Rony's Blog
Meta
11
comments

Sebuah Kisah Tentang Proses

January 13th, 2012

Alkisah, ketika jaman masih belum kencang berjalan, tersebutlah sebuah kerajaan. Pada hari itu, Sang Raja ingin membuat sebuah permainan, maka dipanggillah penasehatnya. “Permainan apa kira-kira yang menarik untuk dilakukan wahai penasehatku?” sudah pasti, dialog ini keluar dari mulut sang Raja, dan ditujukan kepada penasehatnya, SPOK-nya sudah jelas. Sang penasehat, adalah seorang yang cukup nyentrik. Dia tidak suka memakai baju-baju tebal ala pejabat-pejabat yang lain, dia memilih bahan kain yang lentur dan menyerap keringat. Cukup selembar saja. Celananya juga bukan berbelit kain, tetapi celana panjang biasa, dengan banyak saku di samping kanan dan kirinya.

Ditanya tiba-tiba begini sudah hal biasa bagi sang penasehat. Dia sendiri yang memilih jabatan sebagai penasehat, karena jabatan ini satu-satunya jabatan yang memungkinkan dia untuk bekerja dari rumah. Merenung, sembari mancing. Atau bermain layang-layang dengan anak-anaknya di tengah lapangan. Ketika ditanya orang kenapa dia tidak bekerja, dia selalu menjawab dengan,”aku bekerja dengan ini” sambil menunjuk ke kepalanya. Bukan, dia bukan mengatakan bahwa dia bekerja dengan koprol, karena koprol sudah dibeli yahoo dan sampai sekarang API-nya masih saja belum jelas kabarnya. Jelas dia ndak nyaman bekerja di tempat seperti itu. Dia mikir.

Sang Penasehat lantas menatap sang Raja, “memangnya, Raja ingin permainan yang seperti apa? output apa yang Raja inginkan dari permainan ini?” “Entahlah. Bagiku apapun yang di luar kebiasaan cukup untuk menghiburku. Aku sepertinya ingin melihat pembantuku melakukan sesuatu, yang mudah saja, tetapi mereka bisa belajar tentang konsekuensi”, timpal sang Raja. “Oh, bagaimana kalau kita minta mereka memecahkan soal fizz-buzz” “Mas penasehat, gini ya, situ memang sudah memilih profesi freelancer, profesi situ sudah keluar kaidah perjamanan, lha itu soal untuk programmer mas, bukan buat pembantu” “Wo iya, Raja tahu saja. Baiklah, mari kita panggil saja tiga pembantu Anda wahai Raja”.

[ detail ]

Posted in blog, Semiotics | by rony
9
comments

Kapitalisasi Rumah Sakit Makin Memprihatinkan

December 13th, 2011

Tulisan ini hanya reaksi keheranan saja. Ada perasaan kurang sreg dan merasa sesuatu yang tidak pantas. Postingan kali ini mengenai hadirnya gerai-gerai makanan cepat saji di rumah sakit. Tak kurang perusahaan trans nasional dari Amerika juga hadir di sana. 

Gerai ini terletak di dalam lingkungan rumah sakit. Maka kalau dulu ketika seorang penunggu pasien (biasanya keluarga), kelaparan dan ingin mencari makanan, harus keluar sambil menunjukkan kartu tunggu, sekarang tidak lagi. Semua sudah tersedia, dan beberapa 24 jam hadir di sana.

Di satu sisi tentu saja ini “menyenangkan”. Saya sendiri beberapa kali berkesempatan merasakan sebagai penunggu pasien. Ketika almarhum ayah saya dirawat, ketika ibu saya kecelakaan, ketika kakek saya operasi dan seterusnya. Rasa lapar yang sering hinggap di tengah malam, cukup merepotkan. Selain berjalan keluar (tak jarang dari lantai dua atau tiga, dimana hanya ada anak tangga), juga harus menjaga jangan sampai kartu tunggu pasien hilang.

Namun, mari kita berpikir ulang. Makanan cepat saji? Maksud saya, burger, pizza, dan sejenisnya? Saya seperti melihat sebuah drama oxymoron sedang berlangsung. Lembaga yang menggaungkan kesehatan, justru menyajikan makanan yang kita semua tahu sangat tidak sehat. Kolesterol, salah satunya.

