
Namanya kampung gajah. Tidak ada gajah di sana, tidak ada yang ngomongin gajah. Tapi sekarang kampung itu genap 5 tahun. Dalam perayaannya, para warga bergotongroyong surat-menyurat hingga 55.555 surat terkumpul dalam sebulan. Anda bisa?

dan berikut para pejuangnya

Apa itu narablog? Satu kata untuk menggantikan istilah blogger. Nara di sini merujuk atau seperti yang digunakan untuk istilah narasumber, narapidana, yang kurang lebih berarti para pelaku. Saya bukan ahli bahasa, jadi sangat bisa jadi keterangan saya kurang pas. Silakan kunjungi website yang lebih representatif untuk hal ini.
Tujuan saya sendiri menulis artikel ini adalah untuk mengenalkan kata tersebut. Bagi saya usulan ini menjadi menarik karena dengan demikian menunjukkan dinamika budaya kita. Ilmu bahasa tidak berhenti.
Pengusulnya sendiri adalah Enda Nasution (semoga dia tidak sekedar meng-klaim usulan orang, seperti yang dituduhkan kakak kelasnya hihi), yang sering disebut sebagai bapak blogger (ah narablog).
Bahasa Baku, Bahasa Kaku
Nah, saya perlu juga jujur terhadap Anda, terhadap diri saya sendiri. Bahasa dalam pemahaman saya adalah ilmu yang sangat lentur. Bebas menyerap dari sana-sini, asal kita bisa saling memahami. Karena dalam hemat saya, memang itulah tujuan ditemukannya bahasa, agar kita bisa berkomunikasi.
Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.
Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya.
Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.
Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.
Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]
Bahasa Inggris menurutku sama saja dengan bahasa yang lain. Bahasa Arab bahkan bahasa China ataupun Jepang yang tulisannya sulit dipahami itu, pastilah juga hanyalah masalah kebiasaan. Tinggal bagaimana kita terbiasa menggunakannya.
Menguasai satu bahasa bukanlah karena kecerdasan. Bukankah di masing-masing belahan dunia ada saja orang idiot yang tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat? Bukan bermaksud merendahkan arti ilmu bahasa, bukan juga dalam rangka merendahkan kemampuan tersimpan dari penderita idiositas, tapi begitulah menurut pemahamanku.
Dalam mempelajari sebuah bahasa, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Saya sendiri belum menguasai bahasa-bahasa yang sudah sempat saya sebutkan di atas, tapi paling tidak saya mengakui dan sepakat dengan ungkapan teman saya jaman kuliah, Rizal Ginanjar. Baginya, belajar bahasa harus dimulai dengan “pisuhan”.
Darimana Anda akan mempelajari bahasa dengan awalan yang seperti itu? Teman saya tadi memulai debut pelajaran bahasa Jawanya melalui stadion sepakbola di Jogja. Lha kalau bahasa Inggris? atau Arab? atau China? Sayang sekali tidak ada stadion/lapangan sepakbola internasional di sini, jadi sulit sekali menerapkan teori tadi.
Tapi sekarang saya senang sekali, ada satu solusi yang luar biasa. Kawan, teman, sahabat, genduk saya tersayang Pito dengan difasilitasi oleh komunitas bentukan dari kawan, sahabat, homokan saya tersayang Bahtiar yaitu BHI telah membukanya. Silakan datang ke Wetiga, angkringan di Jakarta, atau mampir saja ke faceboob, eh maksud saya facebooknya Pito. Atau bagi Anda yang nggak bisa buka facebooknya Pito, bisa mampir ke blog pecah belahnya di sini.
Bahasa Inggris jadi menyenangkan, atau kata tepatnya mungkin, memisuhkan! Selamat misuh! ![]()
Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.
Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?
Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.
Inti dari Kampanye
Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.
Tadi malam saya mendapat sms dari Bung Don K Marut, Direktur INFID. Beliau meminta dukungan tentang pembatalan utang pembelian kapal Jerman. Dalam sms beliau, disampaikan bahwa Indonesia telah mengadakan perjanjian hutang dengan pihak pemerintah Jerman. Akan tetapi perjanjian hutang ini melanggar ketentuan internasional, dari pihak pemerintah Jerman sendiri sudah ada sinyal positif untuk pembatalan ini. Pemerintah kita, sebagaimana biasanya, peragu dan tidak segera mengambil sikap.
Oleh karenanya, INFID memotori gerakan tanda tangan untuk meminta Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Keuangan untuk membatalkan pembelian Kapal Jerman tersebut. Saya sendiri, karena sekarang tidak di lapangan, mengambil sikap dengan mendukung gerakan ini melalui petisi Online.
