksa melangkah mendekati meja bermikrofon itu, sambil memegang pisau. Ditusuknya sang otak dengan ujung pisau, kemudian disesapnya ujung pisau itu. Mengernyit dahi sang jaksa, lantang dia berkata,”Pikiran yang membahayakan Yang Mulia! Pahit, dingin dan menyayat!”. Setetes darah tampak keluar dari mulut jaksa, selarit merah juga menempel di ujung pisau, sementara kepulan uap dingin masih bersisa di sana.

Pembela maju, dengan sangat hati-hati dipotongnya seujung otak itu di bagian belakang. Otak kecil, tempat alam bernama bawah sadar, tempat keyakinan diyakini bersemayam. Sepotong irisan itu dimasukkan ke mulut, dikunyah untuk kemudian ditelan. Lalu suara pembelapun terdengar,”Pikiran ini kenyal, nikmat dan sama sekali tidak beracun. Pikiran ini baik Yang Mulia!”.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Semiotics | by rony
12
comments

Media Kita, Media Gagap Gempita

June 4th, 2008

Bukan, judul di atas bukan salah tulis. Seperti kita tahu, belakangan ini berita di media seperti tak ubahnya kutu loncat. Tampak bagaimana media sudah seperti bola pingpong yang dihantam kian kemari dan terlihat pasrah. Sepertinya kita memang belum memiliki media yang benar-benar independen dan konsisten.

Naiknya harga BBM beberapa waktu lalu, repotnya masyarakat kalangan bawah menyiasati kenaikan harga yang mengikutinya, serta ricuhnya demo kenaikan harga oleh mahasiswa, dengan segera tenggelam oleh isu lain. Terakhir kita dipaksa untuk mengikuti berita tentang sekelompok preman berseragam yang memukul demonstran. Tak tanggung-tanggung, semua media baik televisi maupun media cetak dipenuhi dengan berita ini. Sampai hari ini berita itu masih saja menjadi topik utama.

Tertembaknya demonstran BBM beberapa waktu lalu, tampaknya tidak lagi memiliki tempat di media kita. Demikianlah potret kebebasan pers di negeri ini. Yang terjadi bukanlah kebebasan analitik, tetapi membabi buta, gagap dalam pemberitaan. Sibuk dengan berita-berita bombastis yang dirasa mampu menaikkan oplah.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | by rony
38
comments

Sanggahan atas Ucapan Enda (the so called bapak blog)

April 8th, 2008

Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya yang mencuat begitu saja seiring dengan keluarnya berita-berita yang berisi tanggapan Enda atas komentar seseorang. Hal yang mengganjal pada diri saya ini justru berangkat dari definisi blog dan blogger yang ditulis Enda di blognya –yang kebetulan pula saya amini.

Polarisasi Blogger

Hal pertama yang paling mengganjal adalah adanya pengkutuban blogger. Proses pengkutuban ini tidak disampaikan oleh seorang blogger, bahkan orang tersebut sama sekali tidak kompeten untuk mendefinisikan soal blog. Hal ini berpijak pada dua hal, orang tersebut bukan seorang blogger dan orang tersebut belum pernah menyampaikan sebuah analisis berdasar metodologi ilmiah mengenai blog dan blogger. Kalaupun dia mengklaim sudah melakukannya, maka ada kecacatan dimana tidak ada publikasi yang memadai atas analisisnya, uji keilmiahannya dan lain sebagainya.

[ detail ]

Posted in Politik, Culture, blog, Semiotics | by rony
18
comments

Roy, Ya Basta!

April 7th, 2008

Seruan sederhana saja, “saya bilang cukup!”. Perbincangan soal Roy Suryo tak berujung kepada kebaikan sedikitpun. Capek hati, capek otak. Lama-lama saya pikir Roy Suryo semakin menjadi sampah di dunia internet, seperti spam yang bertebaran.

Omongannya yang selalu sok penting, yang anehnya di-backup oleh media konvensional (baca koran, majalah dan tabloid), selalu memancing reaksi. Saya paham kenapa teman-teman blogger bereaksi keras, terkait dengan ungkapannya yang terakhir soal UU ITE (silakan baca lengkap di bloggerdanhacker.wordpress.com) yang menyinggung blogger dan hacker. Dengan tanpa tedeng aling-aling menuduh bahwa seluruh blogosphere akan menolak atau mungkin bahkan menyerang UU ITE.