[ detail ]

Posted in Neolib, blog | by rony
5
comments

Tentang Sebuah Hak yang Tak Terpenuhi

December 1st, 2011

Sebelum saya menulis panjang lebar, ada baiknya saya awali tulisan saya ini dengan disclaimer, bahwa saya tidak memposisikan diri membela siapapun. Posisi saya dari dulu insyaAllah tidak pernah berubah, saya memilih berpihak kepada korban. Dalam kaitan dengan tulisan kali ini, bagi saya, korbannya adalah kita semua.

Bagi teman-teman yang belum mengetahui duduk persoalannya, baiklah saya singgung serba sedikit tema yang akan saya tuliskan kali ini. Pagi hari tadi, 1 Desember 2011, seorang kawan yang bernama Fajar Jasmin, seorang penderita HIV positif (demikian pengakuan beliau) membagi kegelisahannya di twitter melalui akunnya @fajarjasmin. Beliau mengabarkan bahwa anaknya, ditolak masuk oleh sebuah lembaga pendidikan di Jakarta dikarenakan oleh keadaan beliau (penyakit yang beliau idap). Menurut pengakuan beliau pula, sang anak bukanlah pengidap HIV positif, tetapi pihak sekolah menyatakan keberatan karena sang bapak tidak bersedia menunjukkan hasil tes kesehatan sang anak.

Pendirian beliau kupikir ada benarnya, beliau menyuarakan kesamaan hak. Jika semua anak diwajibkan menunjukkan hasil test, maka hal ini tentu tidak akan menjadi penghalang. Pun jika kemudian hal ini diberlakukan, sebenarnya masih menyisakan perdebatan lain lagi karena hasil test kesehatan seseorang tidak boleh disebar luaskan tanpa seijin orang tersebut. Begitu gambarannya, sekilas saja, karena saya tidak ingin membahas hal ini. Saya ingin menyampaikan hal lain, yang merupakan kegelisahan saya pribadi.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Daily Life | by rony
15
comments

Apalah Arti Sebuah Nama

November 23rd, 2011

Pada tulisan kali ini, ijinkan saya memperkenalkan dua sahabat saya, Glendem dan Langsam. Glendem saat ini bekerja di peternakan besar, banyak sapi di sana. Sebagai lulusan cum laude perguruan tinggi ternama, sebut saja Gadjah Mada nama kampusnya, tidak sulit bagi dia untuk mendapatkan pekerjaan. Ahli masalah peternakan yang selalu persaja, dengan pembawaan yang selalu kalem, murah senyum dan kadang-kadang keluar hal lucu dan agak saru, sesuatu yang mengejutkan kalau menilik sifatnya yang pendiam.

Lain halnya dengan Langsam. Dia pembaca buku yang mendarah daging. Agak sulit saya menemukan kata yang tepat, intinya dia suka sekali membaca. Buku apa saja, dari teori sosial hingga novel. Langsam juga ceplas-ceplos dalam setiap pertemuan. Dengan bekal bacaan yang banyak, tak jarang muncul juga kutipan-kutipan terkenal (yang saya selalu terperangah tiap mendengarnya. Sayangnya, dalam sekejap saya lupa juga apa yang dikatakannya huhu).

Mereka berdua jarang bertemu, apalagi berkumpul bersama dan reriungan seperti masa muda kami ketika kami sama-sama di bangku sekolah menengah pertama. Langsam yang aktif di dunia NGO (Non Government Organization), hampir selalu keluar kota, membagi ilmunya ke pelosok negeri. Sedangkan Glendem, kadang ke luar negeri untuk belajar sistem peternakan. Tapi hari ini istimewa, mereka berdua tiba-tiba muncul di depanku, yang sedang menikmati teh racikan mas blontankpoer. Ya sudah, mari ngeteh bersama.