Petisi Online dapat di akses di http://www.petitiononline.com/indo2008/petition.html . Nantinya hasil petisi ini akan saya serahkan ke bung Don Marut agar dipergunakan sebagai tambahan dukungan.
Judul kali ini terinspirasi dari ulasan Fokus Kompas pada hari Jumat kemarin (07 November 2008). Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada harian tersebut. Di saat semua mata dan telinga terfokus ke berita seputar sepak terjang “kawan sewarna” –dalam arti sama-sama berwarna– Kompas dengan cukup tegas memposisikan dirinya sebagai penunjuk arah.
Fokus Kompas hari Jumat kemarin mengupas tentang geliat neo-sosialisme di belahan selatan Amerika, tepatnya di Paraguay dan Venezuela. Sosok Lugo dan Chavez, ikon perubahan masa kini, dikupas dengan cukup panjang lebar. Mungkin kalau boleh menyampaikan kekecewaan, hanya terletak di tulisan Budiman Sudjatmiko. Bagian tulisannya sungguh seperti –meminjam istilah istri saya– melihat acara televisi “mimpi kali ye” dimana seorang fans ketemu idolanya.
Namun terlepas dari kekecewaan itu, mari kita bincang-bincang lagi mengenai Lugo dan Chavez. Lugo, seorang mantan pastur, pengagum Soekarno, berhasil menduduki jabatan tertinggi di Paraguay. Namun, sampai hari Jumat kemarin, beliau masih tinggal di rumahnya yang berukuran tipe 45, makan ubi rebus dan minum teh bersama tamu dengan satu gelas kayu. Chavez-pun tidak enggan untuk berbagi “gelas” dengan para tamu. Ciri kesederhanaan yang mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator, “Marhaen”.
Selamat siang semuanya, lama tak ngeblog ya. Sehat saja kan? Maaf lahir bathin buat semuanya. Kali ini saya sedang digelisahkan dengan kebodohan-kebodohan kecil namun fatal dari masyarakat di sekitar kita. Oh ya, mari kita sejenak melipir, minggir, dari segala kampanye politik para partaiers yang makin menggila di berbagai media. Mari kita membahas yang menyangkut hidup kita saja.
Kebodohan seperti apa yang menggelisahkan saya? Saya mengatakannya kebodohan sok heroik yang diulang-ulang hanya dengan alasan non rasional seperti “toh selama ini baik-baik saja”. Heroisme yang menunggu dirinya sendiri bertemu dengan si naas.
Perilaku Para Pertaminaers Swasta
Ya, merekalah yang saya soroti. Para penjual bensin eceran, para penjaja keliling gas. Pagi hari kemarin, saya memilih mengalah mengerem kendaraan saya agar berjarak cukup jauh dengan sebuah pickup yang mengangkut tabung-tabung LPG 12 kg. Jeritan klakson di belakang saya dengan sengaja saya acuhkan, kebetulan Mata Air (anak saya) justru menikmatinya. Apa pasal saya melakukan hal itu?
Demikian, jika saja saya seorang Raja, saya akan mengumumkan hal itu dengan disertai sanksi berat bagi yang melanggarnya. Sebagai seorang Raja, tentunya saya berhak dan dikaruniai hak mutlak untuk menentukan perilaku para andahan (bawahan/kawulo) saya.
Atau katakanlah saya ini MUI, saya akan membuat fatwa bahwa HARAM hukumnya memasang bendera partai di pinggir jembatan sempit! Paling tidak kalau saya sudah membuat fatwa demikian, sanksi neraka bagi mereka yang melanggarnya sepertinya cukup menakutkan. Apalagi kalau seperti selama ini yang terjadi di negeri ini, fatwa saya tentu akan didukung oleh serombongan pecinta kekerasan pendamba secuil kapling di surga. Tapi tentu berbeda dengan MUI, saya memiliki alasan yang sangat masuk akal dan sangat-sangat penting, walaupun tak lepas dari obyektifitas. Jadi, membela fatwa saya ini tentunya sangat baik bagi kemaslahatan umat.
Bendera Pembawa Bencana
Ya, jujur saja, sebenarnya belum menjadi bencana. Hanya saja sangat-sangat nyaris hampir menjadi bencana. Ceritanya saya melewati selokan mataram, kebetulan saya sedang pakai motor, bersama istri dan anak. Hampir seluruh jembatan di selokan mataram ini dipenuhi oleh bendera-bendera partai.