Semakin keras pula reaksi teman-teman ketika terjadi defacing pada website depkominfo dan website partai golkar. Dipancing oleh omongan dia yang mengatakan bahwa blogger dan hacker berada di balik aksi itu. Apa sih salah blogger om? Hanya karena kami ndak percaya sama sampeyan? Bikinlah diri sampeyan layak untuk dipercaya, baru minta kami percaya. Bertindaklah yang santun, yang layak dihargai, agar kami juga bisa menghargai. Mungkin lebih tepatnya saya menggunakan kata saya, bukan kami, karena blogger itu beragam.

Terakhir saya mendapat kabar bahwa om Roy mengancam (melalui sms) kepada salah seorang rekan blogger yang mengirim pertanyaan atas blowup media yang dilakukan oleh media tempat dia bekerja setiap kali Roy bicara. Pertanyaan itu dikirim ke milis internal, yang entah bagaimana sampai pula ke tangan om Roy. Dan om Roy menanggapinya secara sangat pribadi. Kenapa pula musti sibuk sih om? Biarlah orang media, yang masih mempercayai sampeyan, yang menyampaikan alasan mengapa mereka masih mempercayai omongan sampeyan. Ndak perlulah sampeyan harus mengganggu orang dengan sms malam-malam.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, blog | by rony
23
comments

Hutang Membentuk Perilaku

March 13th, 2008

Pada masa sekarang ini, apapun bisa dihutangkan. Dari mulai HP (handphone), laptop, sampai mobil. Para penjaja layanan kredit seakan-akan pantang menyerah mendatangi kita dari berbagai penjuru. Oke, mungkin istilah ini terlalu hiperbolik, tapi kenyataannya saja, waktu kita datang ke counter laptop misalnya, di sampingnya pasti ada counter penjaja jasa hutang ini. Belum lagi kalau kita melihat sepak terjang penjaja kartu kredit, begitu gigihnya mereka “menyerang” para nasabah bank.

Tulisan saya ini sebetulnya bukan dalam rangka mempersoalkan teman-teman di bidang tersebut. Sama sekali tidak, bagaimanapun itu adalah satu wilayah pekerjaan, yang membuat teman-teman di sana terbebas dari himpitan hidup.  Teruskan perjuangan kalian kawan! :)

Tulisan saya ini saya buat dalam rangka mengingatkan diri saya dan mungkin untuk teman-teman semua. Sebuah hasil perenungan saya atas perjalanan hidup (yang sebenarnya baru sebentar). Tentang perubahan sikap orang per orang ketika mereka sudah bersinggungan dengan hutang.

Pola Belanja

Satu hal yang paling mencolok, yang saya amati dan alami ketika kita sudah sangat terbiasa dengan hutang adalah dalam pola berbelanja. Bukan masalah konsumerisme, yang nampaknya sudah mendarah daging di diri kita –thanks to tv, tetapi soal pilihan atau prioritas belanja.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | by rony
24
comments

Catatan Perjalanan - Orang Jawa di Tanah Rencong

February 27th, 2008

Gegar budaya selalu saja terjadi di manapun pada siapapun, itu aku percaya. Bahwa ada orang yang sedemikian hebatnya mampu beradaptasi dengan demikian cepat, ataupun orang yang sangat cuek sehingga tidak memperhatikan apapun selain kebutuhan perutnya (misalnya), pada satu titik pastilah terbersit peristiwa gegar budaya ini.

Catatan ini tak lebih dari sebuah pengakuan jujur atas ke-ndeso-an saya. Pengalaman berharga untuk menginjakkan kaki pertama kali di bumi rencong, saya pilih untuk menjalaninya meninggalkan istri dan Mata Air (anak saya) di Jogja.

Benar nih di sini pernah tsunami?

Informasi usang yang sudah lama saya dengar, sudah lama pula saya bayangkan –pesta poranya lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional di tanah ini– ternyata tidak pula serta merta memberi kemampuan pada saya untuk menerima kenyataan yang saya hadapi.

[ detail ]

Posted in Culture, Daily Life | by rony
42
comments

Mengamati Nama, Mengamati Budaya

December 11th, 2007

Malam ini saya ngobrol enteng dengan istri saya. Obrolan berkisar nama anak. Kami coba mengamati, dengan tidak serius dan tanpa pedoman ilmiah, perkembangan nama-nama anak. Berangkat dari nama kami sendiri, hingga tebaran nama-nama anak “jaman sekarang”. Dan kami sampai pada sesuatu yang menarik.