“Gimana pendapatmu tip, soal pemakaian kata ASEAN untuk komunitas blogger?” Langsam tidak memerlukan basa-basi untuk bertanya. “Walah, sek to, ngeteh-ngeteh dulu to. Ini soal apa sih?” saya tergagap. Sumpah. Mereka berdua memang blogger juga, menuliskan apa saja yang menurut mereka menarik dan pantas dibagi. Entah mengapa, kadang mereka berdua seperti membangun polemik, dan saya menikmatinya :D Glendem selalu berpikir positif tentang pemerintah, sedang Langsam sebaliknya. Saya? Saya sedang ngeteh! jangan tanya! *eh*

[ detail ]

Posted in blog, Semiotics | by rony
4
comments

Shoot The Messenger

November 18th, 2011

Begitulah, dalam tiap diskusi, hampir dengan siapapun, dalam tema apapun, sering sekali saya menemukan sikap seperti dalam judul. Bukan berpegang pada pesan yang disampaikan, tetapi lebih ke mencari kesalahan sang penyampai.

Hari ini saya senang sekali, karena kebetulan khatib sholat jumat kali ini, uraiannya cerdas. Sudah beberapa kali saya mendapati beliau berkhutbah, dan sedari dulu, sikap beliau selalu pas dengan nalar. Kali ini beliau bercerita soal da’wah. Adda’a, ud’u, yad’u, do’a. Berseru. 

Hakikat dakwah adalah berseru. Ini menjadi kewajiban tiap kita. Bukan berarti kalau tidak melakukan lantas berdosa, tetapi ini amanat yang memang diberikan oleh pendiri agama saya ketika beliau melaksanakan ibadah haji wada’ (terakhir). Saya sangat yakin, seruan ini juga ada pada tiap agama. Intinya, mari menyerukan atas kebaikan kepada semua orang.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Culture, blog | by rony
9
comments

Solusi /var/mysql/mysql.sock not found error

November 10th, 2011

Sekali-kali menuliskan hal yang bersifat teknis sepertinya nggak apa-apa deh ya. Kali ini saya ingin menuliskan hal terkait bahasa pemrograman PHP. Sebenarnya tulisan ini dipicu karena masalah yang saya hadapi ketika menjalankan script bikinan saya sendiri untuk mengconvert informasi berupa sekumpulan file XML, di mana di dalamnya berisi informasi data-data tentang detail sebuah tempat dari berupa nama tempat, lokasi, hingga foto-foto terkait tempat tersebut, ke sql.

Sebelumnya perlu saya informasikan, saya orangnya pemalas. Saya tidak mau dipusingkan dengan permasalahan permission folder di tempat hosting, oleh karenanya paling sering saya convert image ke base64encode, lalu menyimpannya sebagai text di dalam sql. Kebiasaan ini, ditambah kesulitan untuk move on *halah* membuat saya harus memparse data di dalam file xml tadi lantas mengambil informasi terkait image, mendownload image tersebut, lalu mengconvert ke base64encode, dan akhirnya menyimpannya ke sql. 

Masalah kemudian muncul, ketika script itu saya jalankan melalui browser. Seperti kita tahu, browser memiliki waktu timeout. Saya lantas jadi berpikir untuk mencoba menjalankan script php itu melalui command line. Hal ini belum tentu menjadi solusi tentu saja, belum terlihat hasilnya karena masih dalam proses. Namun saya ingin berbagi saja mengenai hal yang saya alami ketika menjalankan hal ini.

[ detail ]

Posted in blog | by rony
2
comments

Abai

November 1st, 2011

Kata ini terngiang terus di kepala saya. Pernah adakah satu penelitian serius yang mengungkapkan peningkatan satu sikap abai dari satu komunitas/penduduk? Apakah linear, exponensial atau bagaimana? Faktor apa saja kiranya yang membuat menjadi seperti itu?

Tulisan ini dipicu dari pengalaman pribadi saya, dimana saya terlanjur masuk satu lorong (jalan tikus) untuk menuju satu tempat, dan terpaksa putar balik karena ternyata di tengah-tengah jalan tikus tersebut sedang ada proyek galian yang menutup akses. Saya bingung, kenapa tidak dari depan pintu masuk jalan tikus itu diberi tanda atau peringatan soal pekerjaan ini?

Empat jam kemudian saya lewat pintu masuk tadi, dan ternyata sudah ada tanda peringatan dimaksud. Saya tidak sempat menghitung, berapa orang yang “terjebak” harus putar balik karena tanda itu terlambat ada. Ditambah pula, sekian pekerja yang ada di tempat itu, seakan tidak peduli. Mereka membiarkan pengemudi berjalan sampai ke dekat lokasi (meski sebenarnya sudah terlihat dari jauh), dengan harapan masih bisa lewat, dan harus kecewa karena ternyata tertutup total.

Saya tidak habis pikir, tidak satupun dari pekerja di situ yang melambaikan tangan memberi tanda bahwa tidak bisa lewat. Juga beberapa penduduk yang ada di ujung belokan gang, yang tahu persis keadaan di situ, seakan tidak peduli juga. Urusanmu urusanmu sendiri, urusan saya sudah banyak. Mungkin seperti itu.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | by rony
5
comments

Perlukah Ujian Masuk SD?

October 27th, 2011

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan luar biasa, bertemu dengan seorang pengajar yang masih muda. Usianya jelas di bawah saya, dan dia memilih mengajar SD di lereng merapi. Namanya mas Eka Prasetya, di twitter dia mengenalkan dirinya sebagai @kerbauonline. Singkat cerita, kami ngobrol banyak tentang pendidikan dasar. Kebetulan, seperti banyak tertulis di blog saya ini, saya memang sangat peduli dengan pendidikan dasar. Bagi saya, ibarat bangunan, pendidikan dasar adalah pondasi yang menentukan bentuk dan kekuatan bangunan pendidikan seseorang.

Obrolan dimulai dari soal betapa semakin mahalnya biaya pendidikan. Seperti sudah pernah saya tuliskan juga, pendidikan SD sekarang, terutama untuk SD swasta, biaya masuknya saja senilai total biaya yang dikeluarkan untuk membayar SPP mahasiswa hingga dia lulus. Acuannya tentu saja SPP jaman saya, dimana per semester “hanya” Rp. 225.000,- saja.

Lantas pembicaraan bergulir, membahas banyak hal terkait biaya, dari mulai dana BOS hingga soal seragam dan buku. Namun yang paling menarik menurut saya, dan membuat saya terpancing untuk menuliskannya, adalah soal ujian masuk SD. Saya serta merta teringat suara-suara gelisah beberapa tetangga terkait ujian masuk SD ini.

Kementrian Pendidikan Nasional: Syarat Masuk SD hanyalah Usia

Dari perbincangan dengan mas Eka tadi, saya tercerahkan bahwa ujian masuk SD seharusnya tidak ada. Ingatan atas keluhan tetangga-tetangga itu, membawaku pada beberapa situs yang memuat soal ujian masuk SD. Sependek penemuan saya, SD yang memberlakukan ujian masuk adalah SD Swasta. Sepertinya tidak perlu saya sebutkan nama sekolahnya, silakan googling saja dengan kata kunci “test masuk SD”.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib, blog | by rony
7
comments

Membisniskan Orang Sakit?

October 23rd, 2011

Sekali lagi tentang rumah sakit. Tentang pelayanan dari sebuah institusi yang bersinggungan langsung dengan harapan hidup. Ada sekian banyak cerita seputar rumah sakit yang saya dapatkan, namun kali ini, seijin mas Bobby Gunawan yang menceritakan semuanya di FB-nya, saya ingin membaginya pula ke semua orang, agar mereka yang tidak memiliki FB bisa ikut membaca. Ringkasnya, ini adalah potret pelayanan yang seakan menanggalkan “rasa” dan “kemanusiaan”, hal yang seharusnya menempel erat di institusi yang bersandar pada jasa pelayanan. Saya copy paste note FB dari mas Bobby Gunawan. Silakan dibaca.

KURANG BIAYA 70 RIBU, BAYI 10 BULAN TEWAS TERLANTAR DI RUMAH SAKIT

Kepada rekan-rekan jurnalis, saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak dari keponakan saya Susan Kania & Martin, yg berusia 10 bulan tewas terlantai di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jabar. Gara-gara tidak bisa tebus obat 70 ribu!!!

Susan dan Keluarga biasanya meminta bantuan jika ada masalah keuangan. suka sms atau telp. Tapi kemarin tidak ada kabar apa-apa. aya baru tau kalau mereka sudah tidak punya pulsa, untuk kontak. Bahkan HP sempat ditawarkan untuk digadaikan ke rumah sakit.

Berikut penuturan orang tua korban. Untuk nomer HP, silakan japri kesaya:

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Politik, Neolib | by rony
6
comments

Seandainya Irul itu New 7 Wonder..

October 17th, 2011

Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi

Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.

Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | by rony