Nama anak ternyata mengalami perkembangan sesuai jamannya. Di setiap jaman, muncul apa yang mungkin bisa disebut sebagai “trend” nama. Trend tersebut entah disebarluaskan dan ditularkan melalui media apa, mungkin melalui “getok tular” alias mulut ke mulut, atau mungkin juga melalui media. Karena obrolan ini sama sekali tidak ilmiah, maka saya akan menyajikannya hanya dalam bentuk tipe-tipe nama anak tanpa batasan jelas periodenya.

Nama Jawa

Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang Jawa. Nama-nama ini muncul mungkin di seputar tahun-tahun kelahiran saya (yang tidak jauh dari istri, hanya terpaut 2 tahun). Sebut saja misalnya Eko, Edi, Adi, Sugeng, Retno, Dyah, Dian, dan lain-lain. Kami menemukan bahwa teman seangkatan kami banyak yang memiliki nama tersebut.

[ detail ]

Posted in Culture, Daily Life | by rony
21
comments

Tentang Sebuah Negeri Yang Memprihatinkan

December 6th, 2007

Sebuah Kisah Tentang Korupsi

Siang itu saya berkesempatan makan bersama seorang teman. Teman saya ini dulunya adalah maniak pemanjat tower, kesehariannya adalah memanjat tower dan pointing antenna. Namun kini dia terlibat dalam proyek-proyek besar Teknologi Informasi untuk Pemda-pemda.

Dalam kesempatan itu, berkali-kali saya lihat dia agak lesu dan seperti melamun sendiri. Setelah saya pancing-pancing ternyata dia sedang bermasalah dengan proyeknya yang terakhir, dimana ada kesalahan perhitungan sehingga dana meleset sangat besar, hingga mencapai ratusan juta.

Namun, setelah itu, dia kemudian menceritakan kepada saya tentang apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini, yang akhirnya memberi gambaran gamblang kepada saya tentang busuknya negeri ini. Dalam kesempatan itu pula, dia menunjukkan aliran dana di rekening tabungannya. Buset! Dalam tiga bulan terhitung hampir 9 Milyar uang beredar melalui rekening tersebut. Untuk apa saja? Tidak jelas, yang saya tangkap hanyalah uang tersebut kemudian lari ke beberapa person (yang notabene adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif negeri ini).

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | by rony
18
comments

Catatan Mata Air #2

November 27th, 2007

Mata Air di suatu pagi

Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
Usia: 3 Minggu

Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | by rony
34
comments

Selamat datang Mata Air

November 1st, 2007

Sore itu adalah sore ke sekian. Sebuah penantian yang makin ke sini semakin panjang dirasa di hati. Pukul 15:00 WIB, tanggal 31 Oktober 2007, adalah kali ketika kontraksi terjadi semakin sering dan berpola. Istri saya memilih untuk menunggu di rumah, daripada menunggu di rumah sakit, sehingga kamipun kembali kepada kesibukan.

Pukul 17:00 WIB, istri saya terlihat semakin kesakitan. Kamipun menghitung jarak kontraksi masing-masing. Antara yakin dengan tidak yakin bahwa itu kontraksi beneran, kami putuskan untuk online dan mencari jawaban atas pertanyaan ataupun ketidakyakinan tersebut. Hasilnya? Hampir nihil. Segala hal berkait kontraksi yang kami peroleh, tidak memberikan gambaran yang cukup detil mengenai apa bagaimana dan seperti apa kontraksi itu. Juga kaitannya dengan bukaan, adakah relasinya?

Satu garis bawah saya pertebal pada kalimat yang saya peroleh dari tiga artikel temuan mengenai kontraksi ini, yaitu bahwa harus segera ke rumah sakit begitu kontraksi sudah berjalan kontinyu, teratur dan berjarak 10 menit sekali. Dan mulai pukul 17:30 WIB, kontraksi istri saya sudah mulai teratur pada irama delapan menit sekali.

The Kronologi

Pukul 18:00 WIB, akhirnya bersama mertua dengan mobil mertua (tentu saja, wong saya belum punya), kami berangkat ke happyland. Perjalanan terasa sangat lama. Apalagi perjalanan dari Purwomartani ke daerah Timoho haruslah melalui sekian polisi tidur dan jalan yang berlobang. Istri saya akhirnya merebahkan diri ke pangkuan saya. Kontraksi masih terus terjadi. Tarik napas panjang dari hidung, lepaskan dari mulut, selalu itu saya ulang sepanjang perjalanan.

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Daily Life | by